Selama hidupnya, tidak sekalipun Kara menjalin hubungan serius dengan lawan jenisnya. Pemikir dan kekhawatiran berlebih adalah penjara tak kasat mata. Itu yang menghalangi dirinya untuk bisa mengenal apa itu cinta. Hidupnya yang datar tiba-tiba berubah saat Luis, si tetangga baru menaruh perhatian pada Kara.
Sekeras apapun Kara menghindar, Luis punya seribu satu cara untuk mendekati Kara. Bagaimana kisah mereka? Apakah Kara bisa melanjutkan hidupnya yang damai tanpa kehadiran Luis, atau berhasilkah Luis menggenggam erat Kara?
Halaman pertama akan membawamu masuk dalam kehidupan membosankan seorang Kara Ina. Check this out!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Typ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Gadis yang sama
"Pus Puss."
Panggilan terakhir Kara, sebelum memutuskan untuk menaruh semua sisa ayam pada daun dan meletakkannya di pinggir jalan. Masih fokus dengan kegiatannya. Kara bahkan tidak tahu jika Luis kembali keluar dari kediamannya. Cowok itu tengah fokus menutup kembali pintu sambil membawa thinwall berisi rendang.
Langkah Luis menuruni 2 anak tangga rumahnya bersamaan dengan Kara yang beranjak dari tempatnya. Gadis itu sudah selesai menaruh semua ayam pada daun.
Kara sedikit kaget saat netranya melihat Luis. Ingatannya kembali pada moment saat di mini market. Bagaimana tidak kaget? Penghuni rumah yang baru ternyata adalah cowok itu.
Belum bertegur sapa saja Kara sudah malu. Apalagi saat ini Kara hanya mengenakan baggypants dan manset press body. Lekuk tubuhnya yang tidak seberapa pasti akan menjadi perhatian cowok itu. Pun dengan rambutnya yang acak-acakan. Tidak ingin semakin malu, Kara mempercepat langkahnya. Gadis itu bahkan tidak berani menoleh ke kanan ataupun kiri. Pandangannya lurus sedikit menunduk.
Dilain sisi, Luis yang menyadari gerak-gerik Kara hanya menatapnya penuh tanda tanya. "Kenapa gadis itu?" dan saat menyadari kemana arah Kara pergi, Luis menyimpulkan jika gadis itu adalah anak dari Ibu Ana.
"Kenapa jalannya cepat sekali? Apa dia malu bertemu cowok tampan dengan rambutnya yang acak-acakan itu?" Luis kembali bertanya-tanya.
Luis yang sebenarnya penasaran dengan wajah Kara, pun ikut mempercepat langkah. Namun sayangnya, sebelum dirinya sempat menyamakan langkah dengan Kara, gadis itu sudah lebih dahulu masuk ke dalam rumah.
Luis mengerutkan alis. "Segitu malukah gadis itu?"
Entahlah, Luis mengedikkan bahu.
Di dalam rumah, Kara menarik napas panjang. Gadis itu kemudian berlari menuju dapur.
"Buuuuu. Ibu Ana istrinya Bapak Hendra!" Teriak Kara memanggil ibunya.
"Yaaa!" jawab Ibu Ana tak kalah seru.
"Itu di luar ada tamu, gak tau mau ngapain," ucap Kara sembari meletakkan panci di meja dapur.
"Ada tamu bukannya dijamu malah ketakutan gitu." Ibu Ana melirik putrinya dengan tajam. "Sama manusia aja takut kamu itu," sambungnya.
Kara tidak peduli dengan ucapan ibunya, gadis itu dengan cepat kembali ke kamarnya. Entah mengapa dirinya punya firasat buruk tentang cowok itu. Jadilah Kara buru-buru mengurung diri di kamar. Menghindar.
Setelah mencuci tangan, Ibu Ana menjauhkan langkah. Pergi ke ruang depan untuk menjamu tamu yang tidak lain tidak bukan adalah Luis. Cowok itu ternyata hanya ingin memberikan sekotak rendang sebagai ucapan terimakasih dan salam untuk tetangga baru.
Dengan senang hati Ibu Ana menerimanya. Rejeki tidak boleh ditolak, kan lumayan untuk makan malam nanti.
"Makasih ya... Eh ayo masuk dulu, duduk-duduk. Ibu punya anak seumuran kamu lohh."
"Eh iya bu, makasih." Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Luis menerima tawanan Ibu Ana. Sekalian penasaran dengan wajah anaknya itu.
"Sini duduk, jangan sungkan. Anggap aja rumah orang lain." Ibu Ana membawa Luis ke ruang tengah. Menyuruhnya duduk di sofa depan televisi.
"Ehh... " Luis diam sejenak, mencerna maksud dari kalimat Ibu Ana yang ternyata hanya gurauan saja. Tidak habis pikir, ternyata wanita seumuran bundanya itu mempunyai selera humor yang receh juga.
Luis terkekeh. "Iya bu," ucapnya, sembari melihat-lihat rumah Ibu Ana.
Ibu Ana membawa thinwall ke dapur, meninggalkan Luis seorang diri. "Nakkk turun! Ada tetangga ini. Mau main!" serunya sebelum pergi.
Ini kali pertama Ibu Ana menerima tamu anak muda yang notabene belum berteman dengan kedua anaknya, terutama Kara. Gadis itu sama sekali tidak pernah membawa teman cowok. Melihatnya main bersama apalagi. Jadilah Ibu Ana berinisiatif membawakan anaknya itu teman cowok. Syukur-syukur mereka cocok.
Tidak menunggu terlalu lama, Ibu Ana kembali sambil membawa nampan bersisi minuman jeruk. Bersamaan dengan itu, Kara menuruni anak tangga. Gadis itu sudah berganti atasan dengan sweater putih dan rambut yang sudah rapi.
Setelah meletakan minuman di tas meja, Ibu Ana menatap putrinya dengan sumringah. "Nah ini anak ibu, namanya Kara."
"Oh shitt," batin Luis. Tidak menyangka jika ternyata anak Ibu Ana adalah si gadis aneh yang akhir-akhir ini menghiasi hidupnya. Dalam hati, Luis semakin yakin jika mereka adalah jodoh. Bagaimana bisa mereka akhir-akhir ini sering bertemu jika bukan karena takdir?
Tak sampai di situ, Ibu Ana juga mengenalkan Luis pada Kara. Menyuruh mereka bersalaman, yang mana langsung membuat Kara panas dingin. Seakan mengerti keinginan Luis, wanita itu meninggalkan mereka berdua di ruang tengah.
"Maklumi kalo Kara sedikit aneh ya, nakk. Gadis itu sulit beradaptasi sama orang baru, apalagi cowok. Tapi anak ibu masih normal kok, di ponselnya banyak foto naruto." Ibu Ana terkekeh, puas sekali meledek Kara. "Semoga bisa jadi teman baik," sambungnya sebelum pergi ke dapur.
Mendengar penjelasan Ibu Ana, Luis mengangguk sambil tersenyum. Cowok itu merasa keberuntungan berpihak padanya. Ibu Kara sudah memberikan lampu hijau, sekarang tinggal berpikir bagaimana cara agar Kara menerima dirinya.
Sepeninggal Ibu Ana, Kara memandang Luis dengan wajah gugup. Gadis itu tersenyum kikuk. "Silahkan diminum," ucap Kara basa-basi.
Luis mengangguk. "Gue kira bisu," lirihnya. Yang tentu saja masih terdengar oleh Kara, namun gadis itu memilih diam.
"Lo mau berdiri disitu terus?"
Mendengar pertanyaan Luis, Kara terpaksa mengambil tempat di ujung sofa. Sedetik kemudian, Luis pun berpindah posisi. Cowok itu memutar tubuhnya menghadap Kara, mengambil posisi ternyaman. Lain dengan Kara yang terlihat semakin resah dan gelisah.
Kara ingin sekali berlari ke kamar, bermain ponsel sambil tiduran. Tapi apa daya? Ibu Ana ternyata sudah senekad ini, membiarkan dirinya berhadap-hadapan dengan Luis.
"Kara, nama lo unik banget," ucap Luis berbasa-basi.
Mendengar itu, Kara mengerutkan dahi. "Wow, aku terkejut," ucapnya dalam hati. Lagi-lagi Kara ragu mengeluarkan suaranya.
Luis terus menatap Kara, netra mereka bertemu. Dengan senyum samar dan tatapan mendalam Luis, Kara terperdaya. Sama sekali Kara tidak bisa mengalihkan perhatiannya.
Pandangan itu menarik dan begitu menyesatkan. Kara seakan dipaksa menyelami tanpa diberitahu arah untuk kembali. Melihat bagaimana Kara menatapnya, Luis merasa di atas awan. Cowok itu berpikir Kara telah jatuh dalam pesonanya.
"Apa matamu tidak pedas, melihatku seperti itu tanpa berkedip?"
"Sial, kenapa tiba-tiba gue pake aku-kamu?"
Sesaat Luis dibuat salah tingkah dengan kalimatnya sendiri. Namun cowok itu dengan cepat menguasai diri, menormalkan gerak tubuh dan tetap memasang senyum samar.
Sedangkan Kara, gadis itu membuang wajah saat tersadar dari tingkah konyolnya. Berserakan sudah harga diri Kara. Bagaimana bisa dirinya menatap Luis seperti tadi. "Pasti cowok itu besar kepala, semoga tidak sampai berpikiran macam-macam," batinnya.
"Kara..."
"Yaa?" Kara menoleh, kembali menatap Luis dalam diam.
"Kenapa diam saja? Apa kau terlalu grogi bertemu denganku?"
aku suka bgt karyamu ini kak
alurnya ringan ga belibet sama konflik
sukses ya kak
semoga segala hal berjalan lancar