Terjebak dalam perjodohan, pasti membuat hati siapapun akan terasa mati!
Mungkin itulah sedikit gambaran tentang kisah hidup seorang wanita bernama Vinara.
Wanita yang memiliki paras cantik rupawan, dan mampu memikat pria manapun dengan kecantikannya.
Namun takdir berkata lain untuk Vinara, orang tuanya telah menjodohkan Vinara dengan seorang pria bernama Damar, laki-laki yang jauh dari kata sempurna.
Menikah dengan seseorang yang tidak pernah kau cintai, rasanya pasti sangatlah sulit.
Apalagi hatimu telah terpikat pada seseorang yang jauh lebih sempurna dibanding pria yang kau nikahi secara sah.
Lalu bagaimana kisah rumah tangga Vinara dan Damar?
Akankah pernikahan mereka bisa tetap bertahan, meskipun dimulai dari keterpaksaan, bukan berdasar pada cinta..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Am, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Cincin Dari Suaminya
"Lihatlah, sayang, cincin ini adalah hadiah pertama untuk kamu setelah resmi menjadi istriku," ucap Damar sambil meraih jemari Vinara.
Vinara hanya bisa diam seribu bahasa, tak bisa berkata-kata lagi seolah Damar telah membuat tubuhnya terpaku di tempatnya tanpa bisa bergeming sedikitpun.
Damar terlihat menyimpulkan senyuman di bibirnya, menyematkan cincin manis di jari mungil Vinara, mengikat wanita itu untuk selalu bersama dengannya sampai kapanpun juga.
"Gimana? kamu suka?" tanya Damar pada istrinya, setelah cincin pemberiannya berhasil disematkan di jari manis Vinara.
Vinara hanya bisa menatap mata Damar, tanpa mengalihkan pandangannya dari sana, bahkan cincin indah di tangannya pun tak mendapat perhatian darinya sedikitpun.
"Kenapa kamu malah lihatin aku? kan aku bukan cincinnya?" tanya Damar salah tingkah dengan kelakuan istrinya yang nakal itu.
"Mas, apa kamu ini orang bodoh? bisa-bisanya kamu masih bisa tersenyum setelah tahu aku tidak mencintai kamu, apa kamu terlalu baik, atau kamu memang sangat bodoh?" tanya Vinara sambil memasang wajah sedihnya pada sikap Damar tersebut.
Namun suaminya hanya bisa tersenyum dengan tulus, seolah dia benar-benar baik-baik saja untuk segala keadaan, termasuk saat Vinara mengatakan padanya tiada cinta untuknya, ya, sesungguhnya terasa sangat menyedihkan.
"Sayang, dalam pernikahan, sesungguhnya bersyukur adalah hal yang paling utama, dan aku bersyukur memiliki kamu, aku bersyukur bisa menjadikan kamu istriku, meski kau belum mencintai aku, tapi aku yakin, suatu hari nanti akan ada saatnya bagiku untuk mendapatkan cintamu.."
Mendengar kata-kata tulus dari Damar, sontak saja membuat Vinara bergetar. Hatinya seakan tersentak, tak begitu mempercayai apa yang barusan dia dengar dari seorang Damar.
Ia bahkan selalu menyakiti Damar dengan setiap perkataannya, juga perbuatannya, tapi Damar, lihat saja pria itu, bukankah jawaban seperti itu sudah jelas bukan jawaban yang ditebak oleh Vinara.
"Mas, aku mau tanya sama kamu.." tanya Vinara sambil menatap mata suaminya dengan perasaan heran.
"Mau tanya apa?"
"Apa kamu memang sudah jatuh cinta sama aku?"
Kali ini tinggal Damar yang dibuat terkejut dengan pertanyaan Vinara. Ia memalingkan wajahnya, dan menyembunyikan ekspresi bingungnya dari sang istri.
"Tuh, kan? kamu sendiri juga diam, aku tahu kamu juga pasti masih belum mencintai aku, tapi kenapa kamu selalu maksa buat bertahan dalam pernikahan ini? apa kamu sudah nggak waras, sampai bisa-bisanya mempertahankan pernikahan yang tidak kamu inginkan ini, Mas?" wanita itu makin mencecar Damar, seolah dia bisa saja menemukan celah untuk bisa lari dari rumah ini.
Kalau dia bisa pergi dari rumah Damar tanpa harus membuat masalah di rumah ini, bukankah akan lebih terdengar baik? ya, itulah yang diinginkan Vinara, biar tanpa harus membawa hadiah anak untuk ibunya pun tak jadi masalah.
"Vin, kalau dunia memaksa setiap manusia untuk menikah dengan orang yang mereka cintai, maka dunia ini hanya akan berselimut kebahagiaan, banyak manusia yang hanya akan menikah satu kali dan berjanji setia untuk satu orang saja," jawab Damar membuat Vinara kembali dibuat tercengang.
"Kenapa kamu nggak pernah ngaku kalau kamu masih nggak cinta sama aku? apa karena kamu takut bakal nyakitin perasaan aku?"
Namun lagi dan lagi, Vinara masih punya ribuan pertanyaan dalam benaknya, seakan tak cukup baginya untuk mendengar satu jawaban saja dari mulut Damar.
"Iya, aku takut menyakiti hati kamu, karena prinsip aku, jika sudah menjadi istriku, maka tidak akan pantas bagiku untuk menyakiti perasaan kamu, itulah janji aku di masa lalu, siapapun wanita yang berhasil aku nikahi, entah itu wanita yang paling aku cintai, atau bahkan wanita yang paling aku benci sekalipun, jika dia sudah jadi wanitaku, maka aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk menghargai dan menyayangi dia.."
Deg!
Jantung Vinara seakan bergemuruh dengan cepatnya, apalagi ucapan Damar kali ini memang membuat dia tersadar akan sebuah kehidupan yang memang tidak bisa dia atur sesuka hatinya.
Mencintai seseorang setelah menikah, bukankah ungkapan semacam itu hanya ada pada mulut laki-laki baik saja? ya, mungkin..
"Sayang, meskipun mungkin aku masih belum mencintai kamu, tapi aku meyakini, kalau takdirku hanya kamu, maka jangan biarkan aku lalai dari takdirku, biarkan aku menjaga kamu, dan menyayangi kamu sebagai wanitaku, aku tidak mau suatu hari nanti rasa menyesal karena mengacuhkan kamu itu ada, aku takut suatu hari nanti akan ada sakit di hatiku karena mengabaikan posisi kamu sebagai istriku," ucap Damar meluluhkan hati Vinara dalam sekejap.
Ya! memang aku yang bersalah, tidak pernah menjadi wanita sempurna seperti yang seharusnya..
"Baiklah, sudah cukup dramanya, apa kau tidak mau istirahat? aku kangen sama kamu.." bisik Damar di telinga Vinara membuat wanita itu merasa sedikit geli pada telinganya.
Namun karena ekspresi dan respon dari Vinara itulah membuat Damar akhirnya berhenti menggoda iman istrinya. Ia nampak menatapi istrinya yang seolah merasa risih dengan sikapnya barusan.
Ia dengan perlahan menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Vinara, lalu beralih menatap kembali wajah istrinya.
"Vin, apa kau selama ini terpaksa melayani aku?" tanya Damar seketika membuat Vinara memaku di tempat.
Mau bagaimanapun Vinara menyembunyikan semuanya dari Damar, tetap saja dia hanyalah wanita biasa yang tak sanggup menahan semuanya seorang diri, apalagi untuk soal perasaanya.
"Katakan padaku, Vin, apa kau selama ini hanya terpaksa melayani aku? kenapa aku tak melihat ketulusan di kedua matamu?" tanya Damar sekali lagi, namun kali ini dengan nada yang sangat menyakitkan.
"Mas, aku, aku minta maaf, tapi aku sungguh bukan bermaksud.."
"Aku tahu, kau memang belum siap mencintai aku, tapi aku kira, kau sudah tulus menyerahkan segalanya untukku, tapi kenapa?"
"Mas Damar, aku tidak tahu, aku hanya ingin seorang anak.."
"Untuk apa kau menginginkan seorang anak dari pernikahan yang tak pernah kau harapkan? apa kau hanya sedang mempermainkan aku?" wajah Damar kali ini tidak terlihat baik-baik saja, ia memang tengah merasa terluka di dalam hatinya, hanya saja, apa sang istri mampu mengetahuinya tanpa harus Damar berbicara?
"Mas Damar, sejak awal aku memang tidak pernah setuju dengan pernikahan ini, kau juga tahu betapa aku sangat membenci pernikahan kita, hanya saja, aku takut mengecewakan kamu, aku juga takut akan mengecewakan ibuku.."
"Ibumu? kenapa?" dia semakin ingin tahu saja.
"Dia menginginkan kehadiran bayi di dalam pernikahan kita, kau juga tahu apa yang bisa aku lakukan selain mengikuti apa maunya, dia berkata dia kesepian, dia juga tidak bisa melihat aku dan kamu belum memiliki momongan, karena itulah aku berinisiatif untuk punya anak denganmu.."
"Hahh! jadi kamu hanya menginginkan anak untuk ibumu, bukan untukku atau mungkin untuk dirimu sendiri?"
"Mas Damar, aku tahu, aku ini bukan wanita sempurna, jadi aku pikir, aku memang tidak pantas untuk bersanding denganmu, hidup dalam keluarga kamu yang sebaik ini, aku merasa nggak pantas," ucap Vinara tak terasa menitihkan air mata di kedua pipinya.
"Vin, jangan pernah merasa dirimu tidak sempurna, karena seburuk apapun kamu, kamu tetaplah istriku, dan aku, aku tidak akan pernah berhenti mencoba membuat kamu jatuh cinta sama aku.."
Cup!
Mengecup pipi sekilas.
"Mas Damar, apa kamu lupa ini di ruang tamu?"
"Aku tidak mau mendengar kata-kata menyedihkan darimu, karena mulai sekarang, aku akan jatuh cinta padamu.."
Aku, aku tidak yakin apa aku bisa jatuh cinta padamu..
Aku tahu kau memang tak mungkin semudah itu mencintai aku, tapi aku telah berjanji, seumur hidupku, hanya ada kamu, jika kau memang takdirku..
Maka tidak ada salahnya mencoba untuk mencintai kamu, istriku, karena bagiku, siapapun istriku, entah itu orang yang dulu paling aku cintai atau tidak, dia tetap wanita yang harus aku jaga, yang harus aku lindungi, dan harus aku kasihi dengan tulus, aku hargai dan aku bertanggung jawab atas dirimu sepenuhnya..
Jadi, mau bagaimanapun kau mengacuhkan aku, aku akan tetap mengejarmu, sampai kau benar-benar jatuh cinta padaku..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
keras kepala ya si vinara ini..
gk ada lembut lembutnya....
hadehhhhhhhh
stresss nya...
marah2 mulu..
sing sabar, non....