Seorang gadis yang hidup sendirian dipertemukan dengan seorang pria yang baik hati dan memberinya penuh cinta juga perhatian, namun hubungan yang dijalani tidaklah berjalan mudah karena ternyata Kai Crawford memiliki trauma dalam sebuah hubungan... Apakah mereka dapat meraih kisah membahagiakan mereka sendiri? Dapatkah Raine menaklukkan Kai dan membuatnya lepas dari bayangan masa lalu yang menyedihkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Azzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Keluarga Besar
Suhu semakin dingin menjelang musim dingin, dua insan yang baru saja saling mengungkapkan perasaan masing-masing itu tadi malam masih terbungkus selimut dengan tangan yang saling melingkari tubuh satu sama lain. Tubuhnya seolah enggan bergerak, berharap takdir membantunya menghentikan waktu untuk kali ini saja, memberi mereka kesempatan untuk menikmati momen manis ini.
"Ayolah, Tuan Crawford. Ayah dan yang lainnya pasti sebentar lagi akan tiba"
Raine mencoba melepaskan pelukan suaminya, tapi tangannya seperti memakai pemberat—— dia sama sekali tidak bisa mengangkatnya, bahkan untuk menggerakan nya saja sulit, akhirnya malah tenaganya sendiri yang dibuat habis terkuras.
"Aku akan melepaskannya jika kau memanggil ku dengan panggilan sayang itu" kata Kai.
"Tidak, itu memalukan. Sangat kekanak-kanakan"
"Tapi aku menyukainya"
Kamar tidur yang mewah itu tampak masih gelap karena cuaca yang mendung hari ini, ditambah gorden masih menutupi jendela kamarnya—— menutup akses masuk cahaya matahari. Hanya lampu tidur yang dibiarkan menyala di atas nakas.
Kai masih menatap istrinya, menunggu istrinya memanggil dirinya dengan panggilan yang lain, tapi sepertinya hal itu sangat berat untuk dilakukan. Pipinya bahkan sudah merona sebelum dia melakukannya. Akhirnya Raine lebih memilih membenamkan wajahnya di dada bidang milik suaminya. Geli sekali rasanya, bukankah panggilan sayang seperti itu hanya cocok untuk anak-anak yang beranjak remaja?
"Hei, ayolah! Apa permintaan itu terlalu sulit?"
"Saya sudah bilang, saya akan melakukannya ketika waktunya tiba" jawab Raine yang masih menyembunyikan wajahnya.
Kai menurunkan pandangannya, menatap Raine yang menyembunyikan wajahnya. Dia bisa merasakan hembusan napasnya yang terasa hangat juga tidak beraturan.
"Keluarkan wajahmu, kau tidak akan bisa bernapas"
Bodoh, napasnya tidak beraturan bukan karena itu, tapi karena dirinya. Dokter bedah itu tiba-tiba bersikap manja padanya dan meminta Raine untuk mengganti nama panggilannya dengan nama panggilan lain, rasanya dia sudah seperti benar-benar sepasang kekasih saja dan menjadi pemiliknya, tapi faktanya Raine masih belum bisa masuk ke dalam hatinya sepenuhnya, dia hanya memiliki raga tanpa hatinya.
Bersamaan dengan itu, jantung Kai berdetak sangat kencang. Ekspresinya panik karena takut Raine akan mendengar detak jantungnya yang kian berdetak cepat tidak karuan. Kai ingin bangkit dari tempatnya, tapi tidak cukup rela untuk mengakhiri momen ini, kapan lagi mereka bisa begini?
"Raine, aku datang!"
Suara riuh dari ruang tamu terdengar sampai ke kamarnya, apa lagi suara Taylor yang cukup lantang masuk ke telinganya. Raine mendorong tubuh Kai, tapi tangan Kai masih mendekap nya dengan sangat erat. Berkali-kali tangannya mencoba membuat celah untuk melarikan diri, tapi gagal. Suaminya masih tidak membiarkannya bangkit bahkan setelah orang-orang datang dan memenuhi rumahnya.
"Ayolah, mereka sudah datang"
"Hanya sekali, aku ingin mendengarnya"
Sial, dia tampak sangat seksi ketika bersikap manja begini, Raine sampai harus meneguk saliva nya. Ini sangat tidak adil, dia menyerangnya bertubi-tubi membuat dadanya sesak.
"Raine! Apa kau masih tidur?"
Teriakan Flynn tepat di depan pintu kamarnya refleks membuat Kai bangkit dari tempat tidur saking kagetnya, dia bergegas lari ke kamar mandi, sementara Raine bangkit dari ranjang nya dan langsung membuka pintu.
"Lama sekali, semua orang sudah menunggu"
"Maaf"
"Mana Kai?"
"Di kamar mandi. Tunggu sebentar, aku ganti pakaian dulu"
Selang beberapa waktu Raine dan Kai bergabung dengan yang lainnya di halaman belakang, mereka sengaja mengadakan piknik dadakan ini karena selain merayakan Raine yang baru saja pulang dari rumah sakit, kebetulan mereka semua sedang ada waktu luang.
Ada Casey, Ryder, Darla, dan juga Hayden yang hadir dari keluarga Kai. Sementara dari keluarga Raine ada Taylor, Sunny, Glenn, dan Haven. Devon dan Jesse juga hadir bersama kedua orang tuanya. Ini tidak ubahnya seperti reuni keluarga besar, mereka berbagi tawa bahagia melalui banyolan atau candaan sederhana, kecuali Flynn. Meski sudah berusaha berbaur, dia masih merasa asing dan menjadi satu-satunya orang yang tidak punya keluarga di sini, Sean juga tidak bisa hadir.
"Flynn, kemarilah!" Taylor melambaikan tangannya.
Dia bergegas menghampirinya, duduk diantara Taylor dan Haven. Rasanya sangat canggung, tapi Taylor dengan cepat merangkul nya untuk menghilangkan rasa canggung itu, Haven juga melemparkan senyum ke arahnya.
"Beruntung nya Raine bisa memiliki teman seperti mu" Haven mengusap kepalanya lembut, air matanya pun meluruh.
Hatinya tersentuh saat Haven mengatakan itu, merasa kehadirannya dianggap dan berarti, terutama sentuhan lembut di atas kepalanya.
"Aduh, Haven kau membuat anak orang menangis" kata Gerald.
Semua mata tertuju pada Flynn, termasuk Raine. Semuanya menggoda Haven karena dia orang yang duduk paling dekat dengannya dan Taylor yang berada di sisi kanannya. Raine yang duduk cukup jauh dari Flynn hanya bisa ikut tersenyum dan bahagia, dengan begini dia tidak akan berpikir lagi bahwa dirinya sendirian.
"Kau harus bertanggung jawab, Haven" timpal Hayden.
Haven pura-pura panik, dia berusaha membujuk Flynn dengan segala kalimat pujian yang dia ucapkan dan berharap permintaan maafnya diterima, tapi gadis itu malah semakin kencang tangisannya hingga suara seorang pria yang terdengar dalam sekejap berhasil mencuri perhatian semua orang, tangis Flynn juga dalam sekejap terhenti dan menatap ke arahnya.
"Ayah?"
"Siapa yang berani membuat anak perempuanku menangis?"
Hayden, Gerald, dan Claude mendorong Haven hingga pria itu dipaksa berdiri dan menghadap Leonardo, wajahnya tampak menyeramkan seperti orang yang ingin membunuh, semua orang dalam sekejap diam sementara Haven juga hanya berdiri menatapnya.
"Kakak ipar, lama tidak bertemu" kalimat Leonardo memecah suasana hening, dia memeluk Haven dengan erat.
"Ja-jadi, dia putri mu?"
Raine tidak tahu hubungan apa yang dimiliki Haven dan Leonardo, begitu pun dengan Flynn karena keluarga mereka sudah lama berpisah. Jinny—— ibunya Flynn yang berprofesi sebagai model ternyata adalah adik dari Quinn Fenlon. Dia memiliki nama asli Ashel Fenlon. Ashel atau yang lebih dikenal dengan nama Jinny itu pergi dari rumah setelah lulus SMA untuk mengejar cita-citanya—— dengan hanya bermodalkan tekad Jinny pergi ke kota besar untuk bertaruh nasib.
"Ya. Kami tinggal di luar negeri selama beberapa tahun, jadi kalian belum pernah bertemu" Leonardo kemudian menatap Raine "jadi gadis bernama Raine itu putri mu?"
"Ya"
"Dia mirip sekali dengan Quinn"
"Begitulah..."
Obrolan pun berlangsung kian hangat, para orang tua melanjutkan percakapan mereka dengan duduk di atas tikar, sementara para anak muda sibuk memindahkan barang-barang yang dibutuhkan untuk piknik—— Flynn dan yang lainnya datang terlalu awal tadi, jadi mereka memutuskan untuk menggelar tikar dan mengobrol ringan saja dulu sambil menunggu petang tiba.
Ryder, Jesse, Devon, dan Kai mendapatkan tugas memindahkan barang-barang besar dan berat ke halaman belakang.
Tapi ditengah kesibukannya memindahkan barang, Kai malah teralihkan fokusnya pada Raine yang sedang melamun sendirian di dapur. Untuk menjawab rasa penasaran nya, dia berjalan menghampiri Raine dan meninggalkan Jesse yang sedang mengangkat meja.
"Kai!" Jerit nya kesal.
Jesse kaget ketika Kai tiba-tiba melepas pegangan nya dan pergi begitu saja, dia hampir jatuh karena kehilangan keseimbangan, untung ada Devon yang datang dan siap membantu.
"Raine?" Dia menoleh cepat ke arah sumber suara.
"Kau sedang apa di sini?" Tanyanya.
"I-ini obat apa? Aku menemukannya di bawah sofa"
Botol obat berukuran kecil ia berikan pada suaminya, Kai langsung mengernyitkan keningnya lalu menatap Raine. Itu adalah obat pereda nyeri yang biasa dikonsumsi Taylor.
"Ini obat pereda nyeri"
"Obat pereda nyeri? Apakah ini milik kakak?"
Kai melirik kanan dan kiri lalu menarik Raine masuk ke dalam kamar usai memastikan tidak ada orang yang melihatnya, dia dengan cepat mengunci kamar setelah keduanya masuk.
"Aku pikir, kau mungkin harus tahu"
"Tahu apa?"
"Dia menghentikan pengobatannya"
Kai menghela napas kasar, dia sudah berusaha membujuknya bahkan sampai menawarkan Taylor untuk menemui dokter terbaik yang mungkin lebih mampu dan bisa menyembuhkannya, tapi Taylor menolak. Siapa yang tidak tahu kalau kanker adalah penyakit paling ganas dan mematikan di dunia? Sudah banyak cara yang digunakan oleh tim dokter untuk mencari obat mujarab yang dapat menyembuhkan kanker, tapi sejauh ini yang mereka temukan hanyalah cara untuk memperlambat penyebaran virus kanker.
"Penyakitnya kian parah, Raine. Kakak mu tahu bahwa dokter hanya bisa membantunya memperpanjang masa hidupnya, bukan menyembuhkannya"
Air mata Raine meluruh, kondisi Taylor memang jauh dari kata baik saat dia bertemu untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun terakhir, tapi tidak pernah terbayang jika kondisinya ternyata sudah seburuk ini.
"Tapi bukankah masih ada cara lain? Dia sudah berjuang untuk bertahan, pasti masih ada sesuatu yang bisa dilakukan, ya, kan?" Emosinya meluap, Raine mencengkeram pakaian Kai.
Mereka baru saja dipertemukan kembali, baru saja kesalahpahaman itu terselesaikan, dan baru saja dirinya merasa bahagia karena akhirnya bisa kembali berkumpul dengan keluarganya.
"Sebenarnya Taylor ingin aku menyembunyikan ini darimu, dia ingin menghabiskan hari-hari yang dimilikinya bersama orang-orang yang dia cintai"
Raine menggeleng. Tidak, bukan seperti ini akhir cerita yang dia inginkan, setelah bertemu dan meyelesaikan kesalahpahaman nya seharusnya dia bisa melanjutkan hidupnya dengan bahagia dan berkumpul bersama keluarganya, bukan malah semakin menyedihkan.
"Ayah, ayah... apa dia tahu?" Tanyanya yang dibalas anggukkan oleh suaminya.
Sakit rasanya harus melihat Raine sehancur ini, dia tidak pernah menjalani hidupnya dengan begitu membahagiakan dan terus terpisah dari keluarganya, tapi sekarang kebahagiaan yang dia dapatkan justru tidak berlangsung lama.
"Kenapa...? Aku mohon lakukan sesuatu, selamatkan kakakku... aku mohon..."
Kai Crawford adalah seorang dokter bedah, bukan spesialis kanker. Meski dia tahu dasar mengobati orang yang menderita kanker, tetap saja itu bukan keahlian atau pun tugasnya. Kesalahan kecil bisa saja berujung fatal jika dia bertindak tanpa berpikir panjang.
"Raine, lihat aku..." tangannya membingkai wajah Raine.
"Berapa lama lagi aku bisa melihatnya?"
"Aku tidak tahu... mungkin kurang dari 6 bulan"
Kai memeluk Raine erat, dukungan emosional sekarang benar-benar sangat dibutuhkan Raine. Di saat-saat seperti ini dia tidak mau mendengar kata-kata nasihat atau penyemangat, hatinya sedang sangat lelah dan ingin beristirahat sejenak saja. Dia ingin mendapatkan sedikit ruang dan ketenangan yang bisa membuatnya kembali berdiri untuk menuntaskan semuanya, dia butuh genggaman yang dapat menguatkan hati dan juga langkahnya.
Selang beberapa saat Raine melepas pelukan nya, dia menghapus air matanya dan mencoba untuk tersenyum meski sulit. Ini bukan pertama kalinya dia menghadapi situasi sulit, kali ini pun dia yakin pasti bisa melalui kesulitan ini dengan baik. Kai memberi genggaman nya, dia tersenyum kala Raine menatapnya.
"Aku bersamamu, Raine"
Raine semangat ya, namanya hidup pasti banyak cobaan. kalau banyak cucian ya laundry. 🙏