Berawal dari perselingkuhan seorang pacar yang mengakibatkan diriku dalam titik terendah. Secara tidak sengaja bertemu dengan seorang wanita yang menjadi jembatan bagiku untuk membalaskan dendam ini.
Namaku Devan Juliardi, menikah dengan Kirana Larasati yang merupakan mama dari pacarku Clarissa. Kehidupan buruk masih menderaku dengan kabar kehamilan Clarissa hingga penghianatan Kirana terhadapku.
Setelah kekecewaan yang aku dapatkan dari kedua wanita itu, aku memutuskan hidup yang baru. Meninggalkan urusan pernikahan dan fokus mencari kebahagiaan dan mendapatkan apa yang aku inginkan. Meski bayangan masa lalu terus menghantuiku, dengan berbagai upaya mereka agar aku kembali. Namun tidak semudah itu, Ferguso.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wanto Trisno 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kondisi Serius
Kehidupanku akan berubah total jika ada satu orang ini. Yap, si Eric sudah datang dengan sendirinya. Kita bertiga adalah teman satu sekolah dulu. Meski tidak terlalu akrap dengan Matt, tidak masalah. Yang penting kami adalah teman. Itu sudah cukup untuk ku jelaskan semuanya. Padahal aku ini hanya memikirkan cara agar bisa hidup dengan tenang. Namun kedua orang ini datang ke rumah sakit.
"Ini ada titipan makan dari tante Gita. Kita makan sekarang apa nanti, nih?" tanya Eric tiba-tiba. Ia datang-datang sudah bikin kaget, malah ngajak makan. Orang masih jam sepuluh lebih. Masa mau makan lagi.
"Kamu makan sendiri saja, Nyet. Aku belum lapar, nih. Lagian aku datang ke sini mau ketemu sama Devan. Dia belum jelasin apa-apa, kamu nongol saja." Muka Matt terlihat kesal karena kedatangan Eric yang tiba-tiba.
"Iya-iya, hehehe ... maaf-maaf, deh. Ya sudah, kamu jelasin saja, deh. Dev! Aku mana berani jelasinnya sebelum kamu kasih izin," sahut Eric sambil menggaruk kepalanya. Ia seperti telah berbuat salah, dilihat dari sikapnya itu.
Biasanya kalau anak itu berbuat salah, akan bertingkah seperti itu. Tapi tidak perlu dipikirkan karena tidak ada gunanya lagi. Hari ini adalah hari pertemuan dengan temanku lagi. Aku mengajak mereka untuk melihat keadaan Clarissa yang berada di ruang rawat inap.
Keadaan Clarissa masih sama seperti tadi sebelum ku tinggal. Sepertinya memang tidak sadar kali ini. Lagipula Eric dan Matt juga tidak keberatan menunggu dia bersamaku. Mudah-mudahan mereka tidak berbuat macam-macam di rumah sakit ini. Karena bukan lagi anak kecil seperti dulu, yang berbuat onar dan dimarahi orang tua.
"Jadi beneran kamu sudah menikah? Dan ini anak tirimu yang sedang hamil?" Matt seakan tidak percaya dengan yang ku jelaskan barusan.
Ya, aku baru saja menjelaskan kronologisnya. Bagaimana aku berpacaran dengan Clarissa dan karena melihatnya selingkuh sampai mengandung anak entah anak siapa, aku malah menikah dengan mamanya. Dan aku menjelaskan, ini adalah ide dari Eric. Meski dia hanya becanda, aku malah mendekati dan menikahi wanita itu beneran.
"Hahahaha! Kamu ini sangat hebat, Bro. Gara-gara ide dari si monyet ini, kamu malah seperti ini. Tapi keren, kamu sudah menikah duluan daripada kita yang jomblo ini." Sudah kuduga, pasti dia malah ketawa dengan kejadian yang ku hadapi. Tapi karena kami adalah teman lama, tidak masalah kalau begitu.
"Gila aja, kau. Aku dibilang monyet terus dari dulu. Padahal orang seganteng gini, masih saja kau masih rasis padaku," celetuk Eric yang tidak terima dengan panggilan itu.
"Weh-weh-weh ... maaf, maaf-maaf, deh. Lagian aku sudah lama tidak di sini. Sekolah di luar negeri malah jarang ketemu teman. Di sini juga tidak kenal siapapun. Hanya kamu temanku yang bisa dihubungi soalnya. Tidak kayak si Devan. Bahkan aku tidak punya nomornya."
Aku memang tidak memiliki nomor telepon Matt ini. Karena berpisah sekian lama, tidak tahu bagaimana menghubunginya. Bahkan sampai aku melupakan punya teman seperti dirinya. Yah, meskipun ada beberapa teman satu angkatan, aku juga tidak punya nomor mereka. Karena kesibukan dalam bekerja, aku sampai melupakan semua teman satu angkatan. Hanya Eric, yang menemaniku hampir setiap waktu.
Eric datang juga paling hanya mengajak sesuatu yang tidak berguna. Seperti mengintip gadis-gadis cantik di kolam renang atau di tempat umum. Dulu juga sering mengintip perempuan yang sedang berkumpul ramai-ramai.
"Hari ini aku tidak bisa menemani kalian. Kalau mau ke mana-mana, sama Eric saja, yah. Aku nungguin Clarissa hari ini." Sebenarnya tidak ingin mengusir mereka karena mau ke rumah sakit demi menemaniku. Tapi bagaimana lagi, mereka harus memiliki kehidupan sendiri. Tidak mau memaksa mereka menemaniku.
"Tidak-tidak, Bro. Kita mau temenin kamu sampai bosan sendiri. Bagaimana kalau kita sambil main game? Kalian punya ini, kan?" Matt menunjukan salah satu game yang populer di kalangan anak muda zaman sekarang.
"Aku punya tapi jarang mainnya. Lagian bisa mengganggu istirahat Clarissa. Yang ada nanti bikin orang rumah sakit jadi tergganggu. Bukan hanya mengganggu Clarissa saja." Aku tahu, kalau main game, biasanya akan ribut. Itu yang tidak ku inginkan dalam rumah sakit ini. Jika itu di rumah, tidak menggangu orang sakit. Tapi di sini, kita harus berpikir-pikir lagi.
"Iya juga sih, Bro. Apalagi kalau main game, pasti si monyet ini suka teriak-teriak kayak di alam liar. Kita tidak bisa menggangu orang lain, hanya karena satwa satu ini," balas Matt, menyinggung perasaan Eric.
Kenapa dia senang sekali menyebut temannya dengan sebutan itu? Aneh-aneh memang teman yang satu, eh dua-duanya sama-sama aneh menurutku, sih. Termasuk diriku yang orangnya pelupa dan agak lemot. Meski sejatinya aku orang yang tidak pintar dan tidak cerdas sama sekali.
"Devan ... kamu di sini?" Tiba-tiba terdengar suara Clarissa yang lirih. Dia sudah bangun dari tidak sadarkan diri dari kemarin.
"Tuh, dipanggil sama anak tiri, noh. Lebih baik kamu urus dulu. Kami keluar duluan, yah," putus Eric, membawa Matt keluar dari ruangan ini.
Biarkan mereka berdua keluar dari kamar. Sementara aku menanggapi panggilan dari Clarissa. Sayang sekali dia hanya ada aku menemaninya di sini. Sementara matanya melihat ke arahku dengan tatapan memelas.
"Kamu sudah bangun, Clarissa?" sapaku, melihatnya sudah membuka matanya. "Apa yang kamu perlukan?"
"Devan ... apa kamu menungguku bangun? Ahh, sakit banget, Dev. Perutku sakiiit," ucapnya seperti menahan sakit beneran. Ini memang sakit beneran atau tidak. Tidak ada yang tahu kecuali dia dan Tuhan yang tahu.
"Kamu perlu diperiksa dokter. Aku akan panggil dokter ke sini. Kamu tunggu saja di sini, yah." Aku berniat meninggalkan ruangan dan benar-benar mencari dokter. Sebelum tanganku dipegang olehnya.
"Jangan ... aku mau kamu temani aku. Aku takut sendirian. Perutku sakit, Dev. Kamu coba elus perutku sebentar. Nanti pasti akan sembuh dengan sendirinya."
Dia meminta aku mengelus perutnya yang berisi anak, bukan anakku. Aku tidak pernah memegang dia sebatas memegang tangan atau kepala. Tapi kali ini sampai disuruh mengusap perutnya. Kata orang, kadang-kadang kalau ibu hamil suka dielus perutnya. Tapi masa aku yang melakukannya?
"Ayo dong, Dev. Aku sakit perutnya. Ini permintaan anak di dalam perut. Aku minta kamu mengelus perutku. Kalau kamu mau lebih, aku kasih yang lebih. Asal kamu mau balik lagi sama aku. Kita mulai semua dari awal, yah."
Dia enak bisa berkata seperti itu, setelah semua terjadi. Aku bahkan hampir putus asa karena kelakuannya. Meski ayah kandungnya yang jahat, dia juga telah bertemu orang lain di belakangku. Aku masih belum terima dengan semua ini.
Siapa yang menghamili Clarissa, sampai saat ini pun belum datang ke rumah sakit. Bahkan aku yang tidak bersalah, bisa menjadi kambing hitam.
"Kamu bisa ceraikan mamaku. Terus nikah sama aku kalau kamu ingin. Aku tahu, aku tidak pernah memberikan apapun padamu saat kita pacaran. Bagaimana jika aku gugurkan anak di perutku, lalu kita bikin anak kita sendiri?"
***