Indonesia
NovelToon NovelToon
THE NIGHT MOON

THE NIGHT MOON

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Keluarga & Kasih Sayang / Persahabatan / Romansa / Chicklit / Tamat
Popularitas:49.9k
Nilai: 5
Nama Author: rahma qolayuby

"Aku hanya seorang pendosa. Pantaskah aku berada di salah satu surgamu. Sungguh sangat malu! Namun, diri ini tak siap untuk masuk neraka."

Sarah Aurelia Bromoto.

*****

Seorang gadis yang haus akan kasih sayang kedua orangtuanya yang selalu sibuk oleh pekerjaan membuat seorang Sarah Aurelia Bromoto menjalani hidup dengan bebas.
Setia hari harus keluar masuk club' malam bahkan Aurel selalu di juluki 'Bulan Malam'.

Sampai rasa lelah datang membuat Aurel nekad ingin mengakhiri hidupnya.

Brak ...

Namun siapa sangka bukannya mati dalam tabrakan itu Aurel malah harus terikat dengan seorang Malik Ibrahim Alkarim.
Pria yang menawarkan rasa tanggung jawab atas Aurel walau Aurel menolak untuk itu.

"Saya tak bisa menghapus sebuah masa lalu, tapi apa saya salah jika ingin bertaubat?"

Bagaimana kisahnya yuk ikuti ....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rahma qolayuby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Sahabat beda agama

Amelia dan Intan saling pandang tak percaya melihat apa yang Aurel lakukan. Bahkan Amelia dan Intan sampai mengucek kedua matanya seolah apa yang mereka lihat itu sebuah ilusi.

"Mel,,, apa itu benar-benar Aurel sahabat kita?"

"Gue juga gak tahu, kerasukan setan mana dia?"

Amelia dan Intan terus berbisik-bisik melihat apa yang Aurel lakukan. Sungguh mereka benar-benar merasa shok apa yang Aurel lakukan.

Dengan senyum polosnya Aurel menatap kedua sahabatnya sambil melipat sajadah dan mukena.

"Kenapa kalian lihatin aku kaya lihat hantu?"

Amelia langsung mendekat menyentuh kening Aurel.

"Tak panas, Tan."

"Baby, lo kerasukan setan mana. Apa yang lo lakukan dan gerakan aneh apa tadi?"

"Oh, tadi namanya sholat!"

"What! Sholat!"

Pekik Amelia dan Intan saling pandang mereka tak tahu apa yang Aurel maksud.

Aurel menghela nafas berat melihat reaksi kedua sahabatnya membuat Aurel teringat akan reaksi dirinya dulu.

"Maafkan aku teman-teman, aku memutuskan untuk hijrah!"

"Apa!!"

Pekik keduanya melotot tajam sungguh tak menduga akan ucapan Aurel.

"Baby ada apa dengan mu, kenapa lo berubah?"

"Yes baby, kami tak mengerti sama sekali?"

Lagi-lagi Aurel menghela nafas berat mengerti dengan keterkejutan dan kebingungan kedua sahabatnya karena memang Amelia dan Intan berbeda agama.

Amelia beragama kristen sedang Intan beragama Budha. Tentu mereka berdua tak tahu apa yang di lakukan Aurel.

"Aku tak berubah, hanya saja aku sedang kembali ke agamaku."

"Dan yang kalian lihat, inilah ibadah agamaku yang berbeda dengan kalian."

"Bukankah lo bilang tak percaya tuhan?"

"Kamu benar Mel, tapi aku sudah menemukannya. Dan inilah kewajiban ku."

"Ok, ok gue faham kita beda agama dan tak tahu juga jika ibadah lo kaya gitu, sangat aneh. Tapi apa kaitannya dengan tak mau masuk club' lagi. Kita hanya senang-senang saja mengerjai para laki-laki hidung belang. Gak ada lo gak asik tahu!"

"Karena di agama ku, semua itu di larang jadi aku tak mau kembali melanggarnya!"

Amelia dan Intan menghela nafas berat tak menyangka dengan apa yang di ucapkan Aurel.

Karena mereka berbeda agama Amelia dan Intan tak mau membahasnya lagi karena tak mengerti. Apalagi memang Amelia dan Intan orang-orang yang tak suka mencampuri ajaran agama lain walau mereka selalu tetap menghargai satu sama lain seperti Amelia dan Intan saling menghargai walau ibadah mereka juga beda. Dan tentu, Amelia dan Intan akan menghargai juga agama yang Aurel anut. Namun mereka tak mau berpisah dengan Aurel. Apalagi Aurel seperti adik, sahabat, saudara bagi mereka sendari dulu.

"Ok lah, kita memang beda agama. Tapi, apa lo benar-benar tak akan mau datang lagi ke club'?"

"Maaf!"

"Apa itu artinya lo akan melupakan kami?"

"Tidak sama sekali, kalian tetap sahabat ku. Maaf jika Sikap ku membuat kalian merasa tak di anggap lagi!"

"Aku memang tak akan ke club' lagi dan akan meninggalkan kebiasaan dulu. Tapi bukan berarti kita tak bisa jalan, nonton dan belanja bareng. Semuanya akan tetap saja hanya satu yang berbeda aku tak akan masuk club'. Bukankah kita masih bisa menghabiskan waktu nongkrong atau kalian bisa main ke sini aku jamin mama akan mengizinkan!"

"Syukurlah kalau lo masih menganggap kami, walau kami memang sedikit kecewa jika lo tak akan masuk club' lagi."

"Maaf!"

"Sudah-sudah yang penting kita tak kehilangan Aurel, Mel. Seperti kata Aurel kita masih bisa bersama dan kita harus menghargai keputusan Aurel yang ingin hijrah. Bukankah kita sahabat yang harus saling dukung."

Aurel tersenyum haru mendengar penuturan Intan.

Amelia pun mengangguk setuju dan pasrah akan keputusan Aurel.

"Terimakasih, kalian memang sahabat ku!"

Mereka bertiga saling peluk satu sama lain. Aurel benar-benar sangat bahagia mempunyai sahabat yang mengerti dirinya walau mereka berbeda agama.

Namun mereka saling menghargai satu sama lain. Itulah yang paling utama toleransi yang tinggi. Jangan sampai karena perbedaan membuat perpisahan sosial.

Tok ... Tok ...

"Non, di suruh nyonya ajak temannya makan malam?"

"Baik Bi!"

Aurel langsung mengajak kedua sahabatnya turun kebawah.

Mereka terlalu lama mengobrol sampai tak sadar jika sudah malam. Perasaan baru saja Aurel sholat insya. Apalagi memang Amelia dan Intan memutuskan akan menginap di rumah Aurel.

"Sayang, ngobrol apaan sih, mama dari tadi nungguin?"

"Sorry mah, temu kangen!"

Amelia dan Intan duduk di samping Indri dengan canggung.

Glek ...

Amelia dan Intan menelan ludahnya kasar ketika melihat om Aga ternyata ada.

Amelia dan Intan memang sangat takut pada Aga. Terlebih tatapannya selalu tajam dan dingin.

"Om, senyum dikit kenapa. Mereka pada takut!"

Tegur Aurel gemas melihat om Aga yang selalu dingin pada siapapun.

"Sudah-sudah ayo kita makan!"

Amelia dan Intan mengangguk canggung walau begitu mereka tetap makan dengan tenang.

Sudah selesai makan Aurel kembali mengajak kedua sahabatnya naik ke atas. Apalagi Aurel tahu kedua sahabatnya selalu takut jika ada om Aga.

"Kak, ada yang mau aku omongin?"

"Di ruang kerja!"

Aga mengangguk mengikuti langkah Indri menuju ruang kerja.

"Katakan?"

"Apa tak sebaiknya Aurel mulai kerja, walau bagaimanapun Aurel harus tahu!"

Indri menghela nafas berat, Indri belum berpikir ke arah sana. Apalagi hubungan mereka baru membaik.

Memang mau tak mau Aurel akan tetap memegang perusahaan karena tak mungkin juga Aga terus menghandle semuanya. Apalagi setelah Indri memutuskan menyerahkan semuanya pada Aga.

"Tapi, bukankah Aurel masih kuliah?"

Aga tersenyum ternyata Indri belum tahu juga atau memang Aurel belum memberi tahu.

"Kenapa kau tersenyum, aku hanya tak mau membuat Aurel terbebani. Biarkan dia masuk sesudah lulus saja."

"Aurel sudah lulus kuliah dua bulan lalu. Tepat ketika Aurel pergi!"

"Apa! Bagaimana mungkin Aga?"

Indri melotot seakan tak percaya Aurel sudah lulus kuliah di usianya yang baru menginjak dua puluh tahun.

"Itu nyata! Aurel sudah lulus. Dia sama seperti kamu kak!"

"Oh tuhan bagaimana mungkin!"

Indri tak tahu harus bicara apa, sungguh ibu macam apa yang tak tahu sama sekali tentang putrinya.

Indri pikir Aurel belum lulus kuliah. Pantas saja Aurel tak pernah membahas kuliah lagi dan bahkan terlihat santai. Sungguh Indri benar-benar jadi ibu yang gagal, sungguh ini sangat memalukan.

"Aga!"

"Aku yang menghadiri acara wisuda Aurel bahkan Aurel mendapatkan nilai tertinggi di setiap bidang akademik!"

Indri menutup mulutnya tak tahu harus bicara apa. Indri benar-benar sudah gagal menjadi seorang ibu.

Sebegitu tak peduli dirinya dulu sampai-sampai hal yang berharga pun Indri tak tahu.

"Tak ada yang perlu di sesali lagi. Kini kakak fokus perbaiki semuanya saja. Jangan terlalu mengungkit Aurel pasti akan sedih lagi."

"Aga, aku ibu yang jahat!"

"Tidak!"

Indri menatap Aga lalu membuang pandangannya lagi.

Sungguh Indri benar-benar tak tahu harus bagaimana sekarang menghadapi Aurel. Rasanya Indri tak punya muka. Tapi, dengan gampangnya Aurel memaafkan dia dan mau kembali.

Penyesalan memang penyesalan tak akan pernah bisa kembali lagi. Namun, bagaimana kita memperbaiki kesalahan itu agar tidak melakukan hal yang sama.

"Sudah jangan menangis lagi, yang lalu biarlah berlalu. Kakak hanya perlu memperbaiki!"

"Ya, kamu benar. Aku hanya perlu memperbaiki!'

Bersambung ...

Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...

1
Endang Sulistia
keren ..bagus Thor...
Rahma Qolayuby: terimakasih kk
total 1 replies
Endang Sulistia
🥰🥰🥰
Endang Sulistia
camer...
Endang Sulistia
om aga sama Indri aja thor
Endang Sulistia
Aurel ketemu camer 🤭🤭🤭
Rayyan 98
semangat Aurel 🥰
Rayyan 98
benar Aurel, aku setuju. Karena pandangan manusia selalu fana.
Rayyan 98
semoga hidayah Allah datang. tetap Istiqomah Aurel🥰
Rayyan 98
saya suka, banyak tentang agamanya. jadi saya tahu sedikit2
Rayyan 98
awas jatuh cinta😅
Rayyan 98
semakin seru
Rayyan 98
heh, benar2😅
Fitri ainin Ainin
baru baca dan sampai bab ini ceritanya tetap masih bagus serrat akan pesan2 /ilmu yang baik
Rayyan 98: benar kak. saya juga suka ceritanya☺️
total 2 replies
Sri Utami
ceritanya bagus suka 😍
selalu.semngat nulisnya thor...💪💪
Rahma Qolayuby: terimakasih kakak, 🙏💪💪
total 1 replies
Sri Utami
🤣🤣🤣 kersukan jin tomang si aga 🤣🤣
Rahma Qolayuby: kayanya ka😂😂😂
total 1 replies
Sri Utami
ayahnya maliikkk...
Sri Utami
raja sll bikin ulah🙄
Jumi Saddah
nah andi bakaln ketemu langsunk dgn aurel nich,,,
!M@m@#
othorrrrr berdebar" hatiku /Drool//Drool//Drool/
!M@m@#
suka sekali thorrr/Smile//Smile/
Rahma Qolayuby: terimakasih mama, semangat terus ya bacanya🙏🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!