Indonesia
NovelToon NovelToon
MENIKAHI MANTANKU

MENIKAHI MANTANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Satu Atap Bersama Mantan

Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.

Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.

Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.

Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.

Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 : Eksperimen Dapur Pagi Hari

Aroma gosong yang lumayan menyengat mendadak memenuhi seluruh sudut dapur penthouse di minggu pagi yang cerah ini.

Aira berdiri di depan kompor listrik, masih mengenakan piyama tidur dengan celemek yang terpasang agak miring di badannya.

Di tangannya, sebuah spatula kayu dipegang erat-erat bagaikan senjata tempur. Matanya menatap panik ke arah wajan anti lengket yang mengeluarkan asap tipis, tempat sebuah omelet telur yang warnanya sudah berubah menjadi cokelat kehitaman.

"Aira... lu mau bikin sarapan apa mau bikin arang?"

Suara berat Devan terdengar dari arah meja makan. Pria itu menyandarkan sikunya di atas meja, masih mengenakan kaus polos abu-abu dan celana pendek santai. Wajahnya yang baru bangun tidur kelihatan segar, lengkap dengan senyuman miring yang super menyebalkan.

Aira seketika memutar badannya, menunjuk Devan dengan spatula kayu di tangannya. "Berisik lu ya, Devan! Ini namanya teknik searing! Lu mana paham seni memasak modern!"

"Seni memasak modern gundulmu," ledek Devan terkekeh renyah, melangkah mendekati kompor dan mematikan tombol kompor listrik itu sebelum asapnya makin membumbung tinggi. "Ini mah fix telur gosong, Nyonya. Ayamnya aja nangis kalau tahu telurnya berakhir jadi fosil gini."

"Ih! Gue kan lagi berusaha belajar masak!" sembur Aira sengit, menyenggol bahu Devan dengan lengannya. "Katanya kemarin lu pengen dimasakin sarapan selain instan! Ya udah ini gue usahain! Masih mending gue mau turun ke dapur, daripada lu cuma bisa komplain!"

Devan menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, tapi sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman hangat. Walau ucapan Aira selalu dibungkus dengan nada galak dan sarkas, Devan tahu cewek sumbu pendek ini sebenarnya secara terselubung sedang berusaha menjadi istri yang baik.

Padahal permintaan omelet kemarin itu hanya ucapan yang spontan keluar aja dari mulutnya, tak disangka Aira bener-bener mau memasakkan untuknya.

Tanpa ragu, Devan menyambar piring, memindahkan omelet yang warnanya sangat tidak estetis itu ke atas piring, lalu menyambar garpu dari rak.

"Bentar, bentar! Lu mau ngapain?" Aira membelalakkan matanya kaget saat Devan meletakkan piring itu ke meja makan.

"Ya mau makan lah. Katanya lu belajar masak buat sarapan?" sahut Devan santai, lalu mendudukkan diri di kursi.

"Devan, itu gosong! Entar lu keracunan terus mati mendadak, Papi bisa ngamuk sama gue!" tahan Aira panik, mencoba merebut piring itu balik.

"Duh, lebay banget," elak Devan terkekeh sambil menahan tangan Aira. "Tenang aja, perut gue udah terlatih kok jadi kelinci percobaan. Lagian gosong dikit doang, masih bisa dikunyah."

Devan memotong sudut telur yang agak kehitaman itu dengan garpu, lalu memasukkannya ke dalam mulut tanpa ragu.

Aira berdiri terpaku di sampingnya, menahan napas dengan raut muka tegang. Jemari tangannya meremas ujung celemeknya sendiri. "G-gimana rasanya? Pahit banget ya?"

Devan mengunyah makanan itu pelan-pelan. Mukanya mendadak dibuat kaku, alisnya menukik tajam seolah-olah rasanya bener-bener mengerikan.

"Kok lu mukanya gitu?!" jerit Aira makin panik. "Tuh kan! Pahit pasti! Udah sini lepeh aja!"

"Hmm... rasanya..." Devan sengaja menggantung kalimatnya, lalu mendongak menatap Aira dengan mata usil yang meledek. "Rasanya kayak makan arang rasa garam. Asin banget, Ra! Lu numpahin garam sekilo apa gimana ke wajan?"

"DEVAN!" sembur Aira histeris, menyikut lengan Devan sampai pria itu tertawa terbahak-bahak. "Awas lu ya! Besok-besok aku gak mau masak lagi!"

"Tapi uniknya..." potong Devan cepat sambil kembali menyendok bagian telur lainnya, "walau pahit sama asinnya adu mekanik di dalam mulut gue, tetep aja habis nih. Masakan istri sendiri kan, wajib dihabisin biar pahalanya mengalir."

Aira terpaku mendengarnya. Desiran hangat yang aneh meluncur cepat di balik dadanya. Aira membuang pandangannya ke samping, berpura-pura melepaskan celemeknya demi menutup salah tingkahnya.

"Terserah lu deh! Dasar aneh!" gumam Aira pelan, walau sudut bibirnya enggan berhenti tersenyum tipis.

Senin pagi, suasana di ruang rapat utama lantai teratas gedung bursa, markas besar perusahaan sekuritas tempat Devan bekerja, terasa lumayan tegang.

Rapat tertutup hari ini dihadiri oleh jajaran komisaris senior, beberapa investor utama, dan mitra bisnis penting dari gabungan konsorsium manajer investasi. Agenda utamanya adalah membahas finalisasi proyek pendanaan initial public offering (IPO) serta akuisisi saham strategis berskala triliunan rupiah.

Devan duduk di ujung meja oval dengan kemeja putih tergulung sampai ke siku dan setelan jas hitamnya. Pria itu tampil sangat profesional, dengan tegas memaparkan grafik proyeksi pertumbuhan indeks, analisis portofolio, dan evaluasi risiko pasar saham secara gamblang.

Namun, begitu sesi pemaparan resmi selesai dan rapat beralih ke sesi diskusi santai sebelum penandatanganan berkas, arah pembicaraan di meja rapat mendadak berbelok ke rute yang tidak menyenangkan.

Seorang komisaris senior berambut perak—Pak Rendra—menyandarkan punggungnya di kursi, menyesap kopinya pelan sambil menatap Devan dengan mata yang menyidik.

"Bicara soal proyek sebesar ini, stabilitas personal seorang pemimpin itu krusial banget lho, Devan," buka Pak Rendra, suara beratnya menggema di ruang rapat.

Devan menaikkan sebelah alisnya, merapikan dokumen di mejanya. "Maksud Pak Rendra gimana ya?"

Pak Rendra tersenyum tipis. "Ya kamu tahu sendiri lah. Belakangan ini media bisnis dan publik lagi heboh banget ngebahas berita pernikahan kamu yang terkesan buru-buru dan sembunyi-sembunyi. Ditambah lagi gosip yang beredar soal latar belakang istri kamu... ada beberapa calon investor asing yang sempet mempertanyakan kredibilitas dan integritas pendamping hidup kamu."

Deg!

Suasana ruang rapat berubah hening mencekam.

Beberapa direktur dan komisaris lain saling berbisik pelan. Salah satu mitra bisnis senior yang duduk di samping Pak Rendra ikut menimpali dengan nada meremehkan.

"Betul itu, Devan. Kalau memang istri kamu itu berpendidikan dan berasal dari keluarga terpandang, kenapa harus menikah diam-diam? Jangan sampai citra kamu sebagai CEO terganggu gara-gara rumor kalau kamu nampung cewek yang cuma mengincar harta dan pamer kemewahan. Itu berpengaruh ke kepercayaan saham kita lho."

Devan mencengkram penanya.

"Saya rasa..." suara Devan meluncur, "...kalian semua yang duduk di meja ini adalah pebisnis kelas atas yang punya otak cerdas, bukan netizen yang makan mentah-mentah gosip murahan."

Pak Rendra tersentak, kaget dengan teguran sepedas itu dari Devan. "Devan! Jaga intonasi kamu—"

"Tidak, Pak Rendra. Biar saya perjelas satu hal di sini," potong Devan tegas. Pria itu berdiri dari kursinya, menatap para pebisnis senior itu satu per satu dengan sangat berani.

"Istri saya, Aira Calista Hermawan, adalah putri dari Bapak Surya Hermawan. Kalau kalian merasa asing dengan nama itu, saya sarankan kalian cek kembali daftar pemegang saham utama di tiga bank swasta terbesar di negara ini!"

Para komisaris dan investor yang tadi sempat mengangguk-angguk sinis seketika membelalak kaget. Kasak-kusuk langsung menyebar di antara mereka.

"S-Surya Hermawan pemilik Hermawan Group?!" cicit mitra bisnis di samping Pak Rendra dengan muka pucat.

"Tepat," Devan menyunggingkan senyuman dingin yang penuh kemenangan. "Mengatakan istri saya menikahi saya cuma demi harta atau panjat sosial adalah lelucon paling goblok yang pernah saya dengar sepanjang hidup saya. Aira punya warisan dan aset pribadi yang jauh dari cukup buat membeli separuh dari saham yang kalian banggakan di ruangan ini!"

Devan mengancingkan jasnya, lalu merapikan kerah bajunya.

"Pernikahan kami digelar tertutup atas kesepakatan internal dua keluarga besar demi menjaga privasi, bukan karena ada hal yang disembunyikan. Saya tidak akan mentolerir siapa pun—termasuk mitra bisnis di meja ini—yang berani merendahkan, mempertanyakan, atau menyebarkan fitnah murahan soal istri saya lagi."

Devan melayangkan tatapan tajam terakhirnya pada Pak Rendra yang kini bungkam seribu bahasa dengan raut muka sangat malu.

"Kalau ada di antara kalian yang ragu dengan integritas saya hanya gara-gara gosip sampah itu, silakan cabut berkas investasi kalian hari ini juga. Saya pastikan, masih ada puluhan investor lain yang mengantre buat gantiin posisi kalian."

Setelah melempar ucapan penuh ketegasan yang itu, Devan menyambar dokumennya, membalikkan badan, dan melangkah keluar dari ruang rapat.

Sore harinya, Devan sampai di penthouse dengan bahu yang agak pegal tapi perasaan di dadanya terasa sangat lega dan puas.

Saat melangkah masuk ke ruang tengah, ia melihat Aira sedang duduk di karpet dekat sofa, sibuk mencoret-coret lembaran untuk proyek kantornya sendiri. Rambut cewek itu dikuncir asal-asalan, beberapa helai jatuh menyentuh lehernya.

Devan melepas jasnya, melemparnya ke sandaran sofa, lalu melangkah mendekati Aira. Ia mendudukkan dirinya di samping Aira.

Aira menoleh sekilas, mengernyit bingung melihat raut Devan yang mendadak sangat cerah. "Kenapa lu? Senyum-senyum sendiri kayak orang kurang minum obat."

Devan menyandarkan kepalanya di tepi sofa, melirik Aira dari samping. "Tadi di kantor... gue habis ngamuk di depan para komisaris sama investor senior."

Gerakan tangan Aira yang sedang memegang pensil terhenti. Cewek itu memutar tubuhnya menghadap Devan. "Hah?! Ngamuk kenapa lagi lu? Jangan bilang lu tonjok-tonjokan di ruang rapat ya?!"

Devan terkekeh pelan, menggelengkan kepalanya. "Enggak lah. Mereka tadi pake acara nyindir-nyindir status pernikahan kita sama nyebar gosip miring soal lu."

Aira menghela napas panjang, memutar matanya malas. "Kan kemarin gue udah bilang, gak usah dipeduliin..."

"Gue gak bisa diem aja, Ra," potong Devan cepat.

Pria itu menatap mata Aira.

"Gue skakmat ego mereka sampai muka mereka pada pucat. Gue tegasin ke mereka... siapa pun yang berani ngerendahin istri gue, gak bakal gue kasih ampun."

Aira terpaku di tempatnya.

Ia menatap wajah Devan yang berada sangat dekat darinya.

Pria yang biasanya hobi meledeknya, mengajak adu mulut tiap jam, dan sok ganteng ini... ternyata baru saja pasang badan membela harga dirinya.

"L-lu..." Aira kehabisan kata-kata. "Lu seriusan ngomong gitu di depan para investor?"

"Ya serius lah," Devan menyunggingkan senyuman tipisnya yang sangat tampan, lalu secara refleks mengulurkan jemarinya untuk mengacak-acak pelan puncak kepala Aira. "Gue kan udah bilang... mau gimana pun, lu itu istri gue. Tugas gue ya jaga dan bela lu."

Aira menundukkan kepalanya, berpura-pura sibuk merapikan kertasnya demi menyembunyikan senyuman manis mekar di bibirnya.

"Dasar nyebelin..." gumam Aira pelan.

"Tapi btw, Ra..." Devan memajukan wajahnya sedikit, menyenggol bahu Aira usil. "Sebagai imbalan karena gue udah pasang badan bela lu hari ini... besok pagi lu harus bikin omelet telur lagi buat sarapan gue."

Aira mendongak, melotot. "Dih! Ogah ya! Nanti kalau gosong lagi lu komplain!"

"Gak komplain janji," ledek Devan tertawa riang, berdiri lalu mengedipkan sebelah matanya usil sebelum melangkah menuju kamarnya. "Gosong atau enggak, tetap gue habiskan kok, Nyonya!"

"DEVAN ARGAWINATA SIALAN!" jerit Aira histeris, melemparkan bantal kecil di sofa ke arah belakang Devan, sementara tawa renyah pria itu terus menggema indah memenuhi seluruh sudut penthouse.

1
Fazira
lucu mereka 🤭
Fazira
🤣🤣
Fazira
semangat upnya kak😍😍
Fazira
😍
Fazira
Nadia istrinya marah loo
Skyline Scribe
cemburu niee🤭
Fazira
sepertinya love language nya mereka ini bertengkar yaa
karena 8 tahun itu bukan waktu yang sebentar untuk bisa membenci orang
gak sabar liat Devan bucin😍
Reni Anjarwani
kapan damainya bertengkar terus
Ael
semangat kak👍👍
Fazira
Devan yang jujur kamu
Skyline Scribe: cowok gengsi tinggi dia kak😄
total 1 replies
Fazira
jangan tengkar/Sob//Sob/
Fazira
lanjut 💪
Fazira
🤣
Ael
seru👍
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
lanjut 💪
Ael
/Heart//Heart//Heart/
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
😍😍😍
Fazira
lanjut 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!