"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30.Hak dan hubungan.
Suasana di ruang tamu mendadak menjadi begitu pekat dan menyesakkan, seolah udara di dalamnya tiba-tiba berubah menjadi bara api yang siap melahap siapa saja yang berani melangkah. Alif masih terpaku di tempat, jantungnya berdegup kencang bukan hanya karena rasa sakit yang tersisa, melainkan karena aura mengancam yang memancar dari sosok Arya yang berdiri tegak tak jauh darinya. Mata pria itu menyala samar kemerahan, seolah ada lautan api yang bergejolak di balik tatapan tajamnya.
“Kau dengar ucapanku tadi?” suara Arya rendah namun bergema hingga ke sudut-sudut ruangan, penuh dengan peringatan yang tak bisa ditawar. “Buang jauh-jauh niatmu untuk mendekat atau memiliki Raisa. Kau tidak pantas bahkan hanya untuk meliriknya lebih lama dari yang seharusnya.”
Rasa takut yang sempat merayap di dada Alif perlahan tergantikan oleh rasa kesal dan amarah yang meledak. Bagaimana mungkin makhluk yang bukan manusia, yang dianggap kebanyakan orang sebagai makhluk gaib penunggu rumah, berani melarangnya merasakan apa yang dirasakan hatinya? Dengan napas yang memburu, Alif mendongakkan kepalanya menatap tajam ke arah Arya.
“Memangnya kau siapa? Kau bukan keluarganya, bukan saudaranya, apalagi kekasihnya! Kau hanya makhluk halus yang tinggal di rumah ini! Memangnya kau pikir kau pantas berdiri di sampingnya dan melarang orang lain mendekatinya?” bentak Alif dengan berani, meski tubuhnya masih bergetar hebat. “Kau sendiri tidak tahu apa itu perasaan manusia, jadi jangan berlagak seolah kau pemilik mutlak atas hidupnya!”
Wajah Arya seketika berubah mengerikan. “Apa katamu?!” teriaknya meledak, tangan kanannya terangkat otomatis memancarkan nyala api yang makin membesar, seketika menerangi seluruh ruangan dengan cahaya merah menyala.
“Iya! Itu kenyataannya!” balas Alif tak mau kalah, meski keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. “Dia manusia biasa, dia punya hak untuk memilih siapa yang ada di sisinya! Kenapa kau yang berhak melarangku? Apakah kau takut kalau aku lebih mampu menjaganya daripada kau? Makhluk sepertimu takkan pernah mengerti apa yang dia butuhkan!”
Belum sempat Arya melangkah maju, sebuah suara tegas namun jernih tiba-tiba membelah ketegangan itu.
“Siapa bilang Arya tidak berhak padaku?”
Keduanya serentak menoleh. Raisa berdiri di ambang pintu, wajahnya tak lagi ceria seperti tadi, melainkan penuh ketegasan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Ia melangkah mantap masuk ke tengah ruangan, berdiri tepat di antara mereka berdua, memisahkan sosok Arya yang penuh amarah dan Alif yang penuh emosi.
“Dengar baik-baik, tuan,” ucap Raisa perlahan namun tegas, matanya menatap lurus tepat ke manik mata Alif. “Aku tidak tahu apa yang membuatmu berani bicara seperti itu pada Arya, atau apa yang kau pikirkan tentang hubungan kami. Tapi satu hal yang harus kau tahu adalah Arya sekarang adalah keluargaku. Dia adalah orang yang menjagaku saat tak ada satu pun manusia yang peduli padaku. Dia adalah satu-satunya tempat aku pulang.”
Raisa menghela napas panjang, lalu melanjutkan dengan suara yang tak bisa dibantah lagi. “Aku tidak butuh orang asing menilai apa yang ada di antara kami. Jika kau berada di sini untuk berteduh dan berterima kasih, maka jaga sikapmu dan jangan merusak apa yang sudah kami bangun. Tapi jika kau datang untuk mengganggu dan memaksakan kehendakmu... lebih baik kau pergi sekarang juga dan kembali pada kelompok penganggu itu.”
Setelah itu, ia memalingkan wajah perlahan ke arah Arya. Tatapan tegasnya seketika melembut, digantikan oleh pandangan penuh kasih sayang dan pengakuan yang tulus. Ia meraih tangan besar Arya yang masih terasa hangat dan sedikit bergetar karena amarah, menggenggamnya erat di antara kedua tangannya.
“Jangan dengarkan ucapan orang yang tak mengerti apa-apa tentang kita,” bisiknya lembut namun cukup terdengar oleh mereka semua. “Bagiku, kau adalah orang yang paling berhak mengatur siapa saja yang boleh mendekatiku. Kau adalah pelindungku, Arya. Dan aku percaya padamu sepenuhnya.”
Kemarahan yang tadi meluap-luap di mata Arya perlahan mereda, digantikan oleh rasa haru yang mendalam. Senyum tipis namun tulus terukir di bibirnya, ia mengangguk pelan merespons genggaman tangan Raisa. Perasaan bangga dan dihargai itu begitu kuat menyelimuti hatinya, membuatnya lupa sejenak dengan keberadaan orang lain di ruangan itu.
“Mari kita pergi makan,” ajak Raisa lembut sambil menarik perlahan tangan Arya. “Perutku sudah lapar sekali, dan tadi Pak Budi membawa sayuran segar katanya.”
Mereka berdua pun berjalan beriringan melewati Alif yang masih berdiri terpaku. Ketenangan dan kebersamaan yang terpancar dari mereka membuat Alif terdiam seribu bahasa, mulutnya terasa terkunci rapat tak mampu mengucapkan sepatah kata pun untuk membela diri. Hatinya terasa perih bukan karena penolakan, melainkan karena kesadaran bahwa ia telah salah menilai segalanya.
Dari sudut ruangan, Jatmika yang sedari tadi mengamati dengan tenang kini melangkah mendekat. Wajahnya tetap datar namun ucapannya terdengar penuh peringatan.
“Jaga sikapmu selama kau masih berada di sini,” ucapnya datar namun berat. “Kau seharusnya bersyukur pada Nona Raisa. Sedetik saja jika dia tidak ada di sana, kau sudah berubah menjadi abu yang tak bersisa saat ini juga.”
Setelah mengucapkan itu, Jatmika berbalik dan berjalan tenang menuju ruang makan. Tak lama kemudian, Sekar datang membawa keranjang berisi buah-buahan segar dari kebun belakang, menatap Alif dengan tatapan yang lebih lembut namun tetap berwibawa.
“Sebaiknya Tuan ikut kami makan bersama,” ucap Sekar pelan. “Makanan akan terasa lebih enak jika dimakan bersama, meskipun kita baru saja saling mengenal.”
Sekar pun berjalan menyusul Jatmika, disusul tak lama kemudian oleh Pak Budi yang berjalan santai dari arah luar sambil tersenyum ramah.
Alif menghela napas panjang, merapikan napasnya yang masih tersengal, lalu perlahan mengikuti langkah mereka menuju ruang makan. Di kejauhan, ia melihat pemandangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Di meja makan panjang itu, sosok Ba nas pati yang ditakuti semua makhluk duduk berdampingan dengan gadis manusia yang ia cintai. Di sekeliling mereka, Sekar, Jatmika, dan Pak Budi bercengkrama dengan riang, saling melempar canda tawa layaknya keluarga yang sudah bersatu puluhan tahun. Tidak ada kesan asing, tidak ada rasa takut yang berlebihan. Di sini, perbedaan antara manusia dan makhluk halus tak menjadi penghalang untuk saling menyayangi dan melindungi satu sama lain. Sesuatu yang tak pernah ia temukan di organisasinya sendiri, di mana kedekatan hanya terlihat di permukaan namun penuh kepalsuan dan bahaya di baliknya.
Suasana hangat itu perlahan menenangkan hati Alif yang sempat bergemuruh. Ia duduk di kursi yang disiapkan, menundukkan pandangan sejenak penuh rasa malu.
Setelah makan selesai dan Pak Budi kembali melanjutkan tugasnya di luar, keheningan sejenak menyelimuti ruangan. Alif tiba-tiba berdiri tegak di hadapan Arya yang sedang duduk bersandar santai sambil mengupas buah untuk Raisa. Dengan napas yang dalam dan keputusan yang bulat, Alif menekuk lututnya hingga berlutut di lantai.
“Tuan Arya... tolong aku,” ucapnya lirih namun penuh permohonan, kepalanya tertunduk dalam. “Selamatkan aku dari ketua organisasi tempatku bernaung. Mereka tidak akan membiarkan siapa pun yang pergi dari lingkaran mereka hidup tenang. Bagi mereka, anggota yang lari adalah musuh yang harus dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Hanya kau... hanya kau yang memiliki kekuatan dan kekuasaan yang mampu melindungiku dari amarah mereka.”
Arya berhenti mengupas buah sejenak, ia dan Jatmika saling berpandangan sekilas seolah berkomunikasi tanpa suara. Sementara itu, Raisa hanya diam memperhatikan sambil perlahan memakan potongan buah yang sudah bersih, matanya penuh rasa iba namun ia tak lagi ikut campur urusan yang bukan ranahnya.
“Mengapa kau yakin aku mau menolongmu? Padahal tadi kau hampir membuatku meledakkan amarahku?” tanya Arya dingin, namun ada nada penasaran yang terselip di dalamnya.
“Karena aku sadar... hanya kau yang berbeda dari semua makhluk yang pernah kutemui,” jawab Alif mantap meski masih menunduk. “Kau memiliki kekuatan yang mengerikan, namun kau gunakan untuk melindungi yang lemah. Aku berjanji... jika kau bersedia melindungiku, aku akan menjadi orang yang setia dan takkan pernah lagi melanggar batas yang kau tentukan.”
Keheningan kembali menyelimuti ruangan, menunggu keputusan yang akan mengubah nasib Alif selamanya.