Indonesia
NovelToon NovelToon
Untukmu, Anakku Yang Pertama

Untukmu, Anakku Yang Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Single Mom / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Untukmu, Anakku Yang Pertama
​Penulis: Aksara Handini
Genre: Drama / Keluarga / Inspiratif
​Sinopsis / Deskripsi Cerita
​Menjadi seorang ibu muda bukanlah hal yang mudah, terlebih ketika garis takdir menuntut Ibu Dini untuk berjuang sendirian demi buah hati tercintanya, Aidil. Bagi Dini, Aidil bukan sekadar anak pertama, melainkan simbol harapan, kekuatan, dan alasan terbesarnya untuk terus berdiri di tengah badai kehidupan.
​"Janji yang tak pernah ia langgar, bahkan saat dunia meninggalkannya."
​Ketika dunia membelakangi mereka dan ujian datang bertubi-tubi, Dini tak pernah menyerah. Ia mengorbankan setiap impian pribadinya demi memastikan Aidil mendapatkan masa depan yang layak. Setiap detik perjuangannya kini bukan lagi tentang dirinya sendiri, melainkan tentang senyuman dan masa depan anak laki-laki kecilnya itu.
​"Untukmu, Anakku Yang Pertama" adalah sebuah kisah yang menguras emosi tentang ketulusan kasih sayang seorang ibu, besarnya pengorbanan yang tak terhitung,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 Perempuan dari Masa Lalu Kala

Pagi setelah kedatangan keluarga Kala seharusnya menjadi pagi yang menyenangkan.

Setidaknya begitu menurut Mbak Ning.

“Orang habis dilamar itu biasanya mukanya berseri-seri,” katanya sambil menata kue lapis ke dalam kotak.

Dini yang sedang mencatat pesanan langsung mendongak.

“Aku belum dilamar.”

“Lah, kemarin keluarganya datang bawa niat baik. Namanya apa kalau bukan melamar?”

“Baru menyampaikan niat.”

“Bedanya?”

“Beda.”

“Di mana?”

Dini terdiam.

Mbak Ning terkekeh.

“Nah, kan.”

Dini menghela napas lalu kembali menulis.

Sejak semalam, pikirannya memang dipenuhi Kala.

Surat pendek yang ditinggalkan laki-laki itu bahkan masih tersimpan di dalam buku catatannya.

Aku tidak meminta jawaban hari ini.

Dini menyukai kalimat itu.

Tidak ada paksaan.

Tidak ada tuntutan.

Kala memberinya ruang untuk berpikir.

Tetapi semakin lama Dini memikirkan pernikahan, semakin banyak ketakutan lama bermunculan.

Bukan hanya tentang dirinya.

Aidil adalah pertimbangan terbesar.

Dini tidak ingin anaknya kembali merasakan kehilangan.

“Bunda!”

Aidil berlari dari arah belakang.

“Apa?”

“Om Kala datang?”

Dini menggeleng.

“Belum.”

Wajah Aidil langsung murung.

“Kok belum?”

“Memangnya kenapa?”

“Katanya mau beliin martabak.”

Mbak Ning tertawa keras.

“Ya Allah, ternyata cinta Aidil kepada Kala memang berdasarkan martabak.”

Aidil menggeleng cepat.

“Enggak!”

“Terus?”

Aidil berpikir sebentar.

“Om Kala juga suka gendong Aidil.”

Dini tersenyum.

“Tuh, kan,” kata Mbak Ning. “Martabak dan jasa angkut.”

“Mbak!”

Mereka tertawa.

Suasana pagi terasa ringan.

Sampai sebuah mobil berhenti di depan ruko.

Dini tidak terlalu memperhatikan.

Ia mengira pelanggan.

Namun beberapa saat kemudian, Santi menghampirinya.

“Bu.”

“Hm?”

“Ada tamu.”

“Pesanan?”

“Bukan.”

Dini mengangkat kepala.

“Siapa?”

Santi merendahkan suara.

“Perempuan.”

Dini mengernyit.

“Ya memang kenapa kalau perempuan?”

“Dia mencari Pak Kala.”

Tangan Dini berhenti.

“Mencari Kala?”

“Iya.”

“Kenapa mencarinya ke sini?”

“Itu yang saya enggak tahu.”

Dini berdiri.

Dari tempatnya, ia bisa melihat seorang perempuan berdiri di teras.

Usianya mungkin awal tiga puluhan.

Penampilannya rapi.

Blus krem dipadukan dengan celana panjang hitam. Rambutnya terikat sederhana. Tas mahal menggantung di bahunya.

Wajahnya cantik.

Namun bukan kecantikannya yang membuat Dini merasa tidak nyaman.

Melainkan cara perempuan itu memandang papan bertuliskan:

DAPUR IBU DINI.

Seolah tempat itu sudah pernah ia dengar sebelumnya.

Dini menghampiri.

“Selamat pagi.”

Perempuan itu menoleh.

Tatapannya langsung meneliti Dini dari atas sampai bawah.

“Dini?”

“Iya.”

“Saya Rania.”

Dini tersenyum sopan.

“Ada yang bisa saya bantu?”

“Saya mencari Kala.”

Jantung Dini bergerak aneh.

“Kala tidak ada di sini.”

Rania mengangguk.

“Berarti benar.”

“Benar apa?”

“Dia sering datang ke sini.”

Dini mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.

“Maaf, Mbak mengenal Kala?”

Rania tersenyum tipis.

“Lumayan.”

Jawaban itu justru membuat Dini semakin penasaran.

“Silakan duduk.”

Mereka duduk di meja teras.

Santi membawa dua gelas teh.

Rania memperhatikan aktivitas dapur.

“Usahamu ramai.”

“Alhamdulillah.”

“Kala membantu?”

“Kadang.”

Rania tersenyum.

“Dia memang begitu.”

Dini menatapnya.

“Begitu bagaimana?”

“Suka membantu orang yang dia sayangi.”

Kalimat terakhir sengaja diucapkan perlahan.

Dini tidak bereaksi.

Namun di dalam dadanya, sesuatu mulai bergerak.

“Apa hubungan Mbak dengan Kala?”

Akhirnya Dini bertanya langsung.

Rania memegang gelas.

“Kami pernah hampir menikah.”

Dini membeku.

Suara dapur seolah menjauh.

“Hampir menikah?”

Rania mengangguk.

“Empat tahun lalu.”

Dini berusaha menjaga wajahnya tetap tenang.

“Lalu kenapa tidak jadi?”

Rania tertawa kecil.

“Itu cerita panjang.”

“Saya punya waktu.”

Jawaban Dini membuat Rania sedikit terkejut.

Kemudian perempuan itu bersandar.

“Keluarga kami sudah membicarakan pernikahan.”

“Lalu?”

“Aku pergi.”

Dini mengernyit.

“Pergi?”

“Ke luar negeri.”

“Tanpa Kala?”

Rania mengangguk.

“Aku mendapatkan kesempatan kerja yang sangat besar. Kala ingin aku tetap tinggal.”

“Jadi kalian berpisah?”

“Kurang lebih.”

Dini menatapnya.

“Apa Kala masih memiliki hubungan dengan Mbak?”

Rania tidak langsung menjawab.

Dan diamnya justru membuat pertanyaan itu terasa lebih berat.

“Aku tidak tahu.”

Dini mengerutkan kening.

“Bukankah itu seharusnya Mbak yang tahu?”

Rania tersenyum.

“Kamu ternyata berbeda dari yang kubayangkan.”

“Bayangan Mbak tentang saya seperti apa?”

“Rapuh.”

Dini tersenyum kecil.

“Sayangnya sudah lewat masanya.”

Rania tertawa.

“Aku mulai mengerti kenapa Kala tertarik padamu.”

Kata tertarik terasa terlalu ringan untuk hubungan yang sedang Dini pertimbangkan.

Namun ia tidak ingin menunjukkan kegelisahan.

“Kenapa Mbak datang?”

Rania menatap langsung matanya.

“Karena aku ingin Kala kembali.”

Tidak ada basa-basi.

Tidak ada kalimat pembuka.

Langsung.

Dini menelan ludah.

“Kalau begitu bicara dengan Kala.”

“Aku akan bicara.”

“Lalu kenapa menemui saya?”

“Aku ingin melihat perempuan yang membuatnya menolak menemuiku selama beberapa bulan terakhir.”

Dini terdiam.

Kala tidak pernah menceritakan itu.

Rania melanjutkan.

“Aku menghubunginya sejak pulang.”

“Dan?”

“Dia selalu menghindar.”

“Berarti seharusnya Mbak sudah mendapatkan jawabannya.”

Rania tersenyum.

“Belum tentu.”

Dini tidak menyukai kalimat itu.

“Aku dan Kala punya sejarah panjang.”

“Semua orang punya masa lalu.”

“Tidak semua masa lalu selesai.”

Dini menatapnya.

Sebelum ia sempat menjawab, suara motor berhenti di depan.

Aidil yang sedang bermain langsung berteriak.

“OM KALA!”

Dini menoleh.

Kala datang.

Senyumnya muncul ketika melihat Aidil berlari ke arahnya.

Namun senyum itu hilang ketika ia melihat siapa yang duduk bersama Dini.

“Rania?”

Rania berdiri.

“Hai, Kala.”

Wajah Kala berubah.

Ia langsung melihat Dini.

“Kenapa kamu ada di sini?”

Pertanyaan itu ditujukan kepada Rania.

“Aku ingin bertemu kamu.”

“Aku sudah bilang jangan datang ke sini.”

Dini menangkap kalimat tersebut.

Sudah bilang?

Berarti mereka memang pernah berkomunikasi.

Rania tersenyum.

“Kamu selalu menolak bertemu.”

“Karena tidak ada yang perlu dibicarakan.”

“Ada.”

“Rania.”

“Aku pulang untukmu.”

Dini menunduk.

Entah mengapa kalimat itu terasa menyakitkan.

Kala menoleh kepada Dini.

“Din, aku bisa jelaskan.”

Dini berdiri.

“Tidak perlu sekarang.”

“Dini.”

“Aku sedang banyak pesanan.”

Kala tahu itu alasan.

Namun Dini sudah berjalan masuk.

Sepanjang siang, Dini bekerja lebih keras daripada biasanya.

Terlalu keras.

“Din.”

Mbak Ning akhirnya mengambil pisau dari tangannya.

“Apa?”

“Mentimun itu kalau kamu potong lebih tipis lagi bakal jadi transparan.”

Dini melihat talenan.

Benar.

Ia menghela napas.

“Pikiranmu ke mana?”

“Enggak ke mana-mana.”

“Rania?”

Dini diam.

Mbak Ning duduk.

“Cemburu?”

“Tidak.”

“Bohong.”

Dini menatapnya kesal.

“Aku bukan anak SMA.”

“Orang umur tujuh puluh juga bisa cemburu.”

Dini akhirnya duduk.

“Aku cuma tidak suka Kala tidak pernah cerita.”

“Nah.”

“Kalau memang mereka hampir menikah, kenapa tidak pernah disebut?”

“Mungkin karena sudah selesai.”

“Kalau selesai, kenapa perempuan itu datang?”

“Yang belum selesai mungkin Rania, bukan Kala.”

Dini terdiam.

Kalimat itu masuk akal.

Namun pengalaman bersama Yudi membuatnya sulit mempercayai sesuatu tanpa kepastian.

Ia pernah percaya terlalu mudah.

Dan akibatnya, ia kehilangan banyak hal.

“Aku takut salah memilih lagi, Mbak.”

Kali ini suaranya melemah.

Mbak Ning tidak bercanda.

“Aku tahu.”

“Aku punya Aidil.”

“Iya.”

“Kalau hanya aku, mungkin aku bisa mengambil risiko.”

Air mata Dini mulai berkumpul.

“Tapi sekarang setiap keputusanku juga memengaruhi anakku.”

Mbak Ning menggenggam tangannya.

“Karena itu jangan ambil keputusan berdasarkan ketakutan.”

Dini menatapnya.

“Dengar Kala dulu.”

Kala menunggu sampai dapur tutup.

Ketika pekerja terakhir pulang, Dini keluar.

Kala duduk sendirian di teras.

“Aidil?”

“Sudah tidur sama Mbak Ning.”

Dini duduk di seberangnya.

“Sekarang jelaskan.”

Kala mengangguk.

“Rania memang pernah menjadi calon istriku.”

Dini diam.

“Kami pacaran hampir lima tahun.”

Lima tahun.

Bukan waktu singkat.

“Keluarga kami sudah saling kenal.”

“Kenapa gagal?”

Kala mengembuskan napas.

“Karena kami menginginkan kehidupan yang berbeda.”

“Dia bilang kamu melarangnya pergi.”

“Aku tidak melarang.”

Kala menggeleng.

“Aku hanya mengatakan kalau dia pergi, kami harus membicarakan ulang rencana pernikahan. Tapi dia memilih berangkat tanpa menyelesaikan apa pun.”

“Lalu?”

“Tiga bulan kemudian aku menerima pesan.”

“Apa?”

“Dia ingin putus.”

Dini menatap Kala.

“Aku menerima.”

“Sesederhana itu?”

“Tidak.”

Kala tersenyum pahit.

“Aku butuh hampir dua tahun untuk benar-benar selesai.”

Kejujuran itu justru membuat Dini sedikit lega.

Kala tidak berpura-pura bahwa Rania tidak pernah berarti.

“Kenapa tidak pernah cerita kepadaku?”

“Karena aku pikir itu tidak relevan lagi.”

“Sekarang dia kembali.”

“Aku tidak tahu dia akan datang ke sini.”

“Tapi kamu tahu dia pulang.”

Kala mengangguk.

“Dia menghubungiku.”

Dini langsung menatapnya.

“Kenapa kamu tidak bilang?”

“Karena aku sudah menolaknya.”

“Kala.”

“Aku tahu.”

Laki-laki itu mengusap wajah.

“Aku salah.”

Dini tidak menyangka Kala akan mengakuinya begitu cepat.

“Aku seharusnya memberitahumu, terutama sebelum membawa orang tuaku kemarin.”

“Kenapa tidak?”

“Aku takut kamu mundur.”

Dini tertawa kecil tanpa humor.

“Jadi kamu menyembunyikannya supaya aku tidak mundur?”

Kala terdiam.

“Bukankah itu sama saja mengambil pilihanku?”

Kalimat tersebut menghantam Kala.

Wajahnya berubah.

“Din...”

“Kamu sendiri bilang aku terlalu lama hidup dengan orang yang menentukan pilihan untukku.”

Kala menunduk.

“Kamu benar.”

Tidak ada pembelaan.

Tidak ada alasan.

Hanya pengakuan.

“Aku minta maaf.”

Dini mengusap air matanya.

“Aku tidak marah karena kamu punya masa lalu.”

“Aku tahu.”

“Aku juga punya masa lalu.”

“Iya.”

“Aku marah karena kamu memutuskan sendiri informasi mana yang pantas aku ketahui.”

Kala mengangguk.

“Aku salah.”

Beberapa saat mereka diam.

Kemudian Kala berkata,

“Aku tidak punya perasaan lagi kepada Rania.”

Dini menatapnya.

“Dan aku tidak akan memintamu percaya hanya karena aku mengatakan itu.”

Kala berdiri.

“Ambil waktu sebanyak yang kamu butuhkan.”

Dini tidak menjawab.

Kala berjalan beberapa langkah.

“Kala.”

Ia berhenti.

“Kalau Rania tidak pernah pergi...”

Kala menoleh.

Dini mengumpulkan keberanian.

“Apakah kamu tetap akan memilihku?”

Pertanyaan itu membuat Kala lama terdiam.

Kemudian ia kembali mendekat.

“Aku tidak tahu.”

Dini terpukul.

Namun Kala melanjutkan.

“Karena kalau Rania tidak pergi, mungkin hidupku akan berjalan berbeda dan kita bahkan tidak pernah bertemu.”

Ia berjongkok di hadapan Dini.

“Tapi aku tahu satu hal.”

“Apa?”

“Sekarang aku mengenal kalian berdua.”

Kala menatap matanya.

“Dan sekarang aku memilihmu.”

Air mata Dini jatuh.

“Bukan karena Rania pergi.”

Kala menggeleng.

“Bukan karena kamu datang setelah dia.”

Ia tersenyum.

“Karena kamu adalah Dini.”

Dini menutup matanya.

Hatinya ingin percaya.

Namun kali ini ia tidak akan terburu-buru.

Keesokan paginya, sebuah amplop ditemukan di bawah pintu Dapur Ibu Dini.

Tidak ada nama pengirim.

Santi menyerahkannya kepada Dini.

“Ini tadi ada di depan.”

Dini membuka.

Di dalamnya terdapat sebuah foto lama.

Kala.

Rania.

Keduanya berdiri berdampingan mengenakan pakaian formal.

Di belakang foto tertulis tanggal empat tahun lalu.

Dini hendak menyimpannya kembali ketika sebuah kertas kecil jatuh.

Hanya ada satu kalimat.

Tanyakan kepada Kala kenapa pernikahan kami sebenarnya dibatalkan.

Dini membeku.

Ia membalik foto itu sekali lagi.

Ada sesuatu yang kemarin tidak diceritakan Rania.

Dan mungkin—

juga belum diceritakan Kala.

Dini menggenggam foto tersebut.

Ia tidak tahu bahwa amplop kecil itu akan membuka sebuah rahasia lama yang bukan sekadar tentang cinta.

Melainkan tentang sebuah keputusan besar yang pernah dibuat Kala—

dan alasan sebenarnya mengapa keluarganya dahulu menolak Rania.

— BAB 32 SELESAI —

Bab 33: “Rahasia di Balik Pernikahan yang Batal” — Dini memilih tidak langsung menuduh Kala. Ia membawa foto tersebut dan meminta satu hal yang sederhana tetapi menentukan masa depan hubungan mereka: kejujuran sepenuhnya.

1
Lisa
Rendi harus mempertimbangkan dgn sungguh²..menyerahkan data ke pihsk lawan atau tetap berada di pihak dapur Dini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!