Indonesia
NovelToon NovelToon
Sang Penghancur Rantai Takdir

Sang Penghancur Rantai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:203
Nilai: 5
Nama Author: * z *

Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.

Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.

Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.

Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.

Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.

Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30_Wajah asli gereja

Aku menatapnya, tanganku menggenggam gagang pedang. Genggamanku gemetar, buku-buku jariku memutih karena menahan nyeri yang menjalar dari dada.

*Hah... hah...*

Napasku berat. Keringat dingin membasahi pelipisku. Segel di dadaku berdenyut perih, retakannya terasa makin dalam.

"Siapa... kau sebenarnya? Bagaimana kau tahu namaku?"

Pria dengan rambut perak dan mata sipit itu masih berdiri tenang di hadapanku. Terlalu tenang.

"Ah, maaf atas kelancanganku. Aku adalah Uskup Wieston Lumenhart."

Dia membungkuk terlalu dalam, terlalu lama. Senyumnya tidak hilang.

Dahiku mengerut. Aku mencoba menghunuskan pedangku lurus ke lehernya, tapi ujung pedangku bergetar.

*SRING...!*

"Howard ya? Jadi begitu... Kau salah satu anak Count Caelum ternyata."

Dia terdiam sepersekian detik. Lalu...

"Hahahaha! HAHAHAHAHA!"

*HA HA HA!*

Dia tertawa sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Tawanya melengking, tidak wajar. Bahunya bergetar hebat.

"Jadi begitu caramu melihatku! Ya, ya, memang semua orang bodoh akan berpikir seperti itu!"

Dia menurunkan tangannya perlahan. Matanya yang sipit itu kini terbuka lebar, merah dan berair. Tangannya meremas kalung salib dengan batu merah di dadanya begitu keras sampai kukunya berdarah.

*TRETAK!*

"Tapi kau salah BESAR, Kai. AKU ADALAH CAELUM ITU SENDIRI!"

Dia melebarkan kedua tangannya ke langit, seperti orang gila yang sedang berdoa.

Aku tersentak. Lututku hampir lemas. Keringat dingin langsung mengucur deras.

_Tidak mungkin. Tuan Caelum sudah meninggal. Waktu umurku 7 tahun, aku sendiri yang melihat jasadnya di pemakaman._

Dia mengusap-usap salib batu merah itu ke pipinya, menjilatnya, menggosokkannya ke bibirnya dengan penuh cinta. Matanya sayu dan kosong.

"Kau pasti terkejut, kan? Ahh, wajah terkejutmu itu... indah sekali. Pada dasarnya aku memang sudah mati, Kai. Sudah jadi bangkai."

"Tapi... berkat Paus dan Dewi Luciel yang cantik, aku diberi kesempatan kedua! Untuk hidup kembali di dunia yang indah ini!"

Dia mendongak menatap langit malam dan menarik napas panjang seperti orang menghirup bau bunga.

"Ahhh... udara malam... sangat indah... sangat, sangat indah..."

Kemudian kepalanya tertekuk 90 derajat dengan bunyi krek yang mengerikan.

*KREK!*

Dia menoleh ke arahku.

"Sayang sekali, sihirku tidak bisa kembali. Tapi tidak apa-apa. Menerima rasa sakit itu juga bagian dari keindahan, kan? Lihat dirimu... bahkan berdiri saja kau sudah kesakitan, kan?"

Aku tidak berpikir lagi. Aku langsung berbalik dan berlari secepat yang kubisa menjauhi rumah kosong itu. Kakiku terasa seperti ditusuk jarum di setiap langkah.

*TAP... TAP... TAP!*

Langkahku berat dan terseret.

"Hah? Mau kemana? Kau tidak akan bisa melarikan diri dariku!? Kau bahkan tidak bisa lari dengan benar!"

Saat aku menoleh ke belakang, dia berlari di belakangku. Gerakannya patah-patah seperti boneka rusak, tapi cepatnya bukan main.

"LUAR BIASA! KAU BENAR-BENAR LUAR BIASA! Bahkan tubuh modifikasiku yang diberkati Paus ini tidak bisa mengejarmu! Pantas saja Tuan Duke Van sangat terobsesi padamu! Tubuh yang bahkan dalam keadaan hancur masih bisa bergerak!"

Aku memaksakan diri melompat ke atap rumah penduduk. Kakiku hampir terpeleset.

*KRIET...!*

Aku berlari di atas genteng dengan napas putus-putus.

*Hah... hah... sial... tubuhku...*

Aku menoleh ke belakang - kosong. Sepi. Hanya angin malam yang berdesir.

*WUSSH...*

Aku mengubah pedangku menjadi perisai raksasa dengan sisa mana yang ada. Tanganku gemetar hebat menahannya.

*BUUUK!*

Sebuah pukulan menghantam punggungku dari belakang. Perisaiku pecah seketika. Tubuhku terpental keras ke jalanan. Darah muncrat dari mulutku.

*BRUK!*

"Ugh...!"

Pandangan ku menghitam sesaat. Aku mencoba bangkit, tapi lenganku tidak mau bergerak.

Dia muncul begitu saja dari kegelapan. Seperti dia menghapus dirinya sendiri lalu muncul kembali. Dia sudah berdiri di depanku yang terbaring.

"Hehh... sudah selesai? Padahal aku belum memeriksa semua kekuatanmu. Tuan Duke akan marah kalau aku merusak mainan kesayangannya. Tapi... melihatmu seperti ini... kau benar-benar produk gagal yang menyedihkan."

Aku meremas tanah dengan erat, menggertakkan gigiku. Tanah basah masuk ke sela kukuku. Aku ingin berdiri, tapi tubuhku menolak.

"Sial... jika aku kalah dari orang gila ini... dengan keadaan seperti ini..."

Dia berjongkok di depanku. Wajahnya hanya beberapa senti dari wajahku. Bau darah anyir tercium dari mulutnya. Napasnya panas.

Dia menatapku yang kesakitan dengan mata berbinar bahagia.

"Kau benar-benar tidak bisa menahan rasa sakit itu ya? Padahal... rasa sakit itulah yang membuatmu spesial. Dengan rasa sakit itulah, Kai... kau bisa beregenerasi tanpa batas."

"Kau adalah satu-satunya yang berhasil. Satu-satunya produk yang tidak bisa mati."

Mataku melotot. Dadaku naik turun menahan nyeri.

"Bagaimana kau tahu tentang itu!?"

Dia mengangkat tubuhku ke udara lalu tersenyum lebar.

"Tentu saja aku tahu, kau adalah orang yang paling ku benci di dunia ini!"

*BRAKK!*

Dia langsung melemparku ke tembok dengan sangat keras. Batu bata retak.

*KRAK!*

Lampu-lampu di rumah penduduk kota mulai menyala dan beberapa ksatria mulai muncul dan berjalan ke arah kami.

*DUM DUM DUM...*

Dia menoleh ke arah suara langkah kaki ksatria itu.

"Cihh.. benar-benar merepotkan."

Tubuhku benar-benar sangat susah digunakan, karena kelelahan yang kualami sudah melewati batas ketahanan tubuhku. Pandanganku mengabur.

Saat para prajurit mulai dekat dengan kami, tiba-tiba saja dia merubah wujudnya. Tubuhnya berdesis dan berasap.

*SHUUT...*

Dia berubah menjadi perempuan, rambut coklat dikepang, dan bola mata hitam yang sangat terang. Dia juga merubah pakaiannya menjadi pakaian yang benar-benar terbuka dan ketat di bagian dada dan kaki.

Dia melambaikan tangannya ke para ksatria itu dengan mata yang kendur.

"Tuan ksatria! Tolong kami!"

Saat para ksatria itu mendekat mereka semua langsung memandangi tubuhnya dengan tatapan mesum, salah satunya maju dan mendekat ke arahnya.

"Anu.. nona yang di sana, kami dengar bahwa ada keributan di sini, sebenarnya apa yang terjadi?"

Tangannya menutupi matanya, dari balik telapak tangannya mulai muncul air mata.

"Se-sebenarnya... saat aku berjalan-jalan dengan pria langgananku, tiba-tiba saja kami diserang oleh seseorang yang tidak dikenal."

Bibirnya menurun dan air mata terus menetes di wajahnya.

*TES... TES...*

Prajurit itu langsung merangkulnya sambil terus melirik ke arah dadanya.

"Tenang saja nona manis. Aku! Komandan ksatria kota Megral bersumpah akan melindungimu dengan sepenuh hati!"

Dia langsung mengelap air matanya dan menatap ke arahnya.

"Terima kasih... Tuan ksatria."

Dia langsung menempelkan tubuhnya ke zirah ksatria itu dan memeluknya.

Ksatria itu langsung mengepalkan tangannya dan mendorong bahunya.

"Nona, aku ada sedikit permintaan, jika aku bisa menangkap pelaku itu, aku ingin... Kau pasti tahu maksudku"

Dia langsung sedikit tersentak dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya, pipinya berubah menjadi merah, dengan mata yang berkaca-kaca.

"Ya ampun... Padahal kau bisa minta secara terang-terangan kok."

Dia mulai menarik-narik tali bajunya dengan senyum tipis di wajahnya.

Salah satu prajurit tiba-tiba maju ke arah komandan ksatria itu.

"Anu... Maaf mengganggu, tapi bisakah nona jelaskan lebih rinci, tentang detail pelaku tersebut.... dan juga luka yang dialami pria yang bersama nona"

Dia melepaskan tangannya dari mulutnya, matanya langsung menyipit lalu menoleh sambil menunjuk ke arah Kai yang terkapar.

"Apakah kau sudah buta, dia ada di-"

Matanya membelalak, bahunya terangkat dan mulutnya terus menganga sedikit.

"Bagaimana mungkin! Dia bisa kabur dengan luka seperti itu!?"

Komandan ksatria itu langsung menaruh pedangnya ke sarungnya kembali dan memegang wajahnya dengan lembut.

"Hei nona, bisakah kau menjelaskan rincian kejadiannya di gang gelap sebelah sana"

Dia menundukkan kepalanya, lalu dia menurunkan bahunya. Senyum palsunya hilang total. Suaranya kembali berat seperti pria.

"Kalian semua benar-benar orang yang tidak berguna ya!?"

Komandan itu langsung mengerutkan dahinya dan menatap tajam ke arahnya.

"Sebenarnya kau ini siapa, nona!?"

*CRASS!*

Tiba-tiba saja darah menyembur kemana-mana, bahkan hingga mengenai hampir seluruh prajurit ksatria itu. Kepala komandan itu terpental di udara dengan mata yang terbuka, tubuhnya yang kaku langsung jatuh berlutut di hadapannya.

*TESSS...*

Dia menebas kepala komandan ksatria itu dengan pedangnya sendiri, pedangnya mengkilat karena terkena pantulan bulan.

Darah mulai menyiprat di jalan, para prajurit langsung gemetar ketakutan dan berjalan mundur, sambil menghunuskan pedangnya ke arahnya.

"Keparat! Siapa kau sebenarnya!?"

Matanya menyala menatap ke arah prajurit, dan tiba-tiba saja tubuhnya berubah menjadi sang komandan ksatria, lalu dia menendang tubuh komandan ksatria yang asli dan menginjaknya.

"Aku!? Aku adalah salah satu dari Dominis Fallen, King Mirage, kekuatanku adalah keirianku"

*BUK!*

Dia langsung menerjang ke arah para prajurit itu dan langsung menebas mereka semua tanpa ampun, darah dan potongan-potongan tubuh mereka semua langsung terlempar ke mana-mana.

*SLASH! SLASH! SLASH!*

*GYAAAH!*

 

Aku kabur ke gang untuk menghilangkan jejak darinya, darah yang masih ada di tubuhku menetes satu per satu, nafasku terengah-engah. Setiap langkah kakiku terasa berat seperti diseret, lututku gemetar dan hampir menekuk. Gang ini sempit dan bau sumpek, bau sampah basah, kayu lapuk, dan bau darahku sendiri bercampur jadi satu menusuk hidung, membuat kepalaku makin pusing dan mual.

*TES... TES...*

Aku bersandar ke dinding gang yang lembab dan berlumut, memegangi dadaku yang berdenyut perih. Dindingnya dingin dan lengket. Pandanganku berkunang-kunang.

"Entah bagaimana... tapi aku benar-benar beruntung bisa lolos dari orang gila itu..."

Aku menatap ke arah belakang, mataku berkerut karena kelelahan, kelopak mataku hampir tertutup.

"Sepertinya tidak ada tanda-tanda dia mengejarku."

Aku memaksakan diri menoleh ke depan sambil terus berjalan tertatih.

Setelah berjalan cukup lama sambil menahan rasa sakit yang menusuk di setiap tarikan napas, aku tidak sengaja melihat setumpuk koin perak di jalan.

*KLINK...*

Aku langsung memungutnya dengan tangan gemetar dan membuka topengku. Napasku masih belum teratur.

"Sepertinya aku harus menutupi hal ini dari mereka semua..."

Aku datang ke toko baju yang sudah buka untuk membeli beberapa pakaian bekas untuk diriku dan pakaian yang masih terlihat layak untuk mereka. Dan saat aku pulang aku melihat toko roti yang sedang memanggang roti.

Aroma roti hangat menusuk hidungku, untuk sesaat mengusir bau sumpek gang yang masih menempel di bajuku, membuat kepalaku yang pusing sedikit lebih ringan.

Aku berjalan ke toko itu dengan langkah gontai dan membeli sekantong penuh roti hangat. Aku melanjutkan perjalananku yang tertatih sampai matahari mulai perlahan-lahan terbit.

Saat aku sudah berada di depan rumah, aku melihat mereka semua sedang menungguku di luar, alis mereka mengerut, bahu mereka menurun, dan tangan mereka mengepal dengan erat. Embun pagi masih menempel di rambut mereka. Mereka belum tidur semalaman.

Aku yang melihat mereka, memaksakan senyum tipis meski bibirku pucat dan tubuhku limbung.

"Semuanya... aku pulang"

Ekspresi wajah mereka langsung berubah menjadi senyuman yang menghangatkan, anak-anak mulai mengerumuniku sambil menyeretku ke dalam. Aku hampir terjatuh saat mereka menarikku.

Matahari di pagi itu memancarkan cahaya yang begitu terang, langit juga benar-benar tampak biru dan indah. Hangatnya tidak bisa menghilangkan dingin dan bau sumpek yang masih menempel di tubuhku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!