Indonesia
NovelToon NovelToon
JATUH CINTA PADA SEORANG GANGSTER

JATUH CINTA PADA SEORANG GANGSTER

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Ketos
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ruka_21

Kay Morgan Semua orang mengenalnya sebagai sosok yang nyaris sempurna. Ketua OSIS yang tampan memikat, berwibawa, dan selalu menjadi pusat perhatian. Baginya, dikejar dan didambakan oleh banyak gadis adalah hal yang wajar, bahkan seolah sudah menjadi takdir hidupnya. Aurora Grey Seorang gadis cantik yang sangat membenci hal-hal biasa dan membosankan. Ia terlihat ceroboh, namun sebenarnya penuh taktik dan kecerdikan. Ia mampu dengan mudah mengungkap rahasia tergelap Kay dan teman-temannya — hingga akhirnya namanya menjadi sosok yang paling ditakuti di seluruh sekolah. Kisah ini bermula dari sebuah perjanjian berbahaya: antara gadis yang terbiasa dimanja, dan pemuda yang tampan bagai dewa namun berhati iblis. "Hubungan jarak jauh itu hanya berarti satu hal: 75% kemungkinan bosan, 25% kemungkinan berselingkuh." Tanpa peringatan, Kay mempererat pelukannya erat di pinggang Aurora. "Dan kau sekarang punya kesempatan itu — persis 25 persen. Rafael tak akan pernah tahu apa-apa." "Kau yakin... kau tak punya niat menjadikan aku selingkuhanmu, bukan?" tantang Aurora, namun di balik kata-katanya itu,Kay hanya tersenyum lebar — senyum yang memikat sekaligus berbahaya. Bersama mereka, kau akan diajak merasakan sensasi kebahagiaan, dan rasa berdebar... yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejadian di kantin

[XI IPS 3] Peringkat 23: Aurora Grey

Terkadang, ekspektasi yang terlalu tinggi adalah sumber dari kekecewaan.

Dan sekarang Rora tahu betul maksud dari kalimat itu. Seperti saat ini—nyatanya harapannya terlalu tinggi untuk bisa mendapatkan nilai bagus, tapi mungkin juga karena usahanya tidak sebanding. Padahal beberapa minggu terakhir ini, Rora udah mati-matian belajar.

"Harusnya lo pake contekan," usul Rami seraya menepuk-nepuk pundak Rora. Mencoba menenangkan gadis itu.

Tak lama muncullah Nathan yang siap meledek Rora. Bukan apa-apa, hanya saja rangking keduanya hanya terpaut 3 angka. Yaah—cowok itu berada di peringkat 26 dari 32 murid. Padahal faktanya Nathan berbuat curang ketika mengerjakannya.

Sial! Ini menyebalkan. Tapi tahu apa yang lebih menyebalkan?

Rami Anastasya berada di rangking 19! Padahal jelas-jelas, gadis itu juga membawa contekan setiap mengerjakan Ujian.

Ini nggak adil!

"Nggak apa-apa, Rora. Anggep aja pelajaran hidup. Lain kali pakai metode yang pasti-pasti, kayak nyontek."

Rora menghela napasnya, berat. "Kalau nilai gue kayak gini ... bisa masuk UI nggak ya?" cicit Rora tertahan, gadis itu terdengar putus asa.

"Jangan kan UI, Rora! Lo masuk SNM aja belum tentu bisa. Otak pas-pasan kayak kita mah nggak usah sok pengen masuk UI," tukas Nathan asal jeplak.

"Ulangan nggak kena remed aja udah bagus. Jadi jangan mikir aneh-aneh!"

"Kalau mau masuk UI, lo harus kayak Sheila dulu!" Refleks arah pandang Rora tertuju kepada Sheila—gadis itu tengah berdiri di depan kelas untuk menulis pengumuman di papan tulis.

Oh! Jelas, Sheila Gabriella kembali berada di posisi 1 paralel. Nggak heran sih, doi emang dasarnya udah pinter, mana lagi rajin belajar. Beda banget sama Rora.

"Sheila dapet rangking 1 lagi. Keren ya dia," bisik Rora kagum setengah mati dengan temannya yang satu itu.

"Jelas! Siapa juga yang bisa nggusur dia dari peringkat 1?" Nathan berdecak kagum. "Udah cantik, pinter, ketos, perfect banget bebeb gue,"pujinya terang-terangan.

Iya lah! Ini Sheila lo, cewek paling cantik di kelas mereka—ralat! Seangkatan mereka.

"Bebeb-bebeb! Masih aja lo ngarep sama Sheila! Nggak level lo sama dia, orang kayak Digo cekepnya kayak gitu tertolak."

"Ye! Jangan mandang fisik lo!"

"Halah! Lo juga demen sama Sheila karena fisik, Al!" sanggah Rami yang membuat Nathan nyengir kuda.

"Btw, Rora! Kalau lo mau masuk UI belajar kayak dia. Walaupun nggak mungkin bisa juga, sih!" celetuk Nathan yang membuat Rami menendang kakinya.

"Jangan gitu, lo!" peringat Rami seraya melirik ke arah Rora, merasa prihatin.

Emang ya, mulutnya Nathan itu kayak sampah.

"Sakit anjir!" keluhnya seraya menunduk, mengelus kakinya yang ditendang oleh Rami.

"Kenapa sih, Sel? Gue kan ngomong jujur kali, biar Rora nggak memaksakan diri."

"Ya nggak, Rora?" tanya cowok itu ke arah Rora.

Di tempatnya, Rora langsung tersenyum. "Iya,santai aja!" gumamnya mengerti apa maksud Nathan.

Sebenarnya Rora marah banget waktu Nathan ngomong gitu, dia juga ngerasa tersinggung dan sakit hati. Namun entah kenapa gadis itu tidak berani bersuara untuk menjawabnya—mungkin karena sebagian kecil dari dalam dirinya juga membenarkan hal itu.

Dia mana bisa kayak Sheila.

****************

Ujian Nasional resmi selesai, pengumuman nilai pun telah dilakukan di jam ke dua. Semua murid menyambut itu dengan antusias. Tak terkecuali sosok itu. Sosok dengan garis wajah tampan dan tegas. Kay Morgan—menatap puas hasil ujian di tangannya.

Dia emang nggak masuk rangking 10 besar paralel, cuma hasil yang dirinya dapatnya meningkat dari semester lalu. Selama ada peningkatan, baginya sudah cukup. Lagi pula Kay Morgan bukan jenis orang yang terobsesi mendapatkan nilai sempurna di sekolah.

"Kay! Di cariin kakel!" teriak Yudis—ketua kelasnya dari depan pintu kelas.

Kay Morgan yang semula tengah menghitung rata-rata nilai ujiannya terpaksa beranjak, berjalan keluar kelas untuk melihat siapa yang mencari dirinya.

Oh, Fuck!

Ternyata yang berdiri di hadapannya adalah sosok berbadan tinggi dan besar. Siapa lagi jika bukan Sebastian Putra—salah satu anggota Paskibra SMA Garuda Indonesia, dari angkatan kelas dua belas.

"Apa kabar, Kay?" sapa Bastian ceria, seperti biasa—pasti ada maunya.

Di tempatnya Kay Morgan langsung mendengus kesal. "Nggak usah basa-basi, lo udah jawaban gue," ketus Kay Morgan yang membuat kakak kelasnya itu tersenyum canggung.

"Yaelah, Kay! Pikirin dulu tawaran gue kenapa?"

"Gue nggak mau."

Ini tentang penawaran gila Bastian yang ingin merekrutnya jadi anggota Paskibra. Sejak seminggu lalu, cowok itu terus mengintilinya kesana kemari untuk menjadikannya anggota Paskibra. Bayangin aja Kay Morgan suruh latihan jalan di tempat!

Nggak banget lah, woi! Gila emang, si Bastian ini.

"Mau gue pikirin seribu kali pun, gue tetep nggak mau, Bas. Gue nggak bisa jadi anak Paskib," tolak Kay Morgan dengan nada serius.

"Anak-anak pada ngincer lo buat jadi anggota kita. Lagi pula lo udah nggak di OSIS lagi, jadi bisa lah join sama pasukan kita."

"Kenapa gue sih? Lo lupa gue dikeluarin dari OSIS gara-gara masalah apa?" dengus Kay Morgan, terdengar frustasi.

"Inget gue! Tapi itu nggak ada hubungannya sama masuk Paskib. Gue ngincer lo karena gue tahu lo itu pinter kalau mimpin organisasi, lo juga sering jadi petugas upacara dulu."

"Lo bisa bikin orang tunduk dan patuh. Anak kelas sepuluh sekarang kelakuannya kayak setan, gue hampir nyerah. Nggak ada patuh-patuhnya, kalau lo masuk pasukan—"

"Sorry, gue nggak bisa Bas. Bukannya gue nggak mau, tapi gue nggak pantes. Gue nggak cocok, serius. Thanks buat tawarannya, lo mending cari orang lain."

Bastian langsung kicep di tempatnya.

"Please lah, Kay!" rengek kakak kelasnya itu, tanpa rasa malu.

"Nggak mau, gue!" Ya Tuhan, minta dipukul emang ini orang. Badan doang gede, tapi mindset kayak bocah, suka maksa-maksa.

"Lo yakin?" Sekali lagi Kay Morgan mengangguk pasti.

Bastian mendengus, kecewa. Mungkin memang dirinya harus berhenti membujuk adik kelasnya itu, yang ada makan hati sama buang tenaga.

"Yaudah, Kay! Gue cabut dulu."

Kay Morgan hanya mengangguk seadanya, selepas kepergian Bastian—cowok itu kembali ke kelasnya, menghitung rata-rata nilai ujiannya sebelum cabut ke kantin.

****************

Hari ini adalah ulang tahun Tristan. Jadi jangan kaget kalau ketika berada di kantin, ada sebuah antrian panjang dari cewek-cewek yang mau kasih hadiah ke Tristan. Tak terkecuali Rami Dalia—gadis itu berdiri di antara barisan itu, dengan sebuah kotak martabak di tangannya.

Diam-diam Rami tersenyum licik, ketika gadis lain membawa coklat, bunga, dan surat-surat cinta—Rami berinisiatif membawa martabak telur. Masih panas, orang dirinya pesannya lewat Go-Food tadi. Bukan apa-apa, hanya saja Rami itu udah hafal kalau Tristan nggak akan nerima hadiah-hadiah basic kayak gitu.

Dipikir ini Valentine?

Cerdik nian emang Rami kalau kayak gini.

Sementara di tempat lain, Kay Morgan langsung menghentikan langkah melihat barisan dari bucinnya Tristan yang bener-bener memenuhi kantin. Mana sih Tristan kayak nggak peduli sama mereka, bayangin aja—doi cuma diem makan bakso, sementara yang menerima hadiahnya si Digo sama Devandra.

"Makasih cantik, nanti dimakan coklatnya sama Tristan." Dih! Nggak tau aja mereka, kalau yang bakal makan coklatnya pastilah keduanya plus Kael William.

Kalau bucinnya Tristan tahu, bisa diamuk masa mereka.

Lagian mereka aneh banget deh! Kasih hadiah kok sama semua, kalau nggak coklat ya bunga. Pada janjian bikin giginya Tristan ompong apa gimana?

"Ck! Bucin lo perhatian banget Tristan!" celetuk Devandra tiba-tiba merasa kagum. Di tempatnya Tristan hanya mengangkat sebelah alisnya tanpa berniat menyahut.

Seolah tahu, jika semua yang keluar dari mulut Devandra itu nggak penting.

"Mereka tau banget kalau lo kayak nisan, makannya pada bawa kembang."

Detik selanjutnya, tawa Kael William dan Digo meledak. Sementara Tristan menatap mereka tanpa minat. Tristan sih, oh aja.

"Oh." Kan! Bener.

Digo mencibir. Punya temen kok kayak Limbad!

"Eh! Kay?!" panggil Digo seraya melambai-lambaikan tangannya ketika melihat Kay Morgan.

Di tempatnya cowok itu langsung mendengus. Bukannya berjalan ke meja mereka, Kay Morgan justru berbelok ke arah lain. Yaah... cowok itu ingin melakukan sesuatu sekarang.

"Lah! Itu bocah mau kemana?"

"Anjir! Anjir! Dia jalan ke meja Mahendra! Mau gelut kayaknya!" risau Kael William yang bahkan sukses membuat Tristan menoleh.

Dan benar saja, saat ini Kay Morgan tengah berdiri di depan Mahendra. Cowok itu menatap sosok Mahendra yang tengah menyantap makanannya dengan sorot mata yang sulit dijelaskan.

"Ngapain lo?" gerutu Mahendra, yang terganggu dengan kemunculan sosok yang menjulang di hadapannya.

"Minta maaf," ujar Kay Morgan santai sebelum menarik kursi di hadapan Mahendra.

Ucapan Kay Morgan itu berhasil membuat semua orang tercengang di tempat. Suasana kantin pun berubah jadi redup, semua orang terdiam menanti balasan dari Mahendra.

"Apa?" sahut Mahendra yang belum menunjukkan ekspresi berarti.

"Gue minta maaf."

"Nggak denger! Lo ngomong yang jelas, jangan kayak orang dungu!"

"Gue minta maaf, anjing! Budeg apa gimana lo?" balas Kay Morgan meninggikan suaranya.

Di tempatnya Mahendra menyeringai, puas. "Oh... minta maaf. Udah sadar lo?" sindir Mahendra yang tidak dihiraukan oleh Kay Morgan.

Semua orang saling menatap bingung menyaksikan hal itu, bahkan Devandra sampai menggigit jari saking gemasnya.

"Bacot!" tuturnya seraya meminum minuman milik Mahendra.

Lah! Nggak jadi baku hantam?

"Udah gitu doang?" cicit Digo seolah mewakili semua orang yang berada di kantin.

Anak-anak kelompok itu pada heboh, eh! Kecuali Tristan, dia nggak peduli. Soalnya udah biasa. Sementara Mahendra dan Kay Morgan yang denger teriakan dari mereka memilih diam. Perlu kalian ketahui, jika bukan hanya sekali dua kali saja mereka pernah bermusuhan. Keduanya bahkan pernah terlibat perkelahian yang lebih buruk.

Itu hal biasa. Cuma temen-temen mereka—khususnya manusia penuh bacot kayak Devandra, Digo sama Kael William aja yang melebih-lebihkan keadaan. Lagian ... marahan sama sohib sendiri, nggak bisa lama-lama kan?

Sementara di sisi lain, tepatnya di depan pintu masuk kantin.

Rora melebarkan mulutnya lebar-lebar, gadis itu merasa terkejut dengan pemandangan di hadapannya. Ya gimana nggak—orang sekarang aja keadaan kantin rame banget.

Lagi ada diskon awal bulan apa gimana?

Menoleh ke arah Sheila yang sepertinya sudah biasa, Rora akhirnya bersuara. "Ini ada apa, sih?" tanya Rora kebingungan.

"Katanya Kak Tristan ulang tahun," jawab Sheila singkat. Sesaat berhasil membuat Rora mengernyit tidak mengerti.

"Ya, terus?"

Sheila mengulum bibirnya, bingung sendiri mau jelasin ke Rora. "Ya gitu, Rora... mereka pada antri buat kasih kado ke Kak Tristan."

"Eh! Itu ada Rami juga!" tunjuk Sheila yang langsung membuat Rora menoleh.

Lah! Bener—pantesan itu bocah dicariin nggak ada. Nggak taunya lagi mesam-mesem kayak orang gila di sana.

Rora terperangah di tempat. "Wah! Bucinnya Kak Tristan banyak banget."

Mengabaikan Rora yang masih terkena shock ringan di tempat, Sheila berjinjit-jinjit mencari bangku kosong.

Oke! Sebenarnya bangku yang kosong masih banyak, tapi jalannya pada dihadang sama cewek-cewek yang ngantri kasih kado ke Kak Tristan.

Gila emang!

"Kita makan batagor aja gapapa?" ucap Sheila seraya menunjuk bangku kosong di dekat mereka, ya... gimana lagi, dari pada nggak makan.

"Gue makan apa aja, mau." Sheila tersenyum lembut, gadis itu lantas menarik tangan Rora menyeberangi lautan manusia di sana.

Rora tenang-tenang saja saat Sheila menggiringnya ke salah satu bangku, sampai gadis itu menyadari jika meja yang dimaksud Sheila adalah meja di samping Kay Morgan dan Mahendra.

Double shit!

"Duduk, Rora!" ujar Sheila lembut, gadis itu jelas nggak tahu keadaan.

"Gue pesen makanan dulu, ya!" Detik selanjutnya, kehadiran Rami ikut menghilang di antara kerumunan. Meninggalkan Rora seorang diri di meja itu.

Tanpa sadar raut wajah Rora berubah tegang. Gadis itu bisa merasakan tatapan tajam dari Mahendra, yang duduk di bangku sebelah mereka. Sumpah ya! Rora tuh nggak paham sama itu orang yang suka banget nyinyirin dia. Belum lagi keberadaan Kay Morgan yang entah mengapa langsung menyurutkan nafsu makan Rora.

Tahu gini, nggak ikut ke kantin dia. Mana di sini rame banget—Ya Tuhan, nggak tenang aja Rora.

Di tempatnya Mahendra mengalihkan pandang, menatap aneh sosok Kay Morgan yang berubah menjadi tegang.

Ini anak dua ada apaan, deh! Pikir Mahendra yang sebenernya eneg banget liat Rora. Tapi mau gimana lagi? Temen-temen dia semuanya—entah sejak kapan—jadi deket sama Rora. Terutama Devandra sama Digo. Mereka sampai follow-followan instagram.

Liat cewek itu jalan di lorong aja pada rebutan mau nyapa. Padahal mereka kalau liat Mahendra malah manggil anjing. Mereka juga sering ngeyakinin Mahendra kalau yang lapor polisi nggak mungkin Rora. Heran kadang Mahendra, ini yang beneran temenan sama anak kelompok itu dia apa Rora?

"Ngapain lo?" dengus Mahendra geli sendiri melihat Kay Morgan tegang di tempat. Itu cowok bahkan tanpa sadar mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Kayak orang gugup aja.

Di tempatnya Kay Morgan langsung menggeleng kaku. "Nggak!"

Menghela nafas kasar, Mahendra memilih menoleh ke arah Rora. Cowok itu ingin memastikan sesuatu yang nyatanya masih mengganjal di pikirannya. "Heh! Lo!" Anjir emang si Mahendra, kalau manggil orang kayak manggil tukang parkir.

Rora yang dari tadi sok sibuk, dengan mainan hp—padahal cuma guling-guling nggak jelas—menoleh, bingung. "Kenapa?" tanya Rora mencoba biasa saja.

Nggak tahu aja, kalau tangan gadis itu panas dingin. Bukan apa-apa, hanya saja sejak duduk di sana, gadis itu tidak bisa merasakan aura bersahabat dari kedua cowok itu.

"Gue mau tanya sesuatu, nggak akan gue ulang dua kali. Jadi jujur!" tukas Mahendra sedikit menyerongkan tubuhnya ke arah Rora.

"Apa?" tanya Rora yang sialnya jadi penasaran.

"Lo yang laporin kita ke polisi?" Pertanyaan yang meluncur dari bibir Mahendra jelas tidak terpikirkan sebelumnya.

Bahkan Kay Morgan ikut menoleh, lantaran kaget mendengar pertanyaan itu. Mana sih Mahendra tanya gitu tanpa beban.

"Hah?" Rora bingung di tempat, kayak orang tolol.

Sesaat gadis itu merasa tersinggung. "Lo nuduh gue?" Nada tidak percaya terdengar mengudara dengan jelas.

Mahendra memutar bola matanya malas, sungguh! Reaksi Rora saat ini berlebihan. Kedua mata gadis itu terlihat melotot terkejut, sementara bibirnya terbuka lebar. Demi apapun—ini cewek aneh banget, bisa-bisanya banyak temen cowok dari kelasnya yang naksir berat sama Rora.

"Nggak, cuma gue tanya!" balas Mahendra dengan galak.

"Nggak lah! Lo gila? Ngapain juga gue laporin kayak gitu?" Balasan dari Rora itu memancing Mahendra untuk menaikkan sebelah alisnya. Tampak ragu. Detik selanjutnya Mahendra menatap Rora dengan sorot mata sungguh-sungguh.

Cowok itu seolah mempertimbangkan sesuatu.

Sampai sebuah tanggapan lolos dari bibir tipisnya.

"Soalnya cuma lo yang tahu kita dateng ke sana," jelas Mahendra logis. "Jadi bukan lo?" pungkasnya memastikan.

Rora menggeleng. "Bukan gue," katanya sungguh-sungguh.

"Oke!" Itu saja, karena detik selanjutnya Mahendra sudah beranjak. Berniat kembali ke kelas—sial! Kantin yang biasanya menjadi tempat favoritnya mendadak sesak karena seorang Tristan.

Selepas kepergian Mahendra, tinggallah Rora dan Kay Morgan di sana. Duh! Canggung banget, beruntung Sheila sudah datang dengan dua porsi batagor.

"Maaf ya, lama. Antrinya banyak banget." Rora tersenyum sebelum menggeleng.

"Gue yang harusnya makasih," ujar Rora masih tahu diri. Yaah—karena setiap mereka ke kantin, yang pesan makan itu selalu Sheila.

Keduanya lantas terlibat percakapan sembarangan. Semuanya dibahas, sampai kegiatan Sheila sebagai ketua OSIS.

"Lo udah capek jadi ketua OSIS, masih bisa aja dapet rangking 1 paralel. Lo jenius ya, Sheila?" tanya Rora yang langsung membuat Sheila menunduk kecil menatap makanannya.

Gadis tersenyum kecil diam-diam. "Nggak lah, Rora! Yang jenius itu Randi sama Rendi." Ah! Benar—Rora lupa dengan si kembar yang selalu menjadi juara olimpiade matematika itu.

"Persiapan pensi gimana?" tanya Rora ketika keduanya sudah kehabisan topik pembicaraan.

"Lancar, walau ada beberapa hal yang masih belum diterima sama kepala sekolah. Susah buat yakinin kepala sekolah buat gelar acaranya sampai malem."

Di tempatnya Kay Morgan hanya berdiam diri. Seolah tidak berniat meninggalkan tempat itu. Cowok itu menunduk menatap kosong minuman milik Mahendra yang sudah dirinya habiskan. Apakah kalian tahu, jika sejak tadi Kay Morgan mendengarkan percakapan kedua gadis, yang duduk di bangku sebelahnya secara diam-diam?

Bukan apa-apa, hanya saja mendengarkan Sheila bercerita tentang kegiatan anak OSIS yang mempersiapkan acara Pensi membuat Kay Morgan ikut tenang. Cowok itu menghela nafas pelan diam-diam, nyatanya ada penyesalan yang masih bersarang dari dalam dirinya.

Andai saja cowok itu tidak terlibat banyak masalah, pastilah dirinya yang berada di posisi Sheila.

Pulang cepat. Hal paling membahagiakan bagi seluruh murid SMA Garuda Indonesia, oh! Mungkin bagi semua murid di Indonesia. Benar apa benar?

Seperti saat ini, ketika Rami bersorak saat suara bel sekolah terdengar. Anak kelas 11 IPS 3 menyambutnya dengan perasaan gembira. Begitu pun dengan Rora yang sudah mengemasi barang-barangnya.

"Ayo pulang!" ajak Rora kepada dua gadis yang duduk di belakangnya, Sheila dan Rami.

"Maaf Rora, gue ada kumpul OSIS. Kalian duluan aja. Hati-hati!!!" Detik selanjutnya, Sheila sudah berjalan keluar kelas, meninggalkan Rami dan Rora.

Kedua gadis itu saling bertatapan. Bukan hal baru juga sih kalau mendapati jadwal Sheila yang padat, lagi pula sekarang dia ketua OSIS—tapi tetap saja, kadang mereka berpikir... kok Sheila bisa nggak capek ikut-ikutan organisasi kayak gitu, belum lagi dia harus les setelah pulang sekolah.

"Cih! Sheila keren banget." Ucapan kagum itu pastilah datang dari Rora.

Gadis itu sungguh mengagumi sosok Sheila.

Mendengar itu, Rami langsung memutar bola matanya. "Kerenan juga gue, Rora!" Gadis itu tersenyum licik sebelum melanjutkan ucapannya.

"Lo tau?! Masa martabak gue dimakan sama Kak Tristan tadi! Ahh .... sweet banget ya dia!" ucap Rami seraya menahan senyumannya.

"Gue curiga, dia sebenarnya juga suka sama gue!!!" jerit Rami tertahan, gadis itu jelas mulai ke-geer-an.

Melihat itu Rora jadi merinding. "Aamiin," sahutnya seolah mencoba menyenangkan temannya.

Iya in aja lah! Orang halu juga.

"Udah! Ayo balik!" kata Rora sebelum menarik lengan Rami untuk keluar dari kelas.

Keduanya berjalan melewati lorong kelas yang penuh dengan lautan murid. Rami yang sialnya nggak sabaran jadi orang, langsung menerabas jalan. Menggusur orang-orang yang kalau jalan lelet. Rusuh banget pokoknya si Rami.

"Kayak kungkang lo pada!" dengus Rami yang membuat Rora langsung meringis. Malu dong dia waktu anak kelas lain nengok ke mereka.

Tapi akhirnya, berkat Rami mereka jadi sampai ke parkiran lebih cepat.

"Lo langsung balik, Rora?" tanya Rami seraya menatap layar ponselnya. Gadis itu lagi chatan sama orang spesial alias mas ojol langganannya.

"Iya, hari ini katanya Shayen Morgan mau jemput. Tapi kayaknya bakal lama, gue belum bilang ke dia kalau hari ini pulang awal."

"WHAT?!" jerit Rami super heboh.

Lebay banget emang ini orang.

"Jangan teriak dong, Rami!" peringat Rora yang malu ketika orang-orang menoleh ke arah mereka, lagi.

Rami cuma nyengir. Nggak peduli ketika murid lain menatap aneh ke dirinya. Maaf ... tapi Rami itu jenis manusia yang punya kepercayaan diri sangat tinggi. Dia juga nggak peduli sama pandangan orang lain ke dia.

Beda banget sama Rora, yang punya mental kayak tempe.

"Kan kaget! Gue jadi iri, kapan ya ... pulang bareng sama Kak Tristan?" cerocos Rami yang kembali memancing atensi Rora untuk menghela nafas berat.

"Kapan-kapan!" kekeh Rora sekenanya.

Keduanya melanjutkan langkah, sampai tiba-tiba sebuah sapaan—ralat! Banyak sapaan terdengar.

Pastilah familiar karena datangnya dari duo racun alias Devandra dan Digo. Keduanya masih nangkring di atas motor masing-masing. Di sana juga ada Kay Morgan, Kael William dan Mahendra. Tristan sih udah balik duluan, karena harus jemput nyokapnya.

"HALO RORA!!!" seru Devandra rusuh sendiri.

"Halo juga Rami!" lanjutnya agak kalem. Soalnya Devandra tidak terlalu mengenal sosok Rami, jadi harus jaga citra.

Dih! Nggak tau aja si Devandra, kalau satu sekolah pun tahu—itu cowok nggak ada citra kalemnya sama sekali. Ya gimana, dong? Kelakuannya aja kayak cacing kepanasan gitu.

Kedua gadis itu tersenyum membalas sapaan dari Devandra.

Tak lama suara Digo ikut menyahut. "Cantik-cantikku, Sheila-nya nggak ikut pulang?" tanya Digo yang ada maunya.

Rami langsung menggeleng. "Ada kumpul OSIS kak." Mendengar itu, Digo ber-oh ria, sambil mengangguk kecil.

Sejurus kemudian, Rami menyenggol lengan Rora, memberi isyarat kepada Rora untuk kembali berjalan. Bukannya nggak suka ngobrol sama cowok-cowok SMA Garuda Indonesia, tapi di sana nggak ada Tristan jadi Rami agak malas panas-panasan di sana.

"Duluan ya!" ucap Rora agak canggung. Tapi jelas, itu hanya ditujukan kepada Devandra dan Digo.

Nggak mungkin ke Kael William, soalnya mereka nggak terlalu deket. Nggak pernah ngobrol. Apalagi ke Kay Morgan sama Mahendra. Duh! Yang ada Rora males sama mereka berdua.

Padahal, sejak tadi ada satu pasang mata yang terus menatapnya tanpa jeda. Rora jelaslah tidak sadar akan hal itu.

Seolah ada yang ingin disampaikan kepada Rora melalui tatapannya.

Sementara itu, melihat Rora dan Rami mulai melangkah menjauh, Kael William langsung mendorong lengan Kay Morgan agar cowok itu beraksi. Lama banget deh, si Kay Morgan!

Sebelum langkah Rora benar-benar menjauh, Kay Morgan langsung beranjak. Mendekat untuk memblokir akses jalan gadis itu. "Rora!" panggil Kay Morgan seraya mempersiapkan diri.

Lah! Mempersiapkan diri buat apa?! Lebay amat perasaan, Kay Morgan kan cuma mau minta maaf. Kok dia tegang gini?

Lain halnya dengan Rora yang langsung mendengus mendapati Kay Morgan berdiri di hadapannya. "Minggir!" titahnya galak. Gadis itu bahkan tidak menatap Kay Morgan sedikit pun.

"Gue minta maaf." ucap Kay Morgan yang membuat Rora mendengus kesal. Beda lagi sana Rami yang langsung melotot lantaran kaget.

Gila! Ini Kay Morgan lo! Tipe orang yang tau kata Maaf & Terimakasih aja nggak.

"Apaan sih?" dengus Rora berniat berlalu, namun Kay Morgan terus menghadang dirinya.

"Kok apaan sih? Gue kan minta maaf."

Rora mengangkat wajahnya, menatap wajah Kay Morgan dengan tatapan tajam. Lah! Si Kay Morgan jadi tambah panas dingin.

"Minta maaf buat apa? Jangan-jangan lo nggak tau kesalahan lo apa!" tuduh Rora yang langsung membuat semua orang mengulum bibir masing-masing.

Si Rora berani juga. Sumpah! Nggak lucu kalau nanti Kay Morgan-nya jadi emosi terus bentak Rora.

"Maafin dong, Rora!" kata Kael William ikut membujuk. Kasihan lho si Kay Morgan ini, galau kayak tai.

"Iya, Rora! Dia nyesel banget. Sampe galau, tiap malem nggak bisa tidur," sela Devandra ikut-ikutan menyahut dengan lebay.

Rora menoleh ke arah mereka, memberi isyarat seolah melarang mereka untuk ikut campur. Ih serem dong liat Rora kayak gitu!

"Maaf ya, Rora. Gue nggak maksud ngomong gitu," bujuk Kay Morgan bersungguh-sungguh.

"Oh! Terus maksudnya gimana?" balas Rora seolah masih kesal dengan sosok di hadapannya.

Mendapati pertanyaan seperti itu, Kay Morgan menarik rambutnya ke belakang. Sedikit bingung menjelaskannya. "Nggak gitu pokoknya, gue—"

"Ck! Lo minta maaf, tapi nggak tau masalahnya dimana. Sekarang minggir!" Rami sampai menoleh ketika Rora berseru galak kepada Kay Morgan.

Parah si Rora! Nggak tahu apa, kalau sekarang mereka dijadiin tontonan sama murid-murid yang lewat. Kebanyakan sih cewek—pada kepo, kok bisa ada cewek yang berani bentak Kay Morgan kayak gitu?

"Gue minta maaf ya, Rora!" Bahkan Kay Morgan sampai menyatukan kedua tangannya. Terlihat benar-benar memohon maaf di tempatnya.

"Maaf, gue emang salah. Jangan marah lagi ya?" katanya seraya mengikis jarak keduanya.

Di kira segampang itu apa?

"Makannya kalau ngomong dipikir dulu!"

"Iya."

"Jangan brengsek jadi cowok!" kata Rora memperingati.

Kay Morgan mengangguk mengerti. "Iya, maaf Rora. Gue salah. Minta maaf ya?" ucap Kay Morgan dengan lembut. Sontak hal itu membuat semua orang yang menyaksikannya terbengong.

Beda lagi sama cewek-cewek yang memekik iri.

Melihat Kay Morgan yang terus meminta maaf kepadanya, Rora menghela nafas pelan. Ck! Sebenarnya sih, ini bukan salah Kay Morgan doang, dia juga salah. Rora sadar. Tapi tetap aja, siapa sih yang mau diperlakuin kayak cewek murahan?

Perlakuan Kay Morgan selama ini, kadang buat Rora mikir. Apa dia lagi dimainin?

"Yaudah."

Kay Morgan mengerjap kecil. "Yaudah apa?"

"Yaudah itu!" ketus Rora seraya memalingkan wajah ke arah lain.

Lah! Ternyata banyak yang ngeliatin mereka sekarang. Kenapa sih, orang-orang pada kepo?

"Itu apa? Itu maafin?"

"Iya," jawab Rora singkat.

Kay Morgan tidak bisa menahan senyumannya. "Makasih, ya! Janji nggak akan gue ulangin."

"Iya. Udah, minggir! Gue mau lewat!" usir Rora yang tidak tahan menjadi pusat perhatian.

"Galak banget, katanya udah dimaafin." Rora berdecak. Mulai lagi deh, ini cowok mulai usil.

"Makannya jangan nyebelin!" tukas Rora super galak. Aneh! Bukannya marah, Kay Morgan justru tersenyum kecil.

Gimana mau marah, yang bentak dia aja lucu gini. Yang ada Kay Morgan malah gemes.

"Iyaaaa." Secepat itu juga Kay Morgan menyingkir dari hadapan Rora—memberi akses gadis itu untuk lewat. Nggak mau dong Kay Morgan, kalau bikin Rora kesel lagi.

Sementara di tempatnya, Rora langsung berjalan pergi meninggalkan parkiran diikuti oleh Rami yang masih heran sama situasi keduanya. Ini masalahnya apa? Kok tiba-tiba udah minta maaf aja.

Ya gimana dong? Rora itu nggak pernah curhat-curhat tentang Kay Morgan lagi. Yang ada itu orang curhatnya soal keinginannya biar bisa masuk UI. Ini bukan Rora banget, Rami kan jadi kepo emangnya apa yang bikin Rora obses masuk ke sana?

Namun baru beberapa langkah, suara bariton dari belakang sana menginterupsi. "Rora! Mau pulang bareng gue, nggak?" seru Kay Morgan yang langsung membuat Rora menoleh terkejut.

Sinting! Itu cowok sengaja bikin semua orang denger apa gimana?

Merasakan semua tatapan langsung tertuju padanya, Rora menggeleng kaku. "Ng-nggak makasih. Kakak gue mau jemput gue." Detik selanjutnya Rora melanjutkan langkah.

Meninggalkan perhatian banyak orang yang masih tertinggal.

Sementara Kay Morgan? Cowok itu bergeming di tempat. Nggak cuma Kay Morgan sih, temen-temen dia juga jadi terdiam. Mereka bahkan sampai membekap mulutnya dramatis. Berasa nonton drama Korea, dong!

Bayangin aja, seorang Kay Morgan ditolak di depan umum. Padahal di luar sana banyak cewek yang rela ngelakuin apa aja biar bisa dibonceng sama Kay Morgan.

"Membengongkan!" cicit Devandra yang syok luar biasa. Bahkan cowok itu ingin bertepuk tangan. Tapi diurungkan, karena kasihan sama Kay Morgan.

Baik Kael William, Mahendra serta Digo nggak bisa berkata-kata. Belum lagi melihat wajah Kay Morgan yang kayaknya juga kaget setelah ditolak Rora. "Gu-gue pengen ngakak!" izin Digo yang sudah tidak tahan menahan tawanya.

Cowok itu sampai mencubit paha sendiri biar nggak ketawa dari tadi.

Beranjak dari tempat, Kael William berjalan mendekati Kay Morgan. Menepuk pundak cowok itu dengan prihatin. "Udah punya pawang, Kay. Tau kan .... apa kata tukang parkir?"

"MUNDURRRR!!!!" seru keempatnya penuh semangat kepada Kay Morgan.

1
falea sezi
🤣 harusnya Rora di buat jago beladiri🤣🤣 ini menye menye bgt 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Prettygirls: Hmm belum tau aja,masih polos2 itu
total 1 replies
Prettygirls
Serius yahh udah ku update 🤣
falea sezi
lanjut q kirim bunga🤣
Prettygirls
Hi kak falae bantu like yah biar semangat terus nulisnya🙏
falea sezi
🤣🤣🤣🤣kau bkin baper semua tau🤭
Enz99
bagus
Prettygirls: Terima kasih kak jangan lupa baca buku yg cinta terlarang diantara kita saudara tiri🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!