Untuk keluar dari penjara keluarga, Charoen Torrer harus menerima pinangan dari seorang mafia ternama. Walau hanya jadi istri sementara, tetapi demi kebebasannya. Char menerima tawaran itu tanpa berpikir dua kali.
Tanpa ia tahu ke depannya, hidupnya jauh lebih rumit di banding rumah yang rasanya seperti penjara itu. Bagaimana Char dicintai secara ugal-ugalan oleh suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 31
Pagi hari, Char memilih berjalan dengan telanjang kaki di halaman villa. Udara yang hangat karena sudah masuk musim gugur. Membuat cuaca di Kota Seradam sedikit panas.
Char berolahraga ringan sesuai dengan instruksi dari dokter kandungannya.
"Tidak perlu yoga atau semacamnya. Cukup jalan kaki santai selama lima sampai sepuluh menit paling lama," ujar Laura menyarankan.
Maka pagi ini Char menggerakkan seluruh ototnya yang sedikit kaku akibat tiga hari berada di tempat tidur.
"Nyonya, ini air putih yang anda minta," ujar salah satu maid meletakkan satu gelas air ke atas meja di teras.
"Iya, terima kasih," sahut Char lalu berjalan ke teras untuk minum.
Keringat menetes di pelipisnya, ia mengusapnya begitu saja dengan lengannya. Beberapa maid melirik, sedikit mencibir karena prilaku nyonya rumah yang terlihat udik.
Hari ini, Alexander sedang keluar kota bersama Raph untuk beberapa bisnis. Jadi Char bisa sedikit bebas melakukan apapun di rumah itu.
Rudolph keluar dan melihat dua maid yang menatap Char dengan pandangan mengejek.
"Kalian bosan hidup ya?" tegurnya keras membuat dua maid terkejut bukan main.
Char menoleh, "Grandpa?"
Rudolph tak menanggapinya, ia masih menatap tajam dua maid yang berdiri ketakutan.
"Keluar kalian dari villa cucuku. Jangan aku lihat batang hidung kalian!" usir Rudolph tak berperasaan.
"Tuan, ampuni kami ...."
"Enyah kalian!" usir Rudolph.
Dua maid buru-buru pergi ke kamar mereka di area belakang. Air mata keduanya bercucuran, sedikit menyesal telah menjelekkan majikannya.
"Kita benar-benar harus pergi?" tanya Anya, salah satu maid tadi.
"Kau pikir masih bisa hidup hingga Tuan Muda kembali?" tanya Rachel sesenggukan.
Otak Anya tiba-tiba muncul ide jahat.
"Mereka hanya orang tua dan ibu hamil muda," ujarnya penuh siasat lalu menghapus kasar jejak basah di wajahnya.
"Maksudmu?" tanya Rachel bingung.
"Aku akan mengambil beberapa barang. Dia pria berusia lebih sembilan puluh tahun. Tak ada tenaganya ...."
"Enough Anya! Jangan gila!" peringat Rachel tak mau ikut campur.
"Kau harus ikut rencanaku, Rachel!" paksa Anya.
"Kalau aku menolak?" tentang Rachel menatap Anya.
"Well ... Aku punya beberapa foto dan video di mana kamu tengah menyenangkan milikmu sendiri sembari menciumi pakaian milik Tuan Muda ...."
Deg! Mata Rachel langsung membesar, ia tak percaya.
"Ti-tidak mungkin!" geleng Rachel yakin tak ada satu pun yang tahu kegiatan mesumnya.
Anya tertawa sinis, ia mengambil ponselnya. Rachel hendak merebut benda canggih itu tapi langsung diamankan oleh sang pemilik ponsel. Anye menatap marah pada rekannya itu.
"Jangan coba-coba, Rachel! Di sini banyak sekali video mesummu," lanjutnya mengancam.
Rachel membeku dengan napas tertahan. Wajahnya pucat pasi menyaksikan foto dan video kompromi yang ditunjukkan Anya. Seluruh pertahanannya runtuh seketika; ia terjebak dalam ancaman nekat temannya yang sudah gelap mata.
"Kau... kau gila, Anya!" bisik Rachel gemetar. "Gedung ini dipenuhi pengawal di setiap sudut, kau pikir kita bisa lolos?"
"Pengawal di luar gedung cuma menjaga area depan dan gerbang!" sela Anya cepat dengan mata berkilat penuh amarah dan keserakahan.
"Saat ini Grandpa Rudolph cuma sendirian di teras sama wanita udik itu. Para pengawal tidak ada yang berani lancang mendekati teras utama kalau tidak dipanggil! Kita cuma perlu mengambil brankas kecil di ruang kerja lantai dua, atau perhiasan Nyonya di kamarnya. Setelah itu kita lewat pintu belakang!" lanjutnya begitu terencana.
"Tapi kalau kita tertangkap—"
"Kita tak akan tertangkap kalau kau diam dan ikuti rencanaku!" potong Anya tajam, lalu menarik paksa lengan Rachel keluar dari kamar maid menuju koridor dalam villa.
Sementara itu di teras luar, angin musim gugur yang hangat berembus perlahan. Charoen baru saja menghabiskan air minumnya saat Rudolph mendekatinya dengan raut wajah yang masih menegang gusar.
"Grandpa," panggil Charoen lembut, mengelus lengan pria tua itu. "Kenapa Grandpa sampai memecat mereka? Mereka cuma melirik sedikit..."
"Tidak ada toleransi untuk pelayan yang tidak tahu tata krama dan berani memandang rendah Nyonya rumah ini, Char," tegas Rudolph, meski sorot matanya melunak saat menatap cucu menantunya. "Alex menyerahkan villa ini padamu. Siapa pun yang berani tidak sopan padamu, tidak berhak berada di bawah atap Romanov."
Charoen mendesah pelan namun menyunggingkan senyum tulus. "Terima kasih, Grandpa. Tapi jangan terlalu emosi, nanti tekanan darah Grandpa naik lagi."
"Hmph, tenang saja. Orang tua ini masih cukup kuat untuk meremukkan leher orang-orang tak tahu diri," kekeh Rudolph bangga.
Namun, di dalam ruangan utama lantai satu, Anya mulai melancarkan aksi nekatnya. Ia mengintip dari balik tirai. Melihat Rudolph dan Charoen masih berbincang di teras luar, Anya menyuruh Rachel menjaga lorong menuju tangga, sementara ia sendiri berjalan cepat menuju kamar Charoen.
Ia sering membersihkan kamar itu, jadi Anya tahu di mana letak brangkas yang tersembunyi.
Ketika membuka pintu, Anya langsung masuk dan menutupnya perlahan. Duduk di bawah meja rias dan membuka salah satu pintu laci.
Sebuah kotak brangkas terpampang. Berkat kekuatan ingatannya, ia sering mencuri lihat angka apa saja yang ditekan Charoen ketika menyimpan seluruh perhiasan yang diberikan suaminya.
Klik! Bunyi kunci terbuka, mata Anya berbinar cerah. Tumpukan uang dan beberapa perhiasan tersusun rapi di dalamnya, ada juga beberapa logam mulia dua puluh empat karat.
Sementara di kendaraan, Alexander menatap gerakan di kamar istrinya. Wajahnya menggelap seketika.
"Berani-beraninya," suaranya bergetar menahan amarah.
Raph yang tengah menyetir melihat wajah tuannya yang marah tentu sedikit mengerutkan keningnya.
"Tuan. Ada apa? Bukankah tadi seluruh proyek di Kota Nakino kita menangkan?" tanyanya bingung.
"Ada pencuri di rumah Raph!" jawab Alexander tanpa mengangkat wajahnya, ia tetap fokus pada layar ponselnya.
"Apa! Tidak mungkin!" seru Raph tak percaya.
"Saya sudah meletakkan agen keamanan terbaik di Kota Seradam, tidak mungkin pencuri bisa masuk!" lanjutnya lagi lalu ia menekan pedalnya dalam-dalam. Mobil auto sport.
Kendaraan mewah itu melesat membelah jalanan ibukota Seradam.
"Pencurinya bukan dari luar, Raph. Tapi dalam rumah," ujar Alexander lalu mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku.
Raph langsung melakukan koordinasi pada semua petugas keamanan di rumah. Menghentikan dua pencuri.
"Ingat, jangan sampai Tuan Besar dan Nyonya Romanov tahu jika ada pencurian di Villa!"
Anya tertawa kegirangan saat tangannya yang serakah mulai meraup batangan logam mulia dan perhiasan berlian ke dalam tas kain yang dibawanya. Otaknya yang dangkal sudah membayangkan kehidupan mewah di luar Kota Seradam, sama sekali tidak menyadari bahwa setiap gerak-geriknya tercatat sempurna oleh kamera pengawas tersembunyi yang terhubung langsung ke ponsel Alexander.
Sementara di luar kamar, Rachel berdiri gemetar dengan peluh dingin membasahi pelipisnya. Tak lama, Anya menuruni tangga dengan langkah santai. Senyum lebar terukir di sana, ia menenteng gembolan kain yang nampak berat di tangannya.
"Ayo cepat. Aku takut sekali," bisik Rachel panik.
"Jangan terburu-buru, Rachel. Kita harus setenang mungkin," sahut Anya santai.
Mereka kembali ke kamar dan mengemasi pakaian mereka.
"Akting sedih lagi, Rachel. Jangan sampai penjaga tahu kita sebentar lagi keluar dari kemiskinan," suruh Anya.
Lalu dua wanita itu berakting sedih. Mereka sesenggukan pura-pura padahal menyembunyikan senyum di balik wajah penuh penyesalan mereka.
Anya dan Rachel pergi melalui gerbang belakang. Keduanya berjalan sambil menangis tak henti-hentinya. Ketika melewati penjaga, Anya sempat berakting.
"Tuan ... Kami benar-benar menyesal!" teriaknya lalu menangis pilu untuk meraih simpati.
Grep! Tas tangan Anya diraih satu tangan besar. Matanya membesar.
Tak butuh perlawanan berat, tas tangan Anya sudah berpindah tangan dan pengawal mengeluarkan isinya berikut tas rekannya.
Satu bungkus perhiasan, emas batangan dan uang senilai satu juta dolar tergeletak jelas di meja periksa.
Tiba-tiba kendaraan hitam berhenti tepat di depan pos jaga. Raph keluar sambil mengeluarkan revolver dari balik pinggangnya.
Tak ada suara letusan, dua mayat maid serakah dan mesum bersimbah darah tanpa ampun.
"Urus mayat mereka dan berikan pada keluarganya kompensasi satu juta dolar masing-masing!" suara Alexander terdengar dari dalam mobil.
"Baik Tuan!" sahut Raph..
Pria itu hanya menggerakkan kepalanya dan mayat dua maid diurus pria-pria besar.
Raph masuk mobil lagi sambil menyerahkan semua barang yang dicuri.
"Tuan masih punya hati," pujinya datar.
"Mereka memang salah. Tapi keluarganya tidak. Biar uang itu menghidupi mereka. Selanjutnya terserah mereka!' sahut Alexander santai.
Bersambung
Langsung dor dong.
next?
pengen nabok rasanya biar otak si Grace sedikit berfungsi
char lucu
makin seru n penasaran