Cinta, gadis yang berusia 18 tahun, jatuh cinta pada pria dewasa yang sudah merawat dirinya dari usia 7 tahun.
Dimas, pria dewasa berusia 40 tahun, juga memiliki perasaan yang sama dengan Cinta, anak yang telah diasuhnya sendiri selama 11 tahun ini.
Apakah kisah cinta mereka bisa menyatu dan berlabuh ke pernikahan ?
Ini revisi dari novel yang sudah terbit sebelumnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Omku Suamiku Part. 28
Setelah istirahat selama beberapa jam di apartemen sepulang dari kampus, petang hari Dimas mengajak Cinta ke cafe, untuk menghilangkan kebosanan Cinta yang rutinitasnya cuma kampus dan apartemen saja
Memasuki ruangan owner sudah menunggu Aris dengan santainya setengah berbaring di atas sofa
" Sudah lama nunggu ? " tegur Dimas begitu berada dihadapan Aris
" Lumayan, sekitar sepuluh menitan- lah " Ujarnya cuek .
Memiringkan sedikit kepala mengintip dibelakang bahu Dimas
" Hai Cin....gimana baby-nya ? Rewel gak ? " tanya Aris langsung begitu melihat Cinta .
"Alhamdulillah ,enggak Om "
" Makin seger saja Cin, rutin disiram ya sama Daddy nya " Aris bertanya nyeleneh
Cinta mengerutkan dahinya bingung , mata Dimas melotot kearah Aris .
" Hentikan mengeluarkan perkataan yang aneh aneh Ris ! " Dimas protes .
Aris tersenyum tengil tidak merasa bersalah.
Mengatubkan gerahamnya rapat dan berucap pelan, mencondongkan tubuhnya kearah Aris agar Cinta tidak mendengar " Jangan terus memandangi istriku ! "
Aris melongo, membulatkan kedua matanya tidak percaya.
" Sayang , bisa kamu menunggu dikamar saja, mungkin sambil menonton film favoritmu atau kamu telponan dengan kedua temanmu, kami sedang menunggu seorang teman " sambil meraih pinggang Cinta mengantarnya keruangan istirahat.
" Takut Cinta mengganggu ya Bie ? " Sambil membuka handle pintu.
" Enggak, ini cuma obrolan para lelaki, ntar kamu nya bosen " mengecup puncak kepala Cinta , lalu menutup pintu yang memisahkan ruangan istirahat dengan ruangan kerja Dimas.
Aris langsung melempar Dimas dengan bantal kursi begitu Dimas kembali duduk dihadapannya .
" Kau kenapa ? " ucap Aris mendengus jengkel
" Gunawan masih lama ? " tanyanya mengalihkan pertanyaan Aris .
" Sudah di depan " Sahut Aris masih dengan tatapan jengkelnya.
Berselang lima menit, seorang lelaki tampan keturuan, berpostur sama tinggi dengan keduanya, kulit sedikit lebih terang dari lelaki pada umumnya di iklim tropis , kacamata berbingkai hitam bertengger dihidung mancungnya .
" Hai ....Dim, Ris ,apa khabar kalian ? Aku makin ganteng 'kan " ucapnya sambil memberikan tos saling pergantian dengan terkekeh karena memuji diri sendiri
" Seperti yang kau lihat " balas Aris
"kapan kau balik ? " tanya Dimas tidak membalas narsisnya Gunawan.
" Seminggu yang lalu , eh....Sorry Dim, aku gak sempat balik kesini waktu kau nikah, Oma masih belum keluar dari rumah sakit " Gunawan memberikan alasan
" its ok " jawab Dimas pendek.
" Mana Istri-mu kata kayawan yang didepan tadi, istrimu ikut "Gunawan celingukan, siapa tahu istri Dimas sedang main petak umpet.
" Ada didalam, istirahat " menunjuk keruangan istirahat pada ekor matanya.
" Suruh keluar dong ! aku kan mau berkenalan "
" Lain kali saja " jawab Dimas acuh sambil menyeruput kopinya yang baru diantar karyawannya .
Gunawan melihat Aris minta penjelasan, Aris mencibirkan bibir-nya arah ke Dimas, Dimas acuh saja.
" Eh Dim, wanita yang didepan tadi oke juga tuh, siapa dia ? " Gunawan menyenggol lengan Dimas .
" Yang mana satu, didepan 'kan banyak perempuan " Tanya Dimas pura pura tidak tahu.
" Mungkin Vivian yang dimaksud, yang memakai stelan grey dan putih tulang ? " Tebak Aris
"Hem, benar kau Ris " Gunawan mengangguk
" Cih,sebegitu hapalnya kau dengan pakaian yang orang lain gunakan " Dimas mendengkus.
Gunawan dan Aris terkekeh bareng.
Tidak terasa dua jam terus bergulir, karena keasyikan ngobrol, seolah lupa keberadaan Cinta yang ada didalam ruang istirahat.
ceklek
Bunyi pintu dibuka, repleks ketiganya memandang kearah pintu.
Cinta melongo " Bie..." ucapnya lirih berjalan kearah ketiganya .
Cinta terus melangkah ,tapi manik matanya tidak tertuju pada Dimas, melainkan pada sosok berkaca mata.
Gunawan berdiri dari duduknya " Tari....Benar kamu Tari ? " mengulurkan tangan.
" Mas Gun gun , iya mas " jawabnya sumringah menerima uluran tangan dari Gunawan.
" Hai....Kamu apa Khabar, kamu kelihatan semakin....." mengedarkan pandangan dari wajah Cinta ke bawah .
" Semakin apa hayo ? " ucap Cinta ceria
" Pertama ketemu agak sedikit bocahlah hehe....kalau sekarang ....hemm..." Gunawan senyum senyum
Mereka terus berbicara sembari tertawa ,lupa akan keberadaan Aris dan Dimas yang terus memperhatikan keduanya dalam diam.
Aris memperhatikan Dimas dengan wajah sedikit cemas .karena dilihatnya wajah Dimas sudah memerah , rahangnya mengeras dan tangannya juga mengepal.
"ekhem"
Dimas berdehem mencari perhatian.
sukses, ketiganya melihat ke arah Dimas
Kasihan, dicuekin . Aris terkikik dalam hati.
Astagfirullah, mati aku Mas Gun
yang bakalan di cemburui nih
Sambil merangkul lengan Dimas dan menyandarkan kepala " Bie....Mas gun gun teman kamu ya ? " pasang senyum manis .
" hemmm" Dimas hanya menggeram pendek.
Aris tersenyum kecut ,wajah Dimas sudah berangsur normal.
Manjur juga tuh manjanya si Cinta menjinakkan macan yang hampir ngamuk
" Jadi....Tari istrimu Dim ? " Gunawan bertanya tanpa bersalah .
" Seperti yang kai lihat , iya kan sayang " mengecup puncak kepala Cinta .
Wajah Cinta memerah ,
Kenapa belakangan ini si Om suka sekali memperlihatkan kemesraannya di depan orang lain ? masa sama temannya juga cemburu
" Selamat ya kalau gitu, saya gak nyangka dech wanita seperti kamu bisa menikah dengan kulkas satu pintu ini " ucap Gunawan ngeledek .
Aris pun tidak bisa menahan tawanya.
" Cin....kamu tega sekali ya, kamu panggil Om ke ...."
Aris menunjuk dadanya sendiri
" Nah Gunawan, kamu panggil mas " Aris pura pura cemberut.
" Cinta 'kan gak tahu, kalau Mas Gun gun temannya Om Aris dan suami Cinta "
" Itu tandanya aku lebih kelihatan muda dari pada kalian berdua " Gunawan manikkan kerah bajunya sombong " Iya kan Tari ? " Gunawan meminta pengakuan .
Cinta cuma nyengir sambil menatap wajah Dimas yang berada diatas kepalanya.
" Benar yang dikatakannya,sayang ? " penekanan kata sayang membuat Cinta sedikit takut.
" Air laut itu kan asin sendiri Bie, mas Gun gun cuma membuat pengakuan sendiri , kalau buat Cinta....Kamu Bie yang paling is the best dihati dan dimata Cinta " melingkarkan tangannya di pinggang Dimas.
Gunawan melongo melihat drama didepan matanya.
"Ckckck......Aku gak tayu mau ngomong apa Dim, sepertinya kau harus konsultasi ke psikolog lain selain Gunawan, ada yang salah di dalam sini " tunjuknya di dada Dimas
" Gun, yuk keluar ! Kau mau jadi obat nyamuk disitu ? " Aris melangkah keluar ruangan Dimas .
" Betul kata Aris, kadar kebucinan mu diatas batas normal " Gunawan tergelak keluar mengikuti aris yang sudah mendahului.
...*****...
Begitu berada didalam mobil Dimas langsung bertanya " Kapan bertemu dengan Gunawan ? Dimana ? "
" Di toko buku, oh ya Mas Gun gun seorang psikolog ya Bie ? " cyinta memiringkan kepalanya menghadap Dimas .
" Dari mana kamu tahu ? "
" Karena waktu itu ia mencari buku yang berhubungan psikologi ? Tadi Om Aris juga bilang 'kan ? "
" Hemm "
" Apakah ia sudah membuka praktek sendiri ? "
" hemm "
" Apakah ...."
Belum selesai Cinta mengajukan pertanyaan selanjutnya sudah di potong oleh Dimas " Kenapa kamu ingin tahu sekali tentang Gunawan ? Kamu tertarik padanya ? "
" Enggak lah Bie , Kepo melihat sosoknya yang gak kaku saja, gampang akrab pada seseorang yang baru dikenalnya "
Dimas tidak melanjutkan pembicaraan tentang Gunawan atau siapa pun lagi ,kebisuan.menyelimuti keduanya sampai mobil yang membawa mereka sudah berhenti di area parkir apartemen.
Dimas terus saja diam sampai mereka sudah berada didalam kamar, tidak bicara juga tidak cemberut ,hanya datar seperti meja, bikin Cinta gemes tapi sebel juga .
" Bie..."
"hemmm "
" Cemburu lagi ? "
" menurut kamu "
" Tahu enggak Bie , kalau kamu cemburu gitu, ngegemesin lho " Cinta mencoba menggoda.
Dimas melotot, Cinta cuma sekikikan.
" Bie....Istrimu ini kan cinta nya cuma sama kamu " berjinjit mengecup pipi kiri Dimas .
Dimas terkejut ,tapi rona bahagia tidak dapat disembunyikannya.
" Kamu pintar merayu sekarang ya " terus melangkah mendekati Cinta , karena Dimas melangkah maju , Cinta mundur selangkah demi selangkah dan terjatuh diatas ranjang .
Cinta mencium gelagat yang tidak menguntungkan baginya .
" Aku jadi kepengen di rayu kamu diatas sini " seringai licik Dimas yang sudah mengungkung tubuh Cinta dibawah badannya, kalau Cinta menolak, urusan bisa jadi panjang .
dan malam yang panjang baru dimulai oleh keduanya.
...🌻🌻🌻🌻🌻...
suka bnget sama ceritanya 😍😍😍😍