Indonesia
NovelToon NovelToon
My Husband The Mafia

My Husband The Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nabilah Tisyana

Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5.

‎Waktu berjalan cepat tanpa ampun, Bulan Oktober akhirnya tiba membawa hawa dingin yang makin membekukan perasaan Ruby.

‎Hari ini, tanggal empat belas Oktober, tidak ada gaun pengantin megah berenda panjang, tidak ada pesta mewah dengan ribuan tamu undangan, dan tidak ada senyum bahagia. Di dalam sebuah kapel privat yang sunyi, pernikahan itu digelar amat tertutup. Hanya ada Papa, Teressa, Om Frans, dan beberapa saksi penting.

‎Ruby berdiri kaku di depan altar dengan gaun putih polos tanpa banyak ornamen. Di sampingnya, berdiri tegap sang calon suami.

‎Kavano Benedict nama itu bukan sekadar nama biasa di kota ini. Kavano Benedict adalah pengusaha ternama, konglomerat muda yang kekuasaannya mencengkeram berbagai industri besar.

Namun di balik kesuksesan dan paras tampannya yang memikat, Kavano tersohor sebagai pria angkuh, berdarah dingin, dan suka berganti-ganti wanita sesuka hati. Baginya, wanita tak lebih dari sekadar mainan atau aset bisnis.

"Saya terima nikahnya dan kawinnya Ruby Alana..."

‎Suara berat Kavano terdengar tegas dan lancar mengucapkan ijab kabul dalam satu tarikan napas. Begitu kata "sah" bergema di dalam ruangan yang sunyi itu, dada Ruby terasa dihantam beban berbobot ton.

‎Kavano membalikkan badan, menghadap Ruby untuk memasangkan cincin. Saat jemari dingin pria itu menyentuh jemari Ruby yang gemetar, Kavano sempat mencengkeram jemari itu sedikit lebih keras dari yang seharusnya sebuah tanda dominasi yang tak tersirat.

‎"Cium kening istrimu, Kavano," bisik Frans pelan.

‎Kavano tersenyum tipis, sebuah senyuman miring yang penuh keangkuhan. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Ruby, menempelkan bibirnya di sana bukan untuk mencium, melainkan untuk membisikkan kata-kata yang bikin tubuh Ruby membeku.

‎"Selamat datang, Ruby," bisiknya dingin, lalu menarik diri tanpa benar-benar menyentuh kening gadis itu.

‎Di barisan kursi tamu, Teressa melipat tangan di dada dengan senyum puas. Ia merasa sangat beruntung telah lolos dari cengkeraman pria seperti Kavano, sementara Papanya menghela napas lega menatap transaksi bernilai lima puluh miliar rupiah itu akhirnya selesai dengan sempurna.

‎Ruby hanya menunduk dalam, menatap cincin emas polos di jari manisnya. Di tempat yang suci ini, ia sadar... kehidupannya yang bebas telah resmi berakhir, digantikan oleh ikatan pernikahan bersama seorang pria kasar yang sama sekali tak punya hati.

‎Begitu prosesi pernikahan selesai tanpa perayaan, Ruby bahkan tidak diberi kesempatan untuk mengucapkan perpisahan atau sekadar mengambil barang-barangnya di rumah. Papa dan Teressa langsung pergi begitu saja, seolah tugas mereka menjual Ruby telah usai dengan sempurna.

‎Ruby digiring masuk ke dalam mobil Lamborghini hitam milik Kavano. Deru mesin berkapasitas besar itu meraung membelah jalanan kota, melaju kencang menuju kawasan elit di pinggir kota. Di dalam mobil, tak ada percakapan. Kavano sibuk dengan ponselnya, sesekali memberikan perintah bisnis dengan suara berat dan dingin, membiarkan Ruby tenggelam dalam kecemasan.

‎Mobil berhenti di depan sebuah mansion megah berarsitektur modern yang dikelilingi pagar besi menjulang tinggi. Sepi, terisolasi, dan sangat tertutup.

‎Langkah kaki Ruby terasa begitu berat saat melangkah masuk ke dalam bangunan besar itu, baru saja mereka melewati pintu utama, Kavano mendadak menghentikan langkahnya dan membalikkan badan.

‎"Serahin Handphone kamu." potong Kavano singkat tanpa nada kompromi.

‎Ruby tertegun, refleks menggenggam tas kecilnya lebih erat. "Buat apa?"

‎Tanpa menjawab, Kavano langsung menyambar tas kecil Ruby, merogoh ponsel lama milik gadis itu, lalu melemparnya ke atas meja kristal di ruang tamu sampai berbunyi *klak* yang keras.

Pria itu kemudian mengeluarkan sebuah kotak ponsel keluaran terbaru yang masih tersegel dari saku jasnya dan melemparnya tepat ke dada Ruby.

‎"Pakai yang itu, nomor kamu sudah aku ganti," ucap Kavano datar. "Di Handphone baru itu cuma ada nomor Aku dan nomor kepala pelayan rumah ini. Aku nggak butuh Kamu berhubungan dengan orang luar, termasuk teman-teman kamu yang nggak berguna itu."

‎"Tapi, Sa..."

‎"Aku nggak suka dibantah, Ruby," potong Kavano tajam, menatapnya dengan mata menelisik yang dingin. "Kamu di sini buat nurut, bukan buat nawar."

‎Kavano kemudian berbalik melangkah menuju tangga lantai atas tanpa mempedulikan wajah pale Ruby.

‎Malam itu juga, Ruby menyadari satu hal, hidupnya kini benar-benar terkurung. Ia terpaksa memutus komunikasi dengan Tisa dan Aprilia, menelan bulat-bulat rasa bersalah karena menghilang tanpa kabar dari dua sahabat terbaiknya.

‎Mansion megah itu hanya dihuni oleh mereka berdua, dibantu beberapa pelayan yang bekerja dengan sangat tenang dan hemat bicara. Tak ada hangatnya rumah, tak ada kebebasan. Ruby kini pasrah, membiarkan dirinya terseret arus takdir di dalam istana megah yang tak ubahnya seperti sangkar emas.

‎Ruby memandangi kotak ponsel baru di tangannya dengan dada sesak yang membakar. Rasa takut yang sejak tadi ditahannya mendadak menguap, berganti menjadi keberanian nekat. Ia menyambar ponsel lamanya dari atas meja, menggenggamnya erat-erat.

‎"Tapi mereka sahabat Aku, Van!" seru Ruby, suaranya bergetar menahan tangis. Ia memberanikan diri menyusul langkah Kavano ke pangkal tangga. "Aku bahkan belum sempat berpamitan! Meraka pasti bingung Aku hilang gitu aja. Kenapa Kamu sampai seberlebihan ini,?!"

‎Langkah kaki Kavano terhenti seketika.

‎Pria itu berbalik perlahan. Udara di dalam ruangan itu mendadak terasa makin membeku. Aura intimidasinya menguar hebat saat ia melangkah mendekati Ruby kembali. Sorot matanya yang tajam bagai siap menerkam mangsa.

‎"Kamu... baru aja teriak Ruby?" suara Kavano terdengar amat pelan, tapi sarat ancaman yang mematikan.

‎"Aku cuma minta izin buat kirim pesan sebentar ke mereka!" tegas Ruby, menahan napasnya yang memburu.

‎" Kamu nggak bisa sewenang-wenang kayak gini!"

‎*SET!*

‎Sebelum Ruby sempat menghindar, tangan kekar Kavano sudah mencengkeram rahangnya dengan sangat kuat hingga Ruby meringis kesakitan. Ponsel lama di tangan Ruby terlepas dan jatuh membentur lantai marmer.

‎"Aku sudah bilang, *Gadis Lima Puluh Miliar*... Kamu di sini cuma barang jaminan," bisik Kavano tepat di depan wajah Ruby. Matanya menyalang penuh amarah. "Aku tidak butuh pembangkang sepertimu dirumah ini!"

‎*PRANG!*

‎Tanpa belas kasihan, Kavano menghentakkan kakinya, menginjak ponsel lama Ruby hingga layarnya hancur berkeping-keping. Belum sempat Ruby mencerna rasa terkejutnya, Kavano menyeret tubuh kecil gadis itu menuju kamar utama di lantai dua.

‎"Lepasin, Van! Lepas!" jerit Ruby histeris, berusaha meronta dan memukul lengan tegap Kavano.

‎Beberapa pelayan yang ada di lantai bawah hanya bisa menunduk dalam-dalam, gemetar ketakutan tanpa berani mengangkat kepala apalagi menolong.

‎Kavano mendorong tubuh Ruby dengan kasar hingga tersungkur ke lantai kamar. Sakit di badannya belum hilang ketika Kavano mencengkeram rambut bagian belakang Ruby, memaksanya mendongak.

‎"Aku paling benci wanita yang nggak tahu diri!" geram Kavano.

‎Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ruby

‎*PLAK!*

‎Rasa panas dan amis darah langsung memenuhi mulut Ruby. Tubuhnya terlempar ke samping. Belum sempat ia bernapas, Kavano mencengkeram kedua bahunya, menguncinya di lantai dan mencekik lehernya tanpa rasa iba.

‎Ruby terbatuk-batuk, jarinya berusaha menggapai tangan tegap Kavano yang makin menekan jalan napasnya. Penglihatannya mulai kabur, warna hitam merayap di sudut mata saat oksigen di paru-parunya menipis. Air mata mengalir deras membasahi pipinya yang lebam.

‎"Ingat posisi lu di sini, Ruby," ucap Kavano dingin, menatap wajah sekarat istrinya tanpa sedikit pun rasa bersalah.

‎Tangan Ruby yang tadinya meronta perlahan melemas dan terkulai di atas lantai marmer yang dingin. Kesadarannya meredup sepenuhnya, membawa Ruby jatuh ke dalam kegelapan yang pekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!