Menantu bukan Pilihan
- Pembuka
Percintaan dimulai dari tidak adanya restu dari keluarga suami. Istri berjuang sendiri untuk mempertahankan cinta. Suami lebih mempercayai keluarganya. Kisah ini menggambarkan seorang suami berubah sifat dari protagonis menjadi antagonis. Istri berjuang dalam kariernya sehingga sukses tapi tetap menghormati suami dan keluarganya karena berpatokan dalam ajaran agama yang dianutnya.
- Konflik
Suami bersekutu dengan keluarganya memusuhi istrinya, bahkan berkali- kali ingin mencelakai istrinya yang dilakukan secara mistis. Kisah perjuangan istri yang tangguh dan kuat. Ketekunan doa dan ibadahnya yang menyelamatkannya, Cerita penuh konflik dan intrik. Semoga cerita ini menjadi inspirasi para istri untuk lebih tangguh dan kuat menghadapi konfik hidupnya .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suraning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 : Kehilangan sosok ibu
Malam itu aku menggendong Apri dan naik sepeda ke klinik dokter, saat itu hujan gerimis. Orang yang melihat aku mungkin mengatakan kasihan sekali bu Sukma ini. Apri menangis, " mama sakit gigi". Aku melihat gusi bengkak dan giginya keropos. Aku melihat suamiku tidur, ku bangunkan dia, " Papa, antar ke dokter, Apri sakit gigi". Suamiku menjawab, " Mengantuk aku" . Mau menangis aku, teganya dia, anak sakit lebih berat tidurnya. Aku gendong anakku dan ku keluarkan sepeda, aku lihat sudah pkl. 22.00 dan tetap keluar karena klinik 24 jam. Andre yang ku kenal dulu sudah berubah, tidak pernah berdoa, dulu yang kalem sekarang seperti cuek tidak peduli anak istri.
Saat Apri berusia 2 tahun kami tidak ada pembantu , Apri dititipkan di Penitipan anak jaraknya agak jauh dari rumah. Andre: " Mama, kamu keluar kerja saja, urus rumah tangga di rumah". Aku menjawab, " Tidak papa, aku dikuliahkan orang tua dengan keringat, aku bertanggung jawab dengan keluarga besar ku". Ibu berpesan kepada kami anak- anaknya, " Sebagai perempuan tidak boleh berpangku tangan saja, harus kerja " . Pandangan ibuku waktu itu , sebagai perempuan harus kerja, supaya dihormati keluarga suami dan jika terjadi sesuatu dengan suami masih bisa berdiri dengan kaki sendiri. Aku mengatakan dengan suamiku, "Nanti kalau papa sudah manajer aku keluar kerja."
Konsekuensi dari penolakan kemauan suami, pagi- pagi kami sudah menitipkan Apri dan sekalian kami pergi bekerja. Sungguh sedih jika pagi hari hujan, kita pasti telat berangkat kerja, kami memaksa berangkat tapi berjalan pelan - pelan.Sorenya kami janjian bertemu di suatu tempat untuk menjemput Apri. Sesampai di rumah Apri beristirahat tidur, aku merendam baju dan memasak. Selesai masak kita makan berdua, setelah itu kami beristirahat sebentar. Setelah cukup beristirahat aku mulai mencuci baju yang di rendam, kami belum mempunyai mesin cuci yang tinggal di pencet saat itu. Aku melihat jam selalu pkl. 23.00 baru selesai semua pekerjaan.
Semua aku jalani saja sebagai bentuk tanggung jawab dengan keluarga kecilku. Aku tidak pernah melihat usaha suamiku membantu pekerjaan rumah apalagi mengurus anak. Kalau laki- laki lain mau menggendong anaknya saat jalan- jalan, membantu mengurus anak sekedar mengganti celana saja tidak dilakukan. Aku ingat janjinya saat pacaran, kalau mengurus anak malam hari bergantian, nyatanya selalu tidur. Sungguh suatu tantangan berat untuk aku, inilah suamiku, pilihan aku sendiri.
Pagi itu saat aku sudah sampai sekolah mendapat kabar ibu sakit keras . Adikku menelpon sudah di belikan tiket, kita langsung pulang saja Mbak. Aku ijin buru - buru pulang untuk menjemput Apri di penitipan anak. Karena terburu- buru aku tersandung tangga sampai jatuh saat me naiki tangga lantai 2 saat menjemput Apri. Adikku menelpon lagi, " Mbak langsung stasiun saja tidak usah pulang dulu ke rumah ". Sesampai di Malang, ibu sudah di infus dan diberi bantuan pernapasan. Aku memegang tangan ibu sambil berdoa, kulihat ibu menangis walau mata tertutup, ku usap air mata itu, aku pun menangis terisak. Pak Karno tetangga kami mengatakan,
" Mbak Sukma yang sabar, ibu juga sudah diberikan sakramen minyak suci".
Sakramen itu diberikan untuk orang yang sakit keras, kalau sembuh segera dan kalau dipanggil Tuhan sudah di persiapkan". Pada saat lebaran kami anak - anak mau pulang tidak diperbolehkan oleh ayah,
" Tidak usah pada pulang, ibu sudah membaik sudah bisa jalan jalan dengan kruk, jangan ijin - ijin terus pada pulang".
Sebelumnya kita semua berenam sudah pulang saat ibu dirawat di RS juga. Tidak berapa lama, ibu jatuh dari tempat tidur pahanya patah. Ibu dirawat di patah tulang karena mempunyai penyakit gula. Saat itu aku pulang, Aku menyisir rambut ibu, dan aku peluk sebagai tanda kasih sayang. Ibu ,
" Sukma sekarang kamu kok kurus, "
Aku menjawab," Ya bu aku kecapekan saja".
Tiga hari kita anak anaknya menunggu ibu sakit, saat hari terakhir Mbak Atiek berkata,
"Sukma, kamu pulang, Apri kedinginan kasihan tidur di lantai, bawa pulang ke rumah supaya tidur di kasur ".
Apri meronta- ronta tidak mau pulang, seperti dia ada firasat mbah putrinya mau pulang ke rumah Tuhan. Apri cucu laki-laki pertama yang sangat di sayang mbah Putri. Kakak - kakakku yang sudah menikah anaknya perempuan semua. Pada saat Apri sakit , ibu datang ke Citayam. Saat itu sudah diberikan obat dari dokter spesialis, panas turun nanti naik lagi. Sampai berganti dokter spesialis.
Begitu ibu datang, mengambil kunyit lalu di parut diambil airnya, di tambah kuning telur kampung kemudian di aduk dan diminumkan. Setelah itu keluarlah campaknya merah - merah di dada, kepala. Sore harinya, ibu pulang setelah melihat Apri sudah naik sepeda roda tiganya Begitu besar kasih sayang ibu kepada kami.
Pagi itu sekitar pkl. 04.00 aku dibangunkan keponakan yang menemani tidur,
" Mbak, mbak budhe wis sedo".
Bagai di sambar halilintar, aku terbangun dan spontan menangis. Saat itu Bulik sudah di rumah,
" Yang sabar mbak Sukma, sekarang kita siapkan segala sesuatu untuk menyiapkan pemakaman " .
Pagi itu Andre datang ke Malang karena sehari sebelumnya sudah diberitahu untuk pulang ke kampung.
Pemakaman ibu berjalan lancar, Saat di semayamkan di rumah, bulik bilang,
" Mbak Didandani ibu, bulik tahu ibu sangat sayang sama aku".
Menjelang pemakaman ibu, Apri badannya sangat panas sepertinya ada ikatan batin dengan mbah putrinya.Setelah ibu dimakamkan aku sangat bersedih sampai 3 hari aku tidak enak makan dan tidur, hanya minum dan makan sedikit, tidak ada nafsu makan. Kalau tidak ingat Apri, mungkin aku bisa sakit, sementara masih ada anak yang harus dirawat, aku harus sehat. Aku ingat nasehat ibu,
" Kalau ibu sudah meninggal, kalian tidak boleh pada sedih dan melamun".
Saat Apri berusia tiga tahun, aku mulai hamil lagi. Aku melahirkan anak kedua jaraknya 4 tahun dengan kakaknya. Aku selalu ingat nasehat teman mengajar,,
" Bu kalau punya anak kedua diberi jarak jangan 3 tahun, nanti berat saat sama - sama masuk SMP dan SMA, apalagi masuk SMA yang satu kuliah".
Sementara kalau jarak 2 tahun menurut aku sepertinya terlalu dekat, kasih sayang untuk anak pertama kurang. Untuk kelahiran anak kedua benar- benar aku mengatur waktunya, dan saat kelahirannya keadaan ekonomi aku juga lebih baik. Aku sangat berharap melahirkan anak perempuan tetapi ternyata baby laki-laki yang montok, putih dan tampan. Ayah berpesan,
" Sukma, sudah cukup anak 2 walaupun laki-laki semua, nanti kamu kalau punya mantu perempuan di sayang juga sama seperti anak sendiri ".
Aku sedih saat ayah datang menjenguk karena ibu sudah tidak ada, tapi aku merasakan sosok ibu hadir saat ayah menjenguk di rumah sakit ada bau harum bunga melati.
Ayah pernah menelpon mbak Atiek menceritakan mimpinya ,
" Sukma di ajak ibu dipanggil- panggil ayah diam saja".
Ayah takut aku benar diajaknya, artinya aku meninggal. Mbak Atiek menjawab,
" Ayah tenang saja, masa ibu mau mengajak Sukma, yang benar mendoakan Sukma ".
Mbak Atik menceritakan padaku, ayah saat menelpon sampai menangis. Kasih ibu memang sepanjang jalan, saat aku belajar ibu pasti membelikan camilan. Saat aku sudah pusing- pusing, ibu pasti- membelikan tongseng ayam atau kambing karena tahu darahku rendah. Aku kalau belajar sering sampai larut malam, aku termasuk anak berprestasi di sekolah. Saat sekolah SD, SMP sering ranking 1, pada saat SMA mulai turun prestasiku tidak rangking 1 lagi tapi masuk 10 besar, saingan sudah berat karena bersaing dengan siswa yang berprestasi dari 5 kelas yang ada. Siswa berprestasi tiap kelas di jadikan satu kelas. Kedua orang tua ku sering bangga kalau menceritakan aku dengan tetangga.
suka banget dengan ceritanyaa...
sangat menginspirasi...
makin sukses kedepannya yaa Bu Elis