Keluarga suamiku merendahkanku setiap hari, aku di jadikan babu di rumah itu, rumahku sendiri. Tapi suamiku tak peduli, ia hanya bisa terus berselingkuh dengan wanita di Bar.
Satu malam, aku mabuk berat dan tidur dengan pria asing yang ku temui di parkiran, kami melakukannya di mobil.
"Ah...lakukan dengan pelan." Kataku, karena hanya itu yang bisa ku balas pada dunia yang menyakitiku.
Tapi aku tak tau, pria itu ternyata....ketua organisasi paling berbahaya di kota ini.
Sekarang aku terjebak
Antara pernikahan yang akan membunuhku pelan pelan, atau pria yang bisa membunuhku dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Clue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Berniat kabur
****
Setelah beberapa menit berlalu, Clare keluar dengan mata yang sembab, ia membawa koper berisi pakaiannya, Clare meraih ponsel, ia mengetik sebuah pesan.
Clare: "Na, temenin aku mencari mbok Lastri, sebelum aku bertemu dia, aku ingin tinggal di rumahmu." Pesannya
Pesan belum di baca, dua menit berlalu balasan pun muncul.
Nana: "memangnya mbok Lastri kemana?" Tanya Nana, pelan.
Clare: "Hans memecatnya, aku ingin minta dia kembali, tapi aku tak tau dia berada di mana!"
Nana: "bagaimana bisa! mbok Lastri sudah mengabdi kepada keluargamu sangat lama!" Balasnya, kesal.
Clare: "itu karna mbok Lastri membelaku, Hans kesal jadi dia memecatnya. Aku sudah membawa koper sekarang, aku ingin ke rumahmu!" Pesan sudah di baca namun tak ada balasan singkat apapun.
Nit... Nit... Tiba-tiba Nana menelpon.
"Hey, Clare!" Ujar Nana, ia menghela napas panjang, kesal.
"Mengapa?" Jawab Clare, suaranya serak, ia menuruni tangga di rumahnya.
"Kalau kamu pergi, mereka semua akan merasa senang, mereka berpikir bahwa mereka berhasil!" Jawabnya. "Tolong dengarkan. Kamu jangan membawa koper, itu rumahmu, mereka yang merampasnya darimu. Aku sudah janji akan membantumu mendapatkan nya kembali" Ujar Nana, geram.
"Tapi aku tidak berniat untuk menghilang selamanya, aku hanya pergi sementara!" Nana berhenti di satu anak tangga, berbicara serius di telepon.
"Stop! Clare, dengan kamu yang bertindak seperti ini, kamu akan—" Nana berhenti di tengah nadanya yang kesal. "Ouh Ayolah, kamu simpen lagi kopernya. Dan kita berangkat untuk mencari mbok Lastri, okey." Jawabnya, tenang.
"Okey" Clare menutup telepon, ia berbalik, menaiki tangga membawa kopernya yang berat.
Koper di simpen, Clare keluar hanya dengan tasnya. Ia berjalan melewati ruang tamu.
"Kemana lagi kamu!!" Ujar Hans, Clare berhenti sebentar, terus berjalan lagi.
"Inget ya Kaka ipar, kamu bukan lagi ratu di rumah ini, dan kalau mau terus tinggal ada syaratnya. Kamu harus melayani kami, haha!" Ujar Lena, mereka tertawa kecil, menertawakan Clare.
Clare tak memedulikannya, ia terus berjalan hingga sampai di pintu.
Singkat cerita, Clare sampai di apartemen Nana. Tok... Tok... Tok... Pintu terketuk pelan.
Nana membuka pintu, ia sudah bersiap, pakaiannya rapi.
"Ayo, aku sudah siap." Ujar Nana sembari menutup pintu dan menguncinya.
"Tapi, aku tak tau mbok Lastri dimana!" Ujar Clare, suaranya berat.
"Kamu tau tempat asal mbok Lastri di mana?" Tanya Nana, mereka berjalan bareng menuruni tangga.
Clare diam, memikirkan keras pertanyaan Nana.
"Dulu... Mbok Lastri pernah memberi tahuku, tapi itu waktu aku umur tujuh tahun, aku lupa"
Mereka berjalan ke parkiran, menaiki mobil Nana. Bump! Bump! Pintu mobil tertutup, Clare masih terus memikirkan tempat asal mbok Lastri. Mobil berjalan pelan tanpa tujuan, menelusuri jalan yang terlihat.
"Ouh... Aku ingat." Ujar Clare, riang.
"Apa? Diamana?" Jawab Nana, akhirnya setelah satu jam berkeliling tak jelas Clare mengingatnya.
"Mbok Lastri berasal dari desa yang bernama, desa Astana." Clare mengambil ponselnya, mencari Google maps. Dan mereka pun bergegas menuju desa itu. Desanya cukup dekat, mereka hanya menghabiskan waktu dua jam untuk sampai.
Di desa itu, Clare dan Nana sudah mencari mbok Lastri ke manapun, hampir seluruh orang di desa itu sudah mereka tanya namun tak satupun dari mereka yang mengenal mbok Lastri. Di desa itu hanya tersisa satu kampung lagi yang belum mereka datangi. Mereka pun mendatangi kampung itu yang menjadi satu-satunya lagi harapan. Nana dan Clare sudah sampai di kampung yang bernama kampung Cirani itu.
Mereka melihat ada sekumpulan ibu ibu sedang mengobrol, Clare menanyakan mbok Clare ke ibu itu.
"Permisi, maaf. Ibu kenal nenek ini tidak?" Ujar Clare sembari menunjukkan poto mbok Lastri.
"Ouh nek Lastri, semalem saya mendengar dia sudah pulang, malam tadi di rumahnya rame, tapi saya tidak tau ada apa!" Ujar ibunya, "kalo mau kesana, neng tinggal lurus aja, terus ada belokan, nah di situ rumahnya, langsung keliatan kok." Ibunya menunjuk ke jalan yang menuju rumah mbok Lastri.
"Baik Bu, terimakasih." Clare membungkuk, lalu ia bersama Nana pergi ke jalan itu. Jalannya licin, tanah basah nempel di heels mereka.
Setelah belok ke kiri, mereka menemukan sebuah rumah yang berjejer. Di satu rumah ada satu ibu ibu sedang merapikan halaman rumahnya. Clare dan Nana melangkah mendekati ibu itu.
"Maaf, buk. Saya mau bertanya. Apa ini tau dimana rumah mbok Lastri." Tanya Clare.
Ibu itu diam sejenak, matanya terlihat sedang berpikir sesuatu. "Rumah nya yang itu." Ibu itu menunjuk ke rumah paling depan. "Neng mau melayat yah?" Ujar ibu itu tiba-tiba.
Clare dan Nana terkejut, ia melirik ibunya lalu melirik rumah mbok Lastri.
"Maksudnya bagaimana buk?!" Ujar Nana, alisnya berkerut.
"Nek Lastri sudah meninggal tadi malam, dan juga sudah di makamkan, baru saja saya dan yang lainnya pulang mengantarkan beliau."
"Bagaimana ceritanya mbok Lastri bisa meninggal secara tiba-tiba." Tanya Clare panik.
"Semalam ada beberapa orang di jalan raya yang menemukan nek Lastri sudah terdampar di jalan dengan keadaan sudah tidak bernafas, mereka langsung mencari sesuatu yang bisa mereka kabarkan ke keluarganya tentang keadaan nek Lastri... Neng mau ke keluarganya, di rumah itu ada cucu nek Lastri, mau bertemu? mari saya anter." Ibu itu mengantar Clare dan Nana yang masih terkejut ke rumah mbok Lastri, Clare masih tak percaya dengan kepergian mbok Lastri yang secara tiba-tiba. Mata Clare berkaca-kaca saat mendengar orang yang sudah menemaninya dari bayi meninggal begitu saja.
Tok... Tok... Ibu itu mengetuk pintu rumah mbok Lastri, cucunya datang membukakan pintu.
"Neng Gendis, ada yang nyari nenek kamu!" Ibu itu menunjuk ke Clare dan Nana.
"Ya silahkan masuk neng, kalau begitu saya pergi." Ibu itu pergi.
Clare dan nana masuk.
"Silahkan duduk." Ujar Gendis. Mereka pun duduk.
"Kalian siapa ya?" Tanya Gendis.
"Nama Kamu Gendis?" Tanya Nana untuk memastikan, gendis mengangguk.
"Kami dari kota, tadinya kami ke sini ingin meminta mbok Lastri untuk kembali bekerja di sana, namun saya turut berdukacita atas kabar kepergian mbok Lastri." Jawab Nana, Clare hanya diam, ia tak bisa berbicara apapun.
"Jadi kamu majikan nenek saya." Ujarnya, ia menunjuk ke Nana.
"Bukan saya, tapi ini" jawab Nana sembari menunjuk ke Clare yang nangis.
"Kalau kalian kesini untuk meminta nenek saya bekerja kembali, mengapa kamu harus memecat nenek saya, kalau kamu tidak memecatnya mungkin nenek masih ada!" Gendis menunjuk Clare, ia berteriak.
"Jadi seperti ini gendis, yang memecat mbok Lastri bukanlah Clare, namun ia adalah suami dari Clare, dan kami kesini untuk memintanya kembali." Jawab Nana.
Clare mengangkat kepala. "Maaf, apa kamu bisa antar saya ke makam mbok Lastri." Ujar Clare. "Saya ingin bertemu dia untuk terakhir kalinya."
Gendis mengangguk, mereka semua keluar dari rumah menuju makam mbok Lastri.