Mempunyai paras cantik dambaan semua wanita tak membuat kisah percintaan Rania mulus.
Rania mendapati sebuah penghianatan besar dalam hidupnya, yang dilakukan oleh calon suaminya sendiri.
Terlebih lagi Rania juga harus menerima kenyataan jika dirinya disebut - sebut sebagai perawan tua oleh sebagian masyarakat yang masih mempercayai mitos.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiyarakey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menata Hati
Bu Hadi POV
Beberapa hari setelah pernikahan sederhana Irwan baru ku ketahui sifat asli Mira.
Perempuan yang mengaku berasal dari kota, ternyata dia sangat malas.
Rania yang ku harapkan menjadi menantu rumah ini, ternyata pupus sudah, Irwan malah kepincut dengan perempuan kota dengan dandanan menor dan baju kurang bahan.
Banyak hal yang sudah aku persiapkan untuk Rania dan Irwan saat mereka menikah, sudah ku siapkan sebuah toko sembako untuk mereka kelola agar Irwan tak lagi pergi merantau.
Namun semua itu di hancurkan sendiri oleh putra kesayangannku, yang ternyata menghamili wanita lain.
Mendengar gunjingan para tetangga membuatku sangat malu, hingga tekanan darahku naik tak terkendali, hingga aku terkena serangan jantung.
Hingga saat ini, aku masih sangat malas melihat menantuku itu.
Namun semua harus ku jalani sebab Irwan di pecat dari pekerjaannya yang membuat dia dan istrinya tinggal bersama kami.
"masak apa bu,,,aku lapar???" ucap Mira saat keluar dari kamarnya.
"ibu tadi sudah masak sarapan,,, tapi tadi pagi,,, ini sudah jam 10 jadi sarapan sudah habis,, kalau lapar bisa masak sendiri!!!" ucap Bu Hadi.
"kalau begitu aku akan pesan pake ojek saja bu,,,, aku tidak bisa masak,,,,' ungkapnya dengan santai.
"disini tidak ada layanan ojek seperti itu, disini itu di pelosok, bukan kota,,,"
"lain kali bangunlah lebih pagi, bukan bangun jam 10 kalau mau sarapan,,, suami sudah pergi kerja kok baru bangun,,,, malu sama ayam,,," ucap Bu Hadi sambil berjalan memasuki kamar tidurnya,
Mendengar ucapan ibu mertuanya Mira pun jengekel, ia berjalan dengan kaki yang di hentak - hentakan di lantai dengan keras, lalu membanting pintu kamarnya.
***
"Dek,,,,, berhenti,,,,,mas mau bicara!!!!" ucap Irwan mencoba menghentika laju motor Rania.
"aku buru - buru mas,,,, sudah di tunggu ibu di rumah,,," ucap Rania tanpa menghentikan laju motornya,
Sementara Irwan terus memepet motor Rania dengan motornya Rania hampir jatuh.
Seketika itu pula Rania menghentikan motornya di tepi persawahan, sebab jalan menuju kampungnya harus melewati persawahan.
"apa -apaan sih mas,,,, aku hampir jatuh!!!" teriak Rania.
"mas kan bilang mau bicara sebentar sama kamu, kenapa kamu tidak mau berhenti???" tanya Irwan lagi.
"karena tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi mas,,, fokus sama keluarga barumu mas,,, " ucap Rania.
"mas masih mencintaimu Ran.,,,"
"sudah mas,,, simpan semua rasa cintamu untuk istrimu,,,," balas Rania.
"aku tidak mencintainya,,,,,"
"oiya,,,, sayangnya aku tidak percaya mas,,,"
"Rania,,,, aku mohon maafkan mas dek,,,, mas kemarin khilaf,,,,"
"oke,,, sudah aku maafkan mas,,, sekarang pergilah jangan pernah kamu temui aku lagi,," ucap Rania penuh penekanan.
"tidak bisa,,,, mas tidak bisa hidup tanpamu,,, mas akan memperjuangkan cinta kita,,,," balas Irwan.
"mas kamu masih waras kan??? Kamu sudah menikah mas, sebentar lagi kamu akan punya anak,,,, perjuangkan rumah tanggamu sendiri,,,"
"lagi pula sampai sekarang kamu masih bernafaskan walau tanpa aku,,,"
"permisi mas aku mau pulang,,," ucap Rania sambil menyalakan mesin motornya.
"selama kamu belum menikah, berarti aku masih akan memperjuangkanmu,,, karena setelah anak itu lahir aku akan menceraikan Mira,,,,,"
"terserah mas,,,, aku tidak perduli,, " ucap Rania sambil memutar gas di tangannya dan pergi meninggalkan Irwan di pinggir jalan.
Sesampainya di rumah Rania pun tidak menceritakan apapun pada orang tuanya.
Rania tak ingin menjadi beban pikiran kedua orang tuanya.
"kenapa baru pulang nduk???"
"biasanya tidak sampai semalam ini,,," tanya Bu Ningrum.
"iya bu,,,, tadi di toko sangat ramai buk pas mau tutup,,," jawab Rania berbohong.
"sudah makan belum???" imbuh Bu Ningrum.
"sudah bu,,," jawab Rania sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kayu yang sudah usang.
"bapak sudah tidur bu???"
"belum,,,,bapakmu tadi menghadiri undangan pengajian aqiqah di rumah Pak Anto,,,.istrinya baru melahirkan" jawab Bu Ningrum.
"lha itu suara motor bapakmu,,,," ucap Bu Ningrum.
Tak berapa lama Pak Usman pun memasuki rumah mereka dengan membawa besek berisi makanan berserta olahan daging kambing.
"Kok tumben lama pak???" tanya Bu Ningrum.
"iya,,, tadi bapak ketemu sama Pak Heru dan putranya yang baru pulang dari Korea itu,,,"
"oh,,, anak Pak Heru yang 5 tahun lalu berangkat ke Korea itu ya,,, itu kan teman sekolah Rania pas masih SD,,,, kamu ingat ngak nduk???" tanya Bu Ningrum pada Rania yang tengah asyik memakan buah jeruk dari dalam besek.
"itu kan kakak kelas ku bu,,,, bukan teman sekelas" balas Rania.
"pokoknya ibu ingatnya kamu kalau berangkat sering bareng dia,,, "
"sekarang dia ganteng lho nduk,,,, putih juga,,,, ndak kayak dulu ireng tenan (hitam sekali),,,,"
"namanya juga di luar negeri pak,,,,"
"ya sudah bu,,, aku ke kamar dulu bu,,, capek,,, besok aku shif pagi,,,," ucap Rania sambil beranjak dari kursi dan memasuki kamarnya.
"bapak ndak berencana menjodohkan Rania sama anak Pak Heru kan pak???" tanya Bu Ningrum tiba - tiba.
"kalau mereka berjodoh ya bapak ndak masalah bu,,,,,,"
"jangan pak,,,,biar Rania menata hatinya dulu,,," ucap Bu Ningrum sambil meninggalkan Pak Usman duduk sendiri di depan tv.
***
Pagi harinya Rania sudah sampai di minimarket tempatnya bekerja. Sejak pagi Rania sudah menata barang - barang yang terlihat berantakan.
Sejak pagi hingga sore nampak swalayan tersebut cukup ramai, Hilir mudik pelanggan yang datang dan pergi, membuat jam kerja Rania terasa semakn cepat.
"kamu Rania kan???" tanya seorang pria dengan kulit kuning langsat. Yang berdiri di depan meja kasir.
"iya,,, maaf anda siapa ya?? ucap Rania penuh kesopanan.
"masak kamu lupa sama aku,,, aku Andi tetangga sekampungmu,,," ucap pemuda itu sambil membuka topinya.
"masyaallah,,, mas Andi wajahmu berubah, aku jadi pangling,,," ujar Rania.
"iya,,,, sudah ingatkan,,,"
"kapan pulang mas,,,, kan sudah lama kamu di Korea,, sejak aku masih kelas 2 SMA kan???"
"iya,,,, sudah 5 tahun,, kangen juga sama kampung,,,"
Tak terasa sedikit obrolan mereka membuat antrian di kasir semakin mengular,, dengan suara deheman salah seorang pelanggan, obrolan singkat mereka pun usai.
Akhirnya Andi pun menbayar belanjaannya yang hanya sebotol teh dan beberapa camilan.
"kembaliannya ambil saja,,," ucapnya sambil meletakkan selembar uang berwarna merah dan berlalu meninggalkan swalayan tersebut.
"siapa dia Ran????" tanya Dini teman kerja Rania sejak pertama menjadi karyawan di toko tersebut.
"teman sekampung Din,,, dia baru saja pulang dari Korea,,, jadi aku agak pangling,,," ucap Rania.
Rania pun mengemasu barang bawaannya tak lupa mengunci lagi loker miliknya, karena jam kerjanya telah usai.
Saat hendak keluar dari toko, tak sengaja ia berpapasan dengan Irwan dan Mira.
Nampak Mira berjalan dengan bergelayut manja di lengan Irwan. Irwan nampak tak nyaman dengan perlakuan istrinya itu.
"eh,,,, lihat sayang,,, ini kan perempuan waktu itu yang menggangu tidur kita,,, pagi - pagi gedor - gedor pintu,,,," ucap Mira dengan nyaring serta membuat semua orang memandang ke arah Rania
Rania pun tak menanggapi ocehan Mira, Rania tetap fokus berjalan menuju parkiran untuk mengambil sepeda motornya.
"sudah cukup Mir,,, jangan kamu ganggu Rania,,," ucap Irwan dengan penuh penekanan.
"mas,,,, jaga istrimu agar dia tidak membuka aib kalian di depan umum,,,,kalau kalian masih punya malu ,,," lirih Rania sambil terus berjalan ke arah parkiran.
Dari kejauhan Rania mendengar perdebatan mereka,
"ayo pulang,, kita beli minum di tempat lain saja,,,," gertak Irwan sambil mencekal tangan Mira, serta menariknya menjauhi swalayan tersebut.
"jangan bilang kamu masih mrncintai perempuan itu ya,,,, aku tidak akan biarkan dia merebutmu dari aku,,," balas Mira dengan mengikuti langkah kaki Irwan yang cepat.
Rania pun meninggalkan tempat kerjanya dengan cepat, tak ingin amarahnya meluap di tempat kerjanya hingga membuat masalah baru untuknya