Kisah cinta ini bermula saat aku bertemu dengan seorang lelaki tampan yang membuatku tergila-gila.
Sehingga tanpa aku sadari, diriku masuk dalam jeruji kepedihan.
Kekaguman ini membuat diriku bagai tuli dan buta.
Sehingga perlahan aku terjerat dalam lembah dosa.
Aku terlalu kagum pada sosok lelaki tampan yang tidak lain adalah kekasih sahabatku sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nur Hastaman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Beberapa hari kemudian. Aku dan Albiam tengah belanja di sebuah pusat perbelanjaan, membeli sesuatu untuk ibu Albian. Hari ini beliau akan pulang. Sebelumnya kami sudah berbincang melalui telepon beberapa waktu lalu. Beliau sangat welcome terhadap aku dan Stevy. Beliau juga ingin kami menunggu sampai mereka pulang. Kedua orang tua Albian sangat baik. Mereka sangat ramah, baik, dan penyayang. Dalam hati ini justru pernah berpikir sebaliknya, tapi kenyataan mengubah prasangka.
"Zea, aku mau ke toilet bentar ya. Aku percaya pilihan kamu terbaik" Ucap Albian.
"Oke" Sambil menggendong Stevy aku mulai mencari barang apa yang pantas untuk ibu Albian.
Setelah melihat beberapa tas, akhirnya ada salah satu yang menarik perhatianku "Tas ini cantik sekali"
"Makasih sayang ku" Suara itu tidak asing bagiku. Aku pun mencri asal suara tersebut. Ternyata benar Jihan dan Mas Rayhan ada di sana juga. Mereka sedang berada di kasir. Terlihat tangan Jihan melingkar di lengan mas Rayhan. Mereka tampak romantis selayaknya pengantin baru. Beberapa saat kemudian mereka kelur dari toko tas. Tanpa tunggu lama, aku mengikuti mereka dari jauh.
"Hebat kamu, mas. Masih bisa mesra mesraan seperti itu, sedangkan di sini anak istrinya menangis darah" Kedua orang itu tak luput dari pandanganku. Sampai mereka berhrnti di salah satu tempat makan. Sengaja aku duduk tepat di belakang mereka. Tapi, sebelumnya aku lebih dulu memakai kaca mata dan penutup kepala supaya mas Rayhan tidak mengenaliku.
"Sayang, kamu tau nggak kemarin itu aku ketemu sama Zea. Dia lagi jalan sama Albian. Mereka itu mesra banget" Ucap Jihan.
Rayhan terdiam sejenak lalu mengambil daftar menu "Kamu mau makan apa, sayang? Kelihatannya makanan di sini enak semua deh" Dia berusaha mengalihkan pembicaraan. Menyodorkan daftar menu lalu meminta sang istri melihat menu yang di inginkan. Tentu Jihan bukan wanita sebodoh itu. Di tepisnya daftar nemu tadi lalu menatap dalam kedua mata suaminya "Mas nggak lagi mengalihkan pembicaraan, bukan?"
Rayhan nempak gugup "Tidak. Siapa yang mengalihkan bembicaraan, hanya saja nggak pentinglah ngomongin mereka. Mending kita bicarain kemana kita akan honeymoon nanti" Sambil meraih kedua tangan Jihan.
"Tapi aku tuh masih suka kesel kalau lihat dia bahagia. Dia yang hampir merebut kamu dariku, nggak pantas hidup bahagia"
Deg....
(Ya Tuhan, jadi selama ini Jihan hanya pura pura baik di depanku) Air mata ini terurai begitu mendengar ucapan Jihan.
"Sudahlah, jangan bahas masa lalu. Mending kita fokus sama hidup kita ke depannya"
"Iya, sayang. Kamu tau nggak sih aku tuh seneng banget pas waktu itu di apartemen paman kamu, sebenarnya waktu itu Zea ada di sana. Biarin aja sengaja aku nggak kasih tau kamu, biar dia sadar kalau dia itu nggak bisa bersaing sama aku. Heh.....cewek model kaya begituan mau saingan sama aku. Kalah jauh lah" Ucap Jihan dengan nda kurang enek di dengar.
"Jadi dia tau kita sedang....." Rayhan terperanjat kela mendengar kebenarannya.
(Pantas saja waktu itu Zea marah besar padaku. Jadi semua ulahnya) gumam Rayhan.
Meraih tangan Rayhan, memintanya kembali duduk "Ih...ngapain si mas reaksinya kok gitu"
"Kamu jahat sekali. Dia itu sahabat kamu, tega kamu ya" Maki Rayhan.
Entah itu pembelaan untukku atau hanya sebatas omong kosong belaka. Aku tidak tau, yang jelas sekarang semua sudah terungkap.
"Jahat? jahat kamu bilang, mas?" jihan mulai naik pitam. Dia dengan segala amarahnya membaut beberapa orang melihat ke arah mereka "Sekarang aku tanya sama kamu, mas. Zea merebut kamu dariku, padahal dia tau bahwa aku ini sahabatnya sendiri. Dia saja tega menusukku dari belakang, kenapa aku tidak boleh membalas kejahatan itu. Di mana salah aku? katakan?"
Suasana mulai tidak terkendali. Hatiku semakin sekit, terasa tersayat duri sembilu.
"Oe....." Tanpa sadar aku mempererat dekapan tangan, sehingga Stevy menangis kencang.
"Stevy" Tutur mas Rayhan kala mendengar suara tangis putri kecilnya.
Buru buru aku pergi dari sana, namun mas Rayhan menghentikan ku. Dia belum melihat wajah ku mau pun Stevy.
"Heh....siapa yang kamu maksud Stevy itu? jawab aku mas?"
Ku pejamkan mata sejenak lalu melepaskan tangan mas Rayhan.
"Tunggu...." Mas Rayhan hendak menggapai ku lagi, tapi Jihan segera menariknya. Setelah agak jauh, aku menoleh. Terlihat mereka sedang adu mulut. Pasti merek bertengkat hebat setalah ini.
"Kamu tidak salah, Jihan. Ini memang salahku. Aku pantas mendapatan ini" Air mataku kembali berlinang. Lalu ku langkahkan kaki menjauh dari mereka.
aneh bgt ni author gak jelas bgt ceritanya..
tdnya mau aku like n dksih vote klo bagus
yuk mampir dan like juga karya aku judulnya "Lelaki Pilihan Elena" dan tinggalkan jejak disana
ditunggu ya kak