Disebuah kerajaan bulan yang dihuni ribuan manusia Srigala. Disaat gerhana bulan merah, permaisuri Lira baru saja melahirkan seorang anak perempuan yang cantik namun tidak memiliki aura Srigala yang membuat sang Raja Argan harus membunuh anak kandungnya sendiri karena dianggap aib.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 005: Awal Mulai Pertarungan
Di halaman latihan istana yang luas, Elara melatih kemampuannya ditemani para prajurit pilihan Kerajaan Bulan Perak. Setiap ayunan tangannya dan setiap langkah kakinya dilatih sekuat tenaga, karena ia harus membuktikan kepada Raja Argan bahwa dialah pewaris sah yang pantas memimpin Klan Bulan Perak kelak.
Sementara itu di wilayah Klan de Luna, Boras pun tak tinggal diam. Ia sedang digembleng langsung oleh Seraphina dan Kaelan untuk mematangkan kemampuannya.
"Kalau kemampuanmu hanya sebatas itu, aku jamin kau akan kalah telak dari klan lain yang jauh lebih kuat," ucap Seraphina tegas sambil memperbaiki sikap kuda-kuda Boras.
"Cobalah bertarung tanpa mengandalkan wujud srigalamu sepenuhnya. Gunakanlah instingmu sebagai pemburu yang sesungguhnya."
Boras mengangguk mantap, lalu mencoba melawan serangan Kaelan persis seperti yang diajarkan. Perlahan namun pasti, gerakannya menjadi lebih lincah dan tak terduga, hingga nyaris ia mampu mengimbangi kekuatan prajurit terkuat klan itu sendiri.
"Akhirnya aku bisa melakukannya!" seru Boras penuh kegembiraan.
"Kau hebat, Boras. Teruslah berlatih," puji Kaelan sambil menepuk bahu Boras.
"Siap Tuan!" jawab Boras sambil menunduk hormat.
Tak hanya mereka, klan-klan lain di seluruh penjuru pun bersiap sebaik mungkin demi mengikuti sayembara bergengsi itu.
Hari pelaksanaan Sayembara Kerajaan Bulan Perak pun tiba. Satu demi satu perwakilan klan srigala terkuat datang memenuhi lapangan pertarungan. Di sudut yang agak sepi, Seraphina hadir didampingi Lira, sengaja tak berbaur dengan rombongan klannya, melainkan tetap setia berdiri di samping wanita itu.
Tetua Agung Balthazar berdiri di samping singgasana Raja Argan, lalu melambaikan tangan meminta perhatian semua orang. "Baiklah, pertandingan babak pertama akan segera dimulai! Siapakah yang ingin maju lebih dulu?"
"Aku yang akan memulainya!" seru seorang peserta dari Klan Cakar Emas.
"Siapakah yang berani menantangnya?" tanya Balthazar kembali.
"Aku!" sahut peserta dari Klan Sayap Badai.
Pertarungan sengit di tengah arena Kerajaan Bulan Perak, Klan Cakar Emas dengan aura api menekan lawan.
Puncak pertarungan, tiga jurus emas Klan Cakar Emas mengenai titik kelemahan Klan Sayap Badai.
Klan Sayap Badai jatuh berlutut, aura sayap birunya meredup, menandakan takluk.
Klan Cakar Emas berdiri tegak di tengah arena, memberi hormat ke arah Raja Argan yang duduk di singgasananya.
hingga tibalah giliran perwakilan dari Klan de Luna maju ke tengah arena, yaitu Boras. Dengan tenang ia menghadapi pemenang babak sebelumnya, dan sungguh mengejutkan semua orang, hanya dengan tiga jurus andalan, lawannya sudah jatuh tak berdaya.
Tak ada lagi peserta yang berani maju menantang, sebab semua sadar betapa hebatnya kekuatan yang dimiliki klan itu.
"Apakah tak ada lagi yang mau mencoba melawan perwakilan Klan de Luna? Jika tidak ada, maka Boras dinyatakan sebagai pemenang sementara!" seru Balthazar dengan suara lantang.
"Biarkan aku yang melawannya!"
Semua mata beralih menatap sosok besar yang melangkah masuk. Itulah Gorah dari Klan Cakar Badai.
"Sial, kenapa dia ikut campur? Itu sama sekali bukan tandingan Boras!" batin Seraphina merasa gelisah.
Raja Argan pun menatap tajam kedatangan Gorah. "Apa maksudmu, Gorah? Untuk apa kau datang ke tempat ini?"
"Bukankah sayembara ini terbuka untuk siapa saja? Jadi aku pun berhak ikut serta," jawab Gorah santai namun penuh tantangan.
Raja Argan menghela napas pasrah. "Baiklah, mulailah pertandingan."
Keduanya pun berhadapan. Pertarungan berlangsung sangat sengit. Boras berkali-kali menerima hantaman keras namun tetap bertahan tegak, begitu pula sebaliknya. Tanpa disadari Boras, Gorah mulai menyusun tenaga untuk jurus andalannya yang mematikan, Jurus Telapak Tangan Seribu Bayangan. Dalam sekejap serangan itu mendarat tepat di dada Boras, membuat tubuh Boras terpental jauh hingga memuntahkan darah segar.
"Pemenangnya adalah Gorah dari Klan Cakar Badai!" umumkan Balthazar.
Gorah tertawa sinis menatap ke arah singgasana. "Raja Argan, bagi kami orang-orang yang kau banggakan ini tak lebih dari sekadar sampah! Di mana sebenarnya kekuatan kerajaanmu yang kau puja-puja itu?" suaranya menggelegar memancing keheningan.
"Jika hari ini tak ada satu pun prajuritmu yang mampu menjatuhkanku, maka bersiaplah, takhta ini akan segera menjadi milik Tuanku Drakar!"
"Takhta itu takkan pernah jatuh ke tangan tuanmu! Sebab akulah yang akan membereskanmu sekarang juga!" Elara melangkah maju dengan penuh keangkuhan.
"Kalau begitu, tunjukkanlah apa kemampuanmu," tantang Gorah meremehkan.
"Nak, jangan nekad! Klan Cakar Badai terkenal sangat kejam dan tak kenal ampun," cegah Sari cemas.
"Tenang saja Bu, aku pasti bisa mengalahkannya. Sekaligus ini saatnya aku membuktikan kepada Ayah bahwa aku memang pantas menjadi pewarisnya," jawab Elara mantap dengan sorot mata penuh tekad.