Kebahagiaan tidak selamanya abadi begitu juga dengan kehidupan manusia, Rindu menikah diusianya yang ke-18 tahun dengan seorang duda yang berusia 41 tahun.
Perbedaan umur lebih dari 20 tahun membawanya kepada kehidupan yang cukup bahagia hingga pada suatu hari semua kebahagiaan itu berakhir.
Akankah kebahagiaan itu datang lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chika chiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Perhatian apa kasihan?
Happy reading ❤️
Di tengah perjalanan yang terhenti oleh keadaan yang tak terduga oleh siapa pun.
Pram tak menyangka akan ada hari ini dimana dirinya harus membersihkan mobilnya dengan persediaan air yang terbatas itupun dia dapatkan air tersebut dengan bersusah hati setelah melewati beberapa drama dengan warga sekitar dan pada akhirnya 2 lembar uang merah yang menjadi solusi terbaik diantara yang terbaik, kenapa jika hanya ingin minta bayar kudu berkelit kesana kemari padahal tinggal ucap saja aku pun bisa memberikan lebih dari itupun aku tidak keberatan, sungguh miris warga penghuni bumi yang dahulu kala menjujung tinggi kesatuan bangsa kini telah hancur oleh ketamakan dan keegoisan para penghuni zaman now yang terlalu banyak mengonsumsi bahan kimia mungkin sehingga mereka hanya bisa berdamai dengan materi semata.
Sebelumnya beberapa saat yang lalu dia begitu kaget dan syok atas apa yang terjadi dengan gadis kecilnya itu yang kini telah resmi menggelar status istrinya ya istrinya perlu di tekankan mata istri, wajah pucat pasi yang sudah terlihat lemas tak berdaya sambil mengeluarkan segala yang ada di dalam perutnya sehingga dia kehilangan separuh tenaga dan ke sandaran.
Jika terlambat sedikit saja dia lalai menghampiri gadis itu mungkin gadis kecil itu sudah tergeletak di atas aspal beruntung dia cekatan sehingga mampu menangkap tubuh kurus kecil itu dan membawanya ke salah satu rumah warga yang bertepatan dengan lokasi kejadian tepat depan jalan yang mereka berhenti, beruntung salah satu warga itupun membantu tapi ya dengan adanya imbalan juga ujung ujungnya tapi itu tidaklah masalah bagi Pram jika harus mengeluarkan beberapa uang asalkan kondisi gadis kecilnya membaik.
Setelah dipastikannya Rindu sudah lebih baik akhirnya Pram mulai bergegas menitipkan dirinya sejenak karena ingatan Pram kembali ke kondisi mobilnya yang terkena muncratan cairan muntahan Rindu.
Dengan telaten Pram membersihkan jok tempat duduk Rindu beberapa saat lalu dan dengan sabar dan tahan nafas dia terus membersihkan setiap sudut yang terkontaminasi oleh cairan alamiah dari tubuh Rindu, Tak ada umpatan dan tak ada pula sumpah sumpah yang keluar mengutuk dari mulut serta hatinya pria yang berusia 41 tahun itu seperti hal hal yang dilakukan dalam kenyataan kehidupan nyata kebanyakan pria di dunia nyata.
Pram sabar, jujur sangat sabar dan teliti mengelap sisi sudut yang kotor karena muncratan muntahan sang istri kecilnya, sesekali dia membilas kanebo dengan air bersih yang dia bawa dengan ember hitam setelah penuh pejuang mendapatkan beberapa ember air bersih.
Tak ada beban dan kekesalan karena dia maklum dengan kondisi dan keadaan, ya dia mengerti gadis itu mungkin belum pernah naik mobil ataupun kondisi tubuhnya yang lemah karena belum makan ataupun mungkin gadis itu sedang masih dalam suasana duka mengingat dia sekarang hanya sendiri menjalani kehidupannya tanpa adanya siapapun yang dia kenal selama kepergian ibunya beberapa hari yang lalu.
Dibukanya semua pintu mobilnya lebar selebarnya karena terdapat aroma yang tak sedap dicium oleh manusia normal, rasanya asam kecut serta aroma itu bisa menimbulkan gejolak larutan dalam lambung dan hati tidak sinkron jika terkontaminasi dengan indra penciuman manusia.
Setelah itu dia mendiamkan mobilnya seperti itu setelah dipinggirkan kendaraan itu di tepi jalan dan kembali dia menghampiri Rindu istri kecilnya yang telah terlihat lebih seger dari sebelumnya tadi beberapa saat lalu.
Teh manis hangat dan beberapa kue dipiring kecil menemani dirinya yang dipesan Pram tapi belum tersentuh sedikit pun oleh Rindu.
Pram mengerutkan alisnya menatap minuman dan cemilan tersebut bingung kenapa Rindu belum menyentuh makanan itu sama sekali.
"Ayo Rindu diminum dulu teh hangat ya biar enakkan perutnya dan kue ya juga biar nanti kita bisa melanjutkan perjalanan kita" ucap Pram dengan tatapan teduh sambil mendaratkan pantatnya didekat gadis itu.
Jangan ditanya reaksinya Rindu, dia bahkan terdiam kakuh bagaikan kanebo yang sudah mengering, selama hidupnya belum pernah sedekat ini dengan lelaki manapun.
Dengan tangan gemetaran diangkatnya gelas itu lalu meminumnya. Kejadian itu tak lepas dari tatapan Pram, dia memaklumi gadis itu yang mungkin masih malu dan ragu serta canggung bersama dirinya.
"Maaf... sudah repotin" ucap Rindu lemah hampir tak terdengar suara gadis kecil itu tapi beruntung Pram duduk dekat dengannya hingga masih bisa menangkap suara merdu itu.
"Sudah tidak apa-apa, sekarang dan selamanya kau tangung jawab ku. Jangan merasa tidak enak dan malu" Pram membelai lembut kepala gadis itu dan berusaha membuatnya nyaman agar tidak terlalu ketakutan pada dirinya.
Dia harus sabar karena gadis itu masih merasa asing dan baru dengan semua ini yang mendadak dalam hidupnya dan ini terlalu cepat dan sulit dicerna dalam kehidupan normal tapi bukankah hidup selalu begitu, berjalan dengan mendadak dan cepat.
Beruntung jarak 2 rumah dari bawah pohon mangga yang mereka duduki itu terdapat warung yang menjual berbagai macam kebutuhan serta obat obatan, ya Pram membeli obat mabuk perjalanan yang disebut juga Antimo untuk Rindu, beberapa cemilan dan air mineral kemasan juga.
Setelah memakan kue yang tadi dipiring itu Rindu meminum obat yang di bukakan Pram padanya, sangat nurut seperti seorang anak nurut kepada Ayahnya tapi tidak ini adalah istri pada suami nya.
Setelah semua dirasa beres mereka pun melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda, perjalanan masih panjang. Pram mengubah kursi Rindu agar dia bisa beristirahat tiduran karena melihat Rindu sudah beberapa kali menguap dan mungkin reaksi dari obat anti mabok itu telah bekerja.
"Tidur lah Rindu, perjalanan masih panjang dan semoga tiba nanti kau sudah lebih baik!"
Mobilpun mulai melaju kembali ke jalan dan kini Rindu benar benar terlelap oleh karena efek dari obat yang di minum tadi. Pram menyetir dengan hati yang entah apa yang dipikirkan lelaki itu serta hanya ditemani oleh dentuman musik slow yang kalem nan lembut yang menambah kenyamanan untuk tidurnya Rindu.
Bersambung.....
Hai hai hai ...
Aku kembali lagi dengan bab selanjutnya😊😊
Masih suka gak dengan cerita ku gaes😉
Semoga menghibur hari hari kalian 😊
Maaf kan jika banyak kesalahan 🙏🙏
Tinggal kan like ya gaes biar author semangat nulisnya 😉
Terimakasih banyak ya yang sudah berkenan mampir 😊😘😘
udah aku masukin fav yaa
Semangat terus kak🤛🤛
senior galak hadir maaf lama gak mampir.
Semangat
Ditunggu karya barunya ya 🤗
“Silence” hadir bersama “Cinta dan Dendam” 🥰