Namaku Aliqa Mardika, setelah lulus SMA orangtuaku menjodohkan ku dengan putra dari sahabatnya, yang bernama Davin Aryasatya dia berprofesi sebagai seorang Dokter Spesialis di Rumah Sakit Swasta.
Dengan berat hati aku menerima perjodohan ini, dengan harapan seiring kita bersama cinta akan hadir dengan sendirinya.
Ternyata aku memasuki hubungan yang salah, pria yang di jodohkan dengan ku telah memiliki hubungan dengan wanita lain.
Akan kah pernikahan ini berjalan dengan semestinya?
Ini adalah novel pertama ku, mohon maaf jika mengalami kesalahan dalam penulisan, mohon koreksinya.
Ditunggu like, komen & vote nya ya reader.. terimakasih 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divty Hardyfani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersama Aliqa
Matahari mulai menyelinap masuk melalui sela-sela tirai, Aliqa menggeliat kecil dan hendak bangun dari tidurnya. Namun lengan kekar milik Davin mengeratkan pelukannya.
"Mas, aku kesiangan belum bikin sarapan."
"Aku masih ingin memeluk mu, aku menginginkan mu."
Aliqa akhirnya menuruti keinginan Davin membaringkan kembali tubuhnya dan memeluk Davin tak kalah erat.
Davin meneulsupkan kepalanya ke cekungan leher milik Aliqa, hembusan nafas Davin membuat Aliqa berdesir hebat.
Davin mencium Aliqa lembut, mereka saling bertukar saliva. Davin melepaskan baju yang dikenakan Aliqa dan melemparnya kesembarang arah.
Pagi hari mereka awali dengan memadu kasih, melakukan aktifitas panas di atas ranjang. Hingga akhirnya mereka terkulai lemas di atas ranjang.
Mereka melupakan seseorang, bahwa kini Mila berada di rumah yang sama bersama dengan mereka.
Mila menampakan wajah suramnya, emosinya kian memuncak karena Davin tak kunjung datang menemuinya. Mila tak tenang berada di dalam kamarnya, terus saja memikirkan Davin.
Akhirnya Mila keluar dari kamarnya dan hendak menemui Davin yang berada di dalam kamar Aliqa.
Tok tok tok
Mila mengetuk pintu kamar Aliqa kasar, "Vin," teriak Mila dari luar.
Aliqa dan Davin merasa kaget mendengar ketukan dari balik pintu.
"Mas, itu Mila,"
"Astaga... bisa-bisanya aku tak mengingat bahwa kini Mila tinggal bersama kita," ucap Davin dengan menepuk jidatnya. Davin mengenakan bajunya dan kembali membaringkan tubuhnya.
"Ayo Mas kita keluar." Aliqa beringsut dari ranjangnya memunguti baju yang Davin lemparkan dan kembali mengenakannya.
"Kamu saja Al, aku masih ingin membaringkan tubuh ku."
Aliqa melangkahkan kakinya mendekati pintu, setelah pintu di buka nampak Mila dengan wajah merah padam tampak menahan emosi.
"Ya ampuunnn Al, istri macam apa kamu itu, sudah siang begini baru bangun. Mungkin jika aku tak membangunkan mu, bisa saja kamu tak akan beranjak dari tempat tidur mu." Mila menahan emosinya untuk tak meluap dan lebih memilih untuk menyindir Aliqa.
"Sebetulnya Mas Davin yang tak mengijinkan ku untuk bangun terburu-buru." Aliqa menjawab Mila dengan santai namun kata-katanya pas menancap menyebabkan sayatan di dalam hati Mila.
Mila mengepalkan tangannya, menahan gejolak emosi dalam dirinya. Mila menerobos masuk ke dalam kamar Aliqa tanpa menunggu persetujuan dari pemilik kamar.
Aliqa membalikan tubuhnya dan memandangi punggung Mila yang masuk kedalam kamarnya. Mila mendapati Davin yang masih enggan beranjak dari tempat tidurnya.
"Sayang," ucap Mila lembut. "Bangun yuk, bukankah sebentar lagi kau harus berangkat bekerja."
"Iya sayang, yaudah aku bangun deh."
"Mandi di kamar kita aja ya Vin."
"Apakah kau akan menggoda ku untuk mandi bersama," ucap Davin seraya mencubit hidung bangir milik Mila.
Aliqa hanya memandangi aktifitas mereka, apakah Davin tak menyadari bahwa sedari tadi Aliqa memperhatikan aktifitas yang mereka lakukan. Terluka? Jelas seperti belati yang menusuk pas tepat di hati.
"Baru saja aku aku merasakah hati ku di tumbuhi bunga-bunga indah yang bermekaran, seketika kini ku merasakan bunga-bunga itu kembali layu," gumam Aliqa dalam hati.
Davin dan Mila saling menautkan jemarinya melangkah menghampiri Aliqa. "Aku mau mandi dulu ya Al," ucap Davin seraya tak mengingat aktifitas panas yang baru saja terjadi di antara mereka.
Pria itu berlalu begitu saja melewati Aliqa. Aliqa menatap lekat punggung Davin yang berlalu menjauh hingga akhirnya menghilang.
"Ini adalah keputusan ku untuk rela di poligami, maka dari itu aku harus menerima konsekuensinya. Tak salah jika pagi ini Davin bersama dengan Mila, karena sejak tadi malam Davin menghabiskan waktu bersama ku. Aku harus lebih memelihara sabar ku." Batin Aliqa.
Aliqa memutuskan untuk mandi, tak berselang lama Aliqa pun menyudahi ritual mandinya, Aliqa membiarkan rambut yang masih basah itu tergerai, kemudian pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Telah ada Bi Atik disana yang sedang memotong sayuran.
"Selamat pagi Bi," ucap Aliqa seraya memberikan senyuman kepada Bi Atik.
"Selamat pagi nyonya, ini Bibi udah motongin sayuran sesuai yang nyonya minta tadi malam," ucap Bi Atik seraya memperlihatkan sayur yang telah di potongnya.
"Terimakasih Bi, Al mau bikin sayur capcay baso aja. Bibi tolong gorengin ikan nya ya Bi."
"Baik nyonya."
Sambil menggoreng ikan Bi Atik sesekali melirik ke arah Aliqa, ada sedikit rasa tak percaya pada diri Bi Atik. Sosok Aliqa yang masih muda, baik, cantik, pintar memasak, bisa dikatakan sempurna bisa di madu oleh Davin. Tapi Bi Atik tak sampai hati untuk menanyakan langsung prihal keadaan rumah tangganya kepada Aliqa.
Terlihat Mila dan Davin menuruni anak tangga kemudian menuju meja makan. Mereka duduk secara bersisian, tak ada keinginan di dalam diri Mila untuk membantu Aliqa.
"Aroma masakan Aliqa selalu menggugah selera," ucap Davin yang bisa di dengar langsung oleh Mila.
"Kamu memuji dia di depan ku?" ucap Mila dengan mencebik kesal.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Aku tak suka kamu memuji dia di depan ku!"
"Lalu bagaimana? Bukankah Aliqa juga istri ku, aku harus bersikap adil terhadap kalian berdua."
"Tak masalah untuk ku, jika Aliqa adalah istri mu. Tapi aku tak mau jika hati mu ikut menjadi milik nya. Aku mencintai mu dan cinta mu hanya untuk ku."
Davin hanya terdiam dan mencerna ucapan Mila. Davin takut kehilangah Aliqa, apakah Davin mencintainya? Davin merasa bingung dengan perasaannya.
Aliqa telah menyelesaikan masakannya dan segera menghidangkannya di atas meja makan, saat sarapan berlangsung mereka saling berbicara dan melemparkan candaan, mereka terlihat sangat harmonis.
Setelah menyelesaikan sarapan Davin pun hendak berangkat untuk bekerja. Mila mencium punggung tangan Davin, kemudian
Davin memcium kening Mila lama. "Sehat ya nak di perut mama," ucap Davin mengusap perut Mila yang belum begitu terlihat kemudian menciumnya.
DEG
Aliqa mengusap perutnya yang rata, tidak ada kehidupan di dalam sana. Karena selama ini Aliqa mengkonsumsi pil pencegah kehamilan, bukan karena dia tak menginginkan seorang anak, setiap wanita pasti ingin mengandung benih dari suaminya. Namun seperti yang di inginkan Davin Aliqa mengkonsumsinya dengan alasan Aliqa masih terlalu muda untuk mengandung.
Aliqa mengantar Davin hingga ke luar pintu, sementara Mila masih terduduk di meja makan. Aliqa mencium punggung tangan Davin khidmat, kemudian Davin mencium kening Aliqa.
"Hati-hati Mas."
"Iya Al, kamu juga hati-hati dirumah, aku pergi dulu." Davin melambaikan tangannya ke arah Aliqa dan Aliqa membalas lambaian tangannya.
Beberapa bulan pernikahannya dengan Aliqa berjalan, masih saja Davin memanggilnya dengan menyebut nama, tak ada panggilan spesial diantara mereka seperti yang di lakukan Davin terhadap Mila istri kedua yang merupakan cinta pertamanya.