"Peringatan Cerita ini mengandung unsur-unsur hal yang berbau +18"
[Bercerita tentang seorang pria bernama Zenaida Raizen, yang hidup di dunia yang telah hancur akibat konflik politik, persaingan teknologi, perebutan sumber daya air, kerusakan rantai makanan, dan rasisme antar bangsa manusia. Konflik tersebut memicu perang dunia keempat dengan senjata yang menggunakan sistem AI, rudal hipersonik, dan nuklir. Setelah perang besar yang mematikan berakhir, Zenaida Raizen menempati sebuah bunker dan diperintahkan oleh pemimpin tertinggi untuk mencari makanan dan obat-obatan. Setelah menerima perintah tersebut, dia dan anak buahnya memulai perjalanan ke dunia yang porak-poranda. Namun, nasib buruk menimpanya ketika dia bertemu dengan sekelompok bandit dan terbunuh dalam pertarungan, tertembak di kepalanya. Namun, setelah kematiannya, Zenaida Raizen dibangkitkan kembali dalam bentuk Ruh oleh penguasa seluruh alam semesta. Kemudian, Zenaida Raizen memulai petualangannya]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryan Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Planet Xemolon. Kekaisaran serigala, Warga menolak peperangan."
[Di Planet Xemolon, Benua Vortex bagian timur, kota Valve menjadi ibu kota Kekaisaran Serigala. Alun-alun pusat kota itu kini dipadati oleh kerumunan warga yang menggelar demonstrasi besar-besaran. Mereka membawa beragam poster bergambar dan tulisan, semuanya menyuarakan penolakan terhadap peperangan yang dikobarkan oleh sang kaisar."]
“Kami tidak menginginkan perang!” seru seorang wanita dengan nada kemarahan yang membara, matanya menyala seperti bara api. Tatapannya tajam, memancarkan keteguhan hati yang tak tergoyahkan."
"Kaisar, lebih baik menyejahterakan rakyat daripada menyerang negara lain," ujar seorang pria paruh baya dengan suara tegas, menghela napas panjang penuh keprihatinan. Raut wajahnya menunjukkan kekecewaan mendalam, seolah beban dunia terpikul di pundaknya."
"Hapuskan perbudakan! Cabut undang-undang hukuman mati bagi para budak," seru wanita paruh baya dengan wajah bersemangat dan penuh tekad, matanya berkilat menantang seperti elang yang siap menerkam."
“Lebih baik membangun infrastruktur bagi masyarakat miskin dan menengah. Kami membayar pajak, namun pembangunan hanya terpusat di daerah kalangan atas, para bangsawan, serta jenderal militer,” ujar pria muda dengan nada frustrasi yang nyaris meledak, tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Tatapannya berkilat, menahan amarah terpendam yang menggenang di dada."
"Wahai Kaisar, mohon dirikanlah lumbung pangan untuk mengakhiri kelaparan di kalangan masyarakat miskin. Kami menolak peperangan," ujar wanita muda dengan suara bergetar, air mata menggenang di sudut matanya. Raut wajahnya memancarkan keputusasaan sekaligus harapan yang rapuh, bibirnya sedikit gemetar saat mengucapkan kata-kata tersebut."
"Turunkan harga pangan dan naikkan gaji para pekerja," seru pria muda dengan tegas, suaranya menggetarkan udara. Raut wajahnya dipenuhi harapan yang membuncah, namun juga terselip keraguan. Matanya menatap lurus ke depan, penuh harap namun juga waspada."
"Turunkan semua pajak!" seru wanita paruh baya dengan penuh semangat. Suaranya lantang menuntut keadilan, menggema di seluruh penjuru alun-alun, seolah setiap kata adalah pukulan gong yang membangkitkan kesadaran."
[Saat warga berorasi menolak perang, pemimpin demonstrasi mengarahkan massa langsung menuju istana kaisar."]
"Ayo, mari kita bergerak menuju Istana Kekaisaran Serigala agar suara kita didengar langsung oleh Sang Kaisar!" seru pemimpin demonstran dengan lantang, wajahnya penuh determinasi dan semangat membara, tatapan matanya mengarah lurus ke depan dengan keyakinan penuh, dadanya membusung dengan teguh."
"Ya!" seru semua demonstran serempak, mengangkat kepalan tangan ke udara sambil berteriak lantang. Wajah mereka penuh semangat dan harapan, seolah api revolusi telah tersulut di hati mereka. Gelombang suara mereka bagai badai yang siap menerjang."
------------------
[Di Valve, ibu kota Kekaisaran Serigala, tepatnya di Istana Kekaisaran, seorang pria bernama Akmal Kamal Rio bergegas menuju ruang santai sang kaisar untuk melaporkan situasi terkini. Setibanya di sana, ia mengetuk pintu. Tak lama kemudian, terdengar suara dari baliknya.]
"Siapa di sana?" tanya sang kaisar dengan suara tegas, nada suaranya mengisyaratkan otoritas yang tak terbantahkan, membuat siapa pun yang mendengarnya berhenti sejenak. Dahinya sedikit berkerut, menandakan rasa ingin tahu sekaligus kewaspadaan."
[Akmal Kamal Rio segera menjawab dari balik pintu."]
"Yang Mulia, saya Akmal Kamal Rio, Menteri Militer," ucapnya dengan nada hormat, suaranya terdengar jelas dan tegas, setiap suku kata terucap dengan penuh kesungguhan. Suaranya mantap, mencerminkan kepatuhan dan keseriusan."
“Oh… Ternyata Akmal. Masuklah cepat,” ucap sang kaisar agak tergesa, memperlihatkan ketidaksabaran sekaligus kekhawatiran yang mulai merayap di wajahnya, seolah waktu adalah musuh yang paling ia takuti saat itu."
“Terima kasih, Yang Mulia. Saya masuk,” jawabnya penuh hormat sambil membuka pintu perlahan, tangannya sedikit gemetar menahan rasa gugup, jantungnya berdebar kencang di dalam dada."
[Saat Akmal Kamal Rio memasuki ruangan, ia melihat seorang wanita berusia delapan belas tahun berdiri di depan jendela, menatap langit biru. Rambutnya panjang berwarna putih, matanya biru jernih. Sebuah mahkota bertengger di kepalanya. Menyadari kehadiran tamu, ia menoleh, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya, senyum yang menyimpan misteri. Akmal Kamal Rio kemudian berlutut dan memberi hormat kepada kaisar di hadapannya, tubuhnya membungkuk dalam sebagai tanda penghormatan tertinggi, seolah menyembah sebuah dewi."]
“Selamat datang, Kepala Keluarga Bangsawan Akmal,” ucap sang kaisar dengan nada tenang namun berwibawa. Tatapannya tajam menilai tamunya, sementara sudut bibirnya terangkat tipis menunjukkan sambutan yang penuh kendali."
"Oh, Yang Mulia Kaisar Agung, terima kasih telah menyambut saya dan terimalah salam penghormatan ini," ujar Akmal Kamal Rio bersuara lembut penuh hormat, suaranya bergetar sedikit karena kekaguman, seolah tak percaya bisa berdiri di hadapan sosok yang begitu cantik dan agung."
“Aku menerima salam penghormatanmu, wahai Kepala Keluarga Bangsawan Akmal, dan menghargai kinerjamu dalam mengurus militer Kekaisaran Serigala,” ucap Sang Kaisar bersuara gagah penuh penghargaan, matanya menatap Akmal dengan tatapan menilai namun penuh apresiasi, seolah melihat seorang bawahan yang setia dan cakap."
"Pujian itu tidak layak untuk saya, Yang Mulia Kaisar," ucap Akmal Kamal Rio dengan rendah hati, namun tetap bangga atas tugas yang telah dilaksanakan. Ada binar di matanya saat mengucapkan itu, seolah pujian tersebut adalah sebuah penghargaan yang tak ternilai."
"Terimalah pujianku ini; menolaknya hanya akan sia-sia," ucap Sang Kaisar bernada candaan, namun tetap mempertahankan keangkuhannya, sebuah seringai tipis bermain di bibirnya, seolah menikmati momen ini."
"Mohon maaf atas kelancangan saya, Yang Mulia. Saya menerima pujian dari Anda dengan bangga," ujar Akmal Kamal Rio penuh hormat, tangannya mengepal erat di samping tubuhnya menahan rasa haru, wajahnya memerah sedikit karena rasa bangga yang membuncah."
"Ya, ya, ya, tak perlu basa-basi, sekarang duduklah," ucap Sang Kaisar dengan nada sedikit kesal, suaranya meninggi seolah kesabarannya mulai menipis, namun tetap menghormati Akmal Kamal Rio."
[Sang Kaisar meninggalkan posisinya di dekat jendela dan melangkah menuju sebuah meja rendah yang terletak di tengah ruangan. Di sana terdapat dua kursi yang saling berhadapan. Pada saat yang sama, Akmal yang berdiri di dekat pintu masuk berjalan mendekat. Sang Kaisar kemudian duduk di salah satu kursi, sementara Akmal menempati kursi di seberangnya. Meja kosong itu menjadi pemisah di antara mereka.."]
“Ada apa dengan kedatanganmu? Apakah ada hal penting?” tanya sang kaisar dengan nada serius. Alisnya sedikit terangkat, sementara tatapannya tertuju tajam kepada Akmal, menunggu penjelasan."
"Ya, Para demonstran sedang menuju istana, Yang Mulia," ujar Akmal Kamal Rio bersuara cemas, napasnya sedikit tercekat, raut wajahnya menunjukkan kepanikan yang tak dapat disembunyikan, menunjukkan urgensi dan kekhawatiran."
"Hmm, babi-babi itu, mengapa belum mati saja. Mereka menentang rencanaku, menuduh Kerajaan Surga menculik adikku, dan memulai perang untuk merebut sumber daya Kerajaan Surga di wilayah timur. Aku ingin memperkuat Kekaisaran Serigala ini agar dapat bertahan. Aku tak ingin negara peninggalan keluargaku hancur begitu saja," ucap Sang Kaisar penuh amarah dan keputusasaan, ekspresinya mencerminkan kegelisahan serta keteguhan hati, rahangnya mengeras dan tangannya terkepal kuat, suaranya bergemuruh seperti badai yang siap menerjang."
"Lalu, bagaimana kita menghadapi para demonstran itu, Yang Mulia Kaisar?" tanya Akmal Kamal Rio penuh keresahan, suaranya terdengar tercekat, matanya memandang sang kaisar dengan penuh permohonan, menunjukkan kekhawatiran atas situasi yang semakin tegang."
"Untuk sementara, abaikan mereka," ucap Sang Kaisar bersuara dingin dan tegas, dinginnya menusuk hingga ke tulang, seolah kata-katanya adalah es yang membeku, menunjukkan sikap pragmatis dan fokus pada tujuannya."
"Saya mengerti," ucap Akmal Kamal Rio patuh sambil mengangguk perlahan, matanya menunduk dalam sebagai tanda kepatuhan mutlak, tubuhnya membungkuk sedikit sebagai bentuk persetujuan tanpa syarat."
"Ngomong-ngomong, apakah seluruh pasukan siap menyerang wilayah timur Kerajaan Surga?" tanya Sang Kaisar gelisah, jari-jarinya mengetuk-ngetuk lengan kursi dengan tak sabar, gerakannya menunjukkan kegelisahan yang merayap di dalam dirinya, menunjukkan keingintahuan mendalam terhadap persiapan perang."
"Sedikit lagi, Yang Mulia Kaisar. Pasukan telah siap, logistik makanan dan air tersedia, persenjataan juga demikian, namun kami masih mengumpulkan informasi militer dari Kerajaan Surga," ucap Akmal Kamal Rio tegang namun bertanggung jawab, wajahnya memucat sedikit karena tekanan, keringat dingin mulai membasahi dahinya, ingin memberikan informasi akurat."
"Mengapa kalian lambat mengumpulkan informasi?" tanya Sang Kaisar bersuara lantang dan tajam, suaranya menggelegar di ruangan itu, seolah petir menyambar di dalam istana, menunjukkan ketidakpuasan terhadap kinerja Akmal Kamal Rio dan pasukannya."
"Mohon maaf, Yang Mulia Kaisar. Sistem pertahanan informasi Kerajaan Surga sangat ketat, kami berhasil mendapatkan informasi dengan menculik seorang ksatria elit dan mencuci otaknya," ujar Akmal Kamal Rio tegang namun beralasan, menghela napas panjang karena beratnya tugas, suaranya terdengar sedikit serak karena ketegangan."
"Benarkah? Apakah kalian memperoleh informasi penting atau tidak sama sekali?" tanya Sang Kaisar skeptis dan tak percaya, matanya menyipit penuh kecurigaan, seolah Akmal sedang berbohong padanya, menunjukkan keraguan serta kecurigaannya terhadap tindakan Akmal Kamal Rio.'"
"Ya, kami memperoleh informasi penting, kini Kerajaan Surga digemparkan oleh makhluk utusan Sang Pencipta," ujar Akmal Kamal Rio penuh kekaguman dan kekhawatiran, menandakan betapa pentingnya informasi yang mereka miliki.
"Makhluk utusan Sang Pencipta? Apa itu, dan dari mana informasi tersebut berasal?" tanya Sang Kaisar penuh rasa ingin tahu dan ketidakpercayaan, menunjukkan keingintahuan mendalam terhadap situasi yang berlangsung.
"Makhluk utusan Sang Pencipta? Apa itu, dan dari mana informasi tersebut berasal?." tanya Sang Kaisar penuh rasa ingin tahu dan ketidakpercayaan, alisnya terangkat tinggi karena keheranan, seolah ia baru saja mendengar sebuah cerita dongeng yang sangat luar biasa, menunjukkan keingintahuan mendalam terhadap situasi yang berlangsung."
"Saya pun tidak tahu, Yang Mulia Kaisar. Informasi ini berasal dari organisasi agama Kerajaan Surga. Para pemuka agama terus membicarakan utusan Sang Pencipta itu," ucap Akmal Kamal Rio ragu dan heran, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena bingung, ekspresinya benar-benar menunjukkan ketidakpahaman yang mendalam."
"Mereka menganut apa?" tanya Sang Kaisar penuh rasa ingin tahu, nada suaranya terdengar penasaran seperti anak kecil yang menemukan hal baru, seolah ia sedang mempelajari sebuah teka-teki yang menarik."
"Mereka mengikuti ajaran Sang Pencipta," jawab Akmal Kamal Rio tegas dan yakin, mengangguk mantap, wajahnya memancarkan keyakinan yang tak tergoyahkan."
"Siapakah Sang Pencipta itu? Apakah Dia makhluk yang hidup di dunia ini?" tanya Sang Kaisar penuh rasa ingin tahu, matanya memandang Akmal seolah mencari jawaban atas teka-teki besar, ia benar-benar ingin memahami esensi dari entitas ini."
"Sepertinya tidak. Para anggota organisasi keagamaan menyebutnya raja penguasa seluruh alam semesta dan pencipta segala isinya. Selain itu, Dia tak berwujud seperti makhluk hidup di dunia ini," jelas Akmal Kamal Rio yakin, terlihat merinding saat mengucapkan deskripsi tersebut, seolah ia sedang membicarakan sesuatu yang begitu besar dan tak terjangkau oleh pemikiran manusia."
"Apakah organisasi agama Kerajaan Surga bersikap netral dalam urusan politik?" tanya Sang Kaisar penuh pertimbangan, matanya menerawang jauh seolah sedang menganalisis setiap kemungkinan, ia sedang memikirkan potensi ancaman atau peluang yang mungkin timbul."
"Maaf, saya kurang mengetahui netralitas mereka. Namun, organisasi agama Kerajaan Surga pernah mengirimkan surat permohonan menyebarkan ajaran Sang Pencipta ke Kekaisaran Serigala ini. Apakah Yang Mulia Kaisar telah membaca surat permohonan tersebut?" tanya Akmal Kamal Rio hati-hati, senyum tipis muncul di bibirnya saat teringat surat tersebut, seolah ia sedang membuka sebuah kemungkinan baru."
"Ya, surat permintaan itu masih tersimpan di rak buku kamar saya," jawab Sang Kaisar normal, tangannya menunjuk ke arah rak buku di sudut ruangan, gerakannya tenang namun penuh makna."
"Apakah Yang Mulia Kaisar tertarik pada agama Sang Pencipta?" tanya Akmal Kamal Rio penuh rasa ingin tahu, tatapan matanya penuh harap, ia berharap sang kaisar akan menemukan pencerahan baru."
"Aku tertarik pada ajaran Sang Pencipta, karena banyak orang membicarakannya. Namun, aku pun ragu terhadap kepercayaan leluhur kami," ungkap Sang Kaisar penuh pertimbangan, menarik napas dalam-dalam seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu yang krusial, ada pergolakan batin yang terlihat jelas di raut wajahnya."
"Maaf jika ini terdengar lancang, tetapi dari mana asal keraguan Anda terhadap kepercayaan leluhur kita, Yang Mulia Kaisar?" tanya Akmal Kamal Rio dengan hati-hati, wajahnya memancarkan rasa empati yang mendalam, ia sungguh ingin memahami isi hati yang sebenarnya dari sang kaisar."
"Saat aku berusia 12 tahun dan ayah masih memimpin, Kekaisaran Serigala ini diserang tiga negara. Ayah berdoa pada leluhur agar Kekaisaran Serigala menang, namun hasilnya adalah kekalahan. Ayahku memohon ketiga kerajaan tersebut agar tak membunuhku dan adik perempuanku. Mereka mengabulkan permohonan ayahku, lalu meminta tanah Kekaisaran Serigala. Ayahku menandatangani perjanjian penyerahan tanah wilayah Kekaisaran Serigala tanpa perlawanan. Lalu, aku dan adikku menyaksikan ayahku dipenggal di depan mata kami. Di situlah kami berdua mulai meragukan kepercayaan leluhur," ucap Sang Kaisar bergetar, suaranya pecah di akhir kalimat, matanya berkaca-kaca mengenang masa lalu menyakitkan, ada duka yang mendalam terukir di setiap kata yang ia ucapkan."
"Sejarah kelam itu sungguh tragis. Mohon maaf telah mengingatkan Anda tentang masa lalu menakutkan itu," ujar Akmal Kamal Rio penuh penyesalan, tangannya terulur seolah ingin menepuk bahu sang kaisar, namun segera ia tahan, ia merasa sangat bersalah telah membangkitkan kenangan pahit itu."
"Aku telah mempelajari berbagai bidang selama enam tahun sejak peristiwa itu. Aku membiarkan pamanku mengambil alih sementara Kekaisaran Serigala. Ketika usiaku 18 tahun, banyak bangsawan mendukungku menjadi kaisar berikutnya. Saat itulah aku segera menurunkan pamanku dari takhta. Setelah penobatanku, tujuanku adalah memperkuat militer dan merebut kembali wilayah Kekaisaran Serigala yang diambil tiga negara itu," ucap Sang Kaisar penuh tekad, matanya memancarkan api semangat yang takkan padam, seolah badai masa lalu telah menempa dirinya menjadi baja yang tak tergoyahkan."
"Tujuan Yang Mulia Kaisar sungguh luar biasa. Saya, Kepala Keluarga Bangsawan Akmal, bersumpah setia kepada Yang Mulia Kaisar hingga akhir hayat," ucap Akmal Kamal Rio penuh keyakinan dan pengabdian, wajahnya bersinar dengan tekad yang bulat, seolah ia menemukan tujuan hidupnya, sebuah janji suci terucap dari bibirnya."
"Sumpahmu akan kuterima, wahai Kepala Keluarga Bangsawan Akmal," ucap Sang Kaisar penuh penghargaan, senyum tipis tersungging di bibirnya, sebuah senyum yang penuh kehangatan dan kepercayaan, sambil menganggukkan kepala tanda penerimaan."
"Ngomong-ngomong, apakah Yang Mulia Kaisar mengizinkan penyebaran agama Sang Pencipta di kekaisaran ini?" tanya Akmal Kamal Rio dengan hati-hati. Tatapannya dipenuhi kecemasan saat menunggu jawaban. Bahunya sedikit menegang, sementara jemarinya tanpa sadar saling menggenggam. Ia menyadari pertanyaan itu berani—bahkan berisiko—sehingga ada rasa takut yang diam-diam menekan dadanya ketika menatap sang kaisar."
"Ya, aku menyetujui surat dari mereka," jawab Sang Kaisar tegas, matanya menatap Akmal tajam seolah menguji keseriusannya, sebuah keputusan penting telah diambil."
“Dimengerti, Yang Mulia,” jawab Akmal Kamal Rio kepada sang kaisar dengan suara tegas namun tetap hormat. Nada bicaranya terdengar sedikit lebih ringan, seolah beban di dadanya berkurang. Ia menegakkan punggungnya, menatap lurus ke depan dengan sorot mata penuh kesungguhan, berusaha menunjukkan kesetiaan serta penghormatan yang tak tergoyahkan."
"Jika makhluk utusan Sang Pencipta itu nyata, aku ingin kau mencarinya, menjadikannya sekutu, dan memanfaatkan kekuatannya. Namun, rencana itu nanti, setelah kita sepenuhnya menguasai wilayah timur Kerajaan Surga," ucap Sang Kaisar penuh otoritas, tangannya mengepal kuat di atas meja, seolah menggenggam masa depan, sebuah rencana besar mulai tersusun dalam benaknya."
"Baik, Yang Mulia Kaisar," jawab Akmal Kamal Rio bersuara tegas dan patuh, mengangguk dengan penuh rasa tanggung jawab, seolah ia siap melaksanakan perintah apapun demi sang kaisar."
"Apakah ada informasi penting lainnya?" ucap sang kaisar memastikan, nada suaranya kini lebih tenang, namun tetap waspada, ia selalu ingin tahu setiap detail yang mungkin penting."
"Ada, Yang Mulia Kaisar, saya memperoleh informasi sangat penting. kesehatan raja Kerajaan Surga sedang sekarat," ucap Akmal Kamal Rio, wajahnya kembali tegang karena berita yang dibawanya, seolah berita buruk ini akan membawa konsekuensi besar."
"Mengapa dia sekarat?" ucap sang kaisar bertanya, alisnya berkerut dalam penuh perhatian, raut wajahnya serius, ia menanti jawaban dengan penuh antisipasi. Tatapan matanya tajam."
"Karena menderita penyakit langka dan mematikan yang tak dapat disembuhkan," jawab Akmal Kamal Rio atas pertanyaan sang kaisar, suaranya terdengar lirih seperti membawakan kabar buruk, seolah ia ikut merasakan kepedihan raja Kerajaan Surga."
"Lalu siapa mengambil kendali kerajaan surga?" Ucap sang kaisar bertanya lagi, nada suaranya kini dipenuhi rasa ingin tahu yang menggebu, ia ingin tahu siapa yang akan memegang kendali kekuasaan di sana."
“Putra pertama, Vtol Star Alexis, adalah putra mahkota bergelar Duke of Sus dari garis keturunan Raja Vtol Star Alexander III,” jawab Akmal Kamal Rio hormat, tubuhnya sedikit menegang karena topik yang sensitif, ia tahu bahwa informasi ini bisa menjadi kunci strategis."
“Oh… Bocah tak kompeten itu. Selain itu, sifatnya sangat buruk. Ia memandang wanita hanya sebagai alat pemuas nafsu,” ucap sang kaisar mengejek sekaligus jijik, sebuah seringai penuh kebencian terukir di bibirnya, matanya berkilat dengan sorot meremehkan yang dalam, raut wajahnya memperlihatkan muak mendalam, sementara matanya sedikit menyipit."
“Banyak desas-desus beredar. Ia dikabarkan memperkosa banyak wanita muda perawan. Setelah korbannya hamil, ia membuang mereka begitu saja seperti sampah,” ucap Akmal Kamal Rio dengan rahang mengeras dan tatapan muak, suaranya bergetar karena rasa jijik yang mendalam, ia tak bisa membayangkan betapa kejinya perbuatan itu. Raut wajahnya tegang, seolah menahan amarah mendidih."
“Sungguh, dia laki-laki paling menjijikkan di dunia. Namun, ini justru menjadi anugerah bagi kita. Kerajaan Surga kini berada di bawah kendali bocah yang tidak cakap itu. Rencanaku untuk menguasai Kerajaan Surga sepenuhnya akan berjalan jauh lebih mudah,” ucap sang kaisar dengan senyum tipis penuh ejekan. Matanya berkilat licik bagaikan ular yang bersiap menerkam, sementara sebuah rencana gelap perlahan terbentuk sempurna di benaknya. Tatapannya menyipit penuh perhitungan, dan raut wajahnya memancarkan kepuasan yang dingin."
[Setelah Sang Kaisar selesai berbicara, tiba-tiba terdengar riuh kerumunan demonstran yang tiba di depan istana. Kegaduhan itu sampai ke telinga Sang Kaisar. Mendengar hal tersebut, Akmal Kamal Rio panik dan segera berbicara kepadanya."]
"Yang Mulia Kaisar, para demonstran sudah tiba di depan gerbang istana. Apakah mereka perlu ditangkap atau dihabisi di tempat? Apa perintah Yang Mulia?." tanya Akmal Kamal Rio panik, tangannya mencengkeram erat gagang pedangnya, ekspresinya penuh kekhawatiran dan kecemasan, ia siap melaksanakan perintah apapun untuk melindungi sang kaisar."
"Jangan lakukan keduanya. Aku perintahkan kau bawa prajurit elite, sekitar 100 prajurit. Sebarkan 50 prajurit di kerumunan demonstran dan 50 prajurit berjaga di lingkungan istana untuk melindungiku. Khawatir ada pembunuh dari Kerajaan Surga mengincar nyawaku," jawab Sang Kaisar tegas, nada suaranya memberi perintah mutlak, seolah ia tak memberikan ruang untuk bantahan, matanya memancarkan kewaspadaan dan kecerdikan."
"Apakah Yang Mulia Kaisar ingin menemui para demonstran?" tanya Akmal Kamal Rio dengan hormat, meski masih diliputi kekhawatiran. Tatapannya penuh tanda tanya, ingin memastikan bahwa sang kaisar tidak akan mengambil tindakan gegabah."
"Ya, aku akan menemui babi-babi sialan itu," ucap Sang Kaisar penuh kebencian dan ketegasan, bibirnya menyunggingkan senyum yang mengerikan, senyum yang menandakan akan ada pembalasan yang kejam."
"Siap! Namun, Yang Mulia Kaisar, apakah akan muncul di hadapan publik dengan wujud asli?" tanya Akmal Kamal Rio, bingung namun ingin memastikan. Ekspresinya menunjukkan kebingungan yang tulus, ia tak yakin apakah sang kaisar akan melakukan tindakan yang berisiko itu."
"Tentu tidak, bodoh. Aku akan menggunakan sihir untuk mengubah wujudku menjadi pria tua. Babi-babi itu sudah percaya bahwa aku adalah pria tua," jawab Sang Kaisar dengan nada menghina, suaranya penuh ejekan, seolah-olah ia sedang mempermainkan para pengkhianat, wajahnya menunjukkan ketidaksabaran."
"Maafkan kelancangan saya," ucap Akmal Kamal Rio dengan rendah hati, menundukkan kepala lebih dalam. Ia merasa bodoh karena menanyakan sesuatu yang jawabannya sudah jelas."
"Cukup bicaranya!" seru Sang Kaisar dengan lantang, suaranya menggema di seluruh istana, menghentikan Akmal Kamal Rio seketika, memotong pembicaraan dengan sikap otoriter."
[Sang Kaisar berteriak dengan penuh kekesalan. Akmal Kamal Rio, yang baru saja menundukkan kepalanya lebih dalam, segera bangkit dan menuju barak untuk mengumpulkan 100 prajurit elite demi melindungi Sang Kaisar yang hendak menemui para demonstran. Sang Kaisar kemudian membuka jendela, memandang kerumunan demonstran dengan tatapan sinis."]
"Dasar babi-babi sialan, jangan harap kalian bisa lari setelah ini. Aku akan mengirim kalian ke garis depan medan perang," ucap Sang Kaisar penuh kebencian dan amarah, suaranya mendesis seperti ular berbisa, kata-katanya bagai racun yang menyebar, matanya menyala dengan kemarahan yang membara, bibirnya mengejek dengan senyum sinis."
-Bersambung-
-Next Bab 2-
tetep semangat nulisnya 👍
ya tetep semangat berkarya lah." 👍