Seorang gadis yang sejak kecil hidup menderita di sebuah desa bersama orang tuanya. Namun ternyata setelah beranjak dewasa dia baru tahu kalau selama ini dia adalah anak dari keluarga kaya.
Cerita ini akan marajuk pada pemeran utama yang tidak ingin patuh pada keluarganya. Ia merasa di khianati dan akan mengambil kembali apa yang menjadi haknya.
Namun, sebenarnya ada hal lain yang tidak di ketahui pemeran utama yang pada akhirnya akan membuatnya menyesali perbuatannya.
Cerita ini bukan cerita tentang anak yang di tukar seperti cerita cerita biasanya. akan ada alur yang mungkin tidak terduga oleh pembaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Mawarni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Bisikan Dari Ruang Hampa
"Tidak... Jangan... Tidak...!"
Maya gelisah dalam tidurnya, kepalanya bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri di atas bantal. Keringat dingin membasahi pelipisnya, menyeretnya kembali ke dalam labirin memori kelam yang pengap.
"Nona... Tenanglah. Kami semua akan menjaga Nona. Anda tidak sendirian di sini. Tenanglah, Nona..."
Sebuah vokal yang teramat lembut memotong mimpi buruk itu. Suara itu terasa nyata, bergaung di udara, perlahan-lahan meredakan badai yang berkecamuk di kepala Maya hingga dadanya kembali naik-turun dengan teratur. Kedamaian yang ganjil.
Ngiiing—
Maya tersentak, kelopak matanya terbuka lebar. Napasnya memburu. Matanya segera menyapu sekeliling ruangan. Langit-langit putih, gorden mewah, aroma pengharum ruangan yang mahal. Ini kamarnya di rumah ini. Memorinya berputar lambat, merajut kembali kejadian gila tadi malam. Sialan, dia hampir saja dilenyapkan jika Ethan tidak muncul tepat waktu.
"Ethan..." gumam Maya lirih, mengingat bagaimana pemuda itu menerobos barisan pria kekar demi menariknya keluar dari bahaya.
Denyut rasa sakit yang hebat mendadak menjalar di kepalanya, berpusat di kening bagian kiri. Maya meringis, menyentuh bagian itu dengan ujung jarinya. Benar, di sana sumbernya. Memori visual berkelebat: kepalanya yang dihantamkan sekuat tenaga ke dahi penculik itu. Sebuah kenekatan yang harus dibayar mahal pagi ini.
Klek.
Pintu kamar kayu jati itu berayun terbuka. Asha dan Inu melangkah masuk dengan tergesa-gesa.
"Maya..." panggil Asha, seulas senyum rapuh terbit di wajahnya sebelum ia bergegas duduk di tepi ranjang.
Wanita itu langsung meraih jemari dingin Maya, menangkupnya dengan kedua tangan lalu menempelkannya ke pipinya sendiri. Matanya merah dan sembab. "Maafkan Mama, Maya. Ini semua salah Mama... hiks." Tangisnya kembali pecah.
"Papa juga minta maaf, Nak," Inu ikut bersuara, berdiri di kaki ranjang dengan bahu yang turun, kehilangan wibawa tegapsnya. "Tidak seharusnya Papa mengeluarkan kata-kata yang menyakiti perasaanmu semalam."
Maya hanya menatap mereka dengan tatapan datar, menahan gejolak emosi yang mendesak di dadanya. Ironis. Kata-kata Inu semalamlah yang membuatnya berlari keluar rumah menuju bahaya. Penyesalan orang tuanya selalu datang terlambat, saat tubuhnya sudah terlanjur babak belur.
"Ma, Pa... aku ingin sendiri," potong Maya dingin, memalingkan wajahnya lurus ke arah jendela, menolak menatap sepasang netra mereka.
Gurat kekecewaan yang mutlak dari Maya memukul mundur Asha. Dadanya sesak, ingin rasanya ia menetap di sana untuk merawat putri kandungnya yang malang, namun ia tahu luka Maya terlalu dalam. Akhirnya, dengan langkah gontai, kedua orang paruh baya itu keluar dari kamar dengan kepala tertunduk.
Tak lama setelah pintu tertutup, siluet tubuh tinggi Ethan muncul di ambang pintu. Ia melangkah masuk tanpa canggung, membawa sekeranjang kecil peralatan medis. Di matanya, ada sorot protektif yang ganjil saat melihat Maya yang masih termenung menatap kosong ke luar jendela.
"Maya, aku akan bantu mengganti perbanmu," ucap Ethan, memecah kesunyian kamar.
"Em," jawab Maya pendek, tak berminat memindahkan pandangannya dari langit biru di balik kaca.
Ethan mulai bergerak taktis. Bunyi gesekan gunting yang memotong kain kasa dan denting botol antiseptik beradu di keheningan kamar. Dengan perlahan, jemari kokoh Ethan melepas balutan kain kasa yang melingkari kepala Maya, memaparkan kulit keningnya yang lebam keunguan.
Ethan meneteskan obat pereda nyeri, lalu menekankan kapas itu lembut ke atas luka.
"Ssh...!" Maya tersentak kecil, rasa perihnya menyengat saraf.
Secara refleks, Ethan memajukan wajahnya, meniup permukaan luka itu dengan embusan napas yang lembut untuk mengurangi rasa perih, persis seperti yang sering dilakukan seorang abang kepada adiknya.
Maya mematung. Jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa melihat kerutan cemas di dahi abang kandungnya. Sesuatu yang asing bergolak di dalam dadanya. Mengapa pemuda yang biasanya selalu menyulut pertengkaran dengannya mendadak berubah selembut ini?
"Terima kasih," ucap Maya, suaranya nyaris menyerupai bisikan.
Ethan mengulas senyum tipis—sebuah senyum tulus yang jarang ia perlihatkan—lalu menyelesaikan balutan perban barunya dengan rapi.
"Tapi... sebenarnya siapa mereka?" tanya Maya, matanya menyipit penuh selidik.
"Hanya sekelompok anjing kecil yang salah masuk kandang," jawab Ethan santai, membereskan kembali peralatan P3K ke dalam kotak. "Mereka sudah diatasi sampai ke akarnya. Kamu enggak perlu takut lagi."
Ethan berbalik, bersiap pergi, namun langkahnya terhenti di dekat meja nakas. "Minum obatmu," tambahnya, melirik beberapa butir kapsul di sana. Sebelum melangkah keluar, tangan Ethan terangkat, menepuk pucuk kepala Maya dan mengelusnya sekilas.
Deg.
Sekujur tubuh Maya mendadak seperti tersengat aliran listrik. Rasa hangat yang aneh menjalar dari puncak kepalanya menuju dada. Perasaan dilindungi oleh seorang kakak—sesuatu yang belum pernah ia cicipi sepanjang hidupnya. Ia tidak tahu apa artinya, dan ia benci fakta bahwa benteng pertahanannya sedikit goyah karena elusan itu.
"Takut... hm?" Maya menarik sudut bibirnya, menyunggingkan senyum getir yang penuh determinasi setelah Ethan menghilang di balik pintu. "Sudah tidak ada kata takut lagi di dalam kamus hidupku."
Ia meraih mangkuk bubur sarapannya, memakannya dengan tenang meski sendi-sendinya terasa remuk, lalu menelan obatnya hingga tandas. Rasa sakit fisik tidak akan menghentikannya. Hari ini, ia harus tetap pergi ke sekolah.
Saat Maya sudah rapi dengan seragam sekolahnya, ia memutar slot kunci pintu dan melangkah keluar ke koridor lantai dua. Dari lantai bawah, sayup-sayup vokal manja yang sangat ia kenali menggema dari arah ruang makan. Maya menghentikan langkah di tepi railing tangga, mengintip ke bawah.
"Pa... pulang sekolah nanti, boleh enggak aku pergi ke mall? Ada beberapa buku referensi yang harus aku beli," tanya Hati, wajahnya mendongak menatap Inu dengan binar mata yang polos.
"Boleh, Sayang. Tapi Papa akan menyuruh beberapa pengawal untuk mengawasimu dari jauh," jawab Inu dengan nada suara yang teramat memanjakan.
"Makasih, Papa...!" seru Hati, wajahnya berseri-seri penuh kemenangan saat ia berbalik dan berjalan dengan langkah riang menuju pintu utama.
Di atas tangga, sepasang mata Maya menggelap. Ke mall? Membeli buku dengan ekspresi segembira itu setelah kekacauan semalam? Pikirannya langsung merajut benang merah yang sinis. Hati pasti sedang merencanakan agenda berikutnya untuk menyingkirkannya. Senyuman gadis itu terlihat sangat manipulatif di matanya.
Setelah bayangan Hati benar-benar lenyap di balik pintu depan, Maya melangkah menuruni anak tangga dengan anggun, memecah atmosfer ruang makan.
"Maya?" Asha tersentak kaget saat menyadari kehadiran putrinya. "Sayang... kamu mau ke sekolah? Tapi tubuhmu masih sakit, Nak..."
"Aku enggak apa-apa, Ma. Lagian aku bosan kalau cuma berbaring di rumah," jawab Maya, intonasinya sengaja dibuat ketus untuk menjaga jarak.
"Tapi, Hati baru saja berangkat..." Asha berujar dengan raut wajah yang kian cemas dan bingung, takut jika kedua putrinya kembali terlibat gesekan di jalan.
"Biar aku saja yang mengantar Maya, Ma," sahut Ethan tiba-tiba, menyeka sudut bibirnya dengan tisu kain lalu bangkit dari kursi.
Asha dan Inu saling melempar pandang, kehilangan kata-kata. Mereka hanya bisa mengangguk pasrah, membiarkan Ethan memegang kendali pagi ini.
Di dalam kabin mobil yang melaju membelah jalanan kota, atmosfer mendadak berubah canggung. Maya menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menatap jalanan dengan pikiran yang berputar. Sejak awal menapakkan kaki di rumah mewah itu, Ethan sudah memproklamirkan diri sebagai pelindung Hati dan selalu memandangnya rendah.
Namun ekspresi panik Ethan tadi malam saat memeluk tubuhnya yang lemas terus membayangi benak Maya. Apakah ikatan darah memang sekuat itu? Atau ini hanya taktik baru?
"Kamu sedang melamunkan apa?" tanya Ethan tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depan.
Maya memutar tubuhnya, menatap lurus profil samping wajah abangnya. "Ethan... apa kamu menginginkan sesuatu dariku?" tanya Maya dengan nada tegas dan penuh selidik.
Menurut kalkulasi logisnya, tidak ada ketulusan yang berubah dalam waktu satu malam. Pasti ada motif tersembunyi di balik kebaikan mendadak ini.
Ethan mengulas senyum tipis, lalu mengembuskan napas panjang, membiarkan keheningan menggantung sejenak di antara mereka. Gelagat itu membuat Maya semakin yakin bahwa dugaannya seratus persen akurat.
"Kamu benar-benar tidak punya sopan santun," celetuk Ethan akhirnya, nadanya datar namun fokus menyetir. "Setidaknya aku ini abangmu, jauh lebih tua darimu. Kapan kamu bisa belajar bersikap lembut dari Hati...?"
Kalimat itu seperti menyentak urat kemarahan Maya. Dinding sinisnya kembali berdiri kokoh.
"Aku bukan Hati," jawab Maya dingin, matanya menatap tajam, menghunus wajah Ethan dari samping dengan Gurat mendung yang pekat. "Kamu tidak perlu repot-repot membandingkan aku dengan dia. Kami hidup di dunia yang berbeda, lingkungan yang berbeda, perasaan yang berbeda... dan orang tua yang berbeda."
Atmosfer di dalam mobil seketika membeku menjadi sedingin es. Ethan bungkam, rahangnya mengatup rapat. Ada kilat penyesalan yang mendalam di sepasang matanya. Ia tidak berniat memojokkan Maya; ia hanya belum tahu cara berkomunikasi dengan adik kandungnya yang dipenuhi duri trauma. Terlebih, setelah dokter semalam membeberkan detail mengerikan tentang seluruh bekas luka cambuk dan siksaan masa kecil yang memenuhi punggung Maya.
Beberapa waktu berlalu hingga ban mobil berhenti sempurna di depan gerbang megah sekolah. Maya segera meraih tasnya, bersiap membuka pintu, namun suara Ethan menahannya.
"Maya, tunggu."
Maya menoleh kaku. Ethan mengulurkan sebuah tas kertas kecil bermerek ke hadapannya.
Ragu dan curiga berkelebat di benak Maya, namun ia tetap menyambar tas itu dari tangan Ethan tanpa mengucap sepatah kata pun, lalu turun dari mobil.
Setelah sedan mewah itu kembali melaju melintasi aspal, Maya membuka isi tas kertas tersebut. Di dalamnya, ada sekotak susu segar dan roti lapis premium yang masih hangat. Maya menatap makanan itu dengan senyum kecut yang samar.
Ia melangkah mendekati sebuah tong sampah besar di sudut koridor luar sekolah. Tangannya terangkat, memosisikan tas kertas itu tepat di atas lubang sampah, siap untuk menjatuhkannya. Namun, jemarinya mendadak kaku. Perlahan, Maya justru menggenggam erat tali tas kertas itu, menariknya kembali ke dalam pelukannya.
Setidaknya... dia tidak mungkin berniat meracuniku dengan cara se-klise ini, batin Maya, mencoba menepis ego sinisnya demi sepotong roti hangat dari abang kandungnya. Sembari membawa tas kertas itu, ia melangkah mantap memasuki area sekolah.
***
astaghfirullah cucu baru ketemu bukan nya berusaha nemuin malah mau membunuhnya,gila sih keluarga kandung maya
andai Hati bisa diginiinn...
,, yg pasti fisik Maya jdi makin kuat donk...