Siapa sangka. Hidup bahagia bersama pria yang sangat dicintai Lala kandas begitu saja hingga akhirnya dia dijuluki sebagai pelakor. Kesabarannya telah habis hingga ia memutuskan menikah dengan pria lain. Sayangnya, Rama tidak membiarkan Lala bahagia. Dia terus mengusik hidup Lala karena baginya Lala adalah miliknya.
Bukan hanya itu saja. Pria yang dinikahi Lala juga memiliki segudang rahasia. Lala merasa frustasi melihat takdir hidupnya yang tidak pernah memihak kepadanya.
Akankah Lala bisa meraih kebahagiaan yang selama ini ia impikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisca Nasty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BP. Bab 6
Lala yang biasa mengantarkan Rama hingga ke depan pintu kini hanya berdiri di depan kamar. Ia justru segera masuk ke dalam kamar setelah Rama menghilang di balik pintu. Lala memandang tempat tidur dan segera berbaring di sana. Keinginannya untuk mandi ia tunda lebih dulu. Dengan cara ponsel, ia berharap rasa gundahnya hilang begitu saja.
“La, kemana aja sih!” Lala tersenyum melihat chat sahabatnya di WA. Ia segera membalasnya takut temen yang di sana marah setelah melihat centang biru.
“Pantai.”
“Sama Rama?” Lala tertegun beberapa saat. Ia tidak menyangka kalau kini temannya itu sedang ada di depan ponsel bukan sedang bekerja.
“Yups. Sama siapa lagi?” jawab Lala santai.
“Gila Lo! Dia udah nikah, La. Media akan bawa-bawa nama Lo sebagai pelakor jika sampai mereka tahu. Lo bisa viral dengan status yang buruk.”
“Gue tahu. Tapi, Mas Rama gak akan biarin semua itu terjadi.”
“La, mau sampai kapan lo percaya sama kata-kata Rama? Uda dech move on napa. Masih banyak pria di luar sana yang bisa nerima Lo apa adanya. Yang pasti akan ngebahagiain Lo lebih dari bahagia yang diberikan Rama ke Lo.”
Lala hanya diam membaca chat itu. Bukan bahagia ia justru kembali sakit hati membayangkan sikap Rama.
“La, sebaiknya lo masuk kerja lagi aja. Bos juga masih nerima Lo. Daripada lo diem di rumah kayak orang bego gitu.”
“Lo yakin gue masih di terima?” tanya Lala kurang yakin.
“Yaelah. Gak percaya amat sih. Beneran. Sebaiknya sekarang lo siap-siap terus datang ke restoran.”
“Ya udah. Gue mandi dulu.”
“Oke, sampai jumpa nanti.”
Lala meletakkan ponselnya kembali ke atas tempat tidur. “Kalau di pikir-pikir, untuk apa mikirin Mas Rama melulu. Sebaiknya aku kerja saja. Hitung-hitung bisa gosip sama Rena semalaman di resto.”
Lala beranjak dari tempat tidur dan segera berlari ke kamar mandi. Ia tidak mau terlambat datang ke tempat kerjanya. Walau memang bos mereka terkenal dengan sikapnya yang ramah dan sangat toleransi. Tetap saja Lala ingin tiba tepat waktu dan tidak terlambat.
***
Setibanya di restoran, Lala segera masuk ke ruangan ganti. Ia meletakkan tas dan mengambil pakaian karyawan yang sudah rapi di dalam lemari. Tiba-tiba saja pintu terbuka. Rena muncul dengan wajah tersenyum ramah. Ia sudah memakai pakaian dinasnya.
“La. lo lama kali sih! Pakaiannya masih muat ya," ledek Rena. "Bos bilang gak perlu izin. Kalau mau kerja ya tinggal kerja aja. Lo kan anak kesayangannya."
“Ini udah yang paling cepet,” protes Lala sambil mengancing kemeja putih yang baru saja ia pakai.
“Bos mau ngumumin sesuatu. Ayo kita ke sana. Entar kalau telat di marah lagi!”
“Iya iya.” Lala yang baru saja selesai memakai baju dinasnya segera bergegas pergi. Tangannya di tarik paksa oleh Rena. Mereka berdua berlari menuju sebuah ruangan yang sudah dipenuhi karyawan lainnya.
Melihat Lala kembali muncul membuat semua karyawan menatapnya dengan sinis. Karena memang bisa di bilang baru Rena dan Lala yang selalu mendapat perlakuan istimewa selama bekerja di restoran tersebut.
“Selamat malam.” Pria berusia sekitar 30 tahun yang menjadi pemilik resto itu memulai pidato singkatnya ketika karyawannya sudah kumpul. Ia memandang wajah Lala sekilas sebelum memandang ke arah karyawan yang lain.
“Malam ini saya ingin memberi tahu sebuah kabar penting. Kalau mulai malam ini, restoran bukan milik saya lagi!”
Kabar itu membuat semua karyawan kaget. Namun, reaksi mereka berbeda-beda. Ada yang senang ada juga yang sedih. Senangnya bagi karyawan yang tidak suka dengan pemimpin lama hingga berharap pemimpin yang baru jauh lebih asyik. Sedihnya, seperti Lala dan Rena. Mereka akan kesulitan menyesuaikan diri dengan atasan yang baru. Mengingat kelakuan mereka yang tidak disiplin.
“Bos, kenapa harus seperti ini?” ujar Rena tidak terima. "Bukannya resto kita baik-baik saja? Tetap ramai kok."
Pria itu tersenyum. “Soal itu tidak perlu saya sampaikan di sini. Yang terpenting, kalian masih bisa tetap bekerja dan mendapat gaji yang layak. Pemimpin yang baru masih muda. Sama seperti kalian. Semoga saja kalian bisa cocok dengan gaya kepemimpinannya," ujar pria itu berharap bawahannya bisa terima.
Tiba-tiba seorang pria muncul. Pria itu berbisik dengan pemilik resto. Pemilik Resto terlihat serius menanggapinya. “Oke, baiklah. Saya akan perkenalkan pemilik resto yang baru.”
Seorang pria berjas abu-abu muncul di dalam ruangan tersebut. Seperti apa yang sebelumnya dikatakan oleh pemilik resto yang lama, pemilik yang baru terlihat masih muda. Bahkan dapat nilai plus-plus karena wajahnya yang tampan dan berwibawa.
“Perkenalkan. Ini adalah Pak Robbi. Pemilik resto yang baru.”
Robbi memandang karyawan barunya dan tersenyum ramah. “Selamat malam. Senang bisa bertemu dengan kalian semua. Saya harap, kita bisa bekerja sama untuk memajukan resto kita ini.”
“Selamat malam, Pak,” jawab semua karyawan dengan kompak.
“Baiklah, cukup segini saja informasi singkatnya. Kalian boleh kembali bekerja.” Semua karyawan bubar dan kembali untuk melakukan pekerjaan mereka masing-masing.
“Ehm, Lala. Tetap di sini. Ada yang ingin saya bicarakan.”
Lala dan Rena yang tadinya juga mau keluar harus menahan langkah mereka. Melihat Lala di panggil, Rena memutuskan pergi sendirian meninggalkan ruangan tersebut.
“Kok saya yang di panggil?” gumam Lala dengan wajah keberatan.
“Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Lala dengan senyuman ramah.
“Sebagai karyawan terlama di resto ini. Saya harap kamu bisa membantu Pak Robbi mengenal resto kita.” Pemilik toko lama memandang wajah Pak Robbi. “Pak Robbi bisa tanya-tanya ke Lala jika ingin mengetahui resto ini lebih detail lagi. Karena saya harus pergi.”
“Baik, Pak.”
Saat dua pria itu berbincang singkat justru Lala hanya menunduk dengan wajah gugup. “Apa yang harus aku katakan? Bekerja saja tidak beres selama ini,” gumam Lala di dalam hati.
Robbi memandang Lala lalu tersenyum. "Perkenalkan. Nama saya Robbi," ucapnya sambil mengulurkan tangannya. "Saya ingin dipandang sebagai rekan bukan sebagai atasan."
Lala mengangkat kepalanya dan membalas senyum Robbi. "Saya Lala, Pak. Semoga bapak bisa memimpin resto ini hingga resto ini bisa lebih sukses lagi."
"Lala. Nama yang bagus. Bisa tunjukkan saya dimana ruang untuk saya?"
"Oh, bisa pak. Mari ikut saya," ajak Lala. Ia memandang ke depan sambil memikirkan Robbi yang kini mengikutinya di belakang. "Aneh memang. Tapi anggap saja ini keberuntungan," gumam Lala di dalam hati.
"Lala."
Lala menahan langkah kakinya tiba-tiba hingga membuat Robbi menabrak tubuh Lala.
"Maaf," ujar Robbi.
Lala hanya mengangguk dengan wajah takut. "Maafkan saya, Pak."
"Lala, apa sebelumnya kita pernah bertemu?"