"Saat boss memerintah, kamu tidak bisa menolaknya."
nothing is perfect in this world, mungkin kalimat itu tidak berlaku bagi seorang Sean. Memiliki kepribadian baik, yang membuat semua orang jatuh hati kepadanya. Hal inilah yang membuat Sean harus bekerja keras untuk meyakinkan Nabila, bahwa cintanya hanya untuk gadis itu saja.
Cinta memang membutakan, tapi kehilangan lebih menyakitkan. One message from this story, don't fall in love too easily.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar Cahya Nabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alrescha Nero Ardiaz
..."Itu benar, jangan biarkan seseorang mengabaikan perjuanganmu."...
Memiliki sepupu seperti Sean yang pandai dalam segala hal, tidak membuat Alrescha Nero Ardiaz menyerah begitu saja. Bahkan dalam hal ini, kedua orang tuanya tidak pernah membandingkan Rescha dengan siapapun. Pria itu sendiri yang ingin terus mengembangkan dirinya. Ia merasa sukses dalam hal pekerjaan tidaklah cukup. Bisa dibilang Rescha terobsesi dengan kata sempurna.
Sean yang tahu akan hal ini, ia lebih memilih diam. Sejak kecil, Rescha memang seperti itu. Ia selalu ingin sempurna dalam semua mata pembelajaran sekolah. Tak peduli materi yang dihadapinya itu susah atau tidak, yang ia pikirkan hanyalah satu, nilai 100. Nothing else.
"I made a new sketch, what do you think about this?
"I think this is fine and dandy. Is there a hidden meaning in it?"
Rescha mengangguk. "Ekspektasi tak seindah realita itu nyata. This sketch was made to satirize myself for not loving fictional characters so much. Mereka memang indah, tapi sayangnya, mereka terlalu sempurna untuk menjadi nyata."
Camella, Ibu dari Rescha, kini tersentak kecil saat mendengar hal itu. Tidak ingin anaknya mengalami fictophilia, atau yang sering disebut mencintai karakter fiksi secara berlebihan. Camella dengan cepat membawa Rescha kehadapan suaminya, yaitu Allard.
"What is it? Why have you brought Rescha here? Is there something you need to discuss with me?"
Yang ditanya kini menceritakan semua hal yang dialaminya, dengan intonasi yang pas, dan juga pengucapan yang jelas. Allard tertawa mendengarnya, kenapa istrinya ini benar-benar sangatlah lucu?
"He has his own world. Just leave it, fictional characters aren't as bad as you think."
Rescha tersenyum, ia menatap Ayahnya dengan tatapan bangga, lalu ber-tos ria secara kompak. Camella menatap sinis hal itu. Pemikirannya memang jauh berbeda dengan Allard. Jika dia berpikir jika mencintai karakter fiksi adalah hal yang normal, maka menurutnya adalah hal yang sebaliknya.
"Stop taking things too much. Rescha pasti tahu apa yang terbaik untuknya. Dia juga tampan. Jika waktunya sudah tiba, dia pasti akan mengenalkan gadis yang dicintainya kepada mu."
Camella meninggalkan mereka berdua dengan perasaan kesal. Sampai kapanpun suaminya itu takkan pernah mengerti, kenapa ia sangat ingin melihat Rescha jatuh cinta dengan gadis nyata. Langkah kakinya kini menuju kearah kamar milik Rescha. Camella berniat untuk membersihkan area penyimpanan buku dari anaknya itu. Matanya kini tertuju kearah sebuah notebook yang tersimpan diatas kasur. Ia membaca semua isi yang ada didalamnya. Tanpa ia sadari bibirnya kini membentuk sebuah senyuman kecil.
"Rescha normal ternyata."
Today is a sunny day for Mr. Sean Archie Fernandes. Memiliki perusahaan kecil sebagai rumah keduanya, menjadikan pria tidak punya waktu luang sedikitpun. Alina bahkan sudah memberitahunya, untuk tidak mengurus perusahaan secara berlebihan. Tapi Sean tetaplah Sean, pria itu takkan mungkin membiarkan perusahaan miliknya, menjadi terlantar begitu saja. Ditambah Ayahnya yang sering mengabaikan pekerjaan kantor, membuat jiwa ambisius Sean menjadi menggebu-gebu kembali.
"Sisca, tolong siapkan beberapa dokumen kemarin yang sudah saya selesaikan. 30 menit lagi kita akan rapat dengan Mr. Allard, mengenai kerjasama kontrak."
"Baik, Pak."
Ini adalah rencana kedua Sean, untuk menjadikan perusahaan miliknya menjadi jaya dalam waktu singkat. Tidak sulit baginya untuk membuat jadwal meeting dengan Mr. Allard. Hanya bermodalkan nama Ibunya, Mr. Allard pun takluk dibuatnya. Ini bukan kerja curang, tapi kerja cerdas namanya. Adelar mana mungkin bisa melakukan hal seperti ini, yang ada di otak pria itu hanyalah wanita dan wanita. Sungguh menyebalkan!
"Permisi, Pak. Semua berkas sudah saya siapkan. Dan kebetulan sekali, Mr. Allard sudah tiba diruangan meeting."
Sean mengangguk. Ia langsung saja berjalan masuk kearah ruangan, lalu menyapa Allard yang sedang tersenyum manis kearahnya. Sean kini memimpin, ia menjelaskan semua aspek keuntungan, yang akan Allard dapatkan secara sempurna. Pria itu bahkan mengabaikan konsekuensi yang akan ia dapat. Yang ia pikirkan sekarang adalah, bagaimana cara membuat Allard puas dengan hasil penjelasannya.
"Wah, Sean, kamu sangat tegas dalam menyampaikan semua aspek yang akan saya dapatkan. Your mother must be proud of you, dan selamat, kamu berhasil menjalin kerjasama dengan perusahaan Ardiaz, yang terkenal sulit untuk ditembus oleh perusahaan manapun."
Yang dipuji hanya memberikan senyuman terbaiknya. Sean bahkan tidak bangga dengan semua pencapaiannya ini. Ia ingin, semua kontrak kerjasama yang ia dapatkan, adalah hasil dari jeri payahnya sendiri, bukan dari menjual nama Ibunya.
"Kalo begitu Paman pergi dulu, jaga dirimu baik-baik."
Mereka berdua saling bersalaman. Sean mengantarkan kepergian pamannya itu hingga sampai kearea parkir. Setelah itu, ia berkutat kembali dengan pekerjaan kantornya yang lain.
Tring!
My Girl: Do you have free time to be with me today?
Sean tersenyum kecut, akhir-akhir ini ia memang sering mengabaikan keberadaan dari gadis imut itu. Dengan disertai permintaan maaf yang kesekian kalinya, pria itu lagi-lagi memberitahu Nabila, jika ia sedang sibuk.
My Girl: Aku mengerti, kalau begitu take ur time. And btw, I have entrusted some of the food to your assistant. Jangan lupa dimakan, wahai Mr. Sean yang terhormat🔪
Yang diberi pesan kini tertawa lebar. Nabila, dia benar-benar gadis yang sempurna. Sejauh ini, hanya dia yang berhasil membuat Sean sampai tertawa sebahagia ini.
Rescha yang memperhatikan hal itu, ia tersenyum kecil. Kehadiran dari Nabila, benar-benar berpengaruh, bagi keberlangsungan hidup sepupu gilanya itu.
"Makan sana, woy."
"Wait a moment."
"Woy, anjing! Lo rela bikin tu makanan enak nunggu, cuman demi nonton video gak guna kaya gini? Anjir, Sean. Use ur brain.
"That's the video your father gave me, and of course this is very important."
"Gue yang bakal gantiin lo. Nulis point' pentingnya doang, kan? Udah sana, lo makan aja. Hargain Nabila. Dia udah capek-capek masak buat lo, tapi sikap lo malah gak sopan kayak gini."
Sean, ia malah menatap curiga kearah sepupunya itu. Sebelumnya, Rescha tidak pernah bersikap seperti ini. Yang ditatap hanya menampilkan wajah datarnya saja. "Pergi atau gue rebut tu cewek lucu. That girl seems more compatible with me ...." Godanya, dengan disertai senyuman kecil.
"Fine, gue makan, awas aja lo rebut milik gue."
Rescha tertawa. "Tergantung perlakuan mu padanya, wahai Mr. Sean yang terhormat."
"****! Rescha sialan!"
TBC...