Kisah Cinta Zahra dan Si Dosen tampan Arsyad yang berusaha membuat Zahra melupakan cinta Pertamanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JihanAnjani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
BAB 33: UNGKAPAN CINTA SETIAP SAAT.
Tidak peduli seberapa sering kamu mengungkapkan kata cinta untuk pasanganmu.
Rasanya akan tetap terdengar indah dan merdu jika pasanganmu benar-benar mencintaimu!
Love and Always love.
(Arsyad - Zahra)
*****************
Subhanallah... Masya Allah....
Mata Zahra berbinar bahagia melihat pemandangan di depan matanya... Hanya dua kata yang terucap dari bibirnya... Sungguh, pujian dia panjatkan kepada sang Maha Kuasa karena kehebatannya menciptakan bumi dengan keindahan dan panorama sempurna tanpa cacat sedikitpun.
"Ma-mas, i-ini... Masy Allah.. Sungguh indah mas!" pekik Zahra senang dengan mata berbinar. Menyaksikan bahwa ternyata Arsyad membawanya ke sebuah air terjun yang sangat indah.
Air terjun yang mengalir deras dari aliran dan bebatuan di atasnya... Di hiasin tumbuhan serta bunga-bunga liar di sekeliling.. Sungguh pemandangan yang indah.... Mata Zahra beralih menuju sungai kecil di bawah air terjun yang berwarna biru... Airnya sungguh-sungguh berwarna biru cerah menambah keindahan air terjun itu.
"Ini tempat yang ingin aku tunjukan kepadamu, kamu suka?"tanya Arsyad lembut yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Zahra yang masih tak berkedip memandang keindahan ciptaan sang kuasa.
"Suka mas! Zahra sangat suka!" kata Zahra mengangguk antusias. Arsyad hanya tersenyum dan tanganya terulur merangkul mesra pundak Zahra. Dia ikut bahagia jika Zahra bahagia karena kejutan sederhana ini.
"Seperti dugaanku, tempat ini dulu adalah tempat wisata paling populer. Hanya saja 7 tahun yang lalu tempat ini di lupakan keberadaanya karena jarak yang cukup jauh dari masyarakat." kata Arsyad sedih. Pasalnya tempat ini menyimpan banyak kenangan di masa kecilnya saat bermain bersama kedua oramg tuanya menikmati suasana air terjun yang biru serta jernih itu.
"Begitu ya. Lihat mas!" tunjuk Zahra ke arah aliran air terjun. "Mengapa bisa air yang berwarna putih itu ketika sudah jatuh kesungai bisa berwarna biru?" tanya Zahra pada Arsyad.
Arsyad sejenak berpikir, "Ehmm.. Itu terjadi karena pikmen dari bebatuan yang ada di bawah air sungai itu. Serta cahaya matahari, terlebih dari semua itu ini adalah kekuasaan Allah azzawajalla!" jelas Arsyad singkat membuat Zahra tersenyum senang. Ntahlah, tapi setidaknya dia puas dengan penjelasan suaminya itu.
Zahra berjalan melewati bebatuan hingga iya berada di sungai biru itu. Zahra mendudukan dirinya di sebuah batu besar dekat dengan pinggiran air sungai. Dan mulai membasuh wajah serta mencuci kakinya dengan senyum yang merekah. Air sungai yang segar dan dingin menyapu seluruh wajah cantiknya.
Sedang Arsyad hanya memperhatikan istri cantiknya itu dari belakangnya dengan tangan yang terselip di kedua saku celanannya. Mata Arsyad berkeliling melihat pemandangan di sekitar. Hingga matanya tertuju ke suatu arah membuatnya berjalan kesana.
Kemudian dari bali semak-semak yang berada di tengah bebatuan sungai, dia memetik sebuah bunga yang sangat indah. Dan dia tahu bunga itu adalah salah satu bunga favorite istrinya.
Arsyad tersenyum puas, kemudian dia menyembunyikan bunga itu di belakang punggungnya dan berbalik kembali menuju ke arah Zahra yang juga baru selesai membasuh wajah. Sisa air yang sengaja di biarkan di wajah cantiknya membuat wajah Zahra semakin bersinar di bawah sinar jingga mata hari yang ingin tenggelam menandakan waktu hampir petang.
Zahra mengernyit heran saat melihat Arsyad yang berjalan ke arahnya dengan satu tangan kanan yang tersembunyi kebelakang. "Apa yang kamu sembunyikan, mas?" tanya Zahra dengan dahi berkerut bingung.
Arsyad tetap diam dan terus melangkah dengan gagah hingga berada di hadapan Zahra. Tiba-tiba saja Zahra di buat kaget saat Arsyad bertekuk lutut di hadapannya dan mengeluarkan setangkai mawar kuning.
"Ma-Mas, apa yang kamu lakukan?" tanya Zahra, dia berusaha merangkul kedua bahu Arsyad agar kembali berdiri tegak. Tapi pria itu malah menahan tangan Zahra agar tak memintanya berdiri.
Dengan mengulurkan setangkai mawar kuning di hadapan Zahra, Arsyad berkata, "Zahra Khadijah Abdullah! Maukah kamu menjadi temanku?" tanya Arsyad. Zahra terdiam sejenak, "Mas, kamu tahu apa arti dari bunga mawar kuning?" Zahra justru bertanya kembali.
Arsyad tersenyum lembut, tangan kirinya terulur untuk menggengam tangan kanan Zahra dan mengecupnya singkat. Membuat jantung Zahra berdebar tak karuan.
"Aku tahu. Mawar kuning bermakna sebagai Arti persahabatan atau pertemanan sejati. Aku memberimu setangkai mawar kuning artinya adalah...,” dia menjeda sejenak kalimatnya.
“... Aku memintamu bukan untuk menjadi istriku saja, tapi menjadi sahabatku, menjadi temanku, sahabat yang terikat dalam sebuah ikatan yang halal. Dimana kita harus berbagi segalanya, selain cinta dan kasih kita berbagi kebahagiaan dan kesedihan bersama."lanjut Aryad membuat Zahra menatap Arsyad dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kamu tahu Zahra, pernikahan bukan hanya sebuah hubungan suami dan istri saja. Semuanya akan terasa lebih lengkap saat kamu mengaggap pasanganmu adalah sahabatmu, dan dia akan menjadi segalanya yang berharga dalam hidupmu...," Arsyad sejenak kembali menamkan satu kecupan hangat di tangan Zahra guna menenangkan perasaan istrinya itu.
"....Dan aku ingin kamu menjadi yang paling berharga dalam hidupku. Menceritakan segala rasa bahagia dan sedihmu bersama denganku. Soo will you be my best friend?"
Zahra mengangguk bersamaan dengan air mata yang menetes, "Yes I do!" jawab Zahra terisak mengambil bunga mawar itu dari tangan Arsyad. Dan langsung ikut bertekuk lutut dan memeluk erat suami tercintanya itu. Imamnya... Imam impiannya...
***********
"Kita lagi nunggu siapa sih mas?" tanya Zahra kesal pasalnya sedari tadi mereka berdiri di pinggir jalanan yang sudah hampir gelap itu hanya berdua menunggu seseorang yang tak pasti. Arsyad merangkul bahu Zahra sambil mengelusnya lembut berusaha menenangkan istrinya yang sedang kesal itu.
"Sabar ya, kita lagi nunggu pak ujang jemput!" jawab Arsyad membuat Zahra menatapnya dengan dahi berkerut. "Pak ujang?"
"Iyaa."
"Kapan mas menghubunginya? Bukannya tadi tidak ada sinyal?"
"Tadi waktu minum es tebu Allhamdulillah ada sinyal, jadi mas langsung pakai buat nelpon pak ujang!" jawab Arsyad namun malah membuat Zahra menggerutu kesal.
Tinnn....
Tinnnn....
Suara telekson mobil membuat mereka bernafas lega akhirnya pak ujang datang menjemput. "Masuklah!" ucap Arsyad membukakan pintu dan mempersilahkan Zahra masuk terlebih dahulu.
"Terima kasih mas!" inilah kelebihan Zahra, ingat wahai para istri ataupun suami. Atau siapapun kamu yang memiliki pasangan atau orang yang kamu kasihi.
Ucapkanlah kata 'Terima kasih' untuk setiap hal kecil atau besar yang suami atau pasanganmu berikan untukmu. Sekecil apapun itu biasakanlah untuk saling menghargai dan jangan kelu kan lidahmu untuk mengucapkan kata terima kasih. karena hal kecil itu tanpa kalian sadari akan membuat ikatan kalian semakin kuat.
Akhirnya mereka berjalan menuju pulang. Tak ada obrolan hanya kesunyian yang ada di dalam mobil itu. Zahra dan Arsyad masing-masing melihat ke arah luar jendela. Tangan kanan Zahra menumpu dagunya sedang tangan satu lagi masih di gengam erat oleh Arsyad.
"Tuan dan Nona kok aneh ya?" batin pak Ujang bertanya saat melihat bayangan kedua majikannya itu dari kaca spion mobil yang ada di depan kemudi.
Pak ujang berdehem untuk mencairkan suasana, "Ehmm... Tuan Arsyad! Ayah, Ibu serta keluarga Non Zahra berkumpul di rumah Ayah tuan. Ayah tuan meminta tuan untuk bermalam di sana." kata pak ujang memecahkan keheningan.
Arsyad hanya bergumam lalu berkata, "Baiklah. kita kesana saja!" hanya itu, dan setelahnya kembali sunyi. Zahra sedang menikmati pemandangan magrib..
Tunggu!
Magrib!!
"Singgah ke masjid untuk Sholat magrib dulu pak ujang!" pekik Zahra tiba-tiba membuat dua pria beda usia itu terjengkit kaget. Namun setelahnya mereka bernafas panjang menetralkan keterkejutannya. Arsyad bingung dengan Zahra kenapa istrinya itu suka sekali berteriak tiba-tiba.
Usia melaksanakan sholat magrib di masjid menuju pulang akhirnya mereka sampai juga di rumah besar keluarga Arsyad.
"Tunggu!" kata Zahra menahan tangan Arsyad yang ingin masuk.
"Ada apa?" tanya Arsyad melirik ke arah Zahra yang berdiri di sampingnya dengan kepala tertunduk. Zahra mendongak dan sedikit menjinjit lalu berbisik sesuatu di telinga Arsyad.
"Tidak bisa!"tolak Arsyad marah.
Zahra memberengut kesal dan menghentak tangan Arsyad yang di gengamnya. Kemudian di melongos masuk sambil berteriak marah hingga menarik perhatian orang rumah.
"Yasudah kalau tidak mau! Dari awal Zahra sudah tahu kamu enggak serius sama Zahra!" teriak Zahra kesal.
Arsyad berlari menyusul langkah Zahra dengan panik. "Zahra dengarkan aku dulu! Bukan seperti itu maksudku!" Arsyad ingin menggenggam tangan Zahra tapi segera Zahra tepis.
"Kalian ini kenapa sih? Datang-datang kok malah ribut!" omel Maya yang menghampiri mereka di ikutin oleh papa, ummi dan Haikal yang juga ada di sana.
"Mama...." Zahra berjalan memeluk mertuanya itu. "Mas Arsyad ngelarang Zahra kerja!" rengek Zahra kepada maya membuat satu keluarga menatap Arsyad bingung.
Arsyad melotot kaget, "Apa? Tidak- tidak aku tidak melarang dia bekerja!" tampik Arsyad.
Sedang Zahra malah beralih ke papa mertuanya, "Papa, hikss... Papa tahu kan kalau Zahra bersusah payah membangun toko roti Zahra, tapi mas Arsyad malah meminta Zahra berhenti bekerja!" tangis Zahra pecah membuat mertuanya itu merasa iba. Padahal Zahra hanya menangis air mata buaya betina.
Sedang Arsyad memicingkan matanya tajam ke arah Zahra."Benar. Kamu tidak perlu bekerja! Cukup dirumah dan mengurusku saja!" teriaknya kesal dan melongos pergi naik ke kamar mereka yang ada di lantai 2.
"Huaaa.... Umii! Mas Arsyad jahad sama Zahra!" tangis Zahra pecah masih dengan air mata palsunya dia memeluk umminya. "Mas anakmu itu mas!"Maya menyikut perut suaminya.
Pak Malik berdecak kesal, "Ck... Kamu itu ya.... Giliran Arsyad nakal di bilang anak aku giliran si Arsyad baik malah jadi anak kamu!" gerutu pak malik.
Mama maya hanya terkekeh, "Kan aku Mamanya jadi jelas dong segala yang baik dia itu turunan dari aku!" bangganya. Pak Malik hanya menggeleng kepala pasrah. Ingat! Tidak ada gunanya berdebat dengan istri.
Karena wanita selalu benar! Itu adalah keadilan yang tidak adil bagi kaum pria... Ahahahhaha..
"Sudah sayang tenang!" kata ummi mengelus pucuk kepala Zahra sedang Haikal hanya menggaruk jidatnya dengan senyum misteriusnya. Zahra menatap umminya dengan penuh harap, "Zahra tidur sama ummi ya!" pinta Zahra melas.
"TIDAK BOLEH....!" suara melengking itu ternyata dari Arsyad yang berada di ujung tangga atas yang sedang mengosok rambutnya yang basah. "Cepat sekali dia mandinya." Pikir Zahra.
"Kamu istriku! Harus tidur bersamaku!"sambung Arsyad menatap Zahra marah. "Enggak mau! Yaudah Zahra tidur di kamar tamu aja!" sela Zahra cepat dan melepas pelukan umminya dan berjalan ke dalam menuju kamar tamu.
"Wanita ini..." geram Arsyad dengan gigi yang bergemeletuk. "Kalian berdua kenapa sih?" tanya papa Arsyad heran.
"Tidak ada apa-apa!" pukas Arsyad dan masuk kembali ke kamarnya dengan membanting pintu. Para orang tua saling pandang dalam kebingungan, "Mereka berdua kenapa sih?"
************
Pagi menjelang.... Suasana sarapan kini ricuh karena Zahra dan Arsyad masih bersitegang.
"Pokoknya Zahra tetap mau bekerja!"
"Terserah!" balas Arsyad ketus.
Para orang tua menggeleng kepala pusing dengan apa yang terjadi pada putra dan putri mereka. Sedang Haikal menikmati sarapannya dengan santai dan cuek saja.
"Ini telur dadarnya den Arsyad." kata Bik Mirna pembantu rumah tangga di sana.
"Terima kasih bik." sahut Arsyad.
Zahra acuh dan mengambil roti bakar dari piring di depannya. Dia melirik ke kanan dan ke kiri hanya ada adiknya yang berada di sisi kirinya yang sedang menikmati makanannya.
Kemudian Zahra mengambil sebuah garpu bersamaan dengan Arsyad yang mengambil botol saus. Mata mereka bertemu.
"Apa!" ketus Zahra dan Arsyad bersamaan.
"Sudah-sudah jangan bertengkar di meja makan!" perintah papa Arsyad kemudian kembali melanjutkan makanannya.
Entah apa yang di lakukan Zahra dengan garpu yang ada di tanganya. Terlihat seperti dia mengorek roti bakarnya. Sama dengan Arsyad yang juga sibuk menuangkan saus di telur dadarnya.
Setelahnya mereka berdua sama-sama mendongak dan melihat ke sekitar para orang tua sedang menikmati makanannya.
Zahra dan Arsyad kemudian saling tersenyum sambil mengedipkan sebelah mata mereka. Senyum geli terbit di bibir Arsyad maupun Zahra. Saat semua orang lengah Arsyad dan Zahra saling bertukar piring. Roti Zahra pindah ke tangan Arsyad sedang telur dadarnya pindah ke tangan Zahra.
Arsyad dan Zahra sama-sama menutup mulut mereka dengan satu tangan menahan tawa mereka agar tidak pecah. Hati mereka ingin rasanya berteriak girang menatap piring yang ada di hadapanya.
Benar-benar indah... Dan membuat mereka bahagia...Walaupun ungkapan itu di tunjukan dengan cara yang sederhana.... Sebuah ungkapan yang tertulis manis... Mengungkapkan perasaan mereka berdua..
Piring Arsyad yang di berikan kepada Zahra.. Dengan ukiran kata "I LOVE U" yang tertulis dengan saus sambal. Sedangkan piring Zahra yang di berikan kepada Arsyad. Sebuah Roti yang telah dia ukir dengan sendok garpu menunjukan kata "I LOVE U"
#Tbc