Indonesia
NovelToon NovelToon
Jin Sang Pembantai

Jin Sang Pembantai

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Light Novel
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: AB3NK OFFICIAL

jin kazama adalah seorang pembunuh berantai yang sudah membunuh 15 wanita psk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AB3NK OFFICIAL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Jejak Darah Masa Lalu

Kabut malam menyelimuti Tokyo dengan pekat. Jin berjalan sendirian di lorong sempit, langkahnya mantap menuju sebuah tempat yang disebutkan pria tua itu sebelumnya—markas rahasia Kuro no Kai yang tersembunyi di distrik Minato. Di tangannya, foto ibunya yang masih ia genggam erat, menjadi satu-satunya petunjuk yang tersisa.

Sambil berjalan, Jin mengingat percakapan terakhirnya dengan Kuroyuri. Kata-kata itu terus menggema:

"Anta no haha mo mukashi wa sono ichiin datta..." (Ibumu juga dulu bagian dari mereka…)

Hatinya berkecamuk. Kemarahan, kesedihan, dan rasa ingin tahu bercampur menjadi satu.

Saat tiba di depan bangunan tua itu, Jin mengetuk pintu besi tiga kali. Tidak ada jawaban. Ia mendorong perlahan, dan pintu berderit terbuka. Aroma lembap dan karat menyambutnya.

Di dalam, seorang wanita tua duduk di belakang meja kayu usang. Rambutnya panjang beruban, tapi mata tajamnya menatap Jin dengan penuh rasa waspada.

“Anata wa… Kazama Jin ka?” tanyanya dengan suara serak. (Kau Kazama Jin?)

Jin mengangguk. “Hai. Anata wa dare desu ka?” (Ya. Siapa kau?)

Wanita itu tersenyum tipis. “Watashi wa Reiko. Omae no haha no tomodachi datta.” (Aku Reiko. Teman ibumu dulu.)

Mata Jin menyipit. “Soshite… nande boku o matteru?” (Dan kenapa kau menunggu aku?)

Reiko bangkit pelan. “Karena sudah saatnya kau tahu segalanya.”

Reiko mengambil sebuah kotak kayu kecil dan meletakkannya di meja. “Kore wa… anata no haha no kiroku.” katanya lirih. (Ini adalah catatan ibumu.)

Jin membuka kotak itu dengan hati-hati. Di dalamnya ada beberapa buku catatan tua dan sehelai kalung dengan liontin merah darah.

Saat membuka halaman pertama buku catatan itu, Jin membacanya pelan:

“Kazama Yuki. Tahun 1990. Anggota Kuro no Kai…”

Jin menggertakkan giginya. “Masaka… kore wa… hontou ka?” (Tidak mungkin… ini semua benar?)

Reiko mengangguk. “Yuki-san wa soshiki kara nigeteta. Dakara… karera wa anata o neratta.” (Yuki kabur dari organisasi itu. Karena itulah mereka mengejar kalian.)

Jin mengepalkan tinjunya, amarah membakar dadanya. “Soshite… anta wa dou suru tsumori da?” (Lalu… apa yang akan kau lakukan?)

Reiko menatapnya dengan tatapan penuh luka. “Ore wa mou jibun no ayamachi o kuishite iru. Demo… anata dake ga kore o owaraseru koto ga dekiru.” (Aku sudah lama menyesali kesalahanku. Tapi hanya kau yang bisa mengakhiri ini.)

Tiba-tiba, suara keras terdengar dari luar. Jin segera memasukkan buku catatan itu ke dalam jaketnya. Pintu kayu itu dihantam keras, beberapa pria bersenjata masuk.

“Jin Kazama! Ugoku na!” salah satu berteriak. (Jin Kazama! Jangan bergerak!)

Jin menarik pisaunya cepat, tubuhnya reflek melompat menghindari tembakan pertama. Dengan kecepatan luar biasa, ia menerjang pria terdekat, menusuk tepat di bawah tulang rusuk. Darah memercik.

“Damare!” teriak Jin, menendang satu pria hingga terjatuh menabrak dinding.

Reiko bersembunyi di balik meja sambil berteriak, “Jin! Koko kara nigete!” (Jin! Larilah dari sini!)

Namun Jin tak mundur. Dia menghadapi dua pria bersenjata lagi yang maju serempak. Dengan lompatan cepat, ia meraih leher salah satu, memelintirnya hingga terdengar bunyi patah tulang, lalu menendang lawan berikutnya sampai pistolnya terlepas.

“Haaaaa!” Jin berteriak keras, menghantam musuh terakhir dengan siku ke rahang hingga roboh.

Saat situasi tenang, Reiko berlari mendekatinya. “Hayaku! Ima no uchi ni nigete!” (Cepat! Pergi sekarang!)

Jin menatap Reiko dengan penuh tanya. “Anta wa…?” (Bagaimana denganmu?)

Reiko tersenyum pahit. “Watashi wa mou… koko made da.” (Aku sudah cukup sampai di sini.)

Jin ragu sejenak, tapi akhirnya berlari keluar membawa semua bukti di tangannya. Hujan kembali turun deras saat dia menghilang di kegelapan malam Tokyo, dengan tekad baru yang membara:

"Kono tatakai wa… mada owattenai…" (Pertarungan ini… belum selesai…)

1
Aini Nurcynkdzaclluew
Nggak cuma bagus ceritanya, bahasa penyampaian dan tata bahasanya juga nggak kalah bagus. Keren banget! 💯
Asher_Sanou3u
Bener-bener nggak bisa berhenti baca!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!