Indonesia
NovelToon NovelToon
Warisan DENDAM

Warisan DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Iblis
Popularitas:289
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.

Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.

Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.

Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4 : Siapa dia?

Sidang gugatan perdata itu resmi dinyatakan selesai.

Palu diketuk. Putusan dibacakan. Penggugat dinyatakan bersalah atas tindakan perampokan dan pengancaman terhadap aparat saat penangkapan. Ruang sidang berangsur kosong, meninggalkan gema keputusan yang masih menggantung di udara.

Blair melangkah keluar lebih dulu. Wajahnya tetap tenang, langkahnya mantap. Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia menarik napas dalam-dalam.

“Kasus yang tidak menyenangkan,” gumamnya datar.

Lucas yang menyusul di belakang langsung mengerutkan kening.

“Tidak ada kasus yang menyenangkan,” bantahnya.

Salah satu alis Blair terangkat.

“Ada,” jawabnya singkat.

Lucas tertegun. Rasa penasaran langsung mengambil alih. Ia mempercepat langkah, mendekat, lalu menurunkan suaranya.

“Kasus apa yang menurutmu menyenangkan?”

Blair belum sempat menjawab.

Langkah mereka terhenti bersamaan.

Di hadapan mereka berdiri seorang pria tinggi, mengenakan jas hitam panjang. Tubuhnya menjulang, posturnya lurus, kedua tangannya terselip di saku jas. Wajahnya tenang, terlalu tenang seolah kehadirannya sendiri sudah cukup untuk menghentikan lorong itu bernapas.

Jalannya terhalang.

Lucas mengenali sosok itu seketika.

“Tuan Pengawas—”

Pria itu hanya melirik sekilas. Tidak ada jawaban. Tatapannya beralih, tertuju langsung pada Blair.

Mata Blair menajam.

Ia membenci ekspresi itu. Ketenangan yang terasa seperti penilaian. Blair melangkah maju setengah langkah, bahunya mengeras, seolah siap menghadapi apa pun yang datang.

Namun Lucas cepat meraih pergelangan tangannya.

“Blair,” bisiknya tajam. “Apa yang kau lakukan?”

Ia menarik Blair sedikit ke belakang, lalu menunduk hormat ke arah pria itu.

“Mohon maaf, Tuan.” katanya cepat. “Kondisi Hakim Blair sedang kambuh. Ingatannya tidak stabil. Kami berharap ini tidak dipermasalahkan.”

Pria itu tetap diam.

Kemudian ia justru melangkah maju. Satu langkah. Jarak di antara mereka menyempit. Terlalu dekat. Lucas merasakan bulu kuduknya berdiri.

Tatapan pria itu terkunci pada mata Blair.

“Hakim,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah dan tenang, “seharusnya tidak mengatakan hal seperti itu.”

Tidak ada ancaman. Tidak ada emosi. Justru itulah yang membuat kalimat itu terasa lebih berat.

Tanpa menunggu respons, pria itu melangkah melewati mereka. Langkahnya tenang, terukur, lalu menghilang di tikungan lorong.

Lucas menahan napas. Ia mengikuti sosok itu dengan pandangan sampai benar-benar lenyap. Barulah setelah itu ia menghembuskan napas panjang.

“Hampir saja kita mendapat masalah besar,” katanya lirih.

Ia menyenggol lengan Blair.

“Apa yang kau pikirkan barusan? Kau hampir menggali jurang untuk kariermu sendiri.”

Blair menoleh, ekspresinya dingin.

“Siapa dia?” tanyanya. “Kenapa kau bicara seolah aku baru saja menantang maut?”

Lucas menghela napas lagi, kali ini lebih berat. Ia memijat keningnya.

“Dia bukan orang yang seharusnya kau singgung,” jawabnya pelan. “Pangkatnya tiga tingkat di atasmu.”

Lucas menoleh ke arah lorong tempat pria itu menghilang.

“Aku sempat dengar Komisi Yudisial akan memantau persidangan selama beberapa bulan ke depan,” lanjutnya. “Tapi aku tidak menyangka, yang turun langsung… adalah dia.”

Nada suaranya menyimpan kegelisahan yang tak biasa.

Blair mengikuti arah pandang Lucas, alisnya mengerut.

“Siapa namanya?” tanyanya.

Lucas terkejut. Ia langsung menoleh, mendekat dengan ekspresi serius.

“Kau baru saja menanyakan nama pria itu?”

Blair terdiam sejenak, lalu mengangguk tipis.

Lucas menghela napas.

“Tidak ada yang tahu nama aslinya,” katanya. “Setidaknya, tidak untuk publik.”

Ia menatap Blair dengan peringatan jelas di matanya.

“Biasanya, dia hanya dipanggil dengan sebutan… Tuan Pengawas.”

Mendengar itu, Blair hanya terdiam. Ia memutar bola matanya singkat, lalu kembali melangkah maju seolah percakapan itu telah selesai.

“Blair,” panggil Lucas, terkejut melihatnya pergi begitu saja.

Ia segera menyusul, langkahnya dipercepat.

“Kau mau ke mana?”

Blair tidak menoleh. Bahkan tidak memperlambat langkahnya.

“Aku keluar sebentar,” jawabnya datar. “Kau tidak perlu mengikutiku.”

Lucas mengerutkan kening.

“Keluar ke mana?” tanyanya. “Masih ada beberapa berkas yang perlu kau periksa untuk sidang selanjutnya.”

Langkah Blair berhenti mendadak.

Lucas refleks ikut berhenti. Ia menatap Blair saat gadis itu berbalik menghadapnya. Tatapan Blair lurus, dingin, menusuk tanpa perlu suara keras.

“Bukan untuk hari ini, kan?” tanyanya.

Lucas terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.

"yaa untuk nanti,” jawabnya.

Alis Blair terangkat tipis.

“Kalau begitu,” katanya tenang, “aku akan melihatnya sepulangku.”

Tanpa menunggu balasan, Blair kembali melangkah. Pintu lift terbuka tepat saat ia tiba. Ia masuk tanpa ragu.

“Blair, kau tetap harus memeriksanya sekarang—” seru Lucas sambil berlari mendekat.

Namun pintu lift sudah menutup.

Lucas berhenti tepat di depannya. Ia menatap pantulan dirinya sendiri di pintu logam itu, lalu menghela napas panjang, penuh pasrah.

Di dalam lift, Blair berdiri diam.

Pantulan wajahnya terlihat jelas di pintu logam yang dingin. Tatapannya tajam, rahangnya mengeras. Ia melipat kedua tangan di dada, dagunya terangkat sedikit, posisi defensif yang bahkan tak ia sadari.

Wajah pria itu kembali terlintas di benaknya. Tenang. Terlalu tenang. Seolah yakin bahwa ia memiliki ruang untuk menilai, bukan dinilai.

Bibir Blair bergerak pelan, hampir tak bersuara.

“Selama kau tidak ikut campur,” gumamnya dingin, “tidak ada alasan bagiku untuk menyentuhmu.”

1
Ibu'e Arfan Call
seru deh bacanya,👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!