"Dia putriku, Sofia." Begitu kata Judan ketika banyak perempuan bertanya siapa gadis cilik yang sedang bersamanya. Ia tidak ingin banyak orang tahu bahwa sebenarnya gadis cilik itu adalah keponakannya. Hingga akhirnya ia bertemu Runi, seorang Perawat di rumah sakit tempat ia menghabiskan waktu karena ingin melepas trauma buruk karena kematian kakak laki-lakinya yang tak lain adalah ayah dari gadis cilik itu.
"Dia adalah keponakanku," ungkap Judan akhirnya karena tidak mau perempuan itu salah paham. Ini pertama kalinya ia mau membuka diri pada seorang perempuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32 Itu lucu
Merasa suasana akan canggung lagi, Runi bergegas menuju masakan yang sudah tersedia untuk menyajikannya di atas meja makan. Dia mencoba mencari kesibukan yang bisa membuat rasa canggung sedikit teratasi.
"Kamu mau sarapan? Aku akan menatanya di meja makan," ujar Runi menggantikan tugas bibi. Dia mengatakan itu tanpa menoleh. Tangan Judan terulur menyentuh piring saji. Rupanya ia ingin membantu Runi menyiapkan makanan. "Biar aku saja." Runi langsung menolak.
"Tidak apa-apa. Jika aku membantu, kita bisa sarapan dengan cepat," ujar Judan. Runi tidak membantah karena bagaimana pun ini adalah rumah pria ini. Setelah semua makanan sudah di atas meja, Judan mulai duduk. Sementara Runi masih berdiri di depan meja dapur. "Kenapa kamu masih ada di situ Runi? Duduklah. Kamu belum makan dengan benar sejak tadi malam, bukan?"
"Aku masih harus membuatkan teh untukmu." Runi bicara tanpa menoleh ke belakang.
"Kenapa?" tanya Judan dengan wajah isengnya.
"Bukankah bibi biasanya melakukan ini setiap pagi? Karena kamu memberi perintah bibi mengantarkan sarapan untuk Sofia padahal itu tugasku, aku yang menggantikan tugas bibi sekarang," jawab Runi.
"Hmm ... Oke." Judan membiarkan perempuan ini menggantikan tugas bibi dapur. Setelah selesai, Runi datang dengan cangkir teh dan menyerahkannya pada Judan. Mendadak Judan tergelak ringan. Mendengar ini Runi terkejut. Dia yang hendak duduk di kursi menoleh.
"Apa ada yang lucu?" tegur Runi merasa Judan sedang menertawainya.
Judan masih menyisakan senyuman di bibirnya. Pria ini juga masih belum menjawab. Runi masih berdiri dengan tatapan tidak tenang. Namun ia mencoba menenangkan diri dari rasa kesal.
"Tidak. Duduklah. Kita sarapan bareng." Tangan Judan meminta perempuan ini untuk duduk tanpa menjawab pertanyaannya.
"Kamu sedang menertawai ku?" tanya Runi ingin tahu maksud gelak tawa pria ini. Ia masih penasaran. "Pekerjaan ini tidak lucu, jadi sepertinya kamu keliru jika menertawakannya."
"Tentu saja lucu."
Runi yang sudah duduk menoleh cepat. "Lucu?" tanya Runi menautkan alisnya. Ia mendadak kesal.
"Ya. Jika bibi melakukannya, itu sudah menjadi pekerjaannya karena beliau bekerja padaku. Aku sudah terbiasa melihatnya. Namun jika kamu yang melakukannya, aku merasa kamu seperti seorang istri yang sedang melayani suaminya," ujar Judan dengan tatapan mata lurus ke arahnya.
Runi mengerjap. Tidak menduga itu yang ada di dalam pikiran Judan. Dia tidak bisa berkata-kata.
"Bukankah itu lucu dan menyenangkan, Runi?" tanya Judan seraya mencondongkan tubuhnya ke depan. Sengaja menggoda perempuan ini dengan senyumannya.
Dia masih sama. Sama seperti sebelum pernyataan cintanya di tolak olehku.
Beberapa detik mereka saling memandang. Akhirnya Runi memilih menunduk setelah sadar kalau dia tidak seharusnya menatap Judan terlalu lama.
"Sebaiknya kita segera sarapan. Bukankah kamu juga belum makan apapun tadi malam?" Runi mengalihkan pembicaraan. Bibir Judan tersenyum lagi melihat Runi gugup dengan semua situasi ini.
"Ya. Kita berdua harus makan karena tadi malam pulang dari pesta dengan perut kosong." Judan setuju. Dia tidak melanjutkan godaannya karena tahu keduanya memang sangat kelaparan karena kejadian tadi malam. Dalam diamnya, Judan memperhatikan Runi yang makan dengan menfokuskan pandangannya hanya pada piring yang ada di depannya. Sepertinya Judan senang mereka bisa makan berdua seperti ini.
Runi sedang larut dalam pikiran. Meski ia gelisah dengan kedekatan yang seperti tidak berubah sama sekali meski ada kejadian tidak menyenangkan tadi malam, ia juga lega. Pekerjaan ini terasa masih panjang waktunya. Jadi jika suasana dia dan Judan membuat tidak nyaman, itu akan sangat tidak menyenangkan.
"Makanlah yang banyak. Seharusnya tadi malam aku mengajakmu makan malam lebih dulu sebelum pulang. Aku menyesal membuatmu kelaparan tadi malam," kata Judan.
"Tidak apa-apa."
"Kamu juga perlu langsung sarapan jika lapar, Runi. Jangan menyusahkan dirimu. Ini sangat tidak nyaman."
"Terima kasih, tapi kamu tidak perlu berusaha payah membuatku nyaman. Aku tidak apa-apa." Runi menegaskan kalau dia tidak perlu di beri perhatian lebih soal makanan.
Mendengar Runi bicara seperti itu. Judan menatap lurus-lurus. "Kamu tidak bisa menentukan aku perlu atau tidak untuk melakukan sesuatu," ujar Judan kini dengan mata tegas. Runi merasa Judan bukan sedang membicarakan soal makan malam ata sarapan. Karena jika begitu, raut wajah itu bisa di anggap terlalu serius untuk topik pembicaraan yang sepele ini. "Ini juga soal aku yang ingin mendekatimu ...."
Dugaan Runi benar. Pria ini bukan ingin membahas soal makan.
Judan mulai melanjutkan kalimatnya lagi, "Aku sudah menyatakan perasaanku, meskipun kamu menolak dengan alasan apapun, aku akan tetap mendekatimu. Aku bertekad mendobrak dan menghancurkan dinding tinggi yang kamu bangun untuk menolak ku. Jadi siap-siap saja untuk menerima semua itu," tegas Judan. Pria ini mengerti kondisi Runi sebagai janda. Bahkan dia tidak marah soal penolakan itu. Judan justru melancarkan aksi pendekatannya secara terang-terangan.
...----------------...
.. jangan sampai mengacaukan hasil tes DNA