April mengalami patah hati karena lelaki yang selama ini dia taksir justru menjalin kasih dengan sahabatnya sendiri.
Karena kesal April ingin menghabiskan malam dengan pria bayaran di bar tempatnya bekerja.
Namun, siapa sangka pria yang dibayarnya itu justru mengajaknya menjadi kekasih kontrak.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DHEVIS JUWITA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Besok!
"Lepaskan! Lepas..." teriak Ken ketika diseret keluar oleh beberapa bodyguard yang telah Yoga sewa sebelumnya.
Para bodyguard itu tidak peduli dengan teriakan Ken dan tetap menyeret lelaki itu untuk keluar dari perusahaan.
Belum sampai disitu, di luar perusahaan Ken sudah disambut oleh beberapa polisi yang langsung memborgolnya.
Terbukti melakukan pemerasan dan kasus di kantor sebelumnya, Ken akhirnya bisa diproses secara hukum karena barang bukti sudah lengkap.
"Jadi, semua ini rencana papa?" tanya Adam.
Dia dan Yoga masih bertahan di ruang rapat.
"Aku langsung mendapat senjata mematikan," ucap Yoga. Matanya melirik ke arah foto USG yang masih berada di atas meja.
Adam menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Jadi, kehamilan April sangat membantu, bukan?"
"Tetap saja itu salah, kau dan Galang tidak ada bedanya," kesal Yoga.
"Aku akan bertanggung jawab, Pa," ucap Adam meyakinkan.
Yoga tahu kalau anak-anaknya akan bertanggung jawab tapi hamil duluan begini sungguh tidak dibenarkan.
Nasi sudah menjadi bubur, sekarang status April jauh lebih penting.
"Aku tahu kalau April hanyalah gadis yatim piatu tapi aku tidak pernah melihatnya dari status sosial," tambah Adam.
"Apa kau menyukainya?" Yoga justru bertanya seperti itu.
Adam menganggukkan kepalanya. "Aku sangat menyukainya!"
Dilihat dari matanya, Adam memang bersungguh-sungguh. Jadi, Yoga percaya kalau Adam menyukai April bukan karena perempuan itu hamil.
*
*
April tidak bisa memejamkan matanya karena Adam belum juga kembali, dia ingin tahu kabar dari lelaki itu.
Walaupun Luna memperlakukannya dengan baik kalau Yoga sebaliknya, rasanya percuma saja.
Saat ini April tengah berada di kamar Adam dan tak lama pintunya diketuk oleh seseorang.
"Apa itu Adam?" gumam April. Dia bergegas membuka pintu.
Ternyata dia salah karena pintu terbuka, ada Gema di sana.
"Bibi kemari lagi?" tegur Gema.
"Tadi Oma memintaku untuk tidak ribut karena Bibi sedang beristirahat!"
April tersenyum lalu meminta Gema masuk ke dalam kamar.
"Gema tidak mengganggu sama sekali," ucap April.
Gema berlari lalu membaringkan dirinya di atas kasur. "Aku sangat lelah bersekolah hari ini!"
Anak itu memejamkan mata dan tak menunggu lama, Gema sudah tertidur begitu saja.
"Sepertinya dia memang kelelahan," April mendekat dan mencoba menarik selimut karena suhu AC yang dingin.
April diam sejenak sambil memandangi Gema, sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu dan mempunyai anak sendiri.
"Apa aku bisa membesarkannya dengan baik? Apa dia tidak akan menyesal lahir dari ibu sepertiku?" gumam April sambil mengusap rambut Gema.
Pada saat itu Adam sudah kembali dan langsung masuk ke kamarnya.
"Sayang..." panggil Adam.
April langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir supaya Adam memelankan suaranya.
"Ada Gema di sini," ucap April.
Adam segera melepas jasnya dan mendekat ke arah April. "Kenapa dia ada di sini? Mama pasti akan mencarinya nanti!"
"Biarkan saja, mungkin Gema lelah bersekolah," balas April.
"Bagaimana?"
April langsung bertanya pada Adam.
Disitu Adam menundukkan wajah seperti terlihat kecewa.
"Papa tidak merestui kita, ya?" tanya April menebak.
Adam memeluk April supaya lebih meyakinkan lagi.
"Papa..."
Suara Adam terdengar begitu berat dan hal itu membuat April semakin berpikiran negatif.
"Tanpa restu, lebih baik jangan melanjutkan hubungan kita," ucap April menyela.
"Bukan begitu tapi..." Adam masih memeluk April dan semakin mengeratkan pelukannya. "Papa meminta kita menikah besok!"
"Be... besok?" April tidak percaya akan secepat itu.