"Menikahlah denganku dan jadilah istri juga ibu untuk kedua anakku!"
Apa jadinya jika pertemuan mu dengan seorang duda beranak dua bisa mengubah hidupmu dalam waktu singkat?
Itu yang dirasakan oleh Azkia Anandita Ayunindya. Gadis berusia dua puluh satu tahun. Seorang mahasiswa dari Universitas New Student Spirit, dari jurusan PG/SD.
Pertemuannya yang tidak disengaja dengan dua gadis kecil berhasil merubah hidupnya dalam waktu singkat. Sebab, ayah dari kedua gadis kecil itu memintanya untuk menikah dengannya.
Arkanza Abbiyya Bassam.
Seorang pengacara muda yang berusia dua puluh delapan tahun. Arkanza terkenal sebagai pengacara yang selalu berhasil menyelesaikan setiap permasalahan kliennya berkat ketelitiannya.
Karena desakan dari ibu nya, yang selalu memintanya untuk menikah dalam waktu cepat, membuat Arkanza pusing. Padahal banyak wanita yang selalu mengantri untuk menjadi istrinya, meskipun mereka tau bahwa Arkanza adalah seorang duda beranak dua.
Namun sayangnya Arkanza tidak bisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Happy reading
❄️❄️❄️
Karl menatap ke arah ruangan ICU tempatnya ke Zayn. Tubuh pria paruh baya itu terpasang lengkap dengan alat-alat rumah sakit yang membantunya untuk tetap hidup.
"Apakah pelaku kecelakaan paman Zayn sudah ditangkap?" Tanya Karl menoleh ke arah Azkia.
"Belum, karena sehabis menabrak papa orang itu langsung melarikan diri." Jawab Azkia lirih tanpa berpaling sama sekali dari kaca yang menjadikan pemisah antara ruangan ICU dan juga diluar.
"Aku ikut prihatin dengan musibah yang menimpah paman Zayn, semoga saja pelakunya cepat ditemukan."
"Iya Karl, semoga orang itu cepat ditemukan."
"Iya kalau misalnya pelakunya di temukan, aku ingin menghajarnya, serta menjambak rambutnya kalau bisa." Sambung Naila dengan geram.
"Iya, sudah buat orang celaka malah nggak bertanggung jawab lagi." Decak Ailsie membenarkan.
"Thanks ya kalian sudah ada di dekatku dan menyemangati ku. Kalau nggak ada kalian mungkin aku akan selalu sendirian disini menunggu papa." Lirih Azkia terharu.
"Ihh, kayak siapa saja. Kita ini teman loh!" Protes Naila mendapatkan anggukan dari Ailsie."Kita akan sama-sama terus. Apalagi sekarang ada Karl, makin lengkap persahabatan kita."
"Jangan ada yang disembunyikan dari kita, apapun itu harus tetap terbuka. Walaupun masalah yang kita hadapi nggak ada solusinya tapi dengan terbuka kita bisa menghadapinya sama-sama." Lanjut Ailsie mendapatkan anggukan dari Azkia.
Dia sangat beruntung memiliki sahabat seperti mereka yang mau mengerti dirinya.
"Lalu bagaimana dengan biaya perawatan paman Zayn. Aku tau ini pasti tidak sedikit bukan?" Keduanya menatap Karl setelah itu beralih ke arah Azkia.
Azkia yang mendapatkan tatapan dari kedua sahabatnya, hanya menghela nafasnya. Dia akan memberitahukan dari mana biaya rumah sakit sang ayah.
"Sebenarnya...." Azkia mulai menceritakan kesepakatannya dengan Arkanza, asal dia mau menikah dengan pria itu.
Karl yang mendengar ungkapan Azkia terpaku di tempatnya. Pria itu sangat sangat terkejut kalau gadis yang dia sukai ternyata sudah menikah, yang membuat jantungnya berdetak tidak keruan. Antara kecewa dan tidak percaya.
"Jadi kamu sudah menikah?" Tanya Karl tidak percaya membuat Naila dan Ailsie mengangguk."Pria itu kejam sekali memanfaatkan keadaan dengan cara memintamu menikah.” Ucap Karl tidak terima.”Aku akan memberikannya pelajaran." Geramnya dengan tangan yang mengepal.
"Sebaiknya jangan Karl." Cegah Azkia.
"Kenapa jangan Az? Kamu takut pengobatan paman Zayn di cabut? Kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu, karena aku akan membantumu membayar perawatan paman Zayn, daripada kamu terikat dengan pria itu, yang sudah menjebak mu dengan pernikahan." Terang Karl.
Mendengar ucapan Karl Azkia terdiam. Karl menawarkan hal yang baik untuk kebebasannya daripada dia terikat dengan pernikahan ini yang entah akan kemana. Apalagi Arkanza berlaku sesukanya. Tapi ia juga tidak mau merepotkan Karl karena biaya pengobatan Zayn tidaklah sedikit.
"Sorry Karl, tapi aku tidak bisa menerima tawaran mu," ungkap Azkia menatap mata Karl yang juga menatapnya.
"Kenapa? Kamu tidak perlu khawatirkan biayanya, aku masih bisa membantumu."
"Yang dikatakan Karl ada benarnya Az. Mending kamu terima aja tawaran Karl, daripada kamu terjebak dalam pernikahan yang tidak kamu inginkan. Apalagi tuh laki berlaku semaunya." Sambung Ailsie membenarkan.
"Iya betul tuh Az. Terima aja tawarannya, daripada kamu sakit hati sama perlakukan tuh laki." Lanjut Naila ikut mendukung.
Azkia tidak menjawab, membuat ketiganya menatapnya penuh harap."Kami akan selalu di sampingmu Az. Tidak perlu khawatir. Kalau sampai tuh laki melakukan macam-macam biar kami bantu gebukin." Ucap Ailsie menepuk pundak Azkia pelan.
"Iya Az. Walaupun kami tidak membantu mu, tapi kami kasihan jika melihat tertekan dengan pernikahan itu."
"Thanks ya, kalian benar-benar sahabatku yang selalu mendukungku."
"Kita sahabat seharusnya saling membantu." Jawab Karl tersenyum.
“Apalagi sekarang kita sudah sangat lengkap. Ayo berpelukan!" Seru Ailsie sambil memeluk tubuh Azkia. Diikuti oleh Naila dan Karl juga.
Tanpa ke tempatnya sadari kalau perbincangan mereka didengar jelas oleh orang suruhan Arkanza yang memang berada di sana. Bahkan pembicaraan ketiganya di rekam oleh orang suruhan Arkanza lalu rekaman itu dikirimkan ke Arkanza.
Arkanza yang belum kemana-mana dan masih di parkiran. Rekaman itu berputar mendengarkan perbincangan itu. Bibirnya tersenyum sinis saat mendengar ucapan laki-laki yang tadi jalan bersama dengan Azkia.
"Kau ingin melepaskan dia dari ku kan? Kita lihat bagaimana gadis itu menolak bantuan yang kamu tawarkan anak muda." Ucap Arkanza menyeringai membuat Agus yang duduk didepan bisa melihat senyum itu lewat kaca spion."Azkia Anandita. Kita lihat apakah kamu bisa bebas dari ku atau tidak. Kamu sudah terikat dengan ku maka kamu tidak akan lepas semudah itu. Kamu sudah terikat kontrak dengan ku, maka kebebasan mu juga sudah aku miliki. Bermain-main dengan Arkanza, sama saja bermain-main dengan penjara." Ucap Arkanza lagi sambil mematikan pesan suara itu.
"Agus, aku punya tugas untukmu. Kerjakan dengan cepat!"
"Baik tuan.”
💧💧💧
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa kasih like, komen, vote dan subscribe biar author makin semangat buat update lagi.
Salam manis dari author😉