Indonesia
NovelToon NovelToon
MENANTU IBU 2

MENANTU IBU 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Aliansi Pernikahan / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:704.8k
Nilai: 5
Nama Author: Me Nia

Setelah menjadi istri Ardiaz Kavian, Tya semakin tahu karakter orang-orang di keluarga besar Kavian. Sebagai seorang insan yang biasa hidup tenang meski ekonomi pas-pasan, kini dirinya harus terbiasa dengan pasang surut permasalahan di keluarga suami yang tidak kekurangan harta tapi miskin ilmu agama.

"Yang penting suami dan mertua baik, yang sirik biarkan saja berisik."

MENANTU IBU 2

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Tradisi Poligami

Sepenting apa sampai Ayah Hilman mengharuskan datang malam ini juga. Rasa penasaran Tya harus dipendam di hati sampai waktunya tiba di apartemen sang mertua. Bukan tidak mau ditanyakan pada Diaz. Sang suami sudah lebih dulu bergumam pertanyaan yang sama dan spekulasi mentok di praduga mungkin Ayah Hilman mau membahas soal meminta bantuan diplomasi untuk merayu Ibu agar bersedia rujuk. Daripada pusing menduga-duga, mending lihat saja nanti kenyataannya.

Mobil sudah tiba di parkiran apartemen. Tya mengikuti langkah Diaz yang meminta mengalungkan tangan di lengannya. Bahkan masuk ke dalam lift pun ditahan tak boleh lepas. Sehingga posisi tetap berdiri rapat tak terpisahkan meski ada tiga orang yang masuk bersamaan. Begitu tiba di depan sebuah pintu dan menekan bel, kalungan tangan barulah bisa diurai. Untuk pertama kalinya bagi Tya berkunjung ke rumah bapak mertua di gedung apartemen elit.

"Ayah senang sekali kalian bisa datang." Sambutan Hilman di depan pintu yang dibukanya sendiri. Bergantian memeluk Diaz dan Tya.

"Ayah, ini ada sedikit oleh-oleh kue produk Mbak Susan, kakak ipar aku." Tya mengangsurkan goodie bag yang ditentengnya. Sengaja memperjelas profil Susan. Siapa tahu mertuanya itu sudah lupa mengingat tak pernah ketemu lagi dengan keluarganya.

"Makasih, Tya. Susan itu istrinya Bisma kan? Buka toko kue kah sekarang?" tanya Hilman sembari memperhatikan logo yang tertera di kantong. "Dulu kalau gak salah suka masukin ke pasar ya."

"Iya, Ayah. Udah gak suplai ke pasar. Buka mini bakery di rumah baru jalan satu bulan. Manfaatin punya halaman rumah yang luas buat parkir dan tempat duduk pembeli. Kalau sewa toko biayanya besar. Tapi meskipun lokasi tidak di depan jalan raya, pemasaran terbantu lewat konten di media sosial. Udah terdaftar di marketplace juga khusus delivery area Bekasi."

Hilman mengacungkan ibu jari kanan. "Ayah suka sama anak muda yang kreatif dan inovatif. Nanti Ayah transfer ke Tya 10 juta. Buat Tya 5 juta buat jajan, kasih ke Bisma 5 juta buat tambahan modal."

Tya mengerjap dengan mulut sedikit menganga. Terkejut. Respon Ayah Hilman sungguh di luar ekspektasi. Ia sampai menoleh menatap Diaz. Meminta pendapat lewat isyarat sorot mata. Dan suaminya itu hanya menanggapi dengan mengangkat kedua alis.

"Ayah, makasih sebelumnya. Ayah baik sekali."

"Karena kau menantu yang baik. Ibu kelihatan sangat sayang padamu. Ayah jadi tertular bahagia lihat Ibu sama Tya tertawa-tawa waktu Selasa kemarin jalan-jalan di mall."

Tya kembali tercengang. Memang benar Selasa kemarin diajak Ibu shopping setelah meeting di dua tempat berbeda. "Jangan-jangan Ayah Hilman jadi stalker Ibu," ujarnya dalam hati.

"Ayah bayar orang buat mata-matain Ibu?" Diaz langsung melayangkan tuduhan dengan mata menyipit.

"Nggak, Diaz. Kebetulan Ayah juga lagi di tempat yang sama mau beli tas baru. Tanya aja Yandi kalau gak percaya. Tadinya Ayah mau menyapa tapi dilarang sama si Yandi. Jadi cuma lihat dari jauh aja."

"Ibu makin cantik kan, Yah?" tanya Diaz dengan sengaja memancing.

"Hmm." Hilman menahan berkata-kata mengingat ada Tya. Harus jaga image di depan sang menantu.

"Jadi itu alasan Ayah tiba-tiba nelpon ngajak dinner buat bahas pengen rujuk sama Ibu?" Diaz melanjutkan interogasinya.

"Iya. Tapi itu tema kemarin. Kali ini skip dulu soal itu. Ayah manggil ke sini buat bahas tema lain yang tak kalah penting."

"Soal?" Cecar Diaz dengan cepat.

"Lusa Oma mau datang dari Singapura ke rumah Ibu. Oma belum tahu kalau Ayah sama Ibu cerai. Ayah udah nggak bisa komunikasi sama ibumu. Selain itu, Oma pengen kenalan sama cucu mantu yaitu Tya. Karena Ayah besok harus ke Surabaya, Ayah tugaskan Diaz sama Tya buat jemput Oma ke bandara. Soal gimana cara jelasin status Ayah sama Ibu, Ayah serahin sama ibumu, Diaz."

Diaz mendesah. Tidak terlukis sukacita di raut wajahnya.

***

Tya melihat perubahan ekspresi Diaz sejak keluar dari apartemen Ayah Hilman. Turun ke lantai bawah dengan diam serta wajah muram. Selama percakapan berlangsung di dalam tadi, Tya hanya menjadi pendengar. Antara Ayah Hilman maupun Diaz tak ada yang menjelaskan siapa itu Oma yang dimaksud—tidak menyebutkan nama atau memperlihatkan foto. Jadilah hanya menerka-nerka dengan mencoba memahami dialog antara suami dan mertuanya itu.

"Ketemu Ayah jadi bad mood gini. Apa kita mampir ke kafe dulu, Yang?" Diaz baru bersuara begitu mobil sudah mengaspal di jalan raya.

"Boleh kalau Abey pengen. Biar sampe rumah bete nya nggak dilihat Ibu. Tadi Ibu chat waktu tadi Abey lagi ngobrol sama Ayah. Ibu nanyain udah sampai mana. Ku bilang udah di Antasari tapi mampir ke kafe dulu. Alhamdulillah jadi nggak bohong kan aku." Tya tertawa kecil. Sebelumnya Diaz sudah wanti-wanti jangan bilang mampir ke tempat Ayah Hilman dulu.

Diaz menoleh sekilas diiringi seulas senyum. Beruntung punya istri seperti Tya. Keceriaannya memberi dampak positif yang menular dan mempengaruhi suasana hati yang sedang buruk. Wajah muram dinetralisir oleh tawa Tya sehingga ia bisa tersenyum.

"Bey, boleh tanya nggak?" Tya memiringkan badan menghadap Diaz yang fokus menatap jalanan.

"Tanya aja," sahut Diaz dengan tenang. Seolah bisa menebak apa yang akan ditanyakan oleh Tya.

"Ibu udah cerita soal keluarganya. Dua bersaudara sama Tante Hani yang tinggal di Bandung. Tante Hani punya anak dua, salah satunya Mas Ikram. Terus Atuk sama Opah alias orang tua Ibu udah meninggal. Tapi aku belum tahu keluarga besar Ayah Hilman. Oma yang dimaksud Ayah itu ibunya Ayah bukan?"

"Nanti dijawabnya sambil ngopi ya," sahut Diaz yang memang mobilnya sudah tiba di depan kafe yang berada di jalur kiri jalan yang dilalui. Dulu pernah dua kali nongkrong di kafe itu bersama Devan.

Tya membiarkan tangannya digenggam oleh Diaz saat memasuki kafe hingga sampai di tempat duduk yang menyediakan dua kursi di samping kaca lebar yang tembus pemandangan ke area taman mini.

Jika Diaz memesan kopi latte, Tya memilih hot matcha karena bisa melek jika minum kopi malam.

"Keluarga besar Ayah itu nggak akur. Semuanya bersaing dalam urusan bisnis. Dulu Opa tukang kawin. Bisa jadi watak Ayah itu diturunkan dari Opa. Ayah anak pertama dari tiga bersaudara yang seibu sebapak. Punya adik lima yang satu bapak beda-beda ibu. Tapi aku juga lupa lagi siapa saja. Nggak pernah ada acara reuni keluarga atau halal bihalal. Ya itu tadi, karena nggak akur. Oma yang dibahas Ayah tadi itu ibu kandungnya." Jelas Diaz yang mulai bercerita sambil menunggu pesanan datang.

Tya manggut-manggut. ada heran yang menggelitik hati. Harusnya Ayah Hilman belajar dari pengalaman masa lalu. Pernah menjadi anak yang ayahnya berpoligami. Tentunya merasakan bagaimana kasih sayang dan perhatian kurang karena terbagi-bagi. Ini malah terkesan melanjutkan tradisi poligami.

Aduh! Jadi takut nanti Abey juga gitu. Kan Ibu mulai dipoligami saat Abey umur dua tahun. Ah, jadi was-was deh.

"Bey, Opa masih ada?" Tya bertanya untuk mengalihkan ketakutannya.

"Udah meninggal lama, kalau nggak salah waktu aku SMP kelas delapan deh. Opa meninggal mendadak karena serangan jantung. Setelah Opa meninggal, katanya ada tiga orang cewek datang ke rumah di waktu yang berbeda, ngakunya istri Opa sambil bawa anak yang udah pada besar, dan bukti foto nikah. Oma kaget. Oma tahu Opa poligami tapi tahunya cuma dua istri. Ujung-ujungnya mereka minta hak warisan. Sempat panas dan ada teror ke Oma selama dua tahun karena warisan belum juga dibagi. Karena merasa tidak nyaman, Oma memutuskan pindah ke Singapura setelah lebih dulu menjual aset Opa yang ada di Madura tanpa sepengetahuan tiga istri lainnya. Aset tambang migas sama tambak garam. Jadi yang dibagi-bagikan itu aset yang ada di Surabaya aja."

1
sikepang
bukan karena ucen mampu, atau krn terpaksa tya tapi krn ucen cibta ibu suri 🤣
Ardiansyah Gg
fakta ini...pak suami juga gitu.. kalau ibu nya yg cerita dia kayak males gitu.. tapi kalau istrinya yg cerita, dia antusias banget pengen denger, malah kepo 😁
mobie mz
KLO sogokan Kya gtu siapa juga yg ga nyengir kuda....KLO ak mah..sogokannya paling mau Bli tahu Sumedang ga ay...udah ga jauh dr itu🤣🤣🤣🤣
mobie mz
kapan mulai pamer sama orang kaya sombong....ak udah ga sabar liatnya🤣🤣🤣
Ardiansyah Gg
ya ampun...Ucen 🤭
Ayla Pratama
kek seru tuhhh cerita pak ucen🤭🤭🤭 lanjut Tya cerita nya no skip yaaa,,,pinisirin nihhh😅
🍃🌷Ann🌷🍃
seterbuka itu dengan sang menantu ya ibu surii.. sampe paket pun di unboxing bareng 🥰
RosMa🌹🌹🌹
😅😅😅😅
srimusvita
baik2 kalian ya...
Sri Suryati
ye...jangan gitu Tya aku juga mau tahu....
Sri Suryati
terus gimana ...thor
Sri Suryati
ucen ucen Husain kali 🤔
L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦
Jadi tau bgmn kedekatan pak Husain dgn ibu Suri penasaran cerita selanjutnya pak Husain.Terima kasih upnya teh Nia🌹🌹🌹
N I A 🌺🌻🌹
tq up nya akak nia🙏
N I A 🌺🌻🌹
kirain atmosfer nya bau2 pelakor secara diaz baru di datangi mantan 🤭
N I A 🌺🌻🌹
orang ada mah pak husain tya, apa sih yg ga buat suri seorang😂
N I A 🌺🌻🌹
wow long story bgt ya bu😊
N I A 🌺🌻🌹
wah pak husain punya nama timang2 ya special buat bu suri🤭
N I A 🌺🌻🌹
Alhamdulillah mencutul juga, absen tya☝️😊
Deswita
terimakasih up nya Thor 🙏🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!