Dia gadis yang baik, pintar dan energik. Sejauh ini semuanya berjalan sesuai rencananya. Menyelesaikan kuliah tepat waktu, memiliki pekerjaan impian dan mendapatkan jodoh terbaik. Namun bagaimana jika sebuah kenyataan pahit menghantam hidupnya dengan tiba tiba membuat rencana indah yang pernah terukir dalam hatinya hancur begitu saja. Bagaimana ia bisa bangkit menjadi pribadi seperti sebelumnya saat dokter dengan tegas mengatakan kalau dia mengidap penyakit langka tepat sebelum pernikahannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NeraLexa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 07
Aku sakit sekarang, Biel"
Ucap Clarisa lagi seiring tubuhnya yang luruh dalam pelukan Gabriel yang telah menariknya dengan lembut, mengusap punggungnya lalu menciumi puncak kepalanya.
"Maaf, aku tidak tahu kalau ucapan dan tindakan tadi menyakitimu sedalam ini. Aku minta maaf, Ica. Sungguh aku tidak berniat seperti itu."
Clarisa menggelengkan kuat, menyangkal pernyataan Gabriel barusan. Bukan itu maksudnya. Bukan sakit hati karena perkataan Gabriel, bukan! Dia tidak akan merajuk apalagi menangis seperti ini hanya karena perdebatan kecil seperti itu. Dia benar-benar sakit sekarang. Bukan hatinya tapi tubuhnya.
Dia melepaskan pelukannya perlahan, menghapus air mata yang membasahi wajahnya lalu menatap Gabriel dengan lekat.
"Maaf!" Sekali lagi didengarnya Gabriel mengucapkan kata maaf itu dan dia pun kembali menggeleng.
"Ini bukan karena kamu, Biel." Katanya. Dia menguatkan hatinya untuk mengatakan semuanya pada Gabriel karena cepat atau lambat Gabriel harus tahu kondisinya. "Aku memang sedang sakit sekarang."
Gabriel tidak menyahut, hanya kerutan di keningnya yang menandakan dia sedang bertanya - tanya sekarang. Sakit apa yang membuat gadisnya sampai menangis seperti ini? Atau jangan-jangan ini hanya alasannya saja untuk membatalkan pernikahan mereka? Dia baru saja menolak bertemu pihak WO, kan? Dia baru saja bilang tidak penting membahas tentang pernikahan mereka? Apa karena laki-laki tadi? Gabriel buru-buru mengenyahkan hal terakhir yang ada pikirannya. Clarisanya bukanlah gadis seperti itu!
"Biel"
Suara Clarisa menyadarkan Gabriel dari lamunannya. Keningnya kembali berkerut menatap map berwarna biru putih yang disodorkan Clarisa padanya. Map yang sama yang dilihatnya di depan rumah sakit tadi.
"Apa ini, Sayang?" Dia menimang map di tangannya.
"Buka dan baca saja"
"Bukan surat cerai, kan?" Tanya Gabriel sambil membolak-balikkan map tersebut.
"Itu malah jauh lebih baik. Tapi mana ada surat cerai sebelum menikah, Biel? Dan kamu tidak akan tahu isinya hanya dengan membolak-baliknya seperti itu, kamu harus buka dan membacanya." Clarisa berusaha menahan detak jantungnya yang semakin cepat. Takut, cemas dan gelisah dia rasakan menanti reaksi Gabriel setelah membaca isi map tersebut.
"Ini isinya apa sih, Yang? Kenapa bukan kamu saja yang buka?" Gabriel terlihat enggan untuk membuka map tersebut.
"Buka saja sayang biar tahu apa isinya." Suara Clarisa yang terdengar tenang tak seirama dengan jantungnya yang berdegub kencang bak habis melakukan lari maraton.
Gabriel menurut. Dengan hati-hati dia membuka map tersebut. Menyusuri setiap baris kalimat yang tertera di sana. Sepanjang yang dilihatnya hanya ada istilah medis yang tidak dia mengerti kecuali kop dan logo rumah sakit di ujung atasnya. Dia menyerah di tengah-tengah lalu menutup map itu.
"Sumpah! Aku tidak mengerti sama sekali." Ujarnya lalu mengembalikan map itu ke tangan Clarisa.
"Sudah kamu baca semuanya?" Clarisa menerima map tersebut dan memegangnya erat hingga bagian itu mengkerut.
"Pecuma saja, Ica. Aku baca sampai selesai pun aku tetap tidak mengerti. Aku bukan tenaga medis, jika kamu lupa"
"Harusnya kamu baca bagian akhirnya saja." Clarisa menggumam pelan tapi masih bisa didengar oleh Gabriel.
"Sayang, kamu beritahu saja aku dengan bahasamu. Aku tidak mengerti. Ayolah"
Clarisa menyimpan kembali map tersebut ke dalam tasnya, merapikan rambutnya yang berantakan tertiup angin pantai, menghela napas kasar melawan kegugupan dan kecemasannya. Di sampingnya Gabriel menunggunya dengan tidak sabar.
"Tapi sebaiknya kita pesan makan dulu. Kita bisa membicarakan ini setelah makan. Ini sudah jam makan siang, kan? Sepertinya sangat nikmat jika kita menikmati makan siang kita di sini." Ujarnya seriang mungkin membuat Gabriel mendengus kecil.
"Ya, itu bukan ide yang buruk." jawab Gabriel. Walau sebenarnya dia merasa sedikit kesal karena dia merasa Clarisa hanya mengulur-ulur waktu saja. Tapi dia juga tidak ingin memaksa gadis itu.
Yah, Clarisa memang sedang mengulur waktu. Karena tiba-tiba saja ketakutan itu menghantuinya.