Indonesia
NovelToon NovelToon
Hujan Yang Tak Pernah Reda

Hujan Yang Tak Pernah Reda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: Rico Warsa

Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Delapan Tahun Lalu

Kirana tidak ingat persis bagaimana ia sampai di bangku taman rumah sakit itu. Kakinya membawanya keluar dari lorong, menjauh dari Ibu dan Sari, menjauh dari kenyataan yang baru saja meruntuhkan segala yang ia percaya.

Hujan sudah reda, menyisakan gerimis tipis dan aroma tanah basah yang menyeruak di udara malam. Ia duduk di bangku besi dingin, memeluk lututnya, membiarkan ingatan yang selama ini ia kubur perlahan naik ke permukaan.

 

*Delapan tahun lalu.*

*Kirana, dua puluh tahun, baru saja pulang dari kampus saat mendengar pertengkaran hebat dari ruang kerja Bapak. Ia berhenti di depan pintu yang sedikit terbuka, ragu untuk masuk.*

*"Aku tidak bisa terus begini, Hartono!" suara Ibu terdengar pecah, penuh amarah yang tertahan bertahun-tahun. "Kamu pikir aku tidak tahu kamu masih menemuinya? Masih mengirim uang untuk anak itu?"*

*"Dia anakku, Wulan. Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja—"*

*"Dan aku istrimu! Anak-anak kita di sini butuh ayah yang utuh, bukan yang hatinya terbagi untuk keluarga lain!"*

*Kirana merasa dunianya berguncang. Anak lain? Keluarga lain? Kata-kata itu menghantam kesadarannya seperti petir di siang bolong. Ia mundur perlahan, tak sanggup mendengar lebih jauh, tapi kakinya justru membeku di tempat.*

*"Kirana?" suara Bapak mengejutkannya. Pintu terbuka lebih lebar, menampakkan wajah Bapak yang pucat, dan Ibu yang buru-buru menyeka air mata.*

*"Apa maksud kalian?" suara Kirana bergetar. "Anak siapa? Keluarga apa?"*

*Hening yang menyakitkan mengisi ruangan itu. Bapak dan Ibu saling pandang, seolah mencari siapa yang harus menjawab, tapi tak satu pun dari mereka mengeluarkan sepatah kata.*

*"Kalian menyembunyikan sesuatu dariku." Bukan pertanyaan lagi, melainkan pernyataan yang menusuk. "Selama ini kalian menyembunyikan sesuatu, dan aku baru tahu sekarang?"*

*"Kirana, ini rumit—" Bapak mencoba mendekat, tapi Kirana mundur.*

*"Jangan," suaranya pecah. "Jangan sentuh aku."*

*Ia berlari ke kamarnya malam itu, mengunci pintu, menangis hingga tak ada lagi air mata yang tersisa. Esok paginya, tanpa pamit, tanpa penjelasan, ia mengemasi barang-barangnya dan pergi—meninggalkan rumah yang tiba-tiba terasa asing, meninggalkan keluarga yang ternyata menyimpan begitu banyak rahasia yang tak pernah ia ketahui.*

*Ia tidak pernah benar-benar tahu siapa "anak lain" yang dimaksud Ibu malam itu. Ia hanya tahu bahwa kepercayaannya pada keluarganya sendiri telah runtuh, dan ia tidak punya keberanian untuk kembali dan mencari tahu kebenarannya.*

*Sampai malam ini.*

 

Kirana membuka matanya, menyadari pipinya basah oleh air mata yang bercampur gerimis. Semuanya kini masuk akal—kemarahan Ibu malam itu, kata-kata yang terputus, rahasia yang selama ini tersembunyi di balik nama Denis.

Ia pergi bukan karena tidak peduli. Ia pergi karena terlalu takut menghadapi kebenaran yang bahkan tidak sepenuhnya ia pahami. Dan kini, delapan tahun kemudian, kebenaran itu akhirnya menemukannya kembali—tepat saat waktu untuk memperbaiki semuanya mungkin sudah hampir habis.

"Kirana?"

Suara itu mengejutkannya. Ia menoleh, mendapati Raka berdiri beberapa langkah darinya, membawa dua cangkir kopi hangat di tangannya.

"Aku lihat kamu keluar sendirian," ujar Raka pelan, duduk di sampingnya tanpa diminta. "Pikir kamu mungkin butuh ini."

Kirana menerima cangkir itu dengan tangan gemetar, kehangatannya terasa menenangkan di tengah dinginnya malam. "Terima kasih."

Mereka duduk dalam diam sejenak, hanya ditemani suara gerimis yang perlahan mereda.

"Kamu dengar semuanya?" tanya Kirana akhirnya, tanpa menatap Raka.

Raka terdiam sejenak sebelum menjawab jujur. "Sebagian."

Kirana menghela napas panjang. "Delapan tahun aku lari dari sesuatu yang bahkan tidak sepenuhnya kupahami. Dan sekarang aku pulang, hanya untuk sadar bahwa aku mungkin sudah terlambat untuk memperbaikinya."

"Belum terlambat," Raka menatapnya, matanya penuh ketulusan yang sama seperti yang Kirana ingat dari masa lalu. "Kamu di sini sekarang. Itu yang terpenting."

Kirana menatap balik pria di sampingnya, merasakan sesuatu yang familiar namun juga asing—kehangatan yang dulu pernah ia rasakan, kini bercampur dengan ketidakpastian tentang segala hal yang telah berubah selama delapan tahun mereka berpisah.

"Raka," bisiknya. "Apa kamu tahu soal Denis?"

Ekspresi Raka berubah, sesuatu yang sulit diartikan melintas di wajahnya. "Kirana, ada beberapa hal yang menurutku sebaiknya kamu dengar langsung dari keluargamu."

Jawaban itu, alih-alih menenangkan, justru membuat kecurigaan Kirana semakin dalam. Berapa banyak orang yang ternyata tahu rahasia ini selain dirinya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!