Indonesia
NovelToon NovelToon
CINTAKU DI PRAMBANAN

CINTAKU DI PRAMBANAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Kutukan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT

Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.

Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.

Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.

Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.

Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?

Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️

Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.

SELAMAT MEMBACA... ☺

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 SYARAT MUTLAK DARI MBAH KLIWON

Rintik gerimis di luar rumah kayu limasan itu mendadak turun semakin lebat, menampar-nampar dedaunan pohon kamboja di halaman dengan irama yang tak beraturan.

Angin malam berhembus menyusup lewat celah-celah dinding kayu jati, membuat nyala api pada dua buah lampu senthir di atas meja meliuk-liuk hampir padam, melemparkan bayangan-bayangan panjang yang mencekam ke sekeliling ruangan.

Mbah Kliwon berdiri mematung di dekat jendela, membelakangi Yuda dan Dion. Sosoknya yang ringkih dan terbalut pakaian hitam melambangkan beban sejarah kelam yang amat berat.

Suasana di dalam ruang tamu itu terasa begitu padat oleh keheningan, sampai-sampai suara helaan napas Yuda yang berat terdengar sangat jelas beradu dengan aroma pekat kemenyan Jawa.

Yuda mengepalkan kedua tangannya di atas paha. Penolakan tegas Mbah Kliwon untuk mengusir iblis dari tubuh Harumi tadi memang menyakitkan, namun di balik ketegasan itu, Yuda tahu sang sesepuh sedang menunjukkan jalan tunggal yang harus mereka tempuh.

"Sebutkan, Mbah," buka Yuda dengan suara parau namun tegas, memecah keheningan yang membeku. "Sebutkan syaratnya. Kami akan lakukan apa saja, asal Harumi dan Haruma bisa selamat."

Mbah Kliwon memutar tubuhnya perlahan. Tongkat kayu ukirnya bertumpu pada lantai saat ia melangkah kembali menuju tempat duduknya di atas tikar pandan. Matanya yang cekung menatap Yuda dan Dion bergantian, memancarkan aura ketegasan yang tak tertawar.

"Keberanianmu memang luar biasa, Nak Yuda," ucap Mbah Kliwon seraya mendudukkan dirinya kembali secara bersila. "Tapi ingat, di hadapan sihir kuno berusia ribuan tahun Candi Prambanan, keberanian tanpa bekal yang utuh hanya akan menjadi umpan empuk bagi Panglima Jin. Jika kalian ingin ritual di pelataran candi berhasil tanpa mengorbankan nyawa raga Harumi, ada dua syarat mutlak yang wajib kalian penuhi sebelum garis tengah malam itu terlewati."

Dion mencondongkan tubuhnya ke depan, mencengkeram tepi meja kayu dengan erat. "Apa syarat pertama itu, Mbah? Katakan pada kami."

Mbah Kliwon merogoh saku bajunya, mengambil selembar kertas lusuh berisi mantra rahasia, lalu meletakkannya tepat di tengah meja.

"Syarat pertama..." Mbah Kliwon menunjuk kertas lusuh tersebut dengan jarinya yang keriput. "Kertas mantra ini hanyalah kunci pembuka. Namun, untuk mengurai jalinan sihir hitam yang sudah menyatu dengan aliran darah Harumi tanpa merusak organ tubuhnya, kalian membutuhkan petunjuk eksekusi yang utuh. Kalian harus mencari dan menemukan Naskah Lontar Penawar."

Yuda mengerutkan keningnya. "Naskah Lontar Penawar? Naskah apa itu, Mbah?"

"Itu adalah lontar kuno bertuliskan Sastra Ruwat," jelas Mbah Kliwon dengan intonasi rendah dan berat. "Lontar itu ditulis oleh pujangga keraton masa lalu yang merekam tata cara memutus ikatan karma darah tulang wangi. Di dalam lontar itu tertera urutan rajah dan bacaan pendamping yang harus dibacakan bersamaan saat darah keturunan Bandung Bondowoso menetes di atas pisau pusaka. Tanpa lontar itu, mantra di kertas ini hanya akan menjadi benturan energi liar yang sanggup memecahkan pembuluh darah di otak Harumi."

Dion menelan ludah, membayangkan risiko mengerikan tersebut. "Di mana naskah lontar itu berada sekarang, Mbah? Apakah disimpan di museum atau perpustakaan keraton?"

Mbah Kliwon menggelengkan kepalanya perlahan. "Bukan di museum. Benda-benda berkekuatan gaib seperti itu tidak akan pernah dipajang di tempat umum. Naskah Lontar Penawar itu disimpan oleh trah juru kunci spiritual keramat di kawasan makam Imogiri. Naskah itu dikunci di dalam sebuah kotak kayu jati berukir rajah emas."

"Makam Imogiri?!" seru Yuda terkejut. "Bagaimana cara kita mengambil naskah itu dari juru kunci dalam waktu sesingkat ini, Mbah? Beberapa hari lagi sudah malam bulan mati!"

"Juru kunci tua yang memegang lontar itu adalah sahabat lama kakek Harumi, Pak Rusdi," balas Mbah Kliwon lurus. "Kalian harus menemui juru kunci itu dalam waktu cepat. Bawalah nama Pak Rusdi dan perlihatkan memar bekas cengkeraman iblis di lehermu itu sebagai bukti bahwa siklus tragedi telah dimulai kembali. Hanya dengan begitu, lontar keramat itu akan diserahkan kepada kalian."

Yuda mengangguk mantap, mencatat setiap detail ucapan sang sesepuh di dalam kepalanya. "Baik, Mbah. Lontar Penawar di Imogiri akan kami dapatkan. Lalu, apa syarat mutlak yang kedua?"

Mbah Kliwon menghela napas panjang, meresapi aroma asap kemenyan yang melayang di antara mereka sebelum melanjutkan perkataannya.

"Syarat kedua ini berhubungan langsung dengan keselamatan raga Harumi saat proses pendarahan berlangsung," mata Mbah Kliwon menatap Yuda secara intens. "Ketahuilah, entitas Panglima Jin yang mendiami arca Roro Jonggrang itu tercipta dari akumulasi dendam, darah, dan aura elemen api gaib yang sangat membakar. Saat mantra pendarahan dibacakan besok malam, suhu gaib di pelataran candi akan melonjak tajam. Raga Harumi yang menjadi wadahnya akan mengalami gejolak hawa panas yang luar biasa dari dalam."

Dion tampak bergidik mendengarnya. "Hawa panas gaib? Maksud Mbah, tubuh Harumi bisa terbakar?"

"Bukan terbakar oleh api fisik, melainkan digodok oleh hawa panas sihir iblis itu," tegas Mbah Kliwon. "Jantungnya bisa berhenti berdetak karena dehidrasi spiritual dalam hitungan detik. Oleh karena itu, syarat kedua yang wajib kalian bawa ke pelataran candi adalah Pusaka Elemen Air."

"Pusaka Elemen Air?" ulang Yuda dengan nada bingung. "Benda seperti apa itu, Mbah?"

"Bisa berupa Cupu Manik Tirta Parwata, atau batu mustika air purba yang telah disemayamkan dan direndam dalam air tujuh mata air keramat," jawab Mbah Kliwon. "Pusaka elemen air itu memancarkan aura dingin alami yang diciptakan khusus untuk meredam gejolak api gaib. Saat ritual berlangsung, pusaka air itu harus dipegang atau dikalungkan pada leher Harumi, untuk menjaga agar suhu sukmanya tetap stabil dan aliran darahnya tidak mendidih saat proses pemutusan segel dilakukan."

Yuda dan Dion saling bertukar pandang dengan raut wajah tegang. Mengumpulkan benda-benda langka seperti itu dalam hitungan hari terasa seperti sebuah misi yang nyaris mustahil.

"Mbah..." suara Dion terdengar cemas. "Di mana kami bisa menemukan Pusaka Elemen Air secepat itu? Barang antik spiritual seperti itu pasti sangat sulit dicari!"

Mbah Kliwon tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang membuat kerutan di wajah tuanya semakin tegas.

"Alam semesta tidak pernah memberikan ujian tanpa menyediakan penawarnya, Anak Muda," kata Mbah Kliwon seraya menunjuk ke arah Yuda. "Pusaka elemen air itu tidak ada di pasar gelap atau di tempat pertapaan yang jauh. Pusaka itu... sebenarnya sudah berada di Yogyakarta, dipegang dan dijaga langsung oleh kakek Harumi, Pak Rusdi."

Yuda membelalakkan matanya. "Pak Rusdi membawa pusaka itu?!"

"Pak Rusdi adalah keturunan peracik jamu dan praktisi penawar gaib dari Bogor," jelas Mbah Kliwon. "Di dalam tas kain lusuh yang selalu dibawanya dari Jawa Barat, terdapat sebuah kotak tembaga kecil berisi Batu Mustika Tirta Gangga—sebuah pusaka elemen air peninggalan leluhurnya. Pak Rusdi sengaja membawanya untuk menahan hawa panas tubuh Haruma pasca-operasi. Kalian hanya perlu meminta izin padanya untuk menggunakan pusaka air itu dalam ritual di Candi Prambanan nanti."

Mendengar penjelasan itu, sebuah titik terang mulai terbayang di kepala Yuda, meskipun beban di pundaknya sama sekali tidak berkurang.

"Berarti..." Yuda menghitung urutan langkah di dalam hatinya, "...ada tiga hal besar yang harus terkumpul sebelum ritual di Candi Prambanan itu. Pertama, pisau pusaka berkarat yang disita di kantor polisi yang sedang diurus Pak Zaki. Kedua, Naskah Lontar Penawar dari juru kunci Imogiri yang harus kami ambil. Dan ketiga, Pusaka Elemen Air milik Pak Rusdi."

"Benar," tegas Mbah Kliwon seraya berdiri dari duduknya, mengetukkan tongkat kayunya ke lantai dengan suara nyaring. TAK!

"Tiga benda itu adalah tiga pilar keselamatan," Mbah Kliwon menatap Yuda dan Dion dengan sorot mata yang mengunci jiwa. "Kalau sampai kurang satu saja dari tiga pilar ini... maka saat darahmu menetes di atas pisau pusaka saat ritual dilakukan, sihir iblis itu tidak akan terurai. Sebaliknya, gejolak energi gaib akan meledakkan raga Harumi, menghancurkan pagar pelindung gaib Haruma, dan menelan nyawa kalian berdua tanpa sisa."

Dion menelan ludah dengan susah payah, merasakan tenggorokannya mendadak sangat kering. "Kami mengerti, Mbah. Tidak boleh ada satu syarat pun yang terlewat."

Yuda ikut berdiri, menegakkan punggungnya dengan tekad yang telah membatu. Rasa sakit di lehernya akibat cekikan Harumi siang tadi tak lagi ia hiraukan.

"Terima kasih atas semua petunjuk dan peringatan Mbah Kliwon," ucap Yuda seraya membungkukkan badannya dengan hormat. "Kami akan kembali ke Yogyakarta sekarang juga untuk membagi tugas dengan Pak Zaki dan Pak Rusdi."

Mbah Kliwon menatap Yuda lama, lalu mengangguk pelan. "Pergilah. Ingat, beberapa hari lagi adalah malam bulan mati. Saat matahari terbenam di hari itu, kegelapan akan mencapai puncaknya. Persiapkan mental dan sukmamu, Nak Yuda... karena di malam bulan mati itu, kau akan bertaruh nyawa melawan takdir ribuan tahun."

"Kami pamit, Mbah," ujar Dion seraya menyusul Yuda melangkah menuju pintu depan.

Mereka berdua akhirnya sudah mendapatkan petunjuk yang sangat penting, sekaligus mendapatkan informasi tentang syarat-syarat yang dibutuhkan untuk melaksanakan ritual di Candi Prambanan demi menyelamatkan nyawa Harumi dan Haruma.

1
SecretS
sungguh membuat terkejut kak 🫨aku baru baca lengkap sinopsisnya 😔 aku pikir kutukan nya itu nyata looh, tapi alurnya bagus sih udah serem sih hampir mirip tirakat 3 pas pertemuan Nisa sama gendis. lanjut lagi kak 😄😄
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Satu langkah lagi puncaknya brarti ya... mangats bwt kalian, semoga bisa menyelamatkan rumi dari panglima jin kerajaan baka
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
ini kek doa naik kendaraan apa bepergian yaa, tawaf ruwat
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
ya zaky nya juga knpa kudu di kunci gitu kamarnya trs percaya aja sama Rumi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Sabar ya Rumi, orang orang terdekat mu sedang berusaha untuk menyelamatkan mu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Aku kira bakalan ketauan Zaky atw membangunkan panglima jin yg ada di dalam tubuh Harumi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Klo yudha nggak ada keturunan garis darah Bandung Bondowoso, bisa dipastikan dia udah nggak selamat
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
jangan jangan bener yuda masih ada turunan darah bandung
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Klo semisal rumah nggak nyelametin Rumi, masa iya Rumi mo di kurung trs, nunggu apa? nunggu sii yudha itu kah?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
kata panglima jin yg di tubuh Rumi
akhirnya aku nggak perlu jauh jauh mendatangi sang perisai
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Mangsa yang nyamperin umpan... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
berat yaa perjuangan sblom berperang berpacu dengan waktu juga.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
nahh bener tuh kata mbah kliwonn jangan nunggu keajaiban murahan tapi... berperang langsung. tapi dengan segala persiapan saya dan upaya ya yud wkwkwk nggak asal perang.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Semoga mbah klien tidak dibelakang kan iblis prambanan itu juga, klo iya ntar nggak ada yg nolongin
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
tebakan aku dari awal ya yudha ini
Ilham
lanjut bg
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Siap, Kak Ilham... 💪💪💪
total 1 replies
My.mitsubishi.triton Adventure X
Kenapa nama tokoh pemerannya sama dengan tirakat tp cerita nya berbeza bahkan tidak ada perewangan milik nisa dn haruma
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Karena novel "CINTAKU DI PRAMBANAN" ini adalah versi Alternate Universe (AU) dari Universe novel "TIRAKAT", Kak...

Jadi cerita utamanya berbeda, namun sebagian besar tokohnya sama.

Semoga Kakak juga suka ya... Dan, terima kasih banyak Kak, sudah komentar... 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
di babb 20 keatas baru menangkap alur nya wkwkwk
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iyakah??? Hehehe... 🤭🤭🤭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Bagus, rekomendasi juga buat yang suka bacaan horror.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: TERIMA KASIH, KAK ASMARA... 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyalah nisa sebagai ibu nggak bakalan diam sama iblis itu, jadi percaya saja harumi biar sulit pasti bisa dilawan
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Hehehe...

"SAYA AKAN LAWAN!!!"
#KataSalahSatuLelakiDariSolo
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
yang ini serem ya apalagi baca nya malem
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ : iyaa serem
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!