Reno selalu percaya bahwa tugas terbesarnya di dunia adalah bertahan hidup dan melindungi adiknya, meski harus mengubur luka masa kecilnya rapat-rapat.
Namun, ketika usahanya runtuh dan wanita yang dicintainya, Kareen, menuntut kepastian di tengah kegagalan, Reno dihadapkan pada pilihan terberat: memaksakan diri bertahan meski hancur, atau melepaskan demi menyembuhkan lukanya sendiri.
"Tunggu aku. Tapi kalau aku terlalu lama... menikahlah dengan orang yang bisa membuatmu bahagia."
Ketika masa lalu melukainya dan masa depan tak memberi kepastian, mampukah Reno menemukan kembali potongan dirinya yang hilang sebelum waktu benar-benar memisahkan mereka?
Sebuah kisah tentang luka masa kecil, impian yang patah, dan keberanian untuk memulihkan diri sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemeera_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Kebingungan yang Berbeda
Jam dinding di atas pintu menunjukkan pukul delapan malam lewat sedikit. Suara deru kendaraan di jalan raya luar gang perlahan melandai, digantikan hening malam yang merayap masuk ke dalam ruang tamu kontrakan kecil kami. Rayan sudah tertidur lelap di kamarnya, kelelahan namun wajahnya menyisakan senyum puas setelah seharian penuh keceriaan menggambar dan mewarnai bersama Kareen.
Aku berjalan kembali ke ruang tamu setelah mengantar Kareen sampai ke depan gang untuk menaiki taksi online. Cangkir keramik berisi sisa teh melati yang sudah dingin masih berdiri di atas meja kayu kecil—jejak kehangatan kehadiran wanita itu yang masih tertinggal dan terasa begitu nyata di ruangan ini.
Aku duduk perlahan di atas tikar, menyandarkan punggung ke dinding semen yang dingin, lalu memandangi cangkir itu dalam diam. Pikiran-pikiranku melayang, berputar kembali pada percakapan intim yang kami lalui tadi siang.
Jujur saja, ada satu hal yang terus mengusik kepalaku sejak Kareen menceritakan masa lalunya: bagaimana bisa ada seorang pria yang merasa bingung dan menyia-nyiakan wanita seindah Kareen?
Aku menggelengkan kepala pelan, merasa tak habis pikir. Kareen adalah definisi kehangatan, kecerdasan, dan ketulusan yang sangat langka. Dia tidak hanya anggun luar-dalam, tetapi juga memiliki cara pandang hidup yang dewasa, mau menerima keadaan, dan selalu membawa kedamaian bagi siapa pun di sekitarnya. Pria di masa lalunya di Bandung itu sudah memiliki kesempatan emas yang diimpikan banyak orang—menjalin hubungan bertahun-tahun dengan wanita sebaik Kareen, mendapat dukungan penuh, bahkan hampir melangkah ke jenjang pernikahan. Namun, pria itu justru goyah, merasa ragu hanya karena tergiur oleh pilihan-pilihan lain dan enggan mengambil komitmen tegas.
Kufur nikmat, bisik hatiku getir. Jika aku berada di posisi pria itu dulu, tak ada sedikit pun keraguan di kepalaku untuk menjadikan Kareen sebagai satu-satunya tujuan.
Namun, di tengah rasa heranku pada pria itu, sebuah sentilan dingin perlahan menusuk relung hatiku sendiri.
Aku menatap telapak tanganku yang agak kasar akibat kerja keras selama ini, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling kontrakan kecil yang sederhana ini. Dindingnya yang mulai mengelupas, atapnya yang kadang bocor jika hujan deras turun, dan beberapa tumpukan barang yang tertata seadanya.
Tapi... bagaimana dengan diriku sendiri? tanyaku pada heningnya malam.
Bukankah aku juga pernah—bahkan sering—merasa bingung dan goyah menghadapi jalan hidupku sendiri?
Aku teringat masa-masa sulit yang pernah melumpuhkan keberanianku. Masa di mana aku merasa kebingungan setengah mati menentukan arah; bingung bagaimana cara memberi makan Rayan besok, bingung mencari pekerjaan yang layak, hingga bingung apakah aku benar-benar sanggup menjadi sosok pelindung yang bisa diandalkan untuk adikku satu-satunya. Kebingungan itu sering kali membuatku merasa kerdil dan takut.
Bagaimana jika di masa depan nanti, ujian hidup yang lebih besar datang menerpa? Apakah aku akan tetap teguh, atau jangan-jangan aku juga akan merasa ragu dan bingung menghadapi masa depan yang ingin kubangun bersama Kareen?
Perbedaan kami begitu nyata. Kareen datang dari latar belakang yang jauh lebih mapan, berpendidikan tinggi, dan memiliki masa depan yang cerah. Sementara aku hanyalah seorang pria dengan beban hidup yang berat, berusaha merangkak naik dari bawah demi bertahan hidup. Apakah keputusanku untuk mendekatinya tidak egois? Apakah aku tidak sedang membawa Kareen ke dalam kerumitan hidupku?
Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung berat di udara, memicu riak cemas yang sempat merayapi dadaku.
Namun, saat aku mengalihkan pandangan ke arah pintu kamar Rayan yang sedikit terbuka—melihat adik kecilku tertidur pulas dengan damai—suatu kesadaran baru perlahan terbit di dalam benakku.
Ada perbedaan mendasar antara kebingunganku dan kebingungan pria di masa lalu Kareen. Pria itu bingung karena keserakahan; karena ia merasa memiliki terlalu banyak pilihan dan enggan memegang tanggung jawab pada satu hati. Sementara kebingunganku bersumber dari rasa takut akan ketidakmampuan—sebuah ketakutan yang lahir karena aku sangat peduli dan ingin memberikan yang terbaik bagi orang-orang yang kucintai.
Aku memang belum memiliki segalanya sekarang. Aku memang masih harus berjuang keras menata hidup, mencari peluang usaha sampingan, dan membuktikan kapasitas diriku. Tapi satu hal yang bisa kupastikan pada diriku sendiri malam ini: aku tidak akan pernah bingung soal siapa yang ingin kujaga.
Jika hidup di masa depan memberiku seribu keraguan dan tantangan, aku akan memilih untuk menghadapinya dengan kepala tegak, bukan malah lari atau menunda komitmen. Kareen sudah terlalu banyak melewati kekecewaan dari pria yang tak tahu arah; aku tidak boleh menjadi kekecewaan berikutnya.
Aku menarik napas panjang, merapikan cangkir teh di atas meja, lalu berdiri. Rasa bimbang yang sempat menyelinap kini berubah menjadi bahan bakar baru di dalam dadaku. Aku harus terus melangkah lebih maju, bekerja lebih keras, dan membangun kemandirian finansialku—agar kelak, saat waktunya tiba, aku tidak hanya menawarkan perasaan, tetapi juga sebuah kepastian dan masa depan yang kokoh untuk Kareen dan Rayan.