Val dan Arc cuma sahabat. Bahkan mereka juga masing-masing punya pacar. Tapi entah kenapa, perasaan khusus di antara mereka membuat hubungan persahabatan ini jadi rumit.
Kisah mereka semakin rumit karena mereka juga punya latar belakang keluarga yang ga biasa.
Hubungan mereka harus terhalang benteng yang tinggi. Hubungan ini selalu penuh konflik.
Akankan Val dan Arc tetap bersahabat tanpa melibatkan perasaan cinta di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evichii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Isi Hati
Arc menghembuskan asap rokoknya ke udara. Pikirannya makin kacau karena semalam papa ga pulang ke rumah. Apa papa emang sengaja bermalam di rumah Val?
Arc enggan bertanya pada mama. Tapi melihat ekspresi wajah mama yang tampak biasa-biasa saja sampai tadi pagi, pasti papa sudah berhasil meyakinkan mama dengan cerita karangannya. Entah itu meeting dadakan keluar kota atau apalah itu..
Arc bahkan ga pernah menyangka kalau papa sudah berani-beraninya selingkuh dari mama. Padahal selama ini, papa dan mama ga pernah bertengkar atau ada masalah serius. Itu setau Arc.
Justru papa sering bersikap romantis kepada mama. Papa orang yang pertama ribut soal hadiah ulang tahun untuk mama. Papa orang yang paling ga bisa makan makanan apapun kalau bukan masakan mama. Bahkan selama pergi meeting keluar kota pun papa selalu membawa bekal masakan mama.
Papa selalu membanggakan mama di depan keluarganya atau di depan kolega kantornya. Papa juga selalu ga pernah melupakan oleh-oleh untuk mama dan dirinya setiap ada kerjaan di luar kota atau luar negeri. Pokonya, papa selalu me-ratukan mama.
Ah, apa selama ini meeting keluar kota itu cuma alasan papa untuk menemui selingkuhannya? Sudah berapa lama papa berselingkuh dengan mama-nya Val?
Apakah Val juga memiliki rekaman video syur papa dengan mama-nya lalu menjualnya ke orang-orang? Bagaimana kalau seandainya salah satu pembeli video itu orang yang mengenal papa dan menyebarkan video itu di sosial media?
Arc kembali mengepulkan asap-asap putih ke udara melalui bibirnya yang membulat. Pikirannya kacau. Ia jadi ga punya semangat untuk mengikuti pelajaran satu pun hari ini.
Sejak kedatangannya tadi pagi ke sekolah, Arc malah menghabiskan waktu di tempat persembunyiannya. Dia sama sekali belum menampakkan diri di depan guru yang mengajar hari ini. Ia hanya menaruh tasnya di meja sebelum jam pertama dimulai, lalu langsung menuju ke sini. Ke tempat yang hanya diketahui olehnya, dan Val.
Arc mengakhiri hisapan rokok di tangannya, dan melumat puntung yang sudah memendek itu di tanah di sampingnya. Ia memanjat ke tumpukan meja bekas lalu merebahkan dirinya di atasnya. Pandangannya menatap lurus ke arah langit pagi yang sama sekali ga ada cerah-cerahnya.
Arc menikmati angin yang berhembus ringan menyapu wajahnya. Pikirannya terus mengingat kejadian kemarin, saat ia melihat papa sedang menikmati permainan penuh gairah bersama mama Val. Arc merasa malu, tapi juga kesal dan masih ga percaya dengan apa yang dilihatnya. Tapi semua itu nyata. Semua itu benar-benar terjadi di depan matanya. Bahkan suara desahan mama Val dan erangan nikmat papa masih terdengar jelas di telinganya. Menyebalkan!
Arc terpejam. Berharap semua ingatannya memudar. Berharap setelah ia membuka mata nanti, semua itu cuma sekedar mimpi buruk baginya. Arc terpejam hingga lama-kelamaan ia terlelap.
Cup!
Sebuah kecupan mendarat di bibir Arc. Arc mengernyitkan dahi merasakan samar-samar ada bibir lembut yang menyentuh bibirnya.
Arc masih enggan membuka mata. Ia meneruskan tidurnya. Menganggap itu semua hanya mimpi.
Cup!
Bibir lembut itu mendarat lagi di bibirnya. Bibir seorang cewek dengan aroma yang sangat dikenal oleh Arc. Kali ini bibir itu menempel lebih lama dan Arc bisa merasakan bibir itu melumat pelan bibirnya. Arc merasakan nyaman dan nikmat yang luar biasa. Ia merasakan hormon endorfin dan oksitosin di dalam tubuhnya bekerja lebih cepat, lebih bergairah.
Arc perlahan membuka mata dan ia melihat Val sedang memejamkan mata menikmati ciumannya yang semakin panas. Cewek itu melumat dan menjilati bibir Arc dengan sesekali mendesah pelan.
Arc tidak berkelit. Ia kembali memejamkan mata dan membalas perlakuan Val dengan lebih bergairah. Tangan Arc yang tadinya terkulai di samping tubuhnya mulai memeluk Val, menggerayangi kepala, punggung dan meremas bokong Val dengan gemas, membuat cewek itu akhirnya mengeluarkan suara desahan yang membuat Arc menegang.
"Berhenti sekarang, atau gue bisa kelepasan.." bisik Arc masih sambil terpejam ketika Val melepaskan bibirnya untuk mengambil napas.
"Coba aja lo kelepasan di sini terus kita kepergok guru.. Seru kayaknya!" Val tersenyum sambil bergeser dari atas tubuh Arc.
Arc ikut bangun dan duduk di samping Val. Ia menjilat bibirnya yang masih terasa hangat bekas ciuman Val tadi.
"Kok nekat masuk? Lo masih demam!" ujar Arc sambil menyentuh dahi Val dengan punggung tangannya, benar aja dahi itu masih terasa lebih hangat dari suhu tubuh orang normal. Arc bahkan bisa merasakan bibir Val yang masih terasa sedikit panas tadi.
"Bosen di rumah.." jawab Val ngasal. Ia membuka kancing kemejanya untuk mengeluarkan rokok yang disembunyikannya dan Arc kembali dibuat takjub setiap melihat belahan dada Val yang padat berisi.
"Bagi api.." seru Val sambil menatap Arc dengan mata hijaunya. Ah, seandainya ini bukan di lingkungan sekolah mungkin Arc sudah memangsa habis tubuh indah Val.
"Kancingin dulu baju lo!" Arc menunjuk bagian dada Val dengan dagunya. Sedangkan tangannya sibuk merogoh kaos kaki untuk mengambil kriket bensin.
Val nyengir dan malah dengan sengaja membuka lebih banyak kancing kemejanya. "Baru lo doang loh yang gue kasih liat.." goda Val iseng sambil membusungkan dadanya.
Arc menelan ludah menatap gundukan bulat dan padat itu tampak semakin jelas di hadapannya. Meskipun masih tertutup bra, Arc sudah merasa gelagapan dan panas dingin. Apalagi sekarang ia bisa melihat bagian perut Val yang langsing dan putih bersih. Arc susah payah mengendalikan diri.
"Tutup ga!" seru Arc sambil melotot dan ga berhenti menelan ludah. Val tertawa sambil menerima kriket dari tangan Arc. Ia menyalakan rokoknya dengan kancing kemeja yang masih terbuka.
Arc turun dari atas tumpukan meja bekas dan terpaksa mengancingkan kemeja itu dengan jengkel.
"Jangan ngegodain terus ah... Kan gue kesiksa!" bisik Arc sambil mengecup ujung hidung Val, sedangkan tangannya masih sibuk mengancingkan kemeja Val satu per satu.
"Enak ya jadi Regi.. Lo jago ciuman!" Val merengut berlagak cemburu.
"Apaan sih.." tukas Arc cepat. Ia ikut menyalakan rokok untuk kesekian kalinya.
"Argo tuh kaku.. Gue pernah ciuman sama dia, eh celananya langsung basah.." Val tersenyum geli. "Tapi ga tau kenapa gue sayang sama dia.. Sejak gue SMP dia yang selalu ada buat gue, segimana pun buruknya kelakuan gue.."
Val menatap Arc. "Lo tau ga siapa Argo?"
Arc menggeleng.
"Argo itu anaknya wakil ketua direksi sekolah kita.."
"Wow.. Gue baru tau! Pantesan dia keliatan keren.."
Val mengangguk sambil tersenyum. "Dan anehnya dia mau pacaran sama gue.."
"Siapa yang nyatain duluan?" Arc jadi penasaran.
"Dia lah.. Masa gue! Gue ga pernah kepikiran atau ada niatan untuk berhubungan serius sama cowok! Gue juga ga suka terlalu deket sama orang lain.. Lo tau kan kondisi keluarga gue??? Tapi dia tiba-tiba dateng, dan nyatain perasaannya ke gue.."
Val membulatkan bibir merah mudanya dan kepulan asap bulat keluar dari mulutnya.
"Awalnya gue tolak... Sekali... Dua kali.. Tiga kali... Berkali-kali! Tapi dia gigih!" Val tertawa. "Lama-lama gue ga tega!"
"Dia beruntung.." gumam Arc.
"Karena dia bisa dapetin gue?" tanya Val dengan pede-nya.
Arc tersenyum tipis. "Karena dia punya tipe cewek yang luar biasa.."
"Loh? Emang tipe cewek lo kayak gimana?" Val jadi kepo. Ia membulatkan mata hijaunya, menatap Arc tanpa berkedip dan mendekatkan wajahnya ke wajah Arc.
"Yang pasti bukan kayak lo!" jawab Arc sambil ketawa iseng dan mendorong kepala Val agar menjauh dari wajahnya.
"Nyebelinnn!" Val protes sambil mengelus dahinya. Bibir bulatnya manyun dan bikin Arc jadi makin ketawa.
"Lo aja nafsuan liat gue!" protes Val sambil melirik ke arah resleting celana Arc.
"Yeee, siapa yang ga sang* kalo disodorin bibir sama dada mulu!" Arc membela diri.
"Jadi lo deketin gue karena itu?" Val merengut.
"Lo duluan kan yang deketin gue!" jawaban Arc lagi-lagi bikin Val sebel.
"Jadi hubungan kita cuma sebatas ini?" Val melempar sisa puntung rokoknya dengan kesal dan menatap Arc juga dengan tatapan kesal.
"Ya ga lah... Kok jadi tiba-tiba kesel sih?" Arc meraih tangan Val dan menggenggamnya dengan lembut.
"Kita sahabatan.. Kita temenan baik, Lo bisa ngandelin gue dan cerita apa aja sama gue.. Tapi tetep aja hubungan kita bukan pacar kan?" Arc terdiam. Val juga terdiam.
"Umm, tapi jujur... gue emang ga bisa nahan nafsu tiap deket lo... Pengennya enak mulu.." Arc tersenyum sambil mengelus ujung rambut Val. "Maaf ya... Gue berusaha nahan, kok.. Asal jangan digodain mulu!"
Val tersenyum. "Terus?"
"Umm, teruuusss.. Kalo lo lagi pengen.. Jangan hubungin Argo, panggil gue aja... Gue siap.." bisik Arc dengan senyum jahilnya.
Val memukul dada Arc kencang sambil tertawa. "Mana iya lagi! Kayaknya gue juga kepikiran gitu!'
Arc ikut tertawa.
"Tapi gue masih perawan... Kita liat aja, siapa yang duluan buka segelnya nanti..." bisik Val di telinga Arc.
"Hmm.. Gue juga masih perjaka! Kita liat aja siapa yang pertama ketagihan sama senjata gue... Lo atau Regi!"
"Jangan kasih ke Regi.." Val merengek.
"Ya udah, lo juga jangan kasih ke Argo!" tegas Arc.
Arc dan Val lagi-lagi terdiam. Lalu tertawa lepas menyadari betapa konyolnya obrolan mereka pagi ini.
"Bokap gue nginep di rumah lo ya, semalem?" Arc mengalihkan obrolan mereka.
"Ga tuh! Bokap lo udah cabut sebelum jam 9 malem.. Nyokap gue ganti tamu!"
"Lo tau udah berapa lama bokap gue jadi pelanggan nyokap lo?"
Val menatap Arc dengan kikuk. Bagaimana ia harus mengatakannya pada Arc?
"Sejak kapan lo curiga kalo bokap lo punya selingkuhan? Maksud gue, apa selama ini bokap lu udah mulai nunjukin kalo sikapnya beda atau jadi sering berantem sama nyokap lo?"
Arc menggeleng. "Ga sama sekali. Semuanya normal..."
Val terdiam sejenak. Tangannya meraih tangan Arc.
"Lo janji ga akan ngejauhin gue kalo gue cerita?"
Arc menatap Val penuh tanda tanya. Ia yakin ada sesuatu yang disembunyikan Val darinya.
"Tergantung..."
"Maksudnya? Lo bisa jadi ngejauhin gue? Ngebenci gue gitu?"
Arc mengangkat bahunya. "Gue ga pernah tau sejak kapan bokap gue selingkuh atau jadi pelanggan nyokap lo.. Kalo ternyata ada rahasia yang lo sembunyiin dan pas gue tau ternyata itu bikin gue syok, yaaaa mungkin gue akan menjaga jarak sama lo.. Sementara waktu..."
"Contohnya? Contoh rahasia yang bikin lo syok?"
Arc menatap Val. Menatap dalam ke mata hijaunya yang indah.
"Gue bakal jaga jarak dari lo, seandainya ternyata lo sebenernya adalah adik kandung gue..."
Val tertawa. Bahkan tawanya lepas sampai terpingkal-pingkal.
"Ya ga lah! Kalo gue sama lo kakak adek.. Gue ga akan nyosor nyiumin lo mulu!"
"Ya terus apa dong! Lo bikin gue penasaran aja pake maen rahasia-rahasiaan!"
"Ummm.. Nyokap gue sempet ngenalin bokap lo sebagai calon suaminya.. Katanya mereka sempet hampir punya anak, tapi keguguran.."
"Whattt?" Arc beneran syok. Papa hampir punya anak sama nyokapnya Val? Gimana kalo sampe mama tau?
"Iya... Tapi gue menentang! Karena gue tau kalo laki-laki itu, maksud gue bokap lo.. Pasti suami orang! Gue ga mau kehidupan gue sama nyokap gue makin ribet lagi!"
"Kok lo tau?"
"Ya tau lah... karena bokap lo pernah ngebeliin sweater limited edition dari Itali.. Dan diem-diem gue denger bokap lo nelfon terus bilang gini, 'Ma.. Aku udah beliin kado buat anak kita.. Dia pasti suka..' Dan gue masih ga nyangka kalo sweater itu dia beliin buat lo kan? Kemaren lo pinjemin ke gue!"
Arc makin syok. Ternyata selama ini papa punya rahasia besar. Bahkan papa menjalani hubungan yang serius dengan nyokapnya Val. Apa papa tau tentang profesi nyokapnya Val? Apa perasaan cinta mengalahkan segalanya? Apa papa ga pernah berpikir perasaan mama dan juga Arc seandainya mereka mengetahui semua rahasia papa ini?
"Lo punya rekaman video nyokap lo lagi maen sama bokap gue?"
Val lagi-lagi menatap Arc dan mengangguk dengan segan. "I'm so sorry, Arc.. Gue ga tau kalo dia bokap lo..."
Arc mengangguk dengan tatapan mata kosong. "Jangan sebarin atau jual video itu ke siapapun! Kalo pun udah ada yang terjual, tolong kasih tau siapa pembelinya.. Gue akan bayar mahal untuk menebusnya.."
Val menyentuh bahu Arc dengan lembut. "Tenang Arc, gue bohong soal itu... Gue ga mungkin ngejual video p*rno.. Apalagi pemainnya nyokap gue sendiri.. Gue waktu itu cuma berencana jual itu ke lo.. Karena lo keliatannya kepo banget dengan apa yang gue tonton.."
Val tersenyum. "Maafin nyokap gue ya, Arc.. Karena udah ngerusak rumah tangga bokap sama nyokap lo.. Gue janji, bakalan cari cara untuk misahin mereka..."
"Thanks, Val.. Gue cuma ga mau liat nyokap gue sedih.."
Val menepuk punggung Arc di dalam pelukannya. Val ga yakin sama perasaannya. Tapi dia selalu bisa merasakan nyaman dan bahagia setiap ada di dekat Arc. Bahkan hati Val mendadak hancur ketika Arc terluka, seperti saat ini.
Dan sampai di hari ini setelah semua yang dilewati nya dengan Arc, Val semakin ga ngerti apakah perasaannya ini bisa disebut sebagai cinta? Yang jelas, hanya dengan Arc ia bisa merasakan setiap sensasi dalam hatinya. Entah itu bahagia, cinta bahkan gairah..
Val berbisik dalam hati... kalau ia akan selalu jadi orang yang paling ada untuk Arc, apapun kondisinya...
***