Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Semobil, Rumor, dan Hukuman yang Salah Alamat
Suasana di dalam mobil SUV mewah itu hening mencekam.
Hanya terdengar suara rintik hujan badai yang menghantam kaca jendela dan deru halus AC mobil.
Amira duduk sangat kaku di sudut jok penumpang kiri, menempelkan bahunya ke pintu seolah ingin menyatu dengan door trim.
Jarak antara dirinya dan Alfian di jok kanan terasa seperti jurang tak kasat mata yang membentang luas.
Gadis itu memeluk tas punggungnya erat-erat di depan dada.
Sesekali, Amira melirik dari sudut matanya ke arah cowok jangkung di sebelahnya.
Alfian tampak sangat santai, duduk bersandar dengan kedua tangan terlipat di dada dan mata terpejam.
Dia tidur? Di situasi se-awkward ini dia bisa tidur? batin Amira tak habis pikir.
Udara dingin dari AC mobil perlahan menembus seragam dan jaket rajut Amira yang setengah basah.
Hatchi!
Amira bersin pelan, buru-buru menutup mulut dan hidungnya dengan kedua tangan.
Alfian tidak membuka matanya, tapi rahang cowok itu sedikit bergerak.
"Pak Tarjo, tolong suhu AC-nya dinaikin sedikit," suara bariton Alfian memecah keheningan yang menyiksa itu.
"Baik, Den," sahut pria paruh baya dari kursi kemudi.
Suhu udara di dalam kabin perlahan berubah menjadi lebih hangat.
Amira mengerjap, menatap profil samping wajah Alfian dengan perasaan campur aduk.
Dia... sengaja ngecilin AC buat aku? pikir Amira, tapi buru-buru ia menampar pipinya sendiri dalam hati.
Jangan geer, Amira! Paling dia sendiri yang kedinginan! rutuknya meyakinkan diri.
Perjalanan yang biasanya memakan waktu dua puluh menit itu terasa seperti dua jam bagi Amira.
Begitu mobil berbelok memasuki kompleks perumahan Amira dan berhenti tepat di depan pagar rumahnya, Amira langsung menghela napas lega.
"Makasih tumpangannya," ucap Amira cepat, tangannya sudah bersiap membuka handle pintu.
"Hmm," gumam Alfian singkat, masih tanpa membuka matanya.
Amira mendengus pelan melihat respons super dingin itu.
Ia langsung membuka pintu, berlari kecil menerobos sisa gerimis menuju teras rumahnya tanpa menoleh lagi ke belakang.
Di dalam mobil, Alfian perlahan membuka matanya.
Cowok itu menoleh ke arah kaca jendela yang basah, menatap punggung Amira yang menghilang di balik pintu rumah.
"Jalan, Pak," perintah Alfian datar.
Namun di dalam kepalanya, suara bersin gadis itu entah kenapa terus terngiang-ngiang dan membuatnya diam-diam mengusap tengkuknya sendiri.
...***...
Keesokan paginya, SMA Dirgantara dilanda kehebohan yang tidak wajar.
Baru saja Amira menginjakkan kakinya di koridor lantai satu, beberapa pasang mata langsung menatapnya dengan tatapan penuh arti.
Bahkan ada beberapa siswi kakak kelas yang berbisik-bisik sambil melirik sinis ke arahnya.
Amira mengerutkan dahi, merasa ada yang tidak beres dengan hawa sekolah hari ini.
Kepalanya memang sedikit pusing karena efek kehujanan kemarin, tapi instingnya mengatakan bahaya sedang mengintainya.
"Amira! Lo harus jelasin semuanya ke kita sekarang juga!"
Rara dan Maya tiba-tiba muncul dari balik pilar koridor, masing-masing memegang lengan Amira dan menyeretnya masuk ke dalam kelas.
"Eh, apaan sih narik-narik? Sakit tau!" protes Amira sambil mengusap lengannya.
Maya langsung menggebrak meja Amira dengan dramatis.
"Jangan pura-pura polos lo! Satu sekolah udah heboh pagi ini!" seru Maya dengan mata membelalak.
"Heboh apaan sih? Gue baru aja nyampe, boro-boro baca berita gosip," Amira meletakkan tasnya dengan malas.
Hidungnya terasa mampet, membuatnya harus bernapas lewat mulut.
"Anak-anak ekskul jurnalistik yang semalam pulang telat lihat lo masuk ke mobil SUV hitamnya Alfian!" tembak Rara langsung ke intinya.
Deg.
Jantung Amira seolah melompat dari tempatnya.
"M-masuk mobil apaan? Salah lihat kali mereka!" elak Amira, mendadak salah tingkah.
"Nggak usah ngeles! Ada fotonya di grup angkatan, biarpun agak blur karena hujan," Maya menyodorkan layar ponselnya tepat di depan hidung Amira.
Benar saja.
Di layar itu terpampang foto mobil SUV Alfian yang terbuka pintunya, dan siluet seorang gadis berjaket rajut sedang buru-buru masuk ke dalam.
"Gila lo, Mir! Kemarin bilang mau pura-pura buta, sorenya malah dianterin pulang sama si kapten!" omel Rara gemas.
"Itu kecelakaan!" sergah Amira panik, suaranya naik satu oktaf.
"Kecelakaan gimana ceritanya sampai lo bisa nyasar ke jok sebelahnya Alfian Pratama?!" cecar Maya tak mau kalah.
"Gue kejebak badai di halte! Terus dia maksa gue masuk karena kasihan... eh, bukan kasihan, karena dia emang hobi nyuruh-nyuruh orang!" jelas Amira panjang lebar dengan napas ngos-ngosan.
Rara dan Maya saling berpandangan, lalu memicingkan mata ke arah teman baru mereka itu.
"Alfian? Maksa lo masuk mobil karena kasihan? Mustahil," bantah Rara telak.
"Lo tahu nggak? Kak Sisca, cewek yang digosipin dekat sama dia aja, belum pernah diizinin naik mobil itu," tambah Maya memberikan fakta horor.
Amira terdiam kaku.
Fakta itu sama sekali tidak membuatnya senang, justru membuatnya merasa seperti sedang dijadikan target sasaran tembak oleh satu sekolah.
"Bodo amat deh! Yang jelas gue sama dia nggak ada apa-apa, dan gue masih benci banget sama dia!" pungkas Amira keras kepala.
Ia merebahkan kepalanya di atas meja, melipat kedua tangannya sebagai bantal.
Obat flu yang ia minum tadi pagi mulai menunjukkan efek sampingnya: kantuk luar biasa.
Nasib buruk rupanya enggan menjauh dari Amira hari ini.
Saat jam pelajaran Sejarah di jam ketiga, efek obat flu itu benar-benar mengalahkan akal sehatnya.
Mata Amira tertutup rapat, kepalanya tertunduk, dan ia tertidur pulas saat Bu Ratna, guru paling killer se-antero sekolah, sedang menjelaskan sejarah Perang Dunia II.
Tok! Tok! Tok!
Suara spidol yang diketuk keras ke meja membuyarkan mimpi Amira seketika.
"Amira! Berdiri kamu!" bentak Bu Ratna dengan suara melengking.
Amira terperanjat, refleks berdiri dengan mata setengah merah dan rambut sedikit berantakan.
"Ma-maaf, Bu. Saya sakit, habis minum obat flu," cicit Amira jujur, suaranya parau.
"Alasan! Kalau sakit harusnya kamu di UKS, bukan tidur di jam pelajaran saya!" omel Bu Ratna tak kenal ampun.
"Sebagai hukumannya, kamu bersihkan ruang penyimpanan alat olahraga di belakang indoor sekarang juga!"
Mata Amira membelalak.
Ruang alat olahraga? Tempat di mana sarang anak-anak basket berada?
"Tapi Bu..."
"Nggak ada tapi-tapian! Bersihkan sampai bel istirahat berbunyi!" potong Bu Ratna final.
Dengan langkah gontai bak zombi, Amira menyeret kakinya keluar kelas.
Rara dan Maya hanya bisa menatap punggung temannya itu dengan tatapan iba.
Gedung olahraga indoor tampak sepi karena tidak ada jadwal kelas penjaskes pagi ini.
Amira berjalan menuju ruangan kecil di pojok belakang gedung, tempat berbagai macam bola dan matras disimpan.
Pintu kayunya sedikit terbuka, menguarkan aroma debu campur karet yang lumayan menyengat.
"Sialan. Gara-gara kapten kulkas itu maksa masuk mobil, aku jadi flu dan dihukum begini," gerutu Amira pelan sambil mendorong pintu hingga terbuka lebar.
Di dalam ruangan yang agak remang-remang itu, banyak bola basket yang berceceran tidak masuk ke dalam keranjang besi.
Amira mengambil sapu ijuk yang bersandar di sudut ruangan, berniat menyapu debu lantai sebelum memunguti bola-bola tersebut.
Sreek... Sreek...
Suara sapu yang bergesekan dengan lantai semen menemani kekesalan Amira.
Namun, saat ia bergeser ke rak bagian belakang, langkahnya terhenti.
Di sana, duduk di atas tumpukan matras tebal, ada sosok yang paling ingin ia hindari di seluruh muka bumi ini.
Alfian.
Cowok itu sedang memegang clipboard berisi kertas absen dan inventaris, mengenakan seragam rapi yang lengannya digulung sampai siku.
Alfian mengangkat wajahnya, menatap Amira dengan alis bertaut.
"Ngapain lo di sini?" suara bariton itu memecah kesunyian ruang alat.
Amira mengerjap, menatap horor ke arah Alfian.
"Aku yang harusnya nanya! Ngapain kamu sembunyi di pojokan sini?!" balas Amira tak kalah sewot.
"Gue nggak sembunyi. Gue lagi ngecek inventaris bola yang hilang buat laporan OSIS," jawab Alfian datar.
Cowok itu melompat turun dari atas matras dengan gerakan ringan.
"Terus lo ngapain bawa sapu? Mau cosplay jadi Harry Potter?" sindir Alfian melihat Amira mematung dengan sapu ijuk di tangannya.
"Bukan urusan kamu!" ketus Amira, langsung mengalihkan pandangannya dan mulai menyapu dengan kasar.
Debu-debu halus langsung berterbangan ke udara, membuat ruangan sempit itu terasa makin pengap.
"Woi, pelan-pelan nyapunya! Debunya naik semua!" protes Alfian sambil mengibaskan tangan di depan wajahnya.
"Biarin! Siapa suruh nongkrong di sini!" balas Amira tak mau kalah, sengaja mengarahkan sapunya mendekat ke arah sepatu kets mahal Alfian.
Uhuk! Uhuk!
Alfian terbatuk pelan, hidungnya mulai gatal.
"Lo sengaja ya cari ribut sama gue terus?!" desis Alfian, melangkah maju mendekati Amira.
"Geer banget! Aku dihukum Bu Ratna suruh bersihin ruangan ini! Jadi minggir, kapten nyebelin, kamu ngalangin jalan sapu aku!" omel Amira ngegas.
Namun, karena kepalanya masih sedikit pusing, gerakan Amira jadi kurang seimbang.
Saat ia memutar badannya untuk memungut sebuah bola basket di lantai, ujung sepatunya menginjak jaring net voli yang terjuntai.
Sret!
"Kyaa!"
Amira kehilangan keseimbangan, tubuhnya oleng ke depan dan bersiap menghantam lantai semen yang keras.
Namun, benturan itu tidak pernah terjadi.
Sebuah lengan kekar dengan cepat melingkar di pinggangnya, menarik tubuhnya kuat-kuat ke belakang.
Bruk!
Punggung Amira menabrak dada bidang seseorang.
Napas Amira tertahan di tenggorokan.
Jantungnya seolah berhenti berdetak saat ia menyadari siapa yang baru saja menolongnya.
Aroma parfum mint yang bercampur dengan wangi maskulin khas Alfian kembali menyerbu indra penciumannya, kali ini dari jarak yang sangat dekat.
"Udah ceroboh, batu, berisik lagi," bisik Alfian tepat di samping telinga Amira.
Suara cowok itu terdengar berat dan sedikit serak, membuat bulu roma di tengkuk Amira berdiri serentak.
Amira buru-buru meronta, mendorong lengan Alfian dan menjauh dari cowok itu dengan wajah yang merah padam.
"A-aku bisa berdiri sendiri!" sungut Amira salah tingkah, memeluk bola basket di tangannya seperti tameng.
Alfian menatap tangannya sendiri yang baru saja melingkar di pinggang gadis itu.
Ada sensasi aneh yang mengalir di ujung jemarinya.
Sebuah perasaan deja vu yang kuat, seolah ia pernah menolong seorang gadis kecil yang jatuh tersandung di masa lalu yang tak bisa ia ingat.
Sial, rasa sakit ini lagi, batin Alfian.
Kepalanya kembali berdenyut nyeri, membuat cowok itu memejamkan mata sesaat dan memijat pelipisnya.
Amira yang melihat perubahan raut wajah Alfian kembali merasa bimbang.
Sebenarnya, rasa marah dan bencinya selalu menguap setiap kali melihat cowok arogan ini terlihat kesakitan seperti sekarang.
"Kamu... sakit kepala lagi?" tanya Amira pelan, suaranya melembut tanpa bisa ia cegah.
Alfian membuka matanya, menatap wajah Amira yang dipenuhi gurat kekhawatiran yang tulus.
Tatapan mata bulat gadis itu, kepedulian yang aneh dari seseorang yang terus-menerus ia musuhi, semuanya membuat pertahanan Alfian sedikit goyah.
"Gue bilang bukan urusan lo," jawab Alfian dingin, meski kali ini nadanya tidak setajam biasanya.
Alfian mengambil clipboard-nya dari atas matras.
"Berhenti acara nyapu lo. Debunya bikin gue muak," perintah Alfian, lalu melangkah keluar dari ruang penyimpanan alat.
Saat melewati ambang pintu, Alfian berhenti sejenak tanpa menoleh ke belakang.
"Dan soal foto di mobil..." ucap Alfian dengan suara pelan namun tegas.
"Gue yang bakal urus. Lo nggak usah dengerin omongan sampah di luar sana."
Setelah mengucapkan kalimat yang terdengar seperti janji perlindungan itu, Alfian benar-benar pergi meninggalkan ruangan.
Amira berdiri terpaku di tempatnya, masih memeluk bola basket dengan erat.
Matanya berkedip bingung, sementara jantungnya kembali berdetak dengan ritme yang sangat tidak sehat.
Dia bilang apa barusan? Dia mau ngurus rumornya buat aku?
Amira merosot pelan hingga duduk berjongkok di lantai, menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah di balik bola basket.
Sialan.
Kenapa kapten kulkas ini tiba-tiba bisa kelihatan keren banget sih?! batin Amira merutuki kelemahannya sendiri.