Indonesia
NovelToon NovelToon
Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Teen
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: See You Soon

Warning! Reverse Harem!!


Ratu Ahimsa Yunanda hanya ingin menjadi siswi SMA biasa. Di tahun ajaran barunya, Yuna sudah membuat satu keputusan sederhana:

Jangan mencolok.

Jangan sampai orang lain menyadari bahwa cara berpikirnya tidak seperti kebanyakan orang.

Bagi Yuna, menjadi terlalu berbeda hanya akan membuatnya sulit diterima. Maka ia belajar menahan diri.

Menahan analisis yang terlalu dalam.

Bahkan menahan komentar-komentar yang sebenarnya sudah berdesakan di kepalanya.

Ia hanya ingin menjalani masa SMA seperti remaja lainnya.

Namun ternyata, menyembunyikan dirinya sendiri jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.

Sebab tanpa disadari Yuna, justru sisi dirinya yang paling berusaha ia tutupi mulai menarik perhatian tiga orang pemuda. Dan terpaksa menghadapi satu masalah yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.

Bagaimana jika orang-orang yang selama ini ingin ia jauhi justru menjadi orang-orang yang paling memahami dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tim Penyerang

"Untuk Joshua..."

Yuna kembali menatap papan tulis.

"...aku punya alasan lain."

Joshua sedikit menegakkan badan.

"Gue diganti juga nih?"

Yuna mengangguk. Tatapan matanya masih tajam, hingga membuat Joshua mengernyit.

"Sama?"

Yuna menggeser pandangannya. Sampai akhirnya berhenti pada satu orang dengan jepit rambut berbentuk not musik berwarna pink.

"Melody."

"Pftt! Hah?!"

Melody yang baru saja minum pun langsung menyemburkan sisa minumannya.

"Aku?!" tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri.

Yuna hanya mengangguk.

Melihat itu, mata Melody langsung membelalak tak percaya. Tumblr-nya yang berwarna pink menggantung di udara.

"Yuna..."

Ia melirik ke arah lapangan imajiner di pikirannya. Kemudian melihat kedua tangannya sendiri. Kemudian kembali menatap Yuna.

"Kamu yakin?"

"Iya."

"I-ini bentengan loh."

"Aku tahu."

"Dan aku?"

"Kamu kandidat yang sempurna untuk peran ini."

Melody menggeleng cepat. Kedua tangannya membentuk pose silang di depan dadanya.

"No! No! No! Ini nggak masuk akal banget!"

Beberapa anak mulai menahan tawa. Karena Melody memang bukan tipe yang terlihat cocok untuk permainan fisik.

Ia lebih dikenal karena sifatnya yang heboh, banyak bicara, mudah panik, dan punya kemampuan luar biasa untuk mengeluhkan hal-hal yang bahkan tidak dipikirkan orang lain.

Namun Yuna mendadak tersenyum hangat. Seolah seluruh protes dari cewek itu bukanlah sesuatu yang harus tim khawatirkan.

"Aku perlu kamu sebagai tumbal."

Melody melotot.

"..."

Kelas hening sepersekian detik.

Yuna mendadak baru menyadari pilihan katanya.

"Eee..."

Ia berkedip.

"M-maksudku pengalihan."

Melody masih menatapnya dengan curiga.

"Pengalihan? Emang iya?"

Beberapa anak mulai menutup mulut. Memaksa Yuna buru-buru untuk melanjutkan.

"Aku perlu kamu ketika nanti kamu tertangkap dan menjadi tawanan nanti..."

Melody mengernyit.

"Ajak penjaganya ngobrol."

"Ngobrol?!"

"Entah karena kamu mengeluh kepanasan."

Melody membuka mulut.

"Atau salah make-up."

Ia kembali membuka mulut.

"Atau tanganmu terasa miring."

"Apaan tangan miring?!"

Melody memprotes setelah mendengar tawa yang tertahan mulai lolos di sekelilingnya.

"Itu skill alami kamu tahu," sahut Yuna masih bersikap serius.

"Apaan skill ngeluh? Aku itu emang bener-bener kurang nyaman soal—"

Tawa yang sebelumnya tertahan pun akhirnya pecah. Namun juga diselingi anggukan setuju dari beberapa anak.

"Itu memang Melody sih."

"Dia pernah ngeluh AC kurang dingin padahal kita semua kedinginan."

"Dia pernah komplain es batu kurang banyak."

Melody memelotot. Pandangannya menyisir ke seluruh kelas yang mulai membenarkan ucapan Yuna barusan.

"Ya terus kenapa?!"

Yuna melanjutkan tanpa terpengaruh.

"Intinya, kamu punya kemampuan untuk membuat percakapan menjadi panjang."

Melody terbungkam.

Yuna kembali menunjuk papan.

"Kalau kamu tertangkap, kamu bisa mengulur waktu."

Kemudian ia menunjuk ke arah beberapa pemain lain.

"Dan selama penjaga sibuk mendengarkanmu..."

Ia menggerakkan jarinya seperti menunjukkan jalur.

"...pemain lain bisa bergerak."

"Anjir gila!"

Seseorang langsung berseru.

"Melody jadi striker?"

Andito ikut tertawa.

"Ini baru strategi gila."

Melody memicingkan mata. Ia masih tidak terima dengan istilah tumbal tadi.

Namun ketika ia kembali menatap papan—menatap sepuluh nama—lalu menatap teman-teman sekelasnya, ada sedikit perubahan di wajahnya.

Meskipun perasaannya terus berkata bahwa ia bukanlah pemain yang cocok. Mungkin juga bakalan di cap sebagai pemain paling aneh di lapangan nanti. Ada satu hal yang cukup mengganggu, hingga membuatnya tidak bisa menolak posisi yang Yuna sarankan barusan.

Yaitu keinginan untuk menang. Keinginan untuk berkontribusi, agar kelas mereka tidak kalah dalam sekali tanding.

Melody akhirnya menghela napas berat. Seolah mulai menerima akan amanah yang dibebankan kepada dirinya.

"Iya, iya..."

Ia mengangkat tangan kanannya.

"Aku ngikut."

Beberapa anak bersorak kecil.

Namun sorakan itu langsung terhenti ketika Melody mendadak mengangkat telunjuknya.

"Tapi janji yaa!"

Angga mengernyit.

"Janji apa?"

"Abis acara..."

Melody menatap Angga dengan sangat serius.

"...aku dibeliin es teh jumbo."

Angga hendak mengangguk menyetujui.

Namun Melody justru mengangkat dua jari.

Dan menambahkan—

"DUA BIJI!" pungkasnya penuh ketegasan.

Angel langsung menepuk punggung Melody.

"Semangat, Mel!"

Putri ikut menepuk bahunya dari sisi lain.

"Semoga tumbalnya sukses."

"WOI!"

Melody langsung menoleh kesal.

Namun kedua temannya malah tertawa merasa tak bersalah.

Rachel yang sudah berdiri di depan papan akhirnya mengganti nama JOSHUA, menjadi:

MELODY

"Jadi maafkan aku jika aku tak memilihmu untuk masuk ke tim utama, Joshua," ucap Yuna lagi.

Joshua yang sedang memutar-mutar bolpoinnya sembari memperhatikan namanya dihapus, refleks melirik kepada Yuna.

"Tak apa. Gue—"

"Bukannya aku menganggapmu kurang mumpuni, tidak..."

"Hanya saja..."

Pandangan Yuna beralih ke Melody yang masih tampak bersungut-sungut. Kemudian kembali ke arah Joshua yang masih menunggu alasannya.

"Kamu kurang heboh dan centil ketimbang dia," pungkasnya sembari meringis kecil.

Refleks, alis Joshua terangkat. Matanya membulat. Seolah seluruh hal yang mengganjal di benaknya, luruh seketika.

"Anjir lah..."

Ia berdecak kesal.

"Tapi ya... Melody paling jago sih soal masalah ginian."

Joshua kembali melirik Melody yang kini telah kembali heboh bersama Angel dan Putri. Seolah percakapan antara Yuna dan Joshua, tak sampai ke pendengarannya.

Yuna pun tersenyum hangat.

Namun—

Angga yang sejak tadi memperhatikan tiba-tiba angkat bicara.

"Jadi kalo semisal dia bertugas hanya sebagai pengalih, bukannya..."

Yuna menoleh ke arah Angga. Alisnya menajam.

"Tim penyerang bakalan pincang ya? Karena serangan akan berkurang jika Melody berperan cuma mengalihkan doang?"

Yuna menelan ludah sekali.

"Betul."

Yuna menatap Melody.

"Karena jika merekomendasikan Melody menggantikan Joshua. Dan tim penyerang yang kamu katakan akan pincang itu..."

"Aku memintamu untuk menjadi penyerang tengah, Angga. Tutup ruang. Maju bila perlu. Mundur bila sempat. Dan yang paling penting..."

Angga menelan ludah.

"Jaga Melody agar tak bertindak sembrono."

Angga terdiam.

Kemudian terkekeh maklum.

Sedangkan Melody yang tak sengaja mendengar percakapan yang rupanya sedang membahas dirinya, ia langsung kembali menoleh dan melotot mendengarnya.

Meskipun,

"Nahh kalo konsepnya kek gitu, aku setuju jadi tim penyerang," ucapnya dengan suara yang lebih ringan ketimbang sebelumnya.

"Soalnya kan yang ngelindungi aku Angga. Pasti bakalan aman deh," pungkasnya sembari terkekeh.

Angga di depan hanya mengernyit. Kemudian menggeleng memaklumi.

Tiba-tiba—

"Gue juga mau kok, ngelindungi Melody!" sahut Rio tiba-tiba.

Melody buru-buru menoleh ke sumber suara itu.

"Nggak mau!" sergah Melody cepat. Membuat Rio terbungkam seketika akan niat baiknya yang ditolak secara mentah-mentah.

Suara tawa kembali terdengar di beberapa bangku.

Namun—

"Sekarang giliran kamu," ujar Yuna datar.

Kepalanya menoleh ke samping—ke tempat Andito yang sejak tadi bersandar santai langsung tersentak.

"Hah?"

Ia menunjuk dirinya sendiri.

"G-gue harus ngapain?"

Ia langsung merubah posisi duduknya. Lebih tegap dari sebelumnya entah kenapa.

Yuna tersenyum kecil menyeringai.

"Ini gara-gara kamu ngerjain aku, jadi akan ku tempatkan kamu di posisi sulit," titahnya sembari sedikit mencondongkan tubuhnya.

Andito mengerjap sekali.

Namun ucapan dan tatapan itu, malah membuatnya merasa tertantang akan posisi yang akan diusulkan Yuna.

"Boleh."

Tiba-tiba ia membusungkan dada. Mencoba menantang balik ke sang pengatur strategi kelas 10 IPS 1 itu.

"Penyerang, bertahan, atau apapun. Gue sanggup..."

"Serahkan semuanya pada gue. Dan gue..."

Pandangannya menyisir ke penjuru kelas.

"Bakalan gendong kelas 10 IPS 1."

Beberapa siswa langsung terkekeh. Bahkan Rendy yang bangkunya sedikit jauh, nampak berjalan mendekat hanya untuk menepuk punggungnya penuh rasa bangga.

"Jangan sentuh gua!"

Andito langsung menepis sentuhan itu.

Tetapi, Yuna malah tersenyum menyeringai.

"Menurut statistik..."

Alis Andito dan Rendy—yang hampir beranjak kembali ke bangkunya—langsung terangkat bersamaan.

"Statistik apaan?"

Yuna terdiam sepersekian detik.

"Eee..."

Ia membetulkan kacamatanya.

"Maksudku, keliatannya kemampuanmu seimbang dengan Rendy."

Rendy seketika langsung berbalik cepat dan menyentuh kedua pundak Andito.

"Gue? Sama Andito? Setara?"

Yuna mengangguk.

"Iya."

Ia menunjuk Andito.

"Kalian berdua punya kecepatan dan kemampuan mengejar yang relatif seimbang."

Kemudian jarinya berpindah ke Rendy.

"Kata siapa?"

"Statistik nilai."

"Statistik nilai?"

"Eee... kan dari buku nilainya Pak Firman penjas ada."

"Lu ngelihatin buku nilai kita?"

"C-cuma sekilas kok!"

Yuna semakin gelagapan.

"Lu bisa diem nggak sih, Kocak?!"

Andito dengan sigap langsung membungkam mulut Rendy.

"Mmhh! Mmhh! Lepasin!"

"Oke, sudah. Silakan dilanjut, Yuna," ucap Andito sembari memiting leher Rendy yang masih meronta.

Yuna hanya meringis. Namun ia buru-buru melanjutkan sebelum Rendy berhasil lepas.

"Jadi... aku ingin kalian menjadi sayap kanan dan sayap kiri."

Andito mengernyit.

"Sayap?"

Yuna sedikit memiringkan kepala.

"Atau apalah penyebutannya."

"Yang penting..."

Yuna menunjuk papan.

"...kalian menyerang pertahanan musuh dari dua arah."

Ia menggambar dua garis sederhana yang bergerak dari sisi kanan dan kiri menuju tengah.

"Jangan bergerak beriringan."

Andito mulai memperhatikan.

"Kalau kamu maju dari kanan..."

"Rendy dari kiri."

Rendy mendengarkan selama beberapa detik, kemudian mengangguk paham.

"Kalau salah satu dari kalian dikejar, yang satunya jangan ikut mengejar balik."

"Justru gunakan ruang kosong yang ditinggalkan musuh."

Andito mengangguk pelan.

"Oh..."

Ia mulai mengerti.

Perlahan, cengkeraman tangannya pada leher Rendy pun sepenuhnya terlepas.

"Jadi bikin mereka bingung harus ngejar siapa ya?"

"Betul."

Yuna kemudian menoleh ke depan. Kepada Angga yang masih berdiri di dekat papan.

"Sedangkan Angga..."

Angga langsung mengangkat wajah.

"Kamu yang mengkoordinasikan tim."

Yuna menunjuknya.

"Atur kapan mereka maju."

Kemudian ia menunjuk garis-garis di papan.

"Kapan mundur."

"Kapan mengalihkan perhatian."

"Dan kapan kita fokus menyerang benteng."

Angga tersenyum tipis. Ia tidak bisa menyembunyikan sedikit rasa kagum.

Cara Yuna menjelaskan semuanya terdengar seperti sedang membahas pertandingan besar. Bukan sekadar permainan bentengan antarkelas. Seolah-olah mereka sedang menyusun strategi untuk pertandingan sepak bola antarnegara.

Namun Yuna belum selesai.

"Oh iya..."

Suara kecil itu langsung membuat beberapa anak yang tadi mulai bercanda kembali diam. Seluruh perhatian kembali tertuju kepadanya.

Yuna melihat daftar nama. Kemudian menunjuk satu orang.

"Sebenarnya yang paling penting bukanlah Angga."

Ia berhenti.

"Bukan juga Andito."

Andito mengangkat alis.

"Gue nggak penting buat kamu?" ucapnya mendramatisir.

"Diem jir!" sanggah Rendy cepat.

Yuna tak menggubris.

Ia justru menggeser jarinya.

"Melainkan..."

Ia menunjuk nama berikutnya.

"Ega."

Ega yang sejak tadi duduk tenang langsung membelalak.

"Gue?"

Beberapa anak spontan menoleh kepadanya.

Wajah Ega perlahan berubah. Seolah baru menyadari bahwa dirinya akan menerima tanggung jawab yang jauh lebih besar. Karena gadis itu, terlihat menatapnya lebih fokus ketimbang teman-temannya sebelumnya.

"Dengan postur tubuhmu yang cukup pas untuk menyusup..."

Ia kemudian menunjuk bagian depan papan.

"...dan kecepatan larimu."

Yuna tersenyum.

"Aku ingin kamu menjadi finisher."

Ega terdiam.

"Finisher?"

Yuna mengangguk.

"Kalau pertahanan mereka sudah terbuka..."

Ia membuat gerakan seolah menarik garis lurus menuju benteng lawan.

"...kamu yang masuk."

"Jangan berhenti untuk mengejar pemain lain."

"Jangan terpancing."

"Fokus ke satu tujuan."

Yuna menunjuk tulisan BENTENG di papan.

"Sentuh benteng."

Senyum kecil muncul di wajahnya. Kali ini bukan senyum canggung. Bukan pula senyum karena gugup.

Melainkan senyum penuh keyakinan. Seolah seluruh susunan yang ada di papan itu sudah tersusun sempurna di dalam kepalanya.

Andito memandang papan.

Rendy ikut memperhatikan.

Angga menatap kembali susunan strategi tersebut.

Bahkan Ega yang tadi tampak gugup kini mulai tersenyum.

"Iya deh."

Ia mengangguk.

"Gue ngikut."

Yuna mengangguk puas.

"Bagus."

Andito menyandarkan tubuhnya kembali. Namun kali ini dengan ekspresi yang berbeda.

Ia menatap Rendy.

"Berarti kita sayap."

Rendy menyeringai.

"Lu kanan."

"Gue kiri."

"Jangan kalah cepat."

Andito tertawa.

"Harusnya gue yang ngomong."

Di depan kelas, Angga kembali melihat papan tulis.

Sepuluh nama.

Dan kini masing-masing sudah memiliki peran.

Ia mengembuskan napas pelan.

"Kalau strategi ini berhasil..."

Rachel menyahut dari samping papan.

"...kita bakal jadi kelas paling ribet buat dikalahkan."

Angga tersenyum.

"Semoga."

Sementara Yuna hanya berdiri diam. Matanya masih terpaku pada susunan strategi itu.

Untuk pertama kalinya sejak pembahasan dimulai...

Ia tidak terlihat ingin menghindar dari perhatian. Justru sebaliknya.

Ada sedikit rasa puas di wajahnya. Seolah permainan bentengan yang awalnya hanya dianggap sebagai lomba biasa...

Perlahan berubah menjadi sebuah papan permainan besar di dalam kepalanya.

1
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Yuna cepat juga mengambil kesimpulan, aku aja masih menerka-nerka tadi🤭
Moon.: kak? kok bisa kamu ikut²an
aku aja ngegambarinnya abstrak lohhh 😭
total 1 replies
⋆˚𝜗𝜚˚⋆Blue_Sea⋆˚𝜗𝜚˚⋆
rl, kesel banget
My_Lucia
andito udah kena pesona Yuna 🤭
My_Lucia
kereunn otodidak
My_Lucia
habis Olga emng seger minum es 🤭
Mochi
yuna pinter juga ya. eh ini sih authornya yg pinter😄
Mochi: 🏃‍♀️💨💨 kabuuuur
total 2 replies
Mochi
aku juga jd ikut nungguin pendapat yuna
Alia Chans
ngefans banget ama Yuna /Smile//Smile//Smile/
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Pasti dari sekolah lain yang lagi nugas juga, nih
Moon.: bener bangett
total 1 replies
Mochi
ayo yuna.. keluarkan pendapat dan analisamu👍
Mochi
Anggaaa.. ikut tutup muka ngga🤣🤣🤣
Moon.: eh salah namaaa
seharusnya anditoo😭😭😭
total 1 replies
Mochi
menurutku ini paling susah nih. krn harus cari keseluruh area sekolah
Moon.: bagi anak PMR, ini mudah bangett🤭🤭
total 1 replies
Syahira🌹
abang Yuda nggak mau kalang deh🤣
Alia Chans
Andito ama Yuna kayanya gk buruk thor🤣🤣🤣
Moon.: bolehh
tapi kan masih ada 2 pesaing lain 🤭🤭
total 1 replies
My_Lucia
ayoo melody semangat... bisa ga ya dia .. 🤭
My_Lucia
wih.. mulai protektif ni🤭
My_Lucia
judulnya bikin penampilan.. kedok nya siapa ini
Moon.: yahh begitulah si MC kita Yuna. terlalu analisis, tapi mencoba untuk bersikap normal wkwk
total 3 replies
Syahira🌹
Melody yang sabar yaaa🤣🤣
Mochi
bakalan seruuu ini
Moon.: seru banget donggg
total 1 replies
Mochi
tetnyata yg di kelas ini malah bersemangat👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!