Namaku Chris. Christian Airlangga Jhonson, lengkapnya. Aku bule Amerika-Indonesia yang beruntung karena berasal dari keluarga kaya raya dan sanggup membuat diri sendiri juga kaya raya.
Wajahku tampan, hidung mancung, tubuh atletis, tinggi, putih, semua yang digilai wanita ada padaku tapi kenapa hanya nasib saja yang tidak beruntung bila bertemu dengan wanita? Mulai dari bertemu wanita yang mengaku hamil dariku lalu mencoba bunuh diri dan melahirkan anakku, lalu punya tunangan yang berselingkuh dengan sahabatku, juga deretan sekretaris cantik yang kupecat karena sudah keterlaluan menggodaku. Apa salahku?
Takdir mempertemukanku pada Reina. Berawal dari memilih sekretaris dengan baju paling sopan lalu bunga cinta yang datang belakangan ini mengusikku. Dia Islam dan aku Kristen, dan ia sudah memiliki suami dan anak. Apa aku ini telah menjadi pria penggoda untuknya? Serius! Takdir memutar fakta yang sebelumnya ada untukku. Jadi, aku harus bagaimana? Tolong, bantu aku menjawabnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maaf
"Tidak. Ayo ke sini Pak, makan. Ada nasi goreng nih ... Ayo dicicipi." Ahmad membukakan kursi untuknya. Chris lalu menghampiri meja. Ia meletakan bungkusan plastik yang dibawanya ke atas meja.
"Ini ada buah, Pak."
"Aduh, Pak, saya jadi tidak enak nih. Bapak kan bos istri saya, tapi malah datang bawa macam-macam ke sini. Padahal kami cuma bisa menawarkan Nasi Goreng saja."
"Kalau begitu, biar impas saya coba nasi gorengnya ya?"
"Oh, boleh, boleh, silahkan. Ini istri saya yang masak." Ahmad memberikan piring baru pada Chris. Pria itu mengambil sendiri nasi goreng sebanyak yang diinginkan, tapi ia tidak menemukan sendok.
"Ini dimakan pakai tangan ya?" Chris mencari pencuci tangan.
"Oh, gak. Ini sendoknya, Pak. Makannya pakai sendok." Ahmad memberikan sendoknya. Sementara anak- anak tertawa mendengar komentar Chris tadi. Chris masih belum mengerti apa yang terjadi.
Ini orang Indonesia atau orang asing sih? Masa, nasi goreng makan pakai apa, gak tahu. Aduh, Bosnya Ina aneh juga.
Sejurus kemudian, Reina selesai mandi. Ketika ia keluar, ia melihat bosnya sudah berada di meja makan. Chris pun melihat Reina keluar dari kamar mandi. Ia terpana. Baru kali itu ia bisa melihat Reina dengan wajah aslinya. Tanpa jilbab. Reina pun menyadarinya dan langsung berlari ke kamar sambil menutup rambutnya.
" Hati-hati Ina nanti kamu jatuh," Ahmad menasehati.
Anak-anak akhirnya selesai makan. Mereka mengumpulkan piring dan membawanya ke dapur.
Sekembalinya dari dapur anak-anak dibuat heran dengan wajah Chris yang berkeringat. Rupanya nasi gorengnya, ditambahkan sambal goreng saat membuatnya sehingga pedas. Sebenarnya tidak terlalu pedas, karena itu anak-anak menyukai, tapi bagi Chris yang belum bisa beradaptasi dengan rasa pedas, itu cukup pedas.
Reina keluar dari kamarnya siap untuk berangkat. Ketika ia keluar, ia melihat wajah Chris yang penuh dengan keringat, Reina panik.
"Bapak makan nasi gorengku ya?" Reina melihat sepiring nasi goreng di depan Chris.
"Ini lebih pedas dari yang kemarin. Air mana?"
"Ini. Ini." Ahmad mengambilkannya air segelas.
Chris menegak air putih itu segelas penuh. Habis tandas tak tersisa.
"Bagaimana?" selidik Reina.
"Yah lumayan. Haah."
"Harusnya Bapak jangan makan yang pedas-pedas dulu. 'Kan mau ketemu klien. Kalau sakit perut bagaimana?"
Chris masih memulihkan rasa pedasnya.
Salwa dan Aska tersenyum melihat wajah Chris yang seperti kepiting rebus.
"Bapak mau permen?"
"Saya kurang begitu suka permen."
Tiba-tiba .... "Ayo kita berangkat saja nanti kesiangan." Chris menarik lengan Reina tapi wanita itu menepisnya. Ia sepertinya lupa bahwa ia sekarang berada di rumah Reina.
"Mas, saya pergi dulu. Assalamualaikum."
Reina mengambil tangan suami dan meletakkannya di kepala.
" Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan ya Na ...." Suaminya memberi nasihat.
Chris menundukkan kepala. "Permisi, Pak." Chris memimpinnya di depan dan Reina mengikutinya.
Aduh, apa yang aku lakukan tadi? Apa suaminya curiga? Uh, bodohnya aku, rutuk Chris dalam hati.
Mereka masuk ke dalam mobil. Ahmad memperhatikannya dari kejauhan. Apa orang asing begitu ya? Spontan?
"Yah, buahnya enak, Yah. Ada anggur, ada apel. Ayah mau yang mana?" Suara Salwa membuyarkan lamunannya. Dilihatnya Aska dan Salwa asyik memakan buah di atas meja.
"Makanlah."
"Bosnya Mamap baik ya, Yah." kata Salwa lagi.
Ahmad mengangguk. Malah terlalu baik. Bahkan sampai-sampai aku merasa ia juga menyukai istriku.
---------+++-----------
Sudah satu jam mereka diam di mobil. Reina melihat ke jendela dan Chris fokus menyetir. Sampai akhirnya mereka melewati tol luar kota dan bertemu dengan kemacetan. Akhirnya Chris memberhentikan mobilnya dan menyadarkan punggungnya ke belakang.
Reina mulai bicara. "Jangan melakukan yang seperti itu lagi, Pak, aku mohon. Apalagi di depan suamiku. Aku takut dia berpikir yang tidak-tidak tentang diriku."
Chris mengambil kunci mobilnya. Kepalanya tertunduk sambil memainkan kunci mobil itu di tangannya. Ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa pada Reina, karena ia sendiri tidak tahu jawabannya.
Mobil-mobil mulai bergerak di depannya. Dengan sigap Chris menghidupkan dan menjalankan mobilnya. Sejurus kemudian, jalanan sudah lancar kembali, tapi tiba-tiba mobil berbelok ke sebuah tempat parkiran pas di depan sebuah kafe.
"Kok kita belok ke sini Pak, 'kan sebentar lagi sampai."
"Mulutku masih terasa pedas," sela Chris turun tanpa menoleh. Reina hanya bisa mengikuti.
"American Express dan Cafe Latte satu, ya, Pak ya? Ada yang lain?"
Chris melirik ke arah Reina yang menggelengkan kepalanya. "Itu saja."
Kasir memproses pembayarannya.
Chris mencari tempat duduk paling ujung di ruangan itu. Reina mengikuti sambil membawa baki berisi kopi. Mereka memilih duduk saling berhadapan. Reina mengeluarkan dari baki, kopi Chris dan dirinya.
Reina mengaduk kopinya. Suasana terdiam cukup lama, hingga akhirnya Reina memulai percakapan lebih dulu. "Bapak marah padaku?"
"Tidak." Jawab Chris cepat. Ia masih menunduk. Tiba-tiba ia mengangkat kepala. "Sebenarnya aku mau minta maaf," serunya pelan. "Hanya saja aku tidak tahu harus mulai dari mana."
Reina terkejut. Dia ingin minta maaf? Bosku ingin minta maaf?
"Aku tidak ingin gara-gara aku, kalian malah bertengkar. Saat itu aku refleks saja, karena terbiasa denganmu, aku menarik tanganmu. Aku sudah merasa seperti teman." Yah, hanya kalimat ini yang bisa menyelamatkan aku saat ini, pikir Chris.
Reina berpikir sejenak. "Baiklah," jawabnya pelan.
Chris mengangkat tangannya untuk berjabat tangan. "Teman, 'kan?"
Reina menyambut tangan Chris. "Teman." Mereka bersalaman.
Chris tersenyum. Akhirnya bisa juga aku berdamai dengannya. "Oh, aku ingin tahu kenapa kamu dipanggil 'Mamap' sama anakmu. Instead of(dibanding) 'Mama' 'kan lebih bagus didengarnya."
"Oh itu. Sudah dari awal dipanggil begitu, mau bagaimana? Nikmati saja." Reina tersenyum.
"Oh begitu."
"Iya." Reina masih tersenyum. Indah sekali. Sampai-sampai Chris tak tahu harus berbuat apa.
Reina. Apa keputusanku sudah benar ya, menjadikanmu teman. Di saat aku memutuskan itu, kau malah tersenyum manis padaku. Bagaimana bisa aku melupakanmu, batin Chris resah.
"Chris, Chris! Ini aku Chris." Seorang wanita cantik berteriak sambil melambai-lambaikan tangannya di dekat kasir. Ia berjalan menghampiri sambil membawa baki berisi kopi dan roti.
" Helen?" Chris mengerutkan keningnya.
"Siapa? "
"Mantan pacarku."
"Apa?"
"Reina, tolong aku ya?"
"Apa ...."
"Aku tidak ingin bertemu dengannya. Kamu ikuti saja aku, ok?" bisik Chris cepat.
Reina mengangguk.
"Ah Chris, apa kabar? Apa kau masih di Jakarta?"
Chris langsung berdiri. "Maaf aku ada janji dengan orang. Lain kali saja ya? Aku sedang terburu-buru." Reina pun ikut berdiri dan merapikan gelas-gelas plastik untuk dibuang. "Bye."
-----++++------
Chris sedang merapikan stik golf-nya. Sesekali ia mengeluarkan stik Golf-nya dan mengusapnya. Mereka telah menunggu selama setengah jam di cafe itu tapi yang ditunggu belum kunjung datang. Chris telah mencoba menghubungi temannya tapi sepertinya ia terjebak kemacetan di jalan.
Langit sangat cerah. Cafe yang menghadap lapangan golf itu, mulai dipenuhi dengan orang-orang yang datang untuk main golf.
"Kau bisa main golf? Oh iya, tentu tidak bisa ya?" Chris menjawab sendiri pertanyaannya.
Duh, sombong sekali orang ini ya? Benar-benar ...!
Chris melihat ke arah Reina. "Mau kuajari?"
"Tidak." Reina menjawab dengan cepat.
"Kenapa tidak?"
"Tidak mau."
" Kenapa tidak mau?"
"Malas." jawab Reina sekenanya. Kenapa sih mesti memaksa orang? Kalau dibilang tidak mau ya tidak mau.
"Hei Chris. Sorry telat. Ada urusan dulu baru bisa ke sini." Tiba-tiba temannya sudah berada di belakangnya.
"Eh, Vick. Aku juga belum lama. Kliennya mana?"
"Tuh di belakang. Masih jetlag (mabuk pesawat) dia. Baru pulang dari Amrik, katanya."
Seorang pria paru baya datang bersama Caddy-nya( pelayan pembawa stik golf) yang seksi.
"Kalau kamu bisa deal kerjasama sama dia, mungkin dia bisa bantu kamu Go Internasional Chris." bisik Vicky ke telinga Chris.
"Ok."
"Maaf ya Om baru bisa datang. Semalam pesawatnya baru landing (turun) jam 11 malam, jadi yah ..." Telapak tangannya di goyang-goyangnya perlahan.
"Kamu Chris, 'kan?"
"Iya Om."
"Ini Pak Wiryo, Chris." Mereka bersalaman.
"Ini..." Pak Wiryo menunjuk Reina.
"Oh, Sekretaris saya, Pak."
Wiryo melihat Reina dari atas sampai bawah. Reina merasa risih.
"Ok kita tanding. Sambil jalan kita bicarakan apa saja."
Vicky, Pak Wiryo dan Chris mempersiapkan stik golf mereka masing. Pak Wiryo melihat Chris yang merapikan stik golf-nya sendirian.
"Kenapa Sekretaris kamu tidak membantumu membawanya?"
"Oh. Aku lupa mau pesan Caddy. Reina, tolong pesankan satu."
"Baik, Pak." Reina segera pergi mencari ke bagian administrasi. Sementara itu, kendaraan kereta golf telah datang satu-satu untuk dipakai para pemain golf.
"Saya duluan, biar saya carikan spot yang bagus untuk memukulnya, ok?" Pak Wirya melambaikan tangannya.
Chris mengangkat alisnya sebelah tanda tidak suka. Orang ini terlalu bossy(rewel), pikirnya.
"Kenapa tidak dari tadi pesan Caddy-nya?" Gerutu Vicky. "Ya sudah. Nanti Caddy-nya sama aku saja."
"Terima kasih Vick." Ia menepuk bahu Vicky.
Sejurus kemudian, mereka telah berkumpul di tempat yang telah ditentukan Pak Wiryo. Mereka memukul bola golf sambil membicarakan bisnis masing-masing.
Chris memukul bola agak melenceng jauh dari tempat Pak Wiryo dan Vicky berada. Chris mengajak Reina menjemput bola dengan kereta golf. Tetapi setelah sampai, Chris malah tidak mau turun dari kendaraannya.
"Kenapa, Pak? Ini bolanya tidak masuk air kok. Masih bisa dipukul, Pak."
"Malas."
"Bapak jangan meledek aku ya," Reina sudah berkacak pinggang.
Chris tertawa. Ia kembali teringat bahwa ia telah menggunakan kata yang tadi telah Reina ucapkan.
"Baiklah aku pukul bolanya." Chris turun dari kereta golf-nya.
"Mana? Oh ini dia." Chris mengambil ancang-ancang. Ia melihat ke sekeliling untuk mengetahui ke arah mana ia ingin lempar atau pantulkan. Tiba-tiba ia melihat serombongan pegolf datang dari arah berlawanan. Ia seperti melihat seseorang yang ia kenal di dalam rombongan itu. Oh, tentu saja. Itu Helen!
Chris panik. Ia melihat ke arah Reina dan langsung mendekat.
Emang Reina virus?
sadar diri, kamu anak siapa.
sadar diri,, kamu dibesarkan oleh siapa.
iiiissshhhttt,,,, chrisssssss 😬😬😬😬,,, benar2 pengen ku jitak kepalamu. langamsung nikah aja napa. 😤😤😤
greget aku,,, pengen ku jontorkan itu bibirmu ke tiang listrik
aku yang greget jadinya.
iiihhhh,,,, oemgen ku benturkan kepalamu ke dinsing chriiiiissss 😡😡😡
susah amat memyatakan cinta. tarik ulur - tarik ulur macam layang2. klo kamu macam gini trus,,, ku doakan alex saja yang nikaj dengan reina 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣....
upppsss,,,, walaupun aku tak rela 🤣🤣🤣🤣🤣🤣