Indonesia
NovelToon NovelToon
My Lover'S Death

My Lover'S Death

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eidolon

Setelah kematian kekasihnya, Arsyana gadis yang awalnya ceria menjadi murung dan tertutup. Apalagi setelah mendengar berita tentang kasus kecelakaan yang merenggut nyawa orang terkasihnya ditutup tanpa menemukan sang pelaku tersangka. Dia bertekat menemukan sang pelaku. Awalnya tidak ada jalan ataupun petunjuk untuk menemukan tersangka, namun setelah kehadiran seorang pemuda hidupnya mulai mendapat teror yang mana ternyata teror tersebut membawa sedikit demi sedikit petunjuk tentang keberadaan sang pelaku tersangka hilangnya nyawa kekasihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Arsyana berada di dalam mobil yang terparkir di depan sekolahnya, sengaja Arsyana berangkat lebih pagi saat belum ada satu siswa pun yang berangkat.

Dia ingin mengetahui siapa pemilik motor kemaren yang dia yakini itu motor yang sama dengan yang mengalahkan Arkan malam itu.

Sudah cukup lama Arsyana berada di sana mengamati setiap siswa yang datang memasuki gerbang sekolah, dan sebentar lagi bell masuk akan berbunyi namun belum juga dia menemukan apa yang dia cari.

“Sial, sepertinya dia tidak datang,” gerutunya karena gagal dengan rencananya.

Akhirnya Arsyana segera melajukan mobilnya untuk masuk ke kawasan sekolah.

Arsyana berjalan menyusuri koridor dengan santai meski sebenarnya didalam hatinya kini tengah menahan kecewa karena usahanya bangun pagi tak membuahkan hasil.

Tepat saat bell berbunyi Arsyana baru tiba di kelasnya.

“Lo bukannya berangkat lebih dulu dari gue? Kok baru sampai, kemana aja lo?” tanya Arsenio.

“Bukan urusan lo,”

“Cih, gue aduin tau rasa lo,” ancam Arsenio.

“Gue buang kura-kura kesayangan lo kalo macem macem sama gue,”

Arsenio bergidik ngeri serta bola matanya melotot ketika mendengar balasan ancaman dari Arsyana.

Kemudian Arsenio tersenyum manis sampai matanya membentuk bulan sabit.

“Anggap aja gue gak tau apa-apa, okey. Jangan lo buang si Kulu nanti gue gak punya temen.”

Ya, Kulu adalah nama kura kura kecil milik Arsenio, entah mengapa dia sangat menyayanginya padahal menurut Arsyana itu sangat aneh.

“Ck, apa bagusnya hewan lambat begitu,” Gumam Arsyana.

Tak lama kemudian guru pun datang, dan mereka mulai mengikuti pelajaran seperti biasa.

~~

Arsyana menyusul teman-temannya yang kini berada di kantin, dia menyuruh kedua temannya itu untuk pergi lebih dulu karena dia harus menuju ketoilet terlebih dahulu.

Ditengah perjalanan menuju kantin dia bertemu dengan Leo yang sepertinya baru saja keluar dari ruang karate, ya dia adalah salah satu atlet karate di sekolahnya yang sudah banyak menyumbang piala dari kemenangan yang dia raih dari setiap turnamen yang dia ikuti.

“Sendirian aja?” tanya Leo dengan mensejajarkan langkahnya dengan Arsyana.

“Hmm”

“Nanti malem free gak?”

“Gak tau”

“Kalo free gue mau ajak lo jalan, biar gak bosen hidup lo”

Ucapan Leo membuat Arsyana menyunggingkan senyumnya tipis.

“Gue gak pernah bosen,” jawabnya singkat.

“Gak pernah bosen apaan, orang hidup lo flat flat aja tuh gue lihat”

“Lo gak tau gue, jadi gak usah sok tau,” balas Arsyana lalu mempercepat langkahnya.

Leo membuang nafas pasrah ketika melihat temannya itu benar benar menutup dirinya dari orang luar termasuk dirinya.

“Lo berubah, Sya. Dan gue gak suka lihat lo yang kayak gini,” lirihnya menatap punggung Arsyana yang semakin jauh.

Tanpa dia sadari terdapat sepasang mata yang memperhatikan mereka sedari tadi, dia adalah Alvian yang berdiri tak jauh dari posisi Leo saat ini.

Arsyana berjalan kearah meja teman temannya, dan dia melihat ada semangkuk mie ayam yang tadi dia pesan pada Jessica sebelum dia ketoilet.

“Nih Ra, sesuai pesenan lo,” ucap Jessica.

“Makasih,”

Tak lama setelah itu datang Leo yang segera duduk disamping Gavin.

“Lo gak pesen makan?” tanya Gavin.

“Diet gue, bentar lagi ada pertandingan,” jawabnya.

“Widih, cocok nih kayaknya kita iming iming makanan enak,” sahut Romi dengan senyum jahilnya.

“Sialan, gue tonjok nih” ucap Leo dengan memperlihatkan tangannya yang mengepal.

“Lagian lo ngapain sih diet segala, badan udah kurus kering begitu,” sahut Mila yang memang kenyataannya Leo memiliki tubuh paling kurus diantara ketiga pemuda disana.

“Heh tukiyem, lo pikir diet cuma buat ngurusin badan doang, diet gue tuh berguna dengan menjaga pola makan biar stamina gue kuat gak tumbang di arena,” sarkasnya.

“Dih gitu aja ngegas lo,” sahut Jessica.

“Lagian gue tuh gak kurus tau, nih lo gak lihat otot tangan gue segede ini,” Leo dengan sombongnya menunjukkan otot tangannya pada teman temanya.

Hal ini sudah biasa terjadi sehingga mereka hanya memutar bola matanya malas ketika Leo sudah berulah dengan memamerkan ototnya.

“Iya tau otot lo gede, udah ya gue mau makan dengan tenang,” ucap Arsyana membuat Leo kemudian membenarkan lengan bajunya.

“Sorry, boleh gue duduk sini, udah gak ada lagi kursi kosong soalnya,”

Tanya seseorang yang tiba tiba kini berada disebelah Arsyana, saat mereka melihat pemilik suara tersebut ternyata dia adalah Alvian.

“Ah, boleh duduk aja” jawab Mila antusias.

Kemudian Alvian duduk di samping Arsenio dan berada tepat didepan Arsyana.

“Lo belum punya temen disini?” tanya Arsenio.

“Belum,”

“Gabung aja kalo gitu sama kita,” sahut Gavin yang juga dengan antusias menerima Alvian.

“Emang boleh?”

“Boleh lah” jawab mereka serempak.

Alvian menatap kearah Arsyana yang masih diam menikmati makanannya.

“Udah gak usah khawatir, dia nerima lo kok tenang aja, emang dia begitu anaknya. Ya kan, Ar?” ucap Arsenio yang seakan mengerti isi pikiran Alvian.

“Hmm”

“Tuh kan, dia setuju” sahut Mila.

Alvian tersenyum tipis saat merasa dia satu langkah lebih maju dalam mendekati Arsyana.

***

Arsyana tengah berbaring di ranjangnya dengan memainkan ponsel miliknya, dia merasa jenuh tetapi tidak ada yang harus dia lakukan semua pr sudah dia kerjakan, ingin keluar tentunya tidak akan diizinkan karena ini sudah larut malam, tidur pun sepertinya matanya enggan terpejam.

“Dulu ada lo yang selalu siap gue repotin saat jenuh begini” lirihnya mengingat kenangan lampaunya disaat hidupnya masih diisi dengan kehadiran Alvaro.

Dia kembali bergeming dengan menatap langit langit kamarnya.

Pyarrr….

Tiba-tiba ada seseorang yang melempar batu memecahkan jendela kamar Arsyana yang membuatnya terperanjat kaget.

Segera Arsyana mengecek keluar melalui jendela yang pecah itu, dan terlihat ada seseorang dengan pakaian hitam tengah berusaha pergi dari sana.

“Woyyy, siapa lo?” teriak Arsyana namun tak diindahkan olehnya.

Saat hendak berlari keluar untuk memastikan Arsyana melihat sebongkah batu yang memecahkan kaca jendelanya itu terbungkus oleh kertas. Tanpa berpikir panjang Naura segera mengambil kertas itu dan membacanya.

IT’S TIME TO PLAY

Satu kalimat yang terbaca dalam kertas tersebut, membuat Arsyana mengerutkan keningnya.

“Maksudnya apaansih?” lirihnya kesal.

“Arsya, ada apa?” tanya Arsenio yang membuka kasar pintu kamar Arsyana disusul oleh yang lainnya dibelakang.

“Astaga Arsya” pekik Maria saat melihat kaca jendela kamar putrinya pecah berserakan.

Mereka semua terkejut saat melihat kondisi kamar Arsyana.

Melihat kedatangan mereka dengan segera Arsyana menyembunyikan kertas tersebut di belakangnya.

“Gak tau, tiba tiba ada yang lempar batu” jawabnya.

“Tapi kamu gapapa kan, sayang?” tanya Maria yang mulai panik.

“Gapapa Ma, tenang aja” jawab Arsyana

“Siapa yang berani melakukan ini dirumah saya, cari mati mereka,” geram Reymond.

“Kak Arsya punya musuh ya?” tanya Elvano.

Mendengar pertanyaan Elvano, Arsyana pun melotot kaget.

“Enggak lah musuh apaan,” jawabnya cepat.

“Terus kenapa ada yang mecahin kaca jendela kamar kakak?”

“Ya mana gue tau, lo tanya aja sama pelakunya, orang gue gak pernah cari masalah sama orang mana ada punya musuh”

“Lo bocil gak usah sok tau, selama ini Arsyana hidupnya flat flat aja, gak mungkin dia punya musuh” sahut Arsenio membela Arsyana.

“Udah udah kalau gitu Arsya tidur dikamar tamu dulu ya jangan disini, besok papa suruh orang buat benerin jendela kamar kamu” ucap Reymond.

“Iya pa”

Mereka kemudian pergi dari kamar Arsyana dengan Arsyana yang di tuntun mamanya.

Sementara Arjun masih diam mematung mencerna kejadian yang baru saja menimpa Arsyana.

“Apa ini ulah musuhnya bang Jevian?” gumamnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!