Indonesia
NovelToon NovelToon
Derap Dalam Gelap

Derap Dalam Gelap

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Horor
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Thara 717

Gresen sudah tertidur pulas. Suara itu selalu membuatku terbangun. Ya, seperti suara sepatu dengan sol keras melintasi kamar kami.
tuk...tuk...tuk...
Beda denganku, Gresen bilang tak pernah mendengar apa-apa.
"Mungkin suara jam dinding disuatu tempat" Itu yang kupikirkan saat kali pertama mendengarnya. Namun mana ada jam dinding yang berpindah-pindah. Aku pernah mengintip keluar lewat jendela. Tak ada apa-apa.
Akra dan Gresen adalah teman dekat. Karna sering ditinggal ortu yang sibuk, mereka sering berlibur bersama. Tapi ada yang janggal setiap kali mengunjungi desa neneknya Gresen. Ada suara aneh diluar kamar mereka.
Sebuah suara antara ada dan tiada, mengantarkan mereka pada misteri yang penuh tanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thara 717, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Vert dan Lento

Setelah acara lelang dibatalkan. Ruang penyimpanan benda-benda seni dibobol. Tepat seperti yang diperkirakan sang juru lelang. Mereka akan kembali untuk mengambil benda yang mereka inginkan.

"Tidak ada yang hilang kata penjaga ruangan."

"Sebuah kancing baju dengan ukiran bintang dari zaman Kush, afrika." Si penjaga menautkan alis. Ternyata sijuru lelang tau betul apa saja benda-benda seni yang ada disana. Dia berjalan kesana kemari didalam ruangan sambil melihat kebeberapa tempat.

Sipenjaga tidak terlalu peduli dengan benda kecil seperti itu. Tapi, dia menurut.

"Baiklah, akan kucari." Kata si penjaga ruangan. Beberapa ahli benda-benda kerajinan masuk dengan koper-koper besar. Mereka ditugaskan untuk menaksir karya-karya seni itu asli atau tidak.

"Selamat malam." Kata mereka. Malam sudah sangat larut. Mereka diarahkan kebeberapa ruangan dibelakang. Disana ada kamar yang disediakan untuk pengunjung. Para seniman itu akan memeriksa orisinalitasnya selama beberapa hari kedepan.

Beberapa menit kemudian seseorang datang membawakan koper-koper mereka.

"Kami akan mulai bekerja besok." Mereka mengikuti sipembawa koper ke belakang. Beberapa menit kemudian, polisi tiba. Mereka kesal karna mereka telah masuk dan mengacak-acak TKP. Rekaman kamera pengawas, sidik jari, pola jejak sepatu, orang-orang disana, semuanya digeleda.

Sebenarnya tindakan itu agak berlebihan. Mereka menyelsaikan tugasnya setelah hari hampir pagi. Orang-orang dari pihak museum hampir sempoyongan ketika mereka pergi.

"Hasil penyelidikannya akan dilaporkan beberapa hari lagi. Kalian bisaelaporkan benda apa saja yang telah hilang. Kami akan usahakan untuk mencarinya." Mereka meninggalkan museum.

"Sayangnya kalian harus dibawa kekantor polisi untuk diperiksa. Ini harus kami lakukan karna kalian telah masuk ke tkp terlebih dulu." Mereka menolak dan mengemukakan beberapa alasan. Yang menjadi menjadi masalah adalah karna mereka belum tidur hampir sehari penuh.

Semburat fajar menyembul dari langit sebelah timur. Museum kini tampak kosong. Seorang anak melihat kesekeliling, melihat toko-toko yang belum dibuka. Dia menghela napas karna suasana masih sunyi dan kendaraan hampir tidak melintas.

Dia melihat keatas dimana biasanya kamera pengawas berada. Kamera itu masih ditempatnya. Tapi, sepertinya sudah tidak berfungsi. Pencurian semalam membuat polisi mengambil rekaman-rekamanya untuk dianalisis. Jadi, kamera tersebut kemungkinan besar tidak berpungsi.

Dia menurunkan ransel dan mengambil sesuatu dari sana. Itu adalah pembobol pintu. Setelah mengutak-atik pintu selama beberapa detik akhirnya kunci dibuka.

Disana dipenuhi lukisan, patung dan berbagai pajangan. Dari masa kemasa. Ada sebuah mozaik indah bergambar tuhan. Mozaik itu berkilau diterpa lampu ruangan yang ditata dengan baik.

Dia berjalan pelan. Pertama naik kelantai dua lalu belok kekikri, lurus, cari pintu nomor tiga puluh tiga, masuk dengan memutar gagang pintu kekiri tiga kali dan sekali kekanan, selanjutnya ambil buku dirak buku tingkatan kedua sebelah kiri. Masukan iris dan sidik jari, lalu menuju ruang bawah tanah. Disana ada beberapa tangga pilih yang ada diujung...

Dia menepuk jidat. Dia sudah hafal mati intruksi itu dari semalam. Sayangnya dia lupa menginggat dimana letak tangga menuju lantai dua . Ingin rasanya melihat ponselnya dan mengeluarkan denah disana. Tapi, jaringan apapun sangat sensitif disini. Dia tidak ingin ketahuan. Apalagi kasusnya masih dalam proses. Mereka bisa kembali kesini kapan saja.

Dia mengamati seluruh ruangan terlebih dulu, memastikan dimana letak kera pengawas dan merayap pelan. Yang jadi masalah mereka mengarahkan kameranya tepat kepintu ruangan.

Semoga saja kamera itu mati. Katanya dalam hati.

Apa polisi mengambil seluruh rekamannya atau hanya diruangan tertentu? Jika seperti ini dia harus menggeledah ruang mesin sekali lagi. Ini membuat pekerjaanya jadi semakin lama.

Butuh waktu lima belas menit hingga akhirnya dia menemukan tangga.

Baru intruksi bisa dimulai.

'Belok kekiri, lurus,'

Dia berbelok kekiri. Matanya sibuk mencari pintu yang dimaksud. Akhirnya pintu tersebut tampak, angka tiga puluh tiga terpahat di sebuah plakat kekuninggan di pintu tersebut.

Dia membuka pintu sesuai intruksi. Ruangan disana dipenuhi oleh buku dari langit-langit kelantai.

Rak kedua dari atas dipojok sebelah kiri. Dia memakai sarung tangan karet dan menggeser tangga. Dan mengambil buku-buku disana.

Sebuah monitor elektronik menyala, meminta sidik jari dan Iris yang tepat. Dia memasukan sebuah plastik transparan dan kunci dibuka.

Disana sebuah lorong tinggi ditampilkan. Ada sekitar seratus anak tangga kebawah dibentuk dari beberapa potong tangga yang berseliweran kesana kemari.

Dia turun dengan perlahan. Mengembalikan buku ketempatnya semula, dan menutup pintu rahasia.

Sebuah tirai dari kerang laut memenuhi dasar tangga. Dia menyibaknya perlahan. Sebuah ruangan dengan beberapa lukisan digantung disana. Ditengahnya ada sebuah peti yang disegel beberapa lelehan emas.

Seseorang berdiri disana. Ditanganya ada beberapa benda berkilau yang digunakan untuk membuka peti itu.

Dia tau alat itu meski pertama kali melihatnya.

Vert...! Suaranya tercekat.

"Apa kabar Lento? Akhirnya kita bertemu disini...,"

Matanya menjadi panas dan seketika air matanya mengalir.

"Aku sudah lama mencarimu!" kata Lento serak.

"Baiklah, aku punya beberapa puzzle. Kita harus berhasil menyempurnakanya seluruhnya." Vert menoleh kearah peti itu.

Lento menggangguk.

1
miilieaa
haloo kak.. semangat berkarya 😊😊
Thara 717: Terimakasih.
total 1 replies
☘☘☘yudingtis2me🍂🍋
Sudah jadi bagian hidupku. 🤗
Mưa buồn
Ceritanya menghibur sekali.
Sharon Dorantes Vivanco
Membacanya membuat aku merasa ikut terlibat dalam setiap adegannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!