"Janji Sahabat" menceritakan kisah tiga remaja yang dipertemukan oleh takdir di bangku SMA. Arga yang pendiam, Nanda yang penuh semangat, dan Dimas yang humoris bersumpah akan tetap menjadi sahabat sampai impian mereka terwujud.
Namun, perjalanan menuju masa depan tidak pernah mudah. Kemiskinan, perpisahan, kegagalan, dan musibah datang silih berganti, menguji kesetiaan mereka. Saat keadaan memaksa mereka memilih antara menyerah atau mempertahankan janji, mereka menyadari bahwa persahabatan sejati tidak diukur dari seberapa sering bertemu, melainkan dari keberanian untuk tetap saling menggenggam ketika dunia terasa runtuh.
Akankah janji yang mereka ucapkan di bawah langit senja mampu bertahan menghadapi kerasnya kehidupan? Ataukah waktu akan memisahkan mereka untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keke Ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Liburan Semester
Liburan akhir semester pertama tiba dengan riang, ditandai bagi-bagi rapor yang membuat orang tua murid berbondong-bondong datang ke sekolah. Raka menerima rapornya dengan nilai yang cukup memuaskan, meski ada catatan kecil dari wali kelas: "Anak yang tekun, tapi terlalu sering menahan diri untuk tampil di depan kelas."
Sepulang pembagian rapor, ketiganya berkumpul di bawah pohon beringin seperti biasa, kali ini dengan suasana yang lebih santai karena tidak ada PR atau tugas mengejar tenggat.
"Tiga minggu libur, guys," seru Adit sambil merentangkan tangan seolah membebaskan diri dari penjara. "Kita harus rencanain sesuatu yang seru. Nggak lucu dong liburan cuma tidur-tiduran di rumah."
"Aku sih di rumah aja kayaknya," kata Raka, agak enggan. "Bulan ini lagi rame orderan Ibu, biasanya aku bantu-bantu jualan pas libur."
Naya, yang sejak beberapa minggu terakhir terlihat lebih tenang meski suasana rumahnya masih tegang karena proses perceraian orang tuanya yang berjalan lambat, tiba-tiba angkat bicara. "Gimana kalau kita bantu Tante Sulastri bareng-bareng terus sisa waktunya kita jalan-jalan? Aku denger Curug Sendang lagi ramai dikunjungi, katanya airnya jernih banget."
Adit langsung bersemangat. "Ide bagus! Lagian aku juga pengen jauh-jauhan dulu dari rumah." Ia mengatakannya sambil tertawa ringan, namun Naya dan Raka yang kini sudah mengenal betul kebiasaan Adit menyembunyikan luka di balik candaan, saling melempar pandang penuh arti.
Sore itu juga, ketiganya mendatangi rumah Raka untuk membicarakan rencana tersebut sekaligus menawarkan bantuan pada Bu Sulastri, yang sedang sibuk menyiapkan pesanan kue kering untuk musim liburan.
"Wah, kalian mau bantu Ibu?" Bu Sulastri tersenyum haru, mengusap peluh di dahinya. "Kebetulan banget, orderan lagi banyak. Tapi jangan lupa, tetap sisain waktu buat seneng-seneng juga, ya. Masa kecil kalian nggak akan terulang."
"Tenang aja, Tante," sahut Adit sambil mencomot satu kue kering yang baru matang, langsung disambut jitakan main-main dari Bu Sulastri. "Kita udah rencanain, abis bantu-bantu di sini, kita ke Curug Sendang!"
Naya, yang duduk di dekat meja sambil membantu memasukkan kue ke dalam toples, tiba-tiba teringat sesuatu. "Eh, tapi... aku belum tanya izin ke rumah. Akhir-akhir ini agak susah minta izin, soalnya..."
Ia tidak melanjutkan kalimatnya, namun ketiganya tahu apa yang dimaksud. Sejak berita perceraian mencuat, orang tua Naya menjadi sangat protektif secara bergantian—seolah berlomba membuktikan siapa yang lebih peduli padanya, meski caranya justru membuat Naya merasa semakin terjepit.
"Kalau perlu, biar Tante yang telepon ke rumahmu," tawar Bu Sulastri lembut, menangkap kegelisahan di wajah Naya. "Kadang orang tua lebih percaya kalau ada orang dewasa lain yang meyakinkan."
Naya menatap wanita paruh baya itu dengan mata berkaca-kaca. "Makasih banyak, Tante."
Malam itu, benar saja, panggilan telepon dari Bu Sulastri berhasil meyakinkan ibu Naya untuk mengizinkannya ikut acara liburan bersama teman-temannya—sesuatu yang belakangan ini jarang terjadi karena ibunya terlalu sibuk dengan urusan perceraian hingga lupa bahwa anaknya juga butuh menjadi anak-anak biasa yang bisa bermain dengan bebas.
Tiga hari kemudian, setelah membantu Bu Sulastri menyelesaikan setengah dari pesanan kue keringnya, ketiga sahabat itu akhirnya bersiap untuk perjalanan pertama mereka tanpa pengawasan orang dewasa—naik angkutan umum bersama menuju Curug Sendang yang berjarak sekitar satu jam dari kota.
"Ini pertama kalinya aku jalan jauh tanpa disopirin," celetuk Naya sambil menatap keluar jendela angkot, matanya berbinar penuh antusiasme yang jarang terlihat belakangan ini.
"Selamat datang di dunia rakyat jelata," goda Adit, yang langsung dibalas cubitan gemas dari Naya.
Raka hanya tersenyum menyaksikan interaksi kedua sahabatnya, sambil sesekali melirik keluar jendela, menghitung berapa lama lagi perjalanan mereka akan sampai. Namun di tengah keriangan itu, tanpa sepengetahuan mereka bertiga, sopir angkot yang mereka tumpangi ternyata mengambil rute yang jarang dilalui—rute pintas yang menurutnya lebih cepat, namun melewati jalanan perbukitan yang jauh lebih sepi dan berkelok dari biasanya.
"Kayaknya kelamaan deh," gumam Raka, mulai merasa sesuatu tidak beres saat jam sudah menunjukkan hampir dua jam perjalanan, jauh melebihi estimasi awal.
Belum sempat ia bertanya lebih lanjut pada sopir, angkot yang mereka tumpangi tiba-tiba oleng, disusul suara decitan keras dari bawah kendaraan, sebelum akhirnya berhenti mendadak di pinggir jalan perbukitan yang sepi, jauh dari pemukiman mana pun.
"Waduh, bannya kayaknya bocor parah, Dek," kata sang sopir, wajahnya panik memeriksa ban belakang yang benar-benar kempes total. "Ini... ini nggak ada tambalan ban di sekitar sini. Harus jalan cukup jauh buat cari bantuan."
Ketiga sahabat itu saling berpandangan, menyadari bahwa liburan pertama mereka tanpa pengawasan orang dewasa baru saja dimulai dengan cara yang sama sekali tidak mereka duga.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan