Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Ketika sebagian penghuni rumah masih terlelap, Erma sudah berdiri di depan kamar Edo. Perempuan itu mengetuk pintu berkali-kali, bahkan nyaris menggedornya karena adiknya tak kunjung menyahut. "Do! Edo! Bangun!" serunya dari luar kamar. "Edo, buka pintunya!"
Beberapa detik kemudian, terdengar suara gerutuan dari dalam. Tak lama berselang, pintu kamar terbuka. Edo muncul dengan rambut berantakan dan wajah kusut. "Ada apa, Teh? Pagi-pagi sudah berisik saja," keluhnya sambil menguap.
Erma melipat kedua tangan di depan dada. Tatapannya tertuju pada adiknya dengan ekspresi serius. "Kamu lupa sama janjimu tadi malam?"
"Aku ingat, Teh. Hari ini aku harus mengantar surat talak ke rumah si Mia."
"Kalau begitu, cepat mandi dan bersiap."
Edo mengembuskan napas panjang. Sejujurnya, ia masih enggan berhadapan dengan mantan istrinya. Terlebih, ia tahu keluarga Mia pasti tidak akan menyambut kedatangannya dengan ramah setelah semua perbuatannya. Namun, ia juga tidak punya pilihan lain. Erma sudah berulang kali menegaskan bahwa ia harus menyelesaikan urusannya dengan Mia secara baik-baik. "Iya, iya," jawabnya pendek.
Erma menggelengkan kepala melihat sikap adiknya yang seolah tidak menganggap serius masalah tersebut. "Jangan cuma iya-iya aja, Do. Kamu benar-benar harus melakukannya. Buruan!" ulang Erma penuh penekanan.
"Iya, Teh. Aku mau mandi dulu."
"Nih!" Erma memberikan amplop berisi surat talak kepada Edo. "Awas kalau surat itu tidak kamu antarkan. Teteh tidak akan memaafkanmu, Edo!"
Edo mendengkus pelan, tetapi akhirnya mengangguk. "Iya, Teh."
Erma hendak beranjak ketika kembali teringat sesuatu. "Oh, satu lagi." Ia menoleh, menatap Edo lekat-lekat. "Jangan lupa minta maaf sama Mia dan keluarganya. Dan berikan uang juga sebagai kompensasi atas perbuatan laknatmu selama ini."
Edo terdiam. "Iya, Teh." Padahal dalam hati ia membatin. "Boro-boro ngasih uang buat si Mia, buat bayar cicilan motor saja aku pinjam sama Bela."
Erma pun meninggalkan kamar Edo.
Edo menghela napas panjang. Ia menatap kepergian kakaknya dengan wajah masam sebelum akhirnya kembali masuk untuk bersiap-siap.
Beberapa puluh menit kemudian, Edo sudah selesai mandi dan mengenakan pakaian kasual. Ia mengambil amplop berisi surat talak untuk Mia. Edo membolak-balik amplop tersebut, lalu mendecakkan lidah. "Kenapa juga harus repot-repot begini, sih?" gumamnya. "Toh, kami sudah resmi berpisah." Meski menggerutu, ia tetap memasukkan amplop itu ke dalam saku jaketnya. Setelah memastikan dompet dan kunci motornya terbawa, Edo keluar dari kamar.
Di ruang makan, Dedah yang baru saja selesai menyiapkan sarapan langsung menoleh ketika melihat putranya melintas. "Jang... kamu mau ke mana pagi-pagi begini?" tanyanya.
"Mau ke Pasir Hurang dulu, Ma. Mau nganterin surat talak. Teh Erma bawel banget."
Dedah menghela napas. "Ya sudah, hati-hati."
"Iya."
"Sarapan dulu atuh."
Edo menggeleng sambil merapikan rambutnya. "Nanti saja, Ma. Aku belum lapar.
Dedah mengangguk, tetapi belum sempat berkata lagi, Nurhan yang baru muncul dari dapur ikut angkat bicara. "Do, kalau nanti si Mia sama orang tuanya marah-marah ke kamu, jangan diladeni. Lebih baik kamu langsung pulang saja." Edo menoleh kepada ayahnya. Nurhan melanjutkan perkataannya, "Kalau kamu melawan, bisa-bisa kamu dikeroyok sama keluarga si Mia."
"Iya, Pak. Aku nggak akan lama kok di sananya."
"Ya sudah, hati-hati." Nurhan menyahut.
Edo mengangguk sebelum mencium tangan kedua orang tuanya, kemudian berjalan menuju halaman rumah.
Tak lama kemudian, suara deru motor kebanggaannya terdengar menghidupkan suasana pagi. Dengan mengenakan helm, ia melajukan kendaraannya meninggalkan rumah. "Ah, gue males banget ke Pasir Hurang. Mending gue suruh si Wandi aja deh. Dia pasti mau." Baru jalan sekitar sepuluh menit, Edo menghentikan laju motornya, mengeluarkan ponsel dan menekan nomor teman SMP-nya itu.
Suara Wandi terdengar sumringah dari seberang. "Halo, Do, apa kabar? Bekasi cerah atau berawan?"
"Alah, gue lagi di Citiis, Wan. Lo ada di rumah, nggak?"
Wandi memekik kencang, "Serius lo ada di rumah? Kapan balik, Ble?"
"Tadi malam, Wan."
"Oke. Kalau mau ke sini, bawa rokok sama kopi, ya."
"Iya. Tapi gue sebenarnya butuh bantuan lo."
"Bantuan apa?"
"Nanti gue cerita."
"Oke, Do. Gue tunggu."
Edo mematikan panggilan dan kembali melajukan motornya menuju rumah Wandi yang berada tak jauh dari rumahnya.
Lima menit kemudian, ia sudah sampai di halaman rumah Wandi. Sang empunya rumah menyambutnya dengan senyum lebar. "Selamat datang, Ble!" seru Wandi. Dua lelaki seumuran itu saling bertos ria. "Yuk masuk!"
Edo mengangguk, mengikuti Wandi masuk ke rumah panggung itu.
"Wan, gue nggak bawa kopi sama rokok. Uangnya aja ya," kata Edo merogoh dompet dan menarik uang lima puluh ribu dari dalamnya.
Wandi tertawa. "Gue cuma bercanda, Do. Kopi sama rokok mah ada."
"Nggak apa-apa, Wan. Uangnya buat lo aja."
"Anjir, baik banget nih sahabat gue!" Wandi menepuk bahu Edo. "Thank you, bro!"
Edo mengangguk.
"Oh, iya, ngomong-ngomong... lo tadi kan bilang butuh bantuan gue. Bantuan apakah itu, bos?"
Edo berdeham lalu mulai bercerita. Wandi mendengarkan dengan saksama. Dan ketika Edo selesai bercerita, ia langsung memekik. "Lo udah cerai sama Mia?!"
"Iya. Dan gue butuh bantuan lo buat nganterin surat talak ini ke rumahnya. Gue males ke sana, Wan. Lo mau kan bantu gue?"
Tanpa berpikir panjang, Wandi mengangguk. "Mau, Do. Tapi lo anterin gue sampai pudunan. Motor gue lagi di bengkel soalnya."
"Oke, Wan. Makasih, ya. Lo emang sahabat terbaik gue." Edo memeluk Wandi sekilas.
"Sama-sama, Do. Kita kan udah berteman sejak lama. Jadi, santai."
Mereka pun akhirnya berangkat menuju Pasir Hurang.
Edo membonceng Wandi. "Wan, kalau nanti si Mia atau orang tuanya nanyain gue... lo bilang aja gue lagi nggak enak badan."
"Siap, Do!" seru Wandi berteriak.
Tak lama, mereka tiba di pudunan. Edo menghentikan motornya, memberikan amplop berisi surat talak pada Mia. "Nih!"
Wandi menerimanya. "Tungguin gue, ya?"
"Ya, iyalah. Masa gue ninggalin lo."
"Haha..." Wandi pun menuruni pudunan menuju rumah Mia. Lalu melewati jalan setapak datar, dan tiba lah ia di depan rumah Mia. "Kok rumahnya sepi, ya?" Celingak-celinguk Wandi berusaha melihat ke dalam rumah Mia melalui kaca depan. "Apa jangan-jangan si Mia sama orang tuanya nggak ada di rumah, ya?" Ia ragu-ragu untuk mengucapkan salam. Tapi akhirnya berseru juga. "Assalamu'alaikum!"
Tak sampai satu menit, salamnya mendapat balasan. "Wa'alaikumsalam!" Disusul pintu rumah terbuka.
Wandi menelan ludah, mundur selangkah.
Mia muncul dan sontak mengerutkan kening, "Wandi? Ngapain kamu ke sini?"
Wandi menyengir kecil. Tubuhnya maju sedikit. "Aku mau nganterin ini untuk kamu, Mia." Ia menyodorkan amplop berisi surat talak kepada Mia.
Mia menerimanya. "Ini, apa?"
Wandi berdeham. "Itu titipan dari Edo."
Jantung Mia seketika tersentak. Tangannya yang memegang amplop spontan gemetar. "Apakah amplop ini berisi surat talak?" batinnya menebak.
cemen nya amit amit.
nag kya itu ja g da nyali tp menganiaya bisa ae tu..
dasar banci cocok nya pakai rok aja
untung udah cere ...klo blm bisa hbis rontok tulang gigi dan rambut mu mia😅😅😅