Anggita, gadis yang biasa di panggil Gita itu mendadak mencintai laki laki yang sangat dia benci karena dia menerima donor hati dari seorang gadis yang merupakan kekasih Dewa, laki laki yang amat dibenci oleh Gita tapi kini Gita malah mengejar ngejarnya. Begitu pula sebaliknya, Dewa juga menaruh kebencian kepada Gita karena sifat dan kelakuannya yang bar bar.
Bagaimanakah kisah asmara antara dua insan yang mulanya saling membenci itu? Simak ceritanya di sini.
Follow ig @t_l_handayani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T. L. Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembantu
Hari itu Gita tidak masuk kerja. Kehadiran Danu di rumah Gita juga tidak begitu di hiraukan oleh Gita karena hati dan jiwanya sedang berantakan tidak karuan setelah dia relakan harta peninggalan neneknya untuk melunasi hutang kepada Om Firman.
"Kamu mau tinggal dimana Gita?" tanya Danu sekali lagi. Dia berharap Gita akan menerima bantuannya.
"Aku juga tidak tahu. Aku mohon pulanglah! Bukannya aku tidak tahu terima kasih, tetapi aku hanya ingin sendiri." jawab Gita.
"Baiklah, aku akan pulang. Tapi jika kamu butuh sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungi aku ya." tukas Danu.
Gita mengangguk dengan mengulas senyum tipis di bibirnya. Wajahnya masih tetap sayu dengan mata yang merah. Dia masih belum bisa berpikir secara jernih untuk menghadapi masalah baru di hidupnya.
Setelah Danu meninggalkan rumahnya, Gita kembali menuju ke rumah Om Firman.
"Ada apa? Mana sertifikat dan kunci rumahnya? " tanya Om Firman tanpa perasaan.
Dada Gita yang sesak dan perih membuatnya tidak mampu berkata kata. Dia berikan surat tanah dan bangunan rumah kepada Om Firman dan dengan sangat tangkas pria paruh baya itu menerima surat tersebut. Setelah meneliti isinya, Om Firman tersenyum lega tanpa dia pikirkan bagaimana hancurnya perasaan Gita.
"Kunci rumahnya mana?" tanya Om Firman dengan tangan menengadah.
"Besok sore, aku sudah mengemas semua barang barang ku tapi aku minta waktu sampai besok sore untuk mencari tempat tinggal baru." jawab Gita sambil memalingkan pandangan.
"Baiklah, aku beri kamu waktu sampai besok. Jika sampai besok kamu tidak menemukan tempat tinggal, kamu bisa tinggal di sini." jawab Om Firman yang sontak membuat Gita terkejut.
"Tinggal di sini?" tanya Gita heran.
"Iya. Pembantu di rumah kami tengah cuti, jadi kalau kamu tinggal di sini, yaa lumayan lah buat gantiin pembantu yang cuti." jawab Om Firman sambil tersenyum sinis.
"Lebih baik aku tidur di kolong jembatan dari pada harus menjadi pembantu dan tinggal di rumah orang yang tidak punya adab!"
Om Firman kembali naik pitam mendengar ucapan Gita, tapi Gita segera menghindar dan tidak lagi menanggapi celoteh ayah mendiang Dini tersebut.
Siang itu Gita menaiki sepeda motornya lalu berangkat mencari kontrakan. Di almari peninggalan mendiang neneknya tersimpan sepuluh gram emas berupa kalung milik mendiang nenek Gita yang akan Gita jual untuk membayar biaya kontrakan.
Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Gita berhenti di salah satu warung makan untuk mengisi perutnya agar tidak kelaparan. Sampai matahari terasa begitu terik, Gita belum juga menemukan kontrakan yang dia mau. Setelah usai makan siang, Gita kembali menaiki sepeda motornya lalu menelusuri sepanjang jalan aspal tersebut.
Roda sepeda motor yang di kendarai oleh Gita berhenti di salah satu tempat yang sudah sedikit lama tidak Gita temui.
"Nek... " Gita menangis di atas pusara sang nenek.
"Maafkan Gita, Gita terpaksa menjual semua peninggalan dari nenek untuk meneruskan hidup Gita Nek. Gita akan bekerja keras agar bisa membeli rumah dan tanah lagi." ungkap Gita di atas makam sang nenek.
Hari sudah semakin sore dan Gita belum juga mendapat tempat tinggal. Dia kembali pulang ke rumah dengan tubuh yang lemas. Ketika tiba di dalam rumah, sekali lagi Gita pandangi setiap sudut ruangan di rumahnya. Hatinya bagai terkoyak mengingat kenangan hidupnya bersama sang nenek. Tidak ada kenangan manis bersama kedua orang tuanya, karena dari kecil Gita di asuh oleh neneknya saja. Rasa bersalah mendadak muncul, tetapi semua sudah terlanjur terjadi. Menangis semalaman pun tidak akan pernah bisa merubah keadaan.