Kenan Athalarizky, begitu bahagia karena pernyataan cintanya dibalas oleh gadis yang benar-benar dicintainya. Namun kebahagiaannya harus dikubur dalam-dalam, karena akhirnya dengan terpaksa Kenan menerima perjodohannya dengan seorang janda cantik dan kaya raya, yang ternyata merupakan ibu sambung dari kekasihnya. Banyak peristiwa yang terjadi setelah pernikahan itu. Bagaimana cara Khalisa yang sakit hati diam-diam menyusun strategi untuk balas dendam. Dan ternyata ada rahasia dibalik pernikahan Kenan yang diam-diam mulai terungkap.
Apakah dengan terbongkarnya rahasia itu bisa membuat Kenan dan Khalisa kembali bersama, atau malah membuat keduanya semakin membenci satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tissue
Kenan beberapa kali melirik kamar Ica yang masih saja tertutup rapat. "Sedang apa Ica, kenapa dari selesai makan ia tidak lagi keluar kamar?" batinnya.
Bahkan Ica melewati acara makan malam. Kenan yang merasa cemas membuat dirinya memikirkan cara untuk menemui gadis itu. Menyuruh bibi untuk mengetuk pintu sudah, tapi hasilnya sama sekali tidak ada sautan dari dalam kamar itu.
Akhirnya Kenan memutuskan untuk membuatkan susu hangat. Minuman yang biasa gadis itu minum setiap malam. "Sepertinya Ica belum membuatnya," ucap Kenan masih dalam batinnya.
Kenan segera pergi ke arah dapur, membuatkan satu gelas susu hangat untuk Ica.
Setelah beberapa kali mengetuk pintu tapi tidak ada respon dari dalam, kali ini dirinya punya alasan untuk langsung masuk ke dalam kamar itu.
Namun belum juga Kenan sampai kamar itu, tiba-tiba semua lampu didalam rumah mati.
"Aaa."
Kenan yang tau betul kalau itu suara teriakan Ica, membuatnya panik, takut terjadi apa-apa dengan gadis itu.
Beruntung Kenan membawa ponselnya didalam saku celana. Ia segera menghidupkan senter ponselnya, dan melangkah menuju kamar Ica.
Setelah melihat posisi handle pintu, dengan cepat Kenan langsung memutar dan mendorong pintu yang terbuat dari kayu itu.
Melalui senter handphonenya Kenan dapat melihat keberadaan Ica yang langsung berlari kearahnya.
"Awas!"
"Auwh," Ica kembali berteriak saat sensasi hangat terasa pada bagian dadanya.
"Saya bawa susu hangat," ucap Kenan.
Namun ternyata telat, isi gelas itu hampir setengahnya sudah tumpah mengenai bagian dada Ica.
Ica yang semula ketakutan, kini memegangi tangan Kenan. "Kenapa gak bilang dari tadi?" dirinya kembali kesal. Sebelah tangannya mengusap bagian dadanya yang terasa lengket.
Kenan langsung menaruh gelas itu diatas meja yang berada tidak jauh dari situ.
"Ya kamu kenapa tiba-tiba lari?" tanya Kenan refleks ikut mengusap bagian yang mungkin terkena air susu.
"Auwh," Ica kembali berteriak ketika merasakan tangan Kenan yang mengenai bagian gunungnya.
"Maaf," ucap Kenan kembali menarik tangannya dari dada Ica. Minimnya cahaya senter yang tidak sepenuhnya menyoroti bagian dada Ica membuatnya benar-benar tidak sengaja melakukan itu.
"Kamu ada tisu gak?" tanya Kenan sambil mengedarkan senter ponselnya ke segala arah.
"Ada di dekat tempat tidur," jawabnya.
"Bentar aku ambil tisu." Kenan hendak melangkah mengambil benda yang sudah terlihat keberadaanya itu.
Ica memegangi tangan Kenan dengan begitu erat. "Aku ikut. Takut...,"
Kenan melirik pada gadis itu. "Sepertinya Ica memang benar-benar takut sama gelap," batinnya.
Sebelah tangan Kenan langsung diposisikan dibelakang punggung gadis itu. Perlahan mereka melangkah ke arah tempat tidur.
Setelah menemukan benda yang dituju, Ica langsung mengambil beberapa lembar tisu itu dan mengelapnya pada bagian dadanya. Namun sepertinya air susu yang tumpah terlalu banyak, karena bagian depan piyama tidurnya benar-benar sudah basah, membuat Ica tidak nyaman.
"Lama banget ya mati lampunya," gerutu Ica yang sudah kesal.
"Sepertinya ada yang kena, pas tadi ada petir," jawab Kenan menduga.
"Lama gak ya?"
"Biasanya sih lumayan lama," jawab Kenan.
"Aku mau bersih-bersih, lengket banget ini," ucap Ica yang masih saja berusaha mengelap bagian dadanya.
Kenan juga bingung apa yang harus dilakukannya. Kalau saja Ica tidak takut dengan kegelapan, mungkin akan mudah menyuruhnya untuk membersihkan tubuh di kamar mandi meskipun dalam keadaan gelap.
"Kamu ada tisu basah, gak?"
Ica diam sejenak, mengingat benda itu. "Eh iya, kayanya ada deh. Dibawah," ucapnya menunjuk bagian laci paling bawah.
Kenan langsung menarik laci itu, dan ternyata benda itu memang ada disitu.
"Kamu lap pakai ini," ucapnya sambil memberikan tisu itu.
"Biar gak kembali lengket, kamu buka aja baju kamu!"
Dalam kegelapan, Ica menatap Kenan penuh curiga.
"Aku gak bakalan ngintip," ucapnya kemudian saat menyadari diamnya gadis itu.
Dengan ragu Ica menuruti perkataan Kenan, dirinya membuka satu persatu kancing bajunya, dan menaruhnya disembarang tempat.
Kenan membelakangi posisi Ica, tapi senternya masih dia arahkan pada gadis itu.
Ica dapat merasakan kalau bagian dadanya lumayan sudah tidak begitu lengket lagi. Namun sekarang dirinya bingung dengan posisinya yang setengah polos.
Ica meraba-raba, berharap menemukan selimut. Namun ternyata benda itu sangat sulit dia temukan.
"Kamu cari apa?" tanya Kenan yang menyadari gerakan Ica.
"Bisa bantu cari selimut gak?"
Kenan membalikan badannya, senter ponsel yang masih dipeganginya juga masih mengarah pada Ica, membuat kedua matanya tidak sengaja melihat pemandangan keindahan gunung kembar milik Ica.
Susah payah Kenan menelan saliva nya, menahan rasa panas yang tiba-tiba menjalar pada tubuhnya.
Kenan refleks mengarahkan ponselnya ke arah lain. Namun tindakan itu malah membuat Ica kembali menjerit ketakutan karena gelap.
Ica berdiri mendekat kearah Kenan. Namun yang dilakukan Ica ternyata malah semakin menguji keimanan Kenan. Bagian gunung itu mengenai tangan Kenan.
Kenan merasakan sensasi hangat pada tangannya. Dirinya berdehem berusaha tenang dari setiap ujian yang dirasakannya.
"Eh. Kenapa dimatikan?" tanya Ica dengan kaget.
Ruangan kamarnya seketika gelap gulita. Ica semakin erat memegangi tubuh Kenan.
"Handphone nya mati," ucapnya sambil terus berusaha menekan tombol yang ada di pinggir benda pipih itu.
Ica semakin erat memegangi Kenan ketika suara sambaran petir kembali terdengar, membuat dirinya kaget. Ruangan gelap itu semakin terasa menyeramkan untuknya.
"Jangan tinggalkan aku," ucapnya lirih. Dirinya benar-benar trauma dengan suasana gelap.
Kenan menarik tubuh Ica pada pelukannya. Mendengar permintaan Ica malah membuat lelaki itu salah mengartikan.
"Aku gak akan ninggalin kamu," jawab Kenan. Dirinya semakin erat memeluk tubuh gadis itu.
Kenan mengecup bagian kening Ica. Berusaha memberikan ketenangan pada gadis itu. Namun ternyata tindakan yang dilakukannya malah membuat dirinya sendiri menjadi tidak tenang.
Sensasi hangat yang menempel di dadanya berhasil membangkitkan sesuatu yang sebetulnya dari tadi sudah mulai terbangun.
Perlahan tangannya mengusap ujung kepala dan beralih memegangi tengkuk gadis itu.
Cup...
Satu kecupan kembali mendarat pada pipi gadis itu.
Meskipun dalam keadaan gelap, tapi sepertinya tindakannya itu tidak sedikitpun melesat dari tujuannya.
Ica diam mematung. Rasa takut yang dirasakannya perlahan menghilang, tergantikan dengan rasa nyaman. Tubuhnya memerintahkan dirinya untuk diam.
Merasa tidak ada penolakan dari gadis itu. Kenan kembali mendaratkan bibirnya, tapi kali ini dibagian yang menurutnya sudah menjadi candu untuknya.
Perlahan Kenan menggigit pelan bagian bawah bibir Ica, membuat gadis itu membuka mulutnya. Dengan leluasa dirinya bisa mengobrak-abrik bagian dalam mulut Ica.
Ica yang terbuai kini sedikit demi sedikit dapat mengikuti permainan Kenan.
Kenan tersenyum, tangannya yang diam dia gunakan untuk memegangi dua gunung kembar yang sedari tadi membuatnya ingin menggapai bagian itu.
Bersambung....
#Like, Koment, sama Vote dulu ya...
baru mampir juga siihh...
katakan saja walau menyakitkan🤭