Genre: Fantasi Modern, Romantis-Komedi, Isekai
Elia said : Gue boleh jadi antagonis, tapi minimal tetep punya akhlak lah ya!
Gimana jadinya kalau seorang gadis Gen Z super santuy bernama Elia tiba-tiba terbangun di dalam dunia webnovel romansa klise yang sering dia baca? Alih-alih jadi tokoh utama yang disayang semua orang, Elia malah apes tingkat dewa: dia masuk ke tubuh si villainess (tokoh jahat) yang punya nasib tragis dan bakal mati mengenaskan di pertengahan cerita!
Novel itu berjudul "Gadis Desa dan Sang Taipan" sebuah kisah cinta menye-menye tentang gadis kampung polos yang dicintai setengah mati oleh seorang taipan muda nan kaya raya. Masalahnya, si taipan kaya ini adalah tunangan Elia di dunia tersebut. Berdasarkan alur asli, Elia harusnya mati karena terlalu bucin dan terobsesi merusak hubungan mereka.
"Yang bener aja?! Masak gue harus jadi villain? Mana mati di tengah cerita lagi. Sial banget!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Kehidupan Baru dan Garis Takdir
~ HAPPY READING ~
|
Di kediaman megah keluarga Lauren, para pelayan tengah dibuat pusing oleh aksi protes Helena yang tak seperti biasanya.
"Nona Helena—"
"Stop! Jangan ikutin gue!" potong Elia cepat.
Sudah seminggu ini Elia berusaha menahan diri dan membiasakan hidup sebagai Helena. Namun, tetap saja ada beberapa hal yang membuatnya sangat risih. Salah satunya adalah saat mandi, para pelayan selalu ikut masuk ke dalam kamar mandi karena Helena yang asli memang terbiasa dilayani dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Bagi Elia yang mandiri, hal itu jelas membuatnya sangat riyuh.
"Mulai sekarang, kalian gak perlu bantuin gue mandi dan pakai baju. Gue bisa sendiri! Kecuali kalau gue lagi pakai gaun yang resletingnya di belakang dan tangan gue gak nyampe, nah baru kalian boleh bantuin," ujar Elia dengan nada sedikit tinggi. Ia benar-benar sudah tidak tahan dengan full service ala bangsawan ini.
"Tapi Nona... biasanya Anda—"
"Itu dulu pas gue masih belum normal. Sekarang gue udah normal!" pangkas Elia tegas.
"Tapi kan, Nona..."
"Aduh, kebanyakan 'tapi' deh kalian! Satu, dua, tiga, empat, lima... keluar! Dua orang aja yang tinggal!" ujar Elia sambil menunjuk para pelayan.
"Gak bisa, Nona..." bantah pelayan itu cemas.
"Bisa...!" seru Elia tak mau kalah.
"Ada apa ini? Suara kamu sampai terdengar ke bawah, Hel," potong sebuah suara lembut.
Meilin tiba-tiba muncul di ambang pintu. Elia yang melihat kedatangan kakaknya langsung berjalan mendekat. Sikapnya mendadak berubah manja dan lembut demi membujuk sang kakak.
"Kak... Aku kan udah besar. Bisa mandi sendiri, bisa pakai baju sendiri. Mereka gak perlu ikut masuk ke kamar mandi. Risih tau, masa orang mandi diliatin?" adu Elia sambil memasang raut wajah memelas.
Meilin terkekeh pelan. "Kamu ini... bukannya dulu kamu sendiri yang minta dilayani seperti ini?"
Elia mengerucutkan bibirnya. "Itu kan dulu, Kak, bukan sekarang! Please... pelayan-pelayan ini keras kepala sekali, mereka gak mau dengerin kata-kataku," rengek Elia berusaha menahan emosinya.
"Karena mereka hanya mendengarkan perintah Ayah dan Ibu," sahut Meilin lembut.
"Tapi kan kita juga anak Ayah dan Ibu, Kak!"
"Sudah, sudah... Jangan cemberut gitu," lerai Meilin diiringi senyuman manis. Ia lalu menatap para pelayan. "Kalian berlima boleh pergi, cukup dua orang saja yang tinggal di sini. Ikuti apa kata Helena."
"Baik, Nona Besar," patuh para pelayan itu. Mereka segera mengundurkan diri dan menyisakan dua orang saja.
Elia melipat dadanya sambil mendengus. "Curang! Giliran Kakak yang bicara mereka langsung nurut. Eh, giliran aku, malah 'maaf Nona Muda, maaf Nona Muda'... kebanyakan maafnya!" keluh Elia.
Meilin menatap adiknya dengan tatapan hangat. ‘Adikku benar-benar berubah. Setidaknya kini pikirannya tidak lagi dipenuhi oleh Arton,’ batin Meilin lega.
"Nah Kak, sekarang dua pelayan ini bisa suruh tunggu di depan pintu kamar aja gak? Tapi kalau Kakak, boleh deh tinggal di dalam kamarku, hehehe," bujuk Elia cengengesan.
"Kalian berdua, tunggu di luar," perintah Meilin pada dua pelayan yang tersisa.
Setelah pintu tertutup rapat, Elia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk dengan lega. "Hah... kalau dari tadi kayak gini kan beres!"
"Hel, rambutmu masih basah. Dikeringkan dulu, sini biar Kakak bantu," panggil Meilin.
"Serius?" Elia langsung bangkit dan duduk manis di depan meja rias.
‘Dulu di dunia itu gue gak punya saudara... Sekarang gue punya kakak sebaik ini,’ batin Elia bercampur haru dan senang.
Saat jemari Meilin menyisir rambut adiknya, ia mengernyit pelan. "Hel, sejak kapan kamu suka warna biru?" tanyanya saat melihat beberapa helai rambut adiknya kini diwarnai highlight biru, padahal seingatnya Helena sangat menyukai warna merah muda.
"Sejak aku mau move on dari Arton," jawab Elia santai.
Meilin tertegun. "Move on?"
"Iya... Setelah dipikir-pikir lagi, aku gak bakal bahagia kalau tunangan sama Arton. Hatinya udah milik gadis lain, sedangkan cintaku cuma bertepuk sebelah tangan. Aku gak mau sakit hati seumur hidup, Kak. Menurutku, lebih baik dicintai daripada mencintai. Tapi ya entahlah, itu baru kalimat penyemangat aja sih," jawab Elia berbohong halus.
"Lalu... bagaimana dengan pertunangan kalian?" tanya Meilin penasaran.
"Arton udah kasih aku uang satu triliun untuk pembatalan pertunangan itu. Jadi soal pengumumannya, aku serahkan semuanya ke Arton."
"Satu triliun? Kamu membatalkannya demi satu—"
"Bukan demi satu triliun, Kak," potong Elia cepat. "Tapi demi masa depan. Uang satu triliun itu cuma kompensasi buat rasa sakit hatiku selama ini."
Meilin menghela napas panjang lalu tersenyum haru. "Huh... kalau itu memang yang terbaik untukmu, nanti Kakak yang akan bicara sama Ayah dan Ibu. Kamu gak usah takut, Hel. Kamu punya Kakak, Ayah, dan Ibu. Kami keluarga kamu, dan kami yang akan jadi garda terdepan untukmu."
Mendengar itu, mata Elia berkaca-kaca. Tanpa ragu, ia langsung berbalik dan memeluk Meilin erat-erat.
‘Helena... kamu punya kakak sebaik ini, tapi kenapa bisa-bisanya dulu milih merenggang dari keluarga cuma demi mengejar cowok yang hatinya udah milik orang lain? Bodohnya gak ketulungan!’ batin Elia gemas menyayangkan sifat asli pemilik tubuh ini.
Waktu bergulir cepat. Pukul dua siang, atmosfer Kota A mulai dipenuhi keramaian sore.
Leila yang baru tiba di pusat kota sibuk berjalan menyusuri trotoar, mendatangi satu tempat ke tempat lain untuk mencari pekerjaan. Namun hasilnya nihil. Hampir seluruh lowongan kerja membutuhkan lulusan minimal S1, sedangkan Leila hanya mengantongi ijazah SMA.
"Ternyata sulit juga mencari pekerjaan di kota..." gumam Leila pelan.
Sambil menggendong tas lusuhnya, Leila terus melangkah tanpa arah. Selain pekerjaan, ia juga harus memikirkan tempat tinggal sementara.
Tiba-tiba, dari arah belakang, sebuah mobil sedan hitam mewah melesat melewati jalan raya di sampingnya.
DEG...!
Langkah Leila terhenti seketika. Ia memegangi dadanya yang mendadak terasa sesak dan tidak nyaman.
Di saat yang bersamaan, di dalam mobil sedan mewah tersebut, Arton yang duduk di kursi belakang refleks menoleh ke jendela. Jantungnya berdebar kencang. Bayangan wajah Leila nama yang berusaha ia kubur selama lima tahun terakhir mendadak memenuhi benaknya.
"Tuan..." panggil Liel, sekretaris Arton yang duduk di samping kemudi. "Anda tampak tidak sehat. Ada yang salah?"
Arton memejamkan mata, menguasai dirinya kembali. "Bukan apa-apa. Bagaimana persiapan acara ulang tahun Kakek? Apakah sudah selesai?"
Malam ini adalah pesta ulang tahun kakek Arton yang megah, dan Arton sendiri yang memegang kendali penuh atas penyelenggaraannya.
"Sudah selesai semua, Tuan. Segalanya berjalan sesuai rencana," jawab Liel profesional.
"Bagus," gumam Arton singkat, lalu kembali menatap layar ponselnya meski pikirannya gundah.
Seakan benang takdir memang sengaja menarik mereka ke arah yang sama, tak jauh dari sana, langkah Leila terhenti di depan sebuah pengumuman.
Sebuah lowongan kerja mendadak dibutuhkan untuk menjadi pelayan tambahan di Hotel Azure hotel megah paling terkenal di seluruh kawasan Kota A. Kriterianya tidak menuntut ijazah sarjana.
Tanpa membuang waktu, Leila langsung mendaftar dan mengikuti proses wawancara singkat. Beruntung, ia langsung diterima bersama beberapa pekerja baru lainnya untuk langsung bertugas sore itu juga.
Di ruang belakang, kepala pelayan memberi pengarahan singkat kepada para pekerja baru. Leila mendengarkan dengan saksama. Dari taklimat tersebut, Leila baru mengetahui bahwa malam ini seluruh area hotel diboking khusus untuk merayakan ulang tahun kakek dari seorang pengusaha muda nan kaya raya.
Tanpa Leila sadari, takdir sedang membawanya masuk tepat ke dalam pusaran kehidupan pria yang berjanji ingin ia hindari.
Bersambung 🫰🏻🤗
Bab lima juga Mimin revisi ya guys 😁
kamu keren wuw ☺👍
hati2 ya kalian semua /Determined/