Indonesia
NovelToon NovelToon
Memendam Perasaanku Padanya

Memendam Perasaanku Padanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Begitu melangkah melewati pintu kaca geser dari arah kolam renang bawah, Bang Gavin dan Kak Febi langsung disambut oleh atmosfer ruang tengah vila yang mendadak kembali berisik. Langkah kaki mereka terhenti tepat di dekat sofa marmer.

Mendengar suara seretan koper di lantai kayu pada larut malam, Om Tom dan Mama Ellen rupanya sengaja turun dari kamar lantai satu mereka. Wajah lelah kedua orang tua itu seketika sirna, digantikan oleh binar kebahagiaan dan pelukan hangat yang teramat tulus untuk menyambut kedatangan anak laki-laki dan menantu kesayangan mereka.

"Astaga, Gavin! Febi! Akhirnya kalian berdua mendarat juga di Bali dengan selamat!" seru Om Tom lantang sembari menepuk-nepuk pundak Bang Gavin dengan penuh rasa bangga.

"Iya, Pa, Ma. Sori banget ya baru bisa hadir malam ini, soalnya urusan penyelesaian akhir berkas korporasi di luar negeri kemarin padatnya minta ampun," sahut Bang Gavin sembari menyalami tangan kedua orang tuanya dengan takzim.

Namun, di tengah momen sambutan hangat antarkeluarga tersebut, sebuah teriakan dengan suara cempreng yang sangat familier mendadak pecah menggema dari arah anak tangga kayu lantai dua.

"ABANG GAVIN!!! KAK FEBI!!!"

Shirin berlari kecil menuruni anak tangga dengan piama katunnya, wajahnya membelalak sempurna antara senang sekaligus panik. Begitu sampai di lantai bawah, ia langsung menghambur memeluk Kak Febi dengan erat.

Namun, belum sempat Kak Anita atau Mama Ellen menanyakan kabarnya, Shirin langsung melepas pelukannya, menatap abangnya dengan napas yang sedikit memburu. "Eh, bentar, Bang Gav, Kak Feb! Kalian tadi pas lewat halaman kolam renang bawah... ada melihat Aurel nggak?! Ini Shirin dari tadi nyariin Aurel di kamar nomor 204 tapi anaknya fiks nggak ada di kasur! Pintu balkonnya juga kebuka sedikit, Shirin panik takut dia kelayapan sendirian malam-malam!"

Mendengar pertanyaan cempreng dan panik dari Shirin yang sedang mencari sahabatnya, Bang Gavin dan Kak Febi seketika saling bertukar pandang penuh arti. Sedetik kemudian, pasangan suami istri itu tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak meledak dalam tawa renyah yang teramat geli dan puas memenuhi seisi ruang tengah vila.

"Hahaha! Haduh, Shirin, Shirin... lo kalau nyari mata-mata maba lo itu salah server, Rin!" seloroh Bang Gavin heboh sembari menepuk jidatnya sendiri, memicu kening Shirin berkerut heran sekaligus bingung setengah mati.

Kak Anita yang mendengar kehebohan itu dari celah pintu kamar lantai atas bersama Bang Edward pun perlahan mengintip keluar.

Kak Febi langsung menyenggol lengan adik iparnya itu dengan kedipan mata yang teramat jenaka, sukses memanaskan situasi malam ini. "Tenang aja, Shirin. Sahabat kesayangan kamu itu posisinya aman terkendali kok di bawah. Tadi pas Kakak sama Abangmu baru jalan masuk dari lobi luar, kami berdua beneran ketangkap basah melihat Aurel lagi ada sesi obrolan privat empat mata yang mendalam di pinggir kolam renang... berduaan romantis bareng Reyhan!"

JEDARRR!

Laporan instan nan blak-blakan dari Kak Febi seketika bagai ledakan bom komedi baru yang meruntuhkan keheningan malam di ruang tengah. Shirin yang mendengarnya langsung membelalakkan matanya sempurna, wajahnya dalam hitungan detik ikut merah padam menahan gemas gila-gilaan karena konspirasi draf hati sahabatnya bener-bener terbukti valid bergerak senyap malam-malam.

Dari arah lantai atas, Bang Edward yang mendengar nama Reyhan disebut langsung melotot dramatis, melesat cepat menuruni tangga dengan wajah posesif kating siaga satu yang seketika meroket ke level maksimal. "Hah?! Apa?! Reyhan berani bener modusin adek gue jam sebelas malam di pinggir kolam renang?! Wah, fiks, protokol pengawasan jarak aman satu meter gue resmi kebobolan lewat jalur air malam.

Mendengar laporan dari Kak Febi tentang keberadaan Aurel dan Reyhan di bawah, Bang Edward tidak mampu lagi membendung luapan emosinya. Seluruh urat protektif sebagai kating siaga satu seketika bergejolak penuh. Dengan langkah lebar yang diusahakan senyap, ia melesat cepat keluar melewati pintu kaca lobi belakang, mengabaikan seruan tertahan dari Kak Anita yang berusaha menahannya dari belakang.

Edward memosisikan dirinya di balik pilar batu besar yang tertutup tanaman rambat, tepat beberapa meter di dekat dek kayu kolam renang yang temaram. Niat awalnya adalah menyergap dan menghentikan sabotase jarak aman satu meter yang dilakukan Reyhan. Namun, begitu langkah kakinya terhenti di persembunyian, untaian kalimat yang meluncur dari arah kursi panjang seketika mengunci seluruh pergerakannya.

Suasana malam yang sunyi berpadu dengan deburan ombak pantai Seminyak membuat setiap bait kata terdengar teramat jelas di telinga Edward.

"Mencintai lo buat gue bukan berarti gue harus memaksakan hati lo untuk berbalik arah secepat itu, Rel," suara berat Reyhan terdengar begitu tenang, lempeng, sekaligus sarat akan ketulusan yang luar biasa dalam. "Gue fiks siap bersabar. Gue murni bakal tetep tinggal jadi partner terbaik yang selalu pasang badan jagain lo diam-diam di Bali ini. Gue tahu... gue tahu betul isi hati lo yang sebenarnya masih terkunci rapat di dalam labirin buntu bersama Bang Edward. Gue juga tahu rasa sakit lo pas lihat kano mereka kemarin sore."

Deg.

Mendengar namanya disebut dalam konteks yang begitu asing, jantung Edward seketika melompat kaku di dalam dadanya. Sepasang mata elangnya membelalak sempurna di balik bayangan pilar. Seluruh udara di paru-parunya seakan tersedak habis.

Sebelum Edward sempat mencerna keterkejutannya, sebuah suara tangisan yang teramat pelan namun sarat akan luka mendalam pecah membelah kesunyian malam.

Aurel menundukkan kepalanya dalam-dalam di samping Reyhan. Bahu gadis itu berguncang hebat, menumpahkan seluruh pasokan rasa sesak, cemburu, dan perih yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat di balik topeng cerianya. Aurel menangis pilu, meluapkan rahasia getir hatinya yang teramat menyiksa.

"Gue... gue nggak tahu harus gimana, Rey," isak Aurel terbata-bata dengan suara yang teramat serak dan menyayat hati, membiarkan air matanya luruh di balik telapak tangannya. "Sakit banget rasanya setiap kali denger Bang Edward panggil Kak Anita dengan sebutan 'Sayang' dalam jarak sedekat itu. Gue tahu posisinya kejam banget... gue selamanya cuma terkunci jadi adik kecil yang paling dia sayang, nggak akan pernah ada ruang asmara buat gue di hidupnya, Rey. Tapi kenapa... kenapa melupakan dia rasanya sesulit ini?"

Di balik pilar persembunyiannya, Bang Edward yang mendengar hal itu sangat terkejut, dan seketika itu juga perasaannya berubah menjadi tak karuan. Wajah tampannya mendadak berubah pucat pasi. Seluruh tubuhnya menegang kaku bak dihantam badai petir di malam hari. Pusaran emosi yang teramat rumit—antara rasa tidak percaya, bersalah yang teramat besar, syok massal, hingga getaran asing yang mendadak mengiris ulu hatinya—bergulung menjadi satu pusaran yang membingungkan jiwanya.

Selama belasan tahun menjaga Aurel sejak balita, Edward selalu berpikir bahwa segala keposesifannya dan perhatian manisnya murni diterima Aurel sebagai bentuk kasih sayang kakak-adik. Ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa di balik tawa cempreng dan wajah salah tingkah adiknya selama ini, ada labirin buntu penuh luka dan air mata pilu yang ia ciptakan sendiri tanpa sadar. Kenyataan ini menampar harga diri dan logikanya dengan teramat keras.

Edward menyandarkan punggung tegapnya ke dinding pilar dengan napas yang memburu berat, menatap kosong ke langit malam Bali yang mendadak terasa begitu pekat. Di depannya, ia bisa melihat dari kejauhan bagaimana Reyhan dengan segala kedewasaan dan samudera kesabarannya perlahan mengulurkan tangan, menepuk lembut pundak Aurel demi menenangkan tangis pilu gadis itu tanpa memanfaatkan situasi.

Malam itu, di bawah temaramnya lampu taman vila Bali, rahasia terbesar cinta sepihak Aurel resmi meledak di hadapan Edward dengan cara yang paling menyakitkan. Sang kapten keamanan dinasti keluarga besar kini terenyak kaku dalam persembunyiannya, menyadari bahwa lembaran hidup mereka setelah malam ini tidak akan pernah bisa berjalan sama lagi.

Beberapa menit setelah tamparan realitas itu menghantam hulu hatinya, Bang Edward melangkah mundur secara perlahan. Gerakan kakinya yang biasa tegap kini terasa sangat berat dan goyah di atas lantai kayu koridor luar. Ia berjalan menjauhi area kolam renang dengan kepala yang tertunduk dalam. Tangisan pilu Aurel dan kalimat tenang dari Reyhan masih bergaung hebat, merobek seluruh logika yang ia bangun selama belasan tahun ini.

Klek.

Edward membuka pintu kamar lantai atasnya dengan pelan. Begitu melangkah masuk, sosok Kak Anita yang sedang duduk di tepi tempat tidur sembari merapikan draf novelnya langsung mendongak. Senior perempuan itu sudah bersiap mendengarkan omelan posesif atau laporan heboh kekasihnya tentang radius jarak aman satu meter.

Namun, begitu sepasang mata Kak Anita menangkap figur Edward, kalimatnya seketika tertahan di tenggorokan.

Wajah tampan Edward tampak pucat pasi, pandangan matanya kosong, dan pembawaannya luar biasa linglung. Tidak ada gurat kemarahan yang berapi-api, tidak ada gerutuan protektif, dan tidak ada lagi omelan posesif yang biasanya langsung meledak dari bibirnya. Edward hanya berjalan kaku, lalu mendudukkan dirinya di sofa tunggal pojok kamar sembari menopang jidatnya yang mendadak terasa pening.

Kening Kak Anita berkerut rapat, diliputi kebingungan yang teramat sangat melihat perubahan drastis kekasihnya. Ia meletakkan bukunya, lalu berjalan mendekat dan berlutut di hadapan Edward, menyentuh lembut lengan tegap pria itu.

"Edward? Kamu kenapa? Kok mukanya pucat banget dan lemas begini?" tanya Kak Anita dengan nada suara yang teramat lembut, sarat akan rasa khawatir yang murni. "Kamu habis berantem sama Reyhan di bawah? Kok tumben kamu nggak ngomel-ngomel posesif lagi soal Aurel?"

Mendengar rentetan pertanyaan cemas dari kekasih resminya—wanita yang namanya baru saja disebut Aurel sebagai sumber rasa cemburu yang menyiksa—dada Edward seketika terasa semakin sesak, seperti dihantam oleh ombak raksasa yang dingin. Pusaran rasa bersalah yang teramat besar dan getaran asing yang membingungkan jiwanya bergulung hebat di dalam hatinya, membuat perasaannya bener-bener tak karuan di dalam kamar sunyi itu.

Edward menarik napas panjang secara perlahan, mengembuskannya lambat demi menata kekacauan batinnya yang hampir pecah. Demi melindungi rahasia getir cinta sepihak Aurel agar tidak merusak dinasti kebahagiaan keluarga besar mereka malam ini, Edward terpaksa menjawab Kak Anita dengan berbohong.

"E-eh... enggak apa-apa kok, Sayang," sahut Edward terbata-bata dengan nada suara baritonnya yang mendadak terdengar sangat parau, dipaksakan serendah mungkin. Ia mencoba menyunggingkan sebuah senyuman kaku yang gagal total di depan kekasihnya. "Tadi di bawah... Aurel ternyata murni lagi membahas materi rumus kuliah statistik sosial jilid dua bersama Reyhan dengan sangat serius. Mereka berdua lagi sinkronisasi data draf bab empat Pak Baskoro buat pasca-liburan Bali nanti. Makanya gue nggak mau ganggu ataupun ngomel posesif lagi, murni karena mereka lagi fokus belajar, Sayang."

Kak Anita tertegun sejenak, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Edward, mencoba mencari sisa kejujuran di balik kebohongan taktis kekasihnya. Meskipun merasa ada sesuatu yang teramat aneh karena seorang Edward tidak akan pernah selemas ini hanya karena draf rumus kuliah, Kak Anita akhirnya mengembuskan napas panjang dan mengelus lembut rambut Edward dengan penuh kasih sayang. "Oalah... syukurlah kalau mereka cuma belajar. Kamu itu makanya jangan terlalu tegang pengawasannya. Ya sudah, sekarang kamu bersih-bersih terus langsung tidur ya, mukanya capek banget gitu."

"Iya, Sayang," bisik Edward lirih, membiarkan Kak Anita kembali ke atas tempat tidur.

Edward perlahan menyandarkan punggung tegapnya ke sandaran sofa, memejamkan matanya rapat-rapat dalam kegelapan kamar yang temaram malam itu. Kebohongan instannya malam ini terbukti sukses menyelamatkan situasi, namun di dalam hulu hatinya yang terdalam, draf hidupnya telah resmi berubah total. Sang kapten keamanan dinasti keluarga besar kini terenyak kaku dalam keheningan malam Bali, menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa menatap mata Aurel dengan cara yang sama lagi pada esok hari.

Malam semakin larut, dan keheningan di dalam kamar lantai atas itu terasa begitu mencekam bagi Edward. Di sampingnya, Kak Anita sudah terlelap dengan napas yang teratur, menyisakan Edward yang masih terjaga dalam kegelapan yang temaram.

Setiap kali ia memejamkan mata, suara tangisan pilu Aurel di tepi kolam renang tadi kembali terngiang, merobek lubuk hatinya dengan teramat kejam. Kata demi kata yang diucapkan adik kecilnya itu terus berputar, membedah ulang seluruh memori belasan tahun kebersamaan mereka.

"Sakit banget rasanya setiap kali denger Bang Edward panggil Kak Anita dengan sebutan 'Sayang' dalam jarak sedekat itu..."

Mengingat kalimat itu, dada Edward seketika terasa begitu sesak, seolah pasokan udara di sekitarnya menguap habis. Air mata yang sejak tadi ditahannya di depan Kak Anita akhirnya luruh juga. Di dalam kesunyian kamar itu, Bang Edward diam-diam menangis. Bahu tegap yang biasanya berdiri kokoh sebagai pelindung dinasti keluarga kini terguncang hebat dalam diam. Ia membekap mulutnya sendiri dengan punggung tangan, meredam isak tangisnya sekuat tenaga agar tidak membangunkan kekasihnya.

Edward menangis pilu karena ia baru menyadari betapa besarnya luka yang tanpa sengaja ia goreskan di hati Aurel selama ini. Seluruh sikap protektif, perhatian manis, dan aturan posesif "jarak aman satu meter" yang selalu ia dengungkan di kampus, murni ia lakukan karena ia sangat menyayangi Aurel sebagai adiknya. Baginya, Aurel adalah bocil berharga yang harus ia jaga dari segala hal buruk di dunia ini. Saking sayangnya, ia selalu ingin berada di dekat gadis itu.

Namun malam ini, kenyataan justru menamparnya dengan begitu telak. Segala bentuk kasih sayang seorang abang yang ia berikan selama ini—mulai dari memotongkan daging iga bakar semalam, membetulkan letak topi, hingga memeluknya di atas motor—ternyata justru menjadi pisau bermata dua yang memicu pusaran kecemburuan dan rasa sakit yang luar biasa dalam bagi Aurel. Setiap perhatiannya ternyata justru memupuk harapan semu di hati adiknya, yang kemudian hancur berkeping-keping setiap kali melihat kemesraannya bersama Kak Anita.

Maafin gue, Rel... batin Edward hancur, air matanya kian deras membasahi pipi. Gue nggak pernah bermaksud bikin lo nangis sepilu ini. Gue posesif karena gue sayang banget sama lo sebagai adek gue, tapi ternyata gue malah jadi sumber rasa sakit lo.

Pikiran Edward terasa begitu kusut dan tak karuan. Ada rasa bersalah yang teramat besar dan getaran asing yang berkecamuk hebat di hulu hatinya. Ia merasa menjadi abang yang paling gagal di dunia karena tidak pernah peka pada air mata tersembunyi di balik topeng ceria Aurel selama ini. Di seberang lorong, ia tahu ada Reyhan yang dengan samudera kesabarannya siap menjadi oase baru bagi luka Aurel. Namun malam ini, di bawah sunyinya langit Bali, Edward hanya bisa mendekap rasa penyesalannya rapat-rapat dalam persembunyian malam, bersiap menghadapi esok pagi dengan beban rahasia yang teramat berat di lembaran hidup mereka.

Di dalam kamar nomor 204 yang kembali sunyi, Aurel masih berbaring telentang menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berkecamuk. Di balik kehangatan selimut tebalnya, ada sekelebat intuisi aneh yang mendadak melintasi benaknya.

Aurel mengerutkan keningnya rapat-rapat. Ia mencoba meyakinkan diri untuk jangan mengingat kejadian di kolam tadi. Namun, anehnya, ada perasaan janggal yang terus mengusik batinnya. Rasanya seperti ada seseorang yang sedang mengintip mereka di balik kegelapan halaman kolam renang tadi, atau... apakah itu hanya perasaannya saja?Mengingat posisi pilar-pilar batu vila yang besar dan rimbun, bisa saja ada seseorang yang tidak sengaja berdiri di sana. Jantung Aurel mendadak kembali berdegup kaku menahan cemas jika rahasia tangisan pilunya terendus oleh orang lain.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan yang cukup konstan pada daun pintu utama kamarnya seketika membuyarkan seluruh lamunan mistis Aurel. Ia refleks tersentak pelan di atas kasur, lalu buru-buru merapikan piama satinnya.

"Siapa?" tanya Aurel sedikit setengah berbisik demi memastikan situasi aman.

"Rel! Ini gue, Shirin! Buka dong!" sahut sebuah suara cempreng nan familier dari balik pintu.

Mendengar nama sahabat karibnya disebut, ketegangan di pundak Aurel seketika meluruh sepenuhnya. Ia bergegas turun dari tempat tidur, melangkah cepat membuka slot kunci pintu kamar. Begitu pintu berayun terbuka, sosok Shirin langsung menyelinap masuk ke dalam dengan wajah yang sarat akan kehebohan maba yang teramat kentara.

"Astaga, Aurel! Lo belum tidur, kan?!" berondong Shirin langsung menutup kembali pintu kamar dengan gerakan taktis, lalu menarik lengan sweater longgar Aurel menuju tepi kasur. "Gue beneran nggak bisa merem di kamar sebelah, Rel! Otak maba gue masih loading kuadrat memikirkan drama kolam renang lo bareng Reyhan yang baru aja diledakkan sama Kak Febi depan nyokap kita di bawah tadi!"

Wajah Aurel dalam hitungan detik langsung kembali berubah menjadi merah padam sempurna akibat salah tingkah gila-gilaan karena rahasia malamnya diungkit kembali. "Shirin! Pelanin suara lo! Ini udah larut malam tahu nggak! Lagian... lagian lo kenapa harus seheboh ini sih, kan tadi lo sendiri yang nyariin gue karena gue nggak ada di kamar!"

Shirin justru menyengir lebar tanpa dosa, langsung duduk bersila di atas kasur empuk sahabatnya. Di tengah riuhnya suasana vila Bali malam itu, kedatangan Shirin terbukti selalu menjadi oase penenang yang instan bagi kekacauan pikiran Aurel. Namun, baik Aurel maupun Shirin sama sekali tidak pernah menyadari bahwa beberapa meter di koridor sebelah kiri, Bang Edward sedang mendekap rasa penyesalannya yang teramat dalam setelah air matanya luruh mendengar rahasia mereka dari balik persembunyian pilar kolam renang tadi.

Di tengah-tengah kepanikan Aurel yang sedang berusaha meredam suara cempreng Shirin di atas kasur, sebuah ketukan mendadak terdengar lagi. Namun kali ini, bunyinya bukan dari pintu depan, melainkan bersumber dari pintu kaca balkon luar.

Tok! Tok! Tok!

Aurel dan Shirin serempak menegang kaku di tempat. Mereka saling bertukar pandang dengan mata membelalak panik. Firasat Aurel langsung tidak enak. Apakah bayangan misterius yang mengintip di kolam renang tadi sekarang benar-benar mendatangi balkon kamarnya?

Dengan langkah super pelan dan hati-hati, Shirin bangkit berdiri lalu berjalan mendekati gorden tipis yang menutupi pintu kaca. Begitu gorden disingkap sedikit, ketegangan di wajah Shirin seketika runtuh, berganti dengan decakan jengkel yang teramat dalam.

Di balik kaca, di bawah temaramnya lampu balkon luar yang menyatu, sosok Gino sedang berdiri tegap mengenakan celana pendek santainya. Di tangan cowok buaya premium itu, sebuah garpu plastik kosong masih dipegangnya entah untuk apa. Begitu melihat Shirin membuka gorden, Gino langsung menyengir lebar tanpa dosa, memamerkan deretan gigi putihnya yang sangat menyebalkan.

Shirin buru-buru menggeser pintu kaca tersebut dengan sentakan kesal. "Gino! Lo ngapain sih kelayapan di balkon kamar orang jam segini?! Udah kayak hantu kompleks nyasar tahu nggak!"

Gino tidak memedulikan semprotan Shirin. Dengan santai, ia melongokkan kepalanya melompati pembatas, menatap lurus ke arah Aurel yang masih duduk kaku di atas tempat tidur dengan piama satinnya.

"Yaelah, Rin. Suara cempreng lo dari kamar sebelah itu frekuensinya tembus sampai ke draf mimpi tidur gue, tahu nggak!" seloroh Gino heboh, langsung memulai serangan ledekan mautnya yang sudah di ujung tanduk sejak mendengar laporan Kak Febi di bawah tadi.

Gino mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Aurel dengan binar mata yang sarat akan gosip maba tingkat tinggi. "Waduh, waduh, Aurel... lo diam-diam gercep bener ya jalur bawah tanahnya! Muka lo dari tadi siang diledakkan rencana jodoh sama Daddy Wira di pantai, eh... larut malam begini lo langsung mengeksekusi draf investigasi asmara berduaan romantis bareng Reyhan di pinggir kolam renang! Gila, gila, Pangeran Denim kita taktis bener pergerakan senyapnya pas Kapten Edward lagi tidur!"

"Ginooo! Mulut lo bisa dikecilin dikit nggak sih, bumbu dapur!" semprot Aurel salah tingkah tingkat tinggi. Wajahnya yang sempat memucat karena panik, dalam hitungan detik langsung kembali berubah menjadi merah padam sempurna hingga ke hulu telinga karena tidak kuat menahan gempuran ledekan dari rekan konspirasinya sendiri.

"Hahaha! Nggak usah ditarik itu selimut sampai hidung, Rel, pipi lo udah matang kelihatan jelas dari sini!" kekeh Gino luar biasa puas melihat efek domino dari ledekannya, sengaja memutar-mutar garpu plastiknya dengan gaya menyebalkan. "Tenang aja, sebagai sahabat se-perjuangan draf Pak Baskoro yang setia, rahasia jalur udara kolam renang lo berdua malam ini aman di bawah kendali gue. Gue nggak akan bocorin ke radar intel siaga satu... asal besok pagi gue dapet traktiran gelato Bali rasa cookies and cream dari lo!"

"Gino, buruan balik ke kamar lo sebelum gue getok pake gantungan baju ya!" sela Shirin gemas, langsung mendorong tegap bahu Gino agar mundur kembali ke area balkon nomor 206 miliknya.

Sreeet! Shirin kembali menutup rapat pintu kaca balkon dan menguncinya dari dalam, meninggalkan Gino yang masih terkekeh-kekeh puas di balik kaca sebelum akhirnya melangkah masuk ke kamarnya sendiri.

Di dalam kamar nomor 204 yang kembali sunyi, Aurel menjatuhkan kembali tubuhnya ke atas kasur dengan helaan napas panjang yang campur aduk. Rasa salah tingkah kuadrat akibat ledekan Gino barusan perlahan berhasil melarutkan sisa ketakutan intuisinya tentang "orang yang mengintip" di kolam renang tadi. Namun, baik Aurel, Shirin, maupun Gino sama sekali tidak pernah menyadari bahwa di balik dinding koridor sebelah kiri, Bang Edward sedang mendekap rasa penyesalannya yang teramat hancur dalam persembunyian malam, setelah air matanya luruh mendengar seluruh rahasia tangisan pilu adiknya yang teramat menyayat hati.

1
falea sezi
😒 heran liat Edward ini serakah
falea sezi
kenapa aurel di buat murahan sih😒 buat. move on donk🤣
falea sezi
aurel. move on pergi jauh lagh kuliah pindahan ja bodoh bgt km ini🤣
falea sezi
cewek gatel aurel🤣 kayak gka ada cwek. lain aja
falea sezi
aurel g tau malu🤣 di tolak lu ngarep move on neng maaf g suka cwek menye ngemis ngemis cinta😒
falea sezi
🤣🤣 Reyhan maju reyy q dukung jangan hiraukan Edward di vampir sok ngatur
falea sezi
🤣 Edward saudara bukan kok ngatur uda urus aja pcr tercinta lu ngapain. ngurus aurel😒 biar aurel pergi jauh aja minimal. keluar negri gt cwek. kok menye
falea sezi
kenapa malah bahas figuran peran utama siapa aneh author nya🤣
falea sezi
mending pindah tempat kuliah aja aurel yg jauh 😒 biar gk sakit hati
my queen 👸: makasih sarannya kk ❤️🙏
total 1 replies
falea sezi
move on donk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!