Santet, sesuatu yang terdengar begitu menyeramkan, sesuatu yang sulit dimengerti secara nalar, yang sulit dipercayai meskipun sebetulnya memang ada,
Banyak orang menggunakan santet untuk membalas sakit hatinya, meskipun terkadang pada akhirnya santet itu malah berbalik kepada mereka sendiri.
Seperti apa santet yang akan diceritakan othor? yuk simak...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Menantu Kesayangan
"Ari, nanti kalau Bunda bangun, sampaikan Tante pulang lebih awal ya,"
Kata Rahma pada keponakannya,
"Kenapa Tan?"
Tanya Ari sambil mengikuti Tantenya keluar dari rumah,
"Tidak apa-apa, kamu baik-baik di rumah, jaga Bunda dan adikmu,"
Ujar Rahma sambil mengelus kepala sang keponakan,
Tampak kemudian Ari mengangguk,
Rahma masuk ke dalam mobilnya, yang lantas tak butuh waktu lama untuk gadis itu keluar dari pelataran rumah kakaknya,
Ari yang mulai merasa jika ada sesuatu yang tak beres terjadi akhirnya memutuskan menelfon Ayahnya,
Meskipun Ayah pamit keluar kota untuk urusan bisnis, namun bagi Ari, urusan keluarga harusnya akan menjadi prioritas seorang laki-laki,
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif..."
Bla bla bla...
terdengar suara dari nomor Ayahnya saat Ari menghubunginya,
"Kenapa tidak diaktifkan?"
Gumam Ari kesal dan akhirnya menjadi tambah curiga,
Anak muda itu lantas berjalan masuk ke dalam rumah, dan mendapati Bundanya yang baru keluar dari kamar utama,
Bunda tampak menyeret koper-koper pakaian berukuran besar, Ari cepat menghampiri,
"Ada apa Bun?"
Tanya Ari bingung mengira Bundanya akan pergi ke mana,
Tampak sang Bunda memaksakan senyuman pada Ari,
"Panggilkan Bang Rojak, sayang, suruh angkat dua koper-koper ini ke mobil,"
Kata Bunda,
Ari menatap Bundanya,
"Bunda mau pergi?"
Tanya Ari,
"Ke mana?"
Ari masih berusaha menuntut jawaban,
"Bunda tidak akan ke mana-mana, hanya mau mengantar pakaian-pakaian Ayah ke rumah Nenek,"
Ujar Bunda menjawab tanya sang anak,
Kening Ari berkerut, jawaban sang Bunda semakin menimbulkan banyak pertanyaan pada diri Ari, pun juga perasaan tak enak,
"Sudah, panggilkan saja dulu Bang Rojaknya, Bunda akan bersiap sebentar,"
Kata Bunda,
"Ari ikut yah Bun,"
Pinta Ari,
Bunda menggelengkan kepalanya pelan,
"Ari tetap tinggal di rumah, Rian belum pulang futsal bukan? Ini jadwalnya main futsal,"
Kata Bunda,
Nyatanya, meskipun Bunda orang yang sangat sibuk, namun ia selalu hafal dengan semua kegiatan anak-anaknya, ia juga sangat peduli dengan perkembangan anak-anak di sekolahnya,
Ari pun mengangguk, ia memandang jam dinding yang pastinya untuk menunggu Rian sampai ke rumah masih butuh waktu satu jam lebih,
"Bilang Bang Rojak pakai mobil yang putih saja,"
Kata Bunda lagi, sebelum kemudian berbalik dan kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap,
Ari pun akhirnya terpaksa menuruti Bundanya untuk masuk ke ruang dalam dan langsung menuju ke area belakang rumah di mana kamar Bang Rojak dan juga si Mbok berjejer di sana,
"Bang Rojak... Bang Rojak..."
Panggil Ari,
Bang Rojak yang sedang sibuk main games di dekat kolam renang begitu mendengar suara tuan mudanya seketika langsung berdiri,
"Bang, disuruh Bunda angkat koper ke mobil,"
Kata Ari begitu supir pribadi keluarganya tampak berdiri dari duduk santainya dan kemudian berjalan mendekati dirinya,
"Mau pergi Bundanya Mas?"
Tanya Bang Rojak,
"Iya, kata Bunda, Bang Rojak pakai mobil yang putih, nanti Bunda sedang bersiap-siap,"
Kata Ari,
Bang Rojak pun mengangguk sigap,
"Siap, laksanakan!"
...****************...
Rumah keluarga Joni yang tak seberapa besar namun terlihat bagus untuk ukuran jaman sekarang karena setahun lalu baru saja direnovasi total oleh Anita kini tampak dipenuhi beberapa kendaraan,
Kendaraan-kendaraan yang terdiri dari mobil dan motor itu adalah milik saudara-saudara Joni, pun juga satu mobil khusus milik Rahma yang memang diberikan hadiah khusus oleh Anita karena ia tinggal bersama Ibu mertuanya,
Anita ingin saat Ibu mertuanya butuh ke mana-mana, dengan adanya mobil sendiri itu akan memudahkannya,
Tentu saja orangtua tak akan kuat jika harus terlalu sering membonceng motor, apalagi untuk tubuh Ibu mertuanya yang sudah sakit-sakitan,
"Maafkan Rahma, Bu, karena akhirnya harus menceritakan ini,"
Kata Rahma pada Ibunya, dan di depan saudara-saudaranya yang merupakan kakak-kakak perempuan dan kakak laki-lakinya,
Mereka semua sengaja dikumpulkan Rahma agar tahu dan ikut memikirkan jalan keluar apa yang harus mereka tempuh untuk menyelamatkan pernikahan Joni dan Anita,
"Tidak apa Rahma, apa yang kamu lakukan sudah benar, kita memang harus mengetahui, dan juga harus bertindak agar jangan sampai perempuan sebaik Anita lepas dari keluarga kita, lalu digantikan perempuan yang sama sekali tidak jelas,"
Kata Ibunya Joni pada anak bungsunya tersebut,
Rahma tampak mengangguk, begitupun Saudara-saudaranya yang lain,
"Apa sudah diketahui siapa perempuan itu? Kita datangi sajalah rumahnya, kita labrak saja,"
Ujar salah satu kakak perempuan Rahma yang merupakan adik Joni persis,
Rahma mengangguk,
"Aku sudah tahu siapa dia, semua sudah aku dapatkan dari teman Mas Joni,"
Kata Rahma,
"Ya sudah, kalau begitu kita datangi saja rumahnya, gemas aku,"
Kata kakak Rahma yang lain,
Ibu nya Joni tampak kemudian mencoba menenangkan anak-anaknya,
"Kita tunggu saja Joninya, nanti kalau dia pulang, ajak dia ke rumah perempuan itu, dan suruh mereka bercerai,"
Ujar Ibunya Joni,
"Yah, memang benar-benar keterlaluan, menikah diam-diam tanpa ada keluarga yang tahu,"
Timpal kakak perempuan Rahma,
"Hmmm kasihan Mbak Anita, lagipula kurang apa sih Mas Joni itu, sudah beruntung punya isteri macam Mbak Anita, lagi-lagi main api dengan perempuan tidak jelas,"
Kesal jadinya adik laki-laki Joni,
"Tapi biasanya Mas Joni hanya pacaran saja Mas, tidak sampai menikah sirih begini, dan tagihan kartu kreditnya, kalian lihat kan?"
Rahma menunjuk tagihan yang sengaja ia bawa,
"Gila memang, sudah macam perampok tak tahu diri, belanja barang-barang tak berguna dengan harga mahal seperti itu, tagihan masuk ke isteri tua, ini perempuan sakit jiwa,"
Kakak perempuan Rahma kesal luar biasa,
"Sudah jelas tujuannya perempuan itu pastinya hanya uang, Mas Joni bodoh,"
Kata kakak laki-laki Rahma,
Tampak Rahma menganggukkan kepalanya tanda setuju,
Dan saat mereka semua sedang sibuk diskusi, di luar terdengar suara kendaraan berhenti, tampaknya seperti motor,
Cepat Rahma berdiri,
"Siapa lagi yang kau undang?"
Tanya Emi, kakak perempuannya,
"Fera, dia juga pasti tahu banyak soal perselingkuhan Mas Joni,"
Kata Rahma,
"Sudah nekat ingin miskin Mas Joni,"
Kata Mas Cipto, kakak laki-laki Rahma,
"Terlepas dari semuanya, bagi Ibu, Anita adalah pilihan terbaik yang tak perlu lagi ada lainnya, dia adalah anugrah, hadiah, karunia untuk keluarga kita, Ibu tak akan pernah ridho jika Joni menyakiti Anita,"
Kata Ibunya Joni yang kemudian tampak sambil berlinang air mata,
Banyak perempuan mungkin bisa menjadi isteri untuk suaminya, tapi tak semua perempuan bisa menjadi anak yang baik untuk orangtua suaminya, dan juga semua perempuan bisa menjadi saudara yang baik untuk ipar-iparnya,
Dan jika, sebuah keluarga menemukan perempuan yang bisa melakukan hal itu, tentu itu adalah satu hadiah yang sangat mahal dari alam semesta, yang tentu saja harus dijaga dengan baik.
...****************...
I ❤ it mantul , keyyyen alurnya sat set & menginspirasi 💯
Tidak ada rumh tangga yg sempurna tpi bagaimna cara kita memprthankanya .
Ni mirip Film Indo berjudul "Mendua" aq sampe gregetan nonton 🤣 cma + bumbu2 mistis 👍
Ibarat kata hrsnya Joni brsyukur pny istri yg nyaris sempurna seprti sebutir mutiara , eh mlah dibuang hny demi sebongkah karang , goblok mmg yak 😂
Semngt brkarya thor 😘
Thanks 🙏