Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.
Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.
Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29. Respect
Keesokan paginya, matahari bersinar cerah menyinari area pemakaman umum yang tampak tenang dan rindang.
Di bawah naungan pohon kamboja yang sejuk, Nathan melangkah pelan membawa sebungkus tabur bunga segar dan sebotol air.
Hari ini, Nathan menyempatkan diri untuk datang berziarah ke makam kedua orang tuanya yang telah lebih dulu berpulang, almarhum Siska bundanya dan almarhum Surya ayahnya.
Sesampainya di depan pusara yang terawat rapi itu, Nathan berjongkok perlahan.
Dengan penuh takzim, dia membersihkan rumput liar di sekitar nisan, menaburkan bunga secara merata, lalu menyiramkan air di atas permukaan tanah makam kedua orang tercintanya.
"Assalamualaikum, Bunda, Ayah..." bisik Nathan lirih, menyatukan kedua tangannya untuk memanjatkan doa terbaik bagi keselamatan arwah orang tuanya di sisi Tuhan.
Di tempat peristirahatan yang sunyi itu, Nathan juga dalam hati mencurahkan isi hatinya, menceritakan tentang kehidupannya saat ini.
Usaha yang dikelolanya, hingga menceritakan sosok Acha, gadis baik yang kini telah resmi menjadi kekasih hatinya.
Di hadapan pusara kedua orang tuanya, Nathan mencurahkan segala isi hatinya dengan tenang. Selain menceritakan tentang jalinan kasihnya yang baru saja resmi dengan Acha, dia juga membagikan kabar baik mengenai usahanya.
Nathan menceritakan bahwa usaha sablon cetak sandal yang dirintisnya di rumah kini semakin ramai dan kebanjiran pesanan setiap harinya. Rezeki yang terus mengalir deras ini membuatnya merasa sangat bersyukur.
Mengingat kembali masa lalunya yang sempat terpuruk akibat ditinggal sang mantan tunangannya selingkuh, Nathan merasa takdir telah membawanya pada jalan yang jauh lebih baik.
Pertemuannya dengan Acha benar-benar menjadi babak baru yang membahagiakan dalam hidupnya.
Terlebih lagi, kenangan saat almarhum Siska sempat datang ke dalam mimpi Acha membuat keyakinan Nathan semakin bulat.
Dia percaya bahwa kehadiran sang bunda di alam mimpi Acha adalah sebuah bentuk restu dan tanda kasih sayang dari almarhumah untuk hubungan mereka berdua.
Dengan restu yang dia yakini dari kedua orang tuanya, hati Nathan kini terasa jauh lebih mantap, damai, dan siap melangkah bersama Acha ke depannya.
Sementara Nathan sedang khusyuk memanjatkan doa di pusara kedua orang tuanya, situasi berbeda justru sedang dirasakan oleh Acha di rumah.
Meskipun kondisi pernapasannya sudah jauh lebih membaik pasca-kejadian di UGD semalam, perut Acha mendadak kembali berulah.
Kali ini, rasa kram dan mulas yang teramat sangat menyerang bagian perutnya, membuatnya meringis kesakitan sambil memegangi perutnya di atas tempat tidur.
Padahal, sate daging kurban yang dia makan bersama keluarganya hari itu sama sekali tidak ada rasa pedasnya.
Namun rupanya, lambung Acha yang memang sudah sensitif dan baru saja pulih dari drop tidak bisa menerima jenis makanan berat dan berlemak seperti daging kurban begitu saja.
Fitri yang melihat kakaknya kembali meringis kesakitan langsung buru-buru mengambilkan minyak kayu putih dan membantunya mengoleskannya ke perut.
Sementara Acha hanya bisa pasrah menahan sakit sambil berharap Nathan segera selesai berziarah dan kembali menemaninya.
Menjelang sore hari, kondisi perut Acha perlahan-lahan mulai membaik setelah diolesi minyak kayu putih dan beristirahat cukup.
Untuk mengobati rasa bosan sekaligus melepas rindu karena belum bisa bertemu langsung pasca-ziarah, Nathan langsung melakukan panggilan video call dengan Acha.
Di layar ponsel, wajah Nathan yang tampak segar menyapa Acha, membuat senyuman manis langsung terbit di bibir gadis itu.
Di tengah obrolan mereka, Fitri yang kebetulan melintas di depan kamar langsung ikut nimbrung mendekat ke layar ponsel.
"Eh, A Nathan! Lagi video call-an, ya?" sapa Fitri usil. Dia lalu memberikan ide seru.
"Mumpung kita semua lagi libur Idul Adha dan teh Acha juga sudah baikan, gimana kalau kita bikin janji temu buat pergi ke foto studio bareng-bareng? Biar ada kenang-kenangan foto keluarga plus pacar!"
Nathan langsung menyambut ide tersebut dengan antusias. "Wah, ide bagus tuh! Boleh banget," jawab Nathan tanpa ragu.
"Kalian tentukan saja tempat studio foto mana yang mau dikunjungi, biar nanti urusan pembayaran semuanya aku yang urus."
Mendengar betapa royal dan sigapnya sang kekasih, hati Acha langsung merasa sangat tersentuh. Dia menatap layar ponsel dengan binar kekaguman yang begitu dalam.
Dalam hatinya, Acha merasa sangat beruntung bisa memiliki kekasih seperti Nathan seorang pria yang tidak hanya perhatian dan penyayang, tetapi juga bisa diandalkan serta dibanggakan dalam segala hal.
Perbandingan itu membuatnya seketika teringat pada masa lalunya bersama Raka, mantan kekasihnya dulu yang terkenal sebagai tipe cowok "mokondo" (modal kopong doang) alias tidak punya modal dan selalu perhitungan dalam hal apa pun.
Jauh di lubuk hatinya, Acha bersyukur Tuhan telah mempertemukannya dengan Nathan, sosok pria sejati yang jauh lebih baik dari masa lalunya.
Obrolan hangat dan tawa kecil yang menghiasi layar ponsel itu akhirnya harus terhenti ketika pintu kamar Acha terbuka.
Ranti, masuk sambil membawa baskom berisi air hangat, handuk kecil, dan pakaian ganti yang bersih untuk putrinya.
Melihat kehadiran sang mama di layar, Nathan langsung paham situasi.
"Ah, iya... Mamah kamu mau masuk, ya? Kalau begitu, video call-nya kita akhiri dulu, ya, Cha. Biar kamu dibersihin dan ganti baju dulu sama Mamah kamu," pamit Nathan dengan pengertian.
Acha mengangguk pelan dengan pipi yang merona malu. "Iya, A. Nanti kita lanjut lagi ya kalau sudah selesai," jawab Acha lembut.
"Istirahat ya, sayang. Cepat sembuh," tambah Nathan sebelum akhirnya mengetuk layar ponsel dan memutuskan sambungan video call tersebut, membiarkan Acha mengurus dirinya bersama sang mama.
Suasana kamar menjadi hangat saat Ranti mulai mencelupkan handuk kecil ke dalam baskom air hangat, lalu memerasnya perlahan.
Dengan penuh ketelatenan, sang mama mulai mengelap sekujur tubuh Acha (diwaslap) untuk menyegarkan badannya yang sejak kemarin lemas karena sakit, sebelum akhirnya mengenakan pakaian bersih yang baru.
Di tengah aktivitas tersebut, Ranti melirik putrinya sekilas dengan senyuman penuh arti. Sebagai seorang ibu, dia tentu sangat memerhatikan perubahan ekspresi Acha akhir-akhir ini, terutama sejak kehadiran Nathan di dalam hidup putri bungsu mereka.
"Cha... Mamah perhatikan dari kemarin, semenjak ada Nathan, kamu kelihatan lebih sering senyum-senyum sendiri. Kamu beneran bahagia sama Nathan?" tanya Ranti lembut, menyelipkan nada penasaran sekaligus keibuan di dalam pertanyaannya.
Mendengar pertanyaan itu, pipi Acha langsung merona merah. Alih-alih menjawab secara lisan, Acha hanya menunduk malu sambil tersenyum-senyum sendiri.
Dia membayangkan segala bentuk perhatian dan ketulusan yang diberikan Nathan padanya. Tingkah manis Acha itu sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan semuanya pada sang mama.
Ranti yang melihat reaksi putrinya ikut tersenyum lega. Dia merapikan sisa-sisa baju Acha, lalu mengelus puncak kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Alhamdulillah kalau kamu bahagia, Nak... Mamah sama Papah cuma bisa bersyukur dan berdoa. Semoga Nathan memang benar-benar yang terbaik buat masa depan kamu," ucap Ranti tulus, menitipkan harapan besar agar pilihan hati putrinya kali ini tidak salah dan bisa membawa kebahagiaan yang abadi.
Setelah selesai mengenakan pakaian bersih dan menyegarkan tubuh Acha, Ranti lantas merogoh kantong obat yang diberikan oleh pihak puskesmas semalam.
Dia mengeluarkan tablet obat yang harus dikonsumsi Acha, lalu menyiapkannya di atas sendok kecil bersama segelas air hangat.
"Nih, diminum dulu obatnya biar perutnya makin enakan dan cepat total sembuhnya," ujar Ranti penuh perhatian sambil menyodorkan obat tersebut.
Acha menerima air dan obat dari tangan mamahnya, lalu menelannya tanpa membantah. Setelah itu, Ranti merapikan selimut yang menutupi tubuh putri bungsu kesayangannya.
Sebelum beranjak pergi, Ranti memberikan satu peringatan kecil dengan nada tegas namun penuh kasih.
"Udah ya, jangan terlalu lama main handphone terus. Nanti matanya lelah dan bikin kepala kamu jadi pusing lagi. Mending sekarang tidur, istirahat yang nyenyak."
"Iya, Mah..." jawab Acha patuh.
Mendengar kepatuhan putrinya, Acha lantas meraih ponsel yang tadi sempat dia gunakan untuk video call, lalu menarik dan meletakkannya kembali ke atas meja nakas di samping tempat tidur.
Merasa tubuhnya sudah jauh lebih nyaman dan kantuk mulai menyerang efek dari obat serta kelelahan, Acha menutup matanya rapat-rapat.
Tak butuh waktu lama baginya untuk hanyut dalam ketenangan dan terlelap tidur dengan pulas.
Melihat Acha yang sudah mulai tertidur pulas, Ranti tersenyum kecil. Dia melangkah pelan menuju pintu kamar, mematikan lampu kamar agar suasana menjadi lebih redup dan nyaman untuk beristirahat, lalu menutup pintu dengan rapat meninggalkan Acha yang terlelap dalam mimpi indahnya.
Sore harinya, ponsel Fitri berdering nyaring di tengah kesibukan rumah. Nama Nathan terpampang jelas di layar panggilan. Fitri pun langsung menggeser tombol hijau untuk menjawab telepon dari calon kakak iparnya itu.
"Halo, A Nathan?" sapa Fitri.
Di seberang sana, suara Nathan langsung terdengar dengan nada sedikit cemas. "Halo, Fit. Mau nanya, Acha gimana kondisinya sekarang? Dari tadi aa hubungi kok nggak bisa-bisa ya, nomornya juga gak aktif."
Mendengar kekhawatiran Nathan, Fitri langsung terkekeh pelan. "Oh, wajar kalau nggak aktif, Kak. Kuota internetnya teh Acha ternyata habis, makanya dia nggak bisa dihubungi. Lagian orangnya juga lagi pulas banget tidur dari tadi habis minum obat dan dibersihin sama Mamah."
Mendapat penjelasan itu, napas lega terdengar di ujung telepon dari suara Nathan yang langsung melunak.
"Oh, begitu ya... Syukurlah kalau dia lagi istirahat. Biar nanti aku yang bantu isikan kuota buat dia biar kalau bangun bisa langsung dihubungi lagi," balas Nathan penuh perhatian.
"Fit, boleh minta tolong lagi nggak?" pinta Nathan dari seberang sambungan telepon dengan nada penuh harap.
"Aa pengen lihat kondisi Acha secara langsung lewat video call di Handphone kamu. Takutnya kalau ditelepon nggak masuk, tapi aku kangen pengen lihat mukanya."
Fitri mengangguk-angguk paham meski Nathan tidak bisa melihatnya. "Oh, boleh, a! Tunggu ya, aku ke kamarnya teh Acha sekarang."
Fitri lantas melangkah pelan menuju kamar Acha, memastikan gerakannya tidak sampai membangunkan sang kakak yang sedang tidur nyenyak.
Setibanya di dalam kamar yang temaram, dia mengubah mode panggilan suaranya menjadi video call dan mengarahkan kamera ponselnya tepat ke arah ranjang tempat Acha terlelap.
Di layar ponselnya, Nathan langsung bisa melihat wajah damai Acha yang sedang tidur pulas dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Seketika itu juga, ekspresi Nathan melembut.
Dia menatap layar ponselnya dengan pandangan penuh cinta dan kesejukan yang mendalam, menikmati setiap detail wajah gadis yang sudah merebut hatinya itu.
Begitu terpesonanya Nathan hingga tanpa sadar, suara bisikannya lolos begitu saja dari mulutnya menembus sambungan telepon
"Cantik banget..."
Fitri yang mendengar ucapan pelan itu lewat speaker ponselnya spontan tersenyum-senyum sendiri di dalam kamar, merasa gemas dengan bucinnya calon kakak ipar yang satu itu.
Merasa cukup lama berdiri di dekat pintu kamar dengan posisi tangan yang mulai pegal memegang ponsel, Fitri berbisik pelan ke arah mic handphone-nya agar tidak membangunkan sang kakak.
"A Nathan, udah dulu ya panggilannya. Teh Acha takutnya nanti kebangunan, lagian kakiku udah pegel banget nih berdiri terus di sini," bisik Fitri memberikan alasan.
Dia lalu menambahkan, "Udah deh, aa nggak usah khawatir gitu. Teh Acha nggak bakal kemana-mana kok, dia lagi tidur nyenyak."
Di seberang sana, Nathan tampak masih enggan memutuskan sambungan. Sebelum Fitri benar-benar menutup panggilan, Nathan buru-buru menimpali,
"Eh, sebentar, Fit! Kalau gitu tolong videoin sebentar dong Acha yang lagi tidur, terus kirim videonya ke aku ya."
Mendengar permintaan itu, dahi Fitri langsung mengernyit bingung. Dia melirik sekilas ke arah Acha yang masih pulas, lalu kembali menatap layar ponselnya dengan sebelah alis terangkat.
"Hah? Buat apa juga a Nathan nyimpen video teh Acha lagi tidur mangap gitu? Aneh-aneh aja."
Nathan terkekeh pelan di ujung telepon, memberikan alasan khas orang yang sedang kasmaran berat.
"Ya buat jaga-jaga kalau nanti aa kangen lagi sama dia. Biar ada obatnya kalau lagi nggak bisa dihubungi."
Seketika itu juga, Fitri langsung mendengus geli. Pertahanan lucunya jebol, membuatnya tak kuasa menahan tawa renyah yang tertahan.
"Ya ampun, bucin banget sih, a Iya deh, iya, nanti aku videoin sebentar terus dikirim ke WhatsApp. Udah ya, mau aku matikan panggilan telponnya!" bisik Fitri gemas, sebelum akhirnya mengakhiri panggilan video tersebut dengan kepala yang menggeleng-geleng pelan mendapati tingkah bucin calon kakak iparnya itu.
Di ruang usahanya yang mulai sepi menjelang sore hari, Nathan sama sekali tidak memperdulikan kesibukan di sekitarnya.
Ponsel di dalam genggamannya baru saja menerima kiriman file video berdurasi pendek dari Fitri. Tanpa membuang waktu, Nathan langsung mengeklik dan memutar video tersebut.
Di layar kecil itu, tampak Acha yang sedang tertidur pulas dengan selimut yang menutupi setengah tubuhnya. Napasnya teratur, wajahnya terlihat begitu damai dan tenang.
Nathan menatap layar tersebut dengan tatapan yang begitu dalam, seolah-olah raga Acha benar-benar berada tepat di hadapannya.
Senyuman tipis dan tulus terukir jelas di bibirnya, memperlihatkan betapa dia sangat mengagumi gadis itu.
Dia terus memutar ulang video tersebut berulang-ulang tanpa rasa bosan, terhipnotis oleh pesona kekasih barunya.
Tanpa Nathan sadari, sejak tadi Iyan sahabatnya tengah berdiri di dekat meja kerjanya sambil membawa setumpuk kain sablon pesanan sandal.
Iyan sudah mencoba mengajak Nathan berbicara soal jadwal pengiriman barang, namun batang hidung Nathan sama sekali tidak bergeming.
Pria itu justru terus menunduk, tersenyum-senyum sendiri sambil menatap layar ponselnya lekat-lekat.
Karena merasa diabaikan, Iyan akhirnya mendekat dan melongokkan kepalanya ke arah layar ponsel Nathan.
"Woi! Dari tadi diajak ngobrol serius bahas pesanan pelanggan, malah senyum-senyum sendiri kayak orang kesurupan. Emang lagi lihat apa sih, serius banget sampai dipelototin begitu?" tegur Iyan penasaran sambil menyenggol bahu Nathan.
Nathan sontak sedikit terkesiap. Dia buru-buru mengunci layar ponselnya lalu memasukkannya ke dalam saku dengan wajah salah tingkah, meskipun senyum lebar masih enggan lepas dari bibirnya.
"Ah, loh masa gitu aja nggak tahu, Yan. Ini lagi check kondisi pawang gue..." jawab Nathan santai, tak kuasa menutupi raut bahagianya.
Iyan yang mendengar jawaban itu hanya bisa memutar bola matanya malas sambil terkekeh geli melihat tingkah sahabatnya yang kini telah resmi berstatus sebagai seorang kekasih dan berubah menjadi bucin tingkat akut.
Selepas jam kerja sablon selesai dan suasana mulai berangsur petang, Nathan memutuskan untuk mampir ke rumah Iyan.
Bukan sekadar untuk nongkrong atau membahas pekerjaan, kedatangan Nathan kali ini memiliki tujuan khusus yang penting.
Mengingat kondisi kesehatan Acha yang belakangan ini kerap drop, mulai dari sesak napas akibat asap rokok hingga lambungnya yang kembali kambuh karena sate kurban, Nathan merasa khawatir dan ingin ikhtiar lebih agar sang kekasih lekas diberi kesembuhan total.
Nathan bermaksud untuk meminta air doa kepada ayah Iyan, yaitu Pak Edi. Sosok yang akrab disapa "Babeh Edi" oleh warga sekitar itu memang sudah sangat terkenal di lingkungan mereka karena sering dimintai tolong untuk mendoakan air bagi orang-orang yang sedang sakit, dan banyak yang percaya air doanya mujarab untuk membantu menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Sesampainya di rumah Iyan, Nathan langsung disambut oleh sahabatnya itu dan diajak masuk untuk menemui Babeh Edi yang sedang duduk santai di teras belakang rumah.
Dengan sopan, Nathan mengutarakan niat kedatangannya, menceritakan kondisi Acha yang baru saja sakit, dan memohon agar Babeh Edi berkenan mendoakan sebotol air putih untuk dibawa pulang dan diminumkan kepada Acha.
Be to continued