Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.
Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.
Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31. Respect
Keesokan paginya, suasana hangat malam tadi perlahan bergeser menjadi hari yang cukup melelahkan bagi Nathan.
Di balik kebahagiaannya karena resmi berpacaran dengan Acha dan mendapat restu dari keluarga, Nathan harus menghadapi kenyataan pahit yang menguji mentalnya.
Pagi itu, masalah finansial mendadak menghimpit keuangannya. Saat menghitung sisa tabungan dan hasil dari usahanya sablon sandal.
Nathan menyadari bahwa uang yang dia pegang sangat tidak mencukupi untuk membayar setoran cicilan motor yang sudah jatuh tempo hari ini.
Pikiran Nathan langsung kalang kabut. Dia tidak ingin menunggak cicilan karena takut terkena denda atau berurusan dengan pihak leasing. Dalam kondisi terdesak seperti itu, tidak banyak pilihan yang dia miliki.
Dengan perasaan berat dan sedikit rasa sungkan, Nathan akhirnya mengambil ponselnya dan berniat untuk menghubungi Dinda, kakak perempuan pertamanya, guna meminjam uang demi menutupi kekurangan setoran motor tersebut.
Nathan menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menekan tombol panggil untuk menghubungi Dinda.
Setelah nada dering beberapa kali, sambungan telepon itu akhirnya diangkat oleh sang kakak di seberang sana.
Dengan nada bicara yang sedikit ragu-ragu dan rasa tidak enak yang kentara, Nathan menjelaskan situasinya secara jujur kepada Dinda.
Dia menceritakan bahwa dirinya sedang terjepit masalah keuangan dan membutuhkan pinjaman uang untuk melunasi setoran cicilan motor yang sudah jatuh tempo hari ini.
Mendengar keluh kesah sang adik, Dinda menghela napas berat dari balik sambungan telepon.
Bukan karena dia tidak ingin membantu, melainkan kondisi restoran tempat dia bekerja atau usaha yang sedang dijalaninya juga tengah mengalami masa-masa sulit dan sepi pembeli.
"Duh, Nathan... Jujur aja, teteh pengen banget bantu nutupin semuanya. Tapi kondisi restoran lagi seret banget, pemasukannya lagi nggak tentu, jadi teteh benar-benar lagi pas-pasan," jawab Dinda dengan nada penuh penyesalan.
Meski begitu, sebagai seorang kakak yang peduli, Dinda tidak tega membiarkan adiknya kebingungan sendirian menghadapi masalah.
Setelah terdiam sejenak untuk menghitung sisa uang yang dia miliki di dompet, Dinda kembali bersuara.
"Tapi ya sudahlah, biar teteh bantu semampunya ya, Nathan. Teteh ada uang 500.000 rupiah, nggak banyak memang, tapi semoga itu bisa sedikit meringankan beban kamu buat nutupin kekurangan setoran motor hari ini," ujar Dinda dengan tulus.
Nathan yang mendengarnya langsung merasa terharu sekaligus tidak enak hati. Di satu sisi dia bersyukur masih ada bantuan yang datang, namun di sisi lain dia tahu persis bahwa kakaknya itu sedang kesulitan juga.
Dengan suara penuh rasa terima kasih, Nathan menerima bantuan tersebut dan berjanji akan segera mengembalikannya begitu rezekinya kembali lancar.
Di saat masalah finansial dan cicilan motor tengah menghimpit pikiran Nathan, sebuah masalah baru muncul di sisi Acha.
Menjelang sore hari hingga malam menjelang, Acha yang kini sudah jauh lebih pulih mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Biasanya, di jam-jam sibuk atau bahkan di tengah lelahnya bekerja menyablon, Nathan tidak pernah alpa memberikan kabar.
Minimal, pemuda itu akan mengirimkan pesan singkat sekadar menanyakan keadaannya atau memberi tahu jika sedang sibuk.
Namun, sejak siang tadi, ponsel Nathan sama sekali tidak bisa dihubungi. Pesan WhatsApp yang dikirimkan Acha hanya bercentang satu, dan ketika ditelepon, nomor tersebut langsung masuk ke kotak suara atau tidak aktif.
Kecemasan yang tadinya kecil perlahan-lahan berubah menjadi rasa takut yang besar di dada Acha.
Mengingat kondisi kesehatan Nathan yang kadang kelelahan dan beban hidup yang dipikul pemuda itu, Acha mulai berpikiran yang macam-macam.
Berbagai skenario buruk melintas di kepalanya mulai dari Nathan yang kelelahan hebat, mengalami kecelakaan di jalan, hingga masalah lain yang sengaja disembunyikan darinya.
Acha mondar-mandir di kamarnya dengan gelisah, menggigit kuku jarinya sambil terus-menerus menatap layar ponsel, berharap ada notifikasi masuk atau balasan dari sang kekasih yang sukses membuat hatinya dilanda resah luar biasa.
Di tengah rasa cemas yang kian menghimpit karena Nathan mendadak menghilang tanpa kabar sejak siang tadi, pikiran Acha tiba-tiba melayang kembali pada mimpi yang dialaminya semalam.
Ingatannya langsung berputar pada sosok almarhumah Siska, ibunda Nathan, yang datang ke dalam mimpinya dengan senyuman teduh.
Kata-kata terakhir dari almarhumah terngiang jelas di telinganya "Tante titip Nathan ya, Nak... Jaga dia, sayangi dia, dan dampingi terus kebaikannya."
Seketika itu juga, dada Acha terasa sesak. Firasatnya mendadak menjadi sangat tidak enak. Kepingan-kepingan memori itu berputar di kepalanya, memicu ketakutan terbesarnya saat ini.
Acha langsung menghubungkan pesan almarhumah di dalam mimpinya dengan situasi Nathan yang tidak bisa dihubungi sekarang.
Dalam benaknya berkecamuk pikiran-pikiran negatif yang menakutkan, jangan-jangan, hilangnya Nathan hari ini adalah sebuah pertanda buruk?
"Jangan-jangan, A Nathan sedang menghadapi masalah yang sangat berat, atau bahkan tengah mengalami musibah di luar sana?
Air mata Acha perlahan menetes membasahi pipinya. Rasa khawatir, takut, dan rindu bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya.
Dia merasa begitu tidak berdaya karena tidak tahu di mana Nathan berada atau apa yang sedang menimpa kekasihnya itu saat ini.
Kekhawatiran yang menggelayuti pikiran Acha berdampak langsung pada kondisi fisiknya yang baru saja pulih.
Sepanjang sore hingga malam hari, Acha hanya bisa termenung di kamarnya dengan tatapan kosong tertuju pada layar ponsel yang masih membisu. Tidak ada lagi senyuman manis atau gelak tawa seperti hari-hari sebelumnya.
Dia menolak makan malam dengan lahap dan lebih banyak berdiam diri, membuat energinya kian terkuras habis oleh rasa cemas yang teramat sangat.
Melihat putri bungsunya kembali lemas, kehilangan semangat hidup, dan tampak begitu sedih menantikan kabar dari sang kekasih, Ranti hanya bisa mengelus dada dengan perasaan iba.
Ranti merasa sangat sedih melihat Acha yang begitu terpukul hanya karena Nathan tidak ada kabar seharian. Sebagai seorang ibu, Ranti paling tidak tega melihat anaknya diselimuti kecemasan mendalam seperti itu.
Di satu sisi, Ranti juga memikirkan Nathan pemuda yang dikenalnya baik, pekerja keras, dan tidak pernah berulah itu rasanya sangat tidak mungkin menghilang tanpa alasan jika tidak sedang menghadapi masalah besar.
Ranti duduk di tepi ranjang Acha, merangkul pundak putrinya dengan penuh kelembutan, lalu mencoba menenangkan hati Acha yang sedang gundah gulana.
"Sabar ya, Nak... Mungkin saja Nak Nathan lagi sibuk banget atau handpone-nya ada kendala di luar sana. Kita doain sama-sama ya, semoga Nathan baik-baik saja dan segera ngasih kabar sama kamu," hibur Ranti dengan suara lembut, mencoba meredakan badai kekhawatiran yang sedang melanda hati Acha.
Melihat Acha masih tampak ragu-ragu dan enggan menyentuh makanannya dengan benar, Ranti tidak kehabisan akal untuk membujuk putri bungsunya agar mau mengisi tenaga.
Dia tahu betul bahwa kekhawatiran terbesar Acha saat ini adalah ketidakpastian keberadaan Nathan.
Dengan senyuman hangat, Ranti kembali mengelus lembut puncak kepala Acha dan menawarkan sebuah solusi yang langsung membuat mata sang anak berbinar.
"Sudah, jangan sedih terus, ya. Kalau sampai malam nanti Nak Nathan tetap nggak ada kabar juga, besok pagi Papah yang akan antar kamu langsung ke rumahnya Nathan buat ngecek keadaan di sana," bujuk Ranti penuh pengertian.
Mendengar ucapan mamahnya, Acha langsung menghentikan kunyahannya sejenak. Alisnya berkerut tipis, diliputi rasa penasaran di tengah kesedihannya.
"Emangnya Papah tahu di mana alamat rumahnya Nathan, Mah? Kan kita belum pernah ke sana..." tanya Acha dengan nada polos.
Ranti tersenyum kecil mendengar pertanyaan putrinya. "Ya tinggal tanya sama Aa kamu, dong! Aa kamu itu kan pasti tahu alamatnya. Lagian, Nathan kan masih saudara dekatnya Teh Suci, istrinya Alfian. Jadi, mustahil banget kalau Alfian sampai nggak tahu rumah Nathan," jawab Ranti meyakinkan.
Penjelasan logis dari sang mamah seketika berhasil melunturkan separuh beban di dada Acha. Ada secercah harapan dan ketenangan baru yang meresap ke dalam hatinya.
Setidaknya, dia tidak perlu menebak-nebak sendirian lagi karena orang tuanya pun siap turun tangan membantunya mencari Nathan jika malam ini pemuda itu benar-arah tidak kunjung memberi kabar.
Merasa mendapat dukungan penuh dari mamah dan papahnya, Acha akhirnya mengangguk patuh.
Perlahan tapi pasti, dia mulai menyuapkan makanan hangat yang disiapkan Ranti ke dalam mulutnya, berharap esok hari dia bisa segera melihat wajah Nathan dalam keadaan sehat tanpa kurang suatu apa pun.
Kecemasan yang sejak kemarin menghimpit dada Acha akhirnya seketika menguap begitu saja tatkala layar ponselnya berdering di sore hari keesokan harinya.
Nama Nathan tertera jelas di sana, disusul dengan masuknya pesan singkat yang mengabarkan bahwa pemuda itu baik-baik saja dan baru sempat memegang ponsel setelah urusannya selesai.
Meski sempat merasa ingin ngambek karena dibuat khawatir seharian penuh, rasa kesal Acha langsung melebur menjadi kelegaan yang luar biasa.
Nathan tidak hanya memberi kabar, tetapi dia juga langsung mengajak Acha untuk datang berkunjung ke rumahnya keesokan harinya.
Namun, tantangan baru kini beralih ke rumah Acha. Begitu panggilan ditutup, Acha harus segera menghadap kedua orang tuanya, Yanto dan Ranti untuk meminta izin secara resmi.
Dengan hati-hati dan sedikit rasa deg-degan, Acha menemui Yanto dan Ranti yang sedang duduk santai di ruang keluarga.
Dia menceritakan bahwa Nathan sudah memberi kabar dan mengajaknya berkunjung ke rumah pemuda tersebut keesokan harinya.
Acha meremas ujung bajunya, menunggu reaksi dari sang ayah. Mengingat karakter Yanto yang kadang protektif terhadap anaknya.
Acha berharap sang papah dan mamahnya bersimpati serta memberikan lampu hijau, terutama setelah mereka sendiri melihat betapa kacaunya Acha kemarin karena mencemaskan Nathan.
Mendengar permohonan Acha, Yanto awalnya langsung menggelengkan kepala tanda tidak setuju.
Sebagai ayah, tentu ada rasa protektif dan kekhawatiran tersendiri melihat putrinya yang baru saja pulih dari sakit sudah ingin pergi bertamu ke rumah laki-laki, meskipun itu adalah Nathan.
Melihat penolakan sang ayah, Acha langsung panik. Dengan wajah memelas dan mata berkaca-kaca, dia mulai merengek sambil memohon kepada Yanto dan Ranti.
"Papah... Please, izinin Acha ya? A Nathan kan baru aja ngabari setelah kemarin seharian bikin aku khawatir. Kasihan dia, pengen banget kenalin rumahnya sama aku," bujuk Acha dengan nada manja.
Melihat putrinya hampir menangis lagi, Ranti lantas menyenggol lengan suaminya sambil mengingatkan janji mereka semalam.
"Udah, Pah, kasih izin aja. Lagian kan kemarin Mamah sempat bilang, kalau Nathan nggak ada kabar, Papah sendiri yang mau ngantar Acha ke sana. Nah, sekarang malah Nathan sendiri yang mau datang buat jemput Acha ke rumah. Jadi beda tipis kan?" bela Ranti sambil tersenyum menggoda suaminya.
Mendengar perkataan istrinya, Yanto terdiam sejenak. Dia teringat kembali betapa kacaunya Acha kemarin malam hingga tidak mau makan gara-gara mencemaskan pemuda tersebut.
Menyadari bahwa menolak keinginan Acha hanya akan membuat putrinya kembali bersedih, Yanto akhirnya menghela napas panjang dan menyerah.
"Ya sudah, kalau Nathan sendiri yang mau jemput dan tanggung jawab nganter kamu, Papah kasi izin. Tapi ingat, jangan pulang terlalu malam, ya," kata Yanto akhirnya sambil mengalah, membuat wajah Acha seketika berseri-seri penuh kegirangan.
Mendapatkan izin resmi dari sang papah membuat hati Acha berbunga-bunga. Rasa cemas dan kekhawatiran yang sempat mencekam jiwanya kemarin kini sepenuhnya berganti dengan rasa rindu serta debaran antisipasi yang menyenangkan.
Namun, kegirangan yang luar biasa itu justru membawa efek samping yang tak terduga Acha sama sekali tidak bisa tidur.
Menjelang tengah malam, saat seisi rumah sudah terlelap dalam keheningan, Acha masih berbaring telentang di atas tempat tidurnya dengan mata yang terbuka lebar.
Dia terus memandangi langit-langit kamar sambil membayangkan momen keesokan harinya saat Nathan datang menjemputnya di rumah.
Saat dia akhirnya bisa melihat langsung tempat tinggal sang kekasih, dan bagaimana mereka akan menghabiskan waktu bersama setelah drama hilangnya Nathan kemarin.
Setiap kali dia mencoba memejamkan mata, bayangan wajah Nathan dan debaran di dadanya justru semakin menjadi-jadi, membuat pikirannya melayang-layang penuh antusias.
Acha terus membolak-balikkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, merasa waktu berjalan begitu lambat karena ia begitu tidak sabar menanti matahari terbit.
Menjelang pukul satu pagi, Ranti yang terbangun sejenak karena haus memutuskan untuk keluar kamar.
Saat melewati lorong, dia tak sengaja melihat celah cahaya lampu yang masih berpendar terang dari bawah pintu kamar Acha.
Merasa penasaran mengapa putrinya belum juga tidur di jam istirahat selarut itu, Ranti lantas mendorong pintu kamar Acha secara perlahan.
Benar saja, di dalam sana dia mendapati Acha masih berbaring telentang di atas tempat tidurnya dengan mata yang mengerjap lebar, sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda mengantuk.
Melihat sang mamah masuk, Acha langsung mengubah posisi tidurnya menjadi duduk sambil tersenyum malu-malu.
"Eh, Mamah... Belum tidur, Mah?" tanya Acha pelan.
Ranti melangkah mendekat, lalu duduk di tepi ranjang sambil menatap putrinya penuh kelembutan.
"Mamah tadi kehausan, terus lihat kamar kamu masih nyala lampunya. Kamu kok belum tidur juga, Nak? Besok kan harus bangun pagi buat siap-siap dijemput Nathan. Nanti kalau kesiangan atau kecapekan gimana?" tegur Ranti dengan nada lembut penuh kasih sayang.
Acha merapatkan selimutnya, lalu tersenyum lebar hingga matanya menyipit. Wajahnya memancarkan rona bahagia yang tak bisa disembunyikan.
"Acha nggak bisa tidur, Mah... Saking senangnya mikirin besok mau dijemput Nathan ke rumahnya. Perasaan baru kemarin Acha nangis-nangis karena dia nggak ada kabar, eh sekarang malah nggak sabar pengen cepet-cepet ketemu,"ucap Acha jujur dengan nada manja.
Ranti yang mendengarnya hanya bisa tersenyum simpul menggelengkan kepala. Dia paham betul gejolak perasaan anak gadisnya yang sedang kasmaran.
Tanpa banyak bicara, Ranti lantas merangkul pundak Acha dan membaringkannya kembali dengan lembut di atas bantal.
"Iya, Mamah ngerti. Tapi kalau matanya dipaksa melek terus mikirin Nathan, besok muka kamu malah pucat dan kurang tidur, lho. Udah, malam ini tidur ya, Sayang..." bujuk Ranti sambil mulai mengelus-elus punggung Acha dengan gerakan yang teratur dan menenangkan.
Sentuhan hangat serta usapan lembut di punggungnya itu seketika memberikan rasa nyaman yang luar biasa bagi Acha. Beban pikirannya melayang perlahan, berganti dengan rasa aman dalam dekapan sang ibu.
Sambil mendengarkan bisikan doa dan usapan penuh kasih dari Ranti, kelopak mata Acha yang tadinya terasa berat perlahan-lahan mulai terpejam. Napasnya teratur, menandakan dia telah jatuh terlelap ke alam mimpi.
Melihat putrinya sudah tidur dengan pulas dan senyuman tipis yang masih menghias bibirnya, Ranti tersenyum lega.
Dia merapikan selimut Acha, mengecup kening putrinya sekilas dengan penuh sayang, lalu bangkit perlahan dan melangkah keluar kamar untuk kembali ke kamarnya sendiri.
Be to continued